Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Tentang Gio 2



Rafa menyesal karena telah memukul Gio. Seharusnya dia bisa menahan emosinya, Apalagi dia memukul Gio dengan brutal. Rafa kalap melihat Gio menyentuh barang yang bisa membuat Gio sakit, apalagi laki-laki itu mempunyai riwayat penyakit asma.


Gio butuh uluran tangan sahabat - sahabatnya untuk bisa membantunya bangkit dari keterpurukan. Gio butuh rangkulan mereka dan menuntunnya kearah yang baik, agar Gio tidak salah jalan. Dan Gio butuh mereka disampingnya untuk menjadi pendengar yang baik, agar Gio merasa bahwa dia tidak sendirian. ada Rafa, Kavin, dan juga Reagan yang akan selalu peduli padanya.


Setelah kejadian itu Gio remaja memilih menjauh dari sahabat - sahabatnya, laki-laki menciptakan jarak yang membuat persahabatan mereka terancam hancur. Rafa yang tidak mau mereka terpecah belah akhirnya berkunjung kerumah Gio, berniat memperbaiki semuanya, sekaligus melihat keadaan Gio yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah.


Rumah Gio tampak sepi dan Rafa bisa memakluminya. Kedua orang tua Gio sedang bekerja, mengingat bahwa ayah Gio memiliki perusahaan arsitek yang terkenal dan memiliki cabang dimana-mana. Sedangkan ibunya adalah seorang Designer ternama di Indonesia. Bukankah kedua orang tua Gio sangat cocok? Mereka mempunyai passion yang sama. Terus kenapa mereka sering bertengkar? Huh! orang dewasa mempunyai pikiran yang rumit. Dunia orang dewasa terlalu menakutkan untuk remaja seperti Rafa masuk kedalamnya.


Rafa tidak sungkan lagi masuk kedalam rumah besar milik orang tua Gio, karena memang dia sudah terbiasa. Rafa tidak melihat adanya orang lain selain dirinya dalam rumah tersebut, hal itu terasa aneh baginya. Biasanya, akan ada beberapa pelayan yang berlalu lalang dalam rumah besar milik keluarga Leonard.


Rafa terus melangkahkan kakinya, menuju kamar Gio yang berada dilantai dua. Seketika dia melotot melihat apa yang ada di dalam ruangan bernuansa abu-abu itu.


Rafa terpaku, dia merasa tidak mampu menggerakkan kakinya untuk melangkah, laki-laki blasteran itu sangat shock bahkan tangannya sudah gemetaran melihat pemandangan menyakitkan tersaji dihadapannya.


Tidak jauh dihadapannya, Gio Fabiansyah Leonard, sahabat baiknya, orang yang sudah dianggapnya saudara, sedang berada dalam pengaruh obat terlarang.


Gio terlihat berusaha melukai dirinya dengan sebuah cutter. Wajahnya sepucat kapas, darahnya sudah banyak keluar dari pergelangan tangan laki-laki itu.


Rafa tidak bodoh. Pengetahuannya luas walaupun dia masih remaja SMP. Rafa tau ciri-ciri orang yang sedang sakaw, dia pernah membacanya disebuh artikel dan beberapa buku untuk menambah pengetahuannya.


Remaja laki-laki itu tidak pernah melihatnya secara langsung, dan sialnya dia harus melihat hal itu dari Gio, orang terdekatnya. Ditambah lagi sahabatnya itu berusaha untuk melukai nadinya. Rafa bersumpah dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Dengan sedikit gemetar, Rafa melangkahkan kakinya menuju tempat Gio berada. Rafa menyingkirkan benda tajam yang berada ditangan Gio dengan kasar, dan juga menjauhkan barang haram milik Gio yang berada disamping laki-laki itu.


"LO GILA!!"


Rafa berteriak marah, emosinya sudah berada di ubun-ubun, dia takut terjadi sesuatu pada Gio, Rafa menepuk pipi Gio berkali-kali agar sadar. Tapi sayangnya Gio yang berada dalam pengaruh obat seolah tuli dan tidak peduli. Pandangan matanya tidak fokus. Tubuhnya bergetar, Dia membutuhkan obatnya lagi. Tapi Rafa tidak membiarkan itu terjadi, pada akhirnya dia memilih menelphon ayah Gio agar segera pulang dan melihat anaknya yang terlihat menyedihkan. Rafa tidak bisa mengatasinya sendiri, dia butuh orang dewasa untuk menangani masalah Gio. Jika tidak cepat diselamatkan maka Rafa yakin bahwa Gio tidak akan baik-baik saja.


Setelah sambungan telphonenya tersambung, Rafa berteriak marah pada ayah Gio, dia melampiaskan emosinya pada laki-laki paru baya itu, dan meminta ayah Gio untuk segera pulang kerumah. Dia akan menunjukkan pada laki-laki dewasa itu bagaimana hancurnya seorang anak karena keegoisan orang tuanya sendiri. Dia tidak peduli jika dia berlaku tidak sopan pada orang tua sahabatnya itu. Rafa hanya ingin ayah Gio sadar bahwa dia telah menelantarkan anak satu-satunya, dan membuat anak remajanya melakukan hal diluar batas.


Setelah sampai ke rumah dan melihat anaknya seperti itu, ayah Gio sangat terpukul. Seorang direktur utama dari perusahaan arsitek terkenal itu menangis, merutuki kebodohannya. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak becus menjadi seorang ayah. Dia hampir saja membuat anaknya kehilangan nyawa secara tidak langsung. Dan laki-laki paruh bayah yang masih terlihat gagah itu merasa sangat berdosa pada anaknya.


Gio akan kehilangan nyawanya, kalau saja Rafa terlambat datang kerumah Gio, yang baru dia tau bahwa rumah itu telah dijual. Dan mereka akan segera pindah. Karena orang tua Gio memilih bercerai dan Gio akan ikut dengan sang ayah.


Dokter mengatakan bahwa luka yang disebabkan oleh Gio hampir saja mengenai nadi laki-laki itu, sang dokter juga menyarankan untuk Gio melakukan rehabilitasi. Karena kecanduannya akan obat terlarang harus segera disembuhkan.


Ayah Gio menyetujui berpisah dengan ibunya karena tidak bisa memaafkan sang istri setelah pengkhianatannya berulangkali. Keputusan kedua orang tuanya dan rasa kecewanya pada wanita yang melahirkannya ke dunia membuat Gio berniat untuk mengakhiri hidupnya, tapi di gagalkan oleh Rafa.


Setelah semua kejadian itu Gio merasa berhutang budi pada Rafa. Dia tidak akan sebahagia sekarang dan hidup baik-baik saja kalau Rafa tidak melakukan apa-apa.


Sekarang Gio telah memiliki keluarga baru yang harmonis. Ayahnya menikah dengan seorang wanita lemah lembut yang mampu membuat Gio bisa merasakan lagi kasih sayang seorang ibu. Gio pun sudah positif bersih dari obat-obatan terlarang. Gio sudah bisa menerima apa yang telah terjadi pada masa lalunya. Tapi sampai kapanpun dia tidak akan bisa menerima ibu kandungnya dengan lapang dada. Gio benci ibunya dan tidak ada yang bisa merubah itu. Bahkan karena kebenciannya pada sang ibu, Gio banyak mempermainkan hati seorang perempuan.


Gio pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memastikan bahwa Rafa Ellard akan mendapatkan kebahagiaannya. Sekalipun dengan cara yang salah.


"Gue gak peduli kalian suka atau gak sama acara tunangan gue nanti. Yang pastinya kalian harus datang. Awas aja kalo gak." ancam Rafa pada ketiga sahabatnya, "Yaudah Gue cabut dulu"


Ketiga pasang mata itu menatap kepergian Rafa dengan ekspresi berbeda-beda dan hanya mereka yang tau maksud dari ekspresi yang mereka tunjukan setelah dengan kompaknya mereka menganggukan kepala, mengiyakan ucapan Rafa.


Gio menatap Reagan yang sedari tadi hanya diam saja, tidak seperti biasanya. Gio menepuk pelan pundak Reagan agar fokus laki-laki itu beralih padanya.


"Tumben lo diam aja, gan!!"


Reagan menatap Gio penuh maksud kemudian laki-laki itu menampilkan smirk nya, "Gue lagi menganalisis sesuatu, terkadang disaat-saat seperti ini diam dan ikut saja alur yang sudah ada maka kita bakal ketemu hal yang tidak pernah kita sangka, Bener gak, Kav?!"


Kavin yang paham akan maksud dari ucapan Reagan memilih untuk diam tanpa mau berkomentar.


"Ngomong apa sih lo? Gak jelas banget!!"


"Udahlah gak usah pikirin omongan gue tadi. Otak lo gak nyampe. Gue pergi dulu. Bye!!"


"Kayaknya si Reagan kehabisan obat deh Kav" ucap Gio dengan polos, setelah melihat kepergian Reagan.


Kavin menoyor kepala Gio kemudian melangkah pergi, meninggalkan Gio sendiri. Spontan saja hal itu membuat Gio kesal dan berteriak.


"KAVIN BRE**SEk!!"


♡♡♡