
"TUNANGAN?!!"
"Lo becanda, bro?" tanya Gio meragu, tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Rafa. Yah walaupun Rafa adalah orang yang serius dan tidak akan bercanda dengan hal penting menyangkut hubungannya dengan Raquell.
Tetapi,
Dia merasa semua ini terlalu cepat. Gio bukannya tidak bahagia ketika mendengar kabar baik bahwa sahabatnya akan bertunangan. Hanya saja laki-laki penyuka basket itu merasa ada terlalu banyak hal rumit yang belum diselesaikan oleh Rafa sendiri.
Selama ini Gio bersikap biasa saja dan diam seolah-olah tidak peduli tentang hubungan Rafa dan Raquell, karena sahabat yang sudah seperti saudaranya itu terlihat lebih bahagia dari tahun-tahun sebelumnya setelah kedatangan Raquell. Dan Gio tidak mau menghapus kebahagiaan Rafa, dan membuat sahabatnya terpuruk seperti saat kehilangan Rachel dulu, Cinta pertama sekaligus Cinta terpendamnya. Toh, dia juga tidak berhak ikut campur dalam hubungan Asmara Rafa. Tidak seperti Reagan yang gampang meledak mengingat bahwa laki-laki itu sangat sensitif jika berhubungan dengan Rachel Anastasya.
Gio pernah mengatakan pada Kavin dan Reagan tentang dia yang merasa familiar dengan sosok Raquell, dan Gio yakin setelah mengingat - ingat kembali wajah Rachel remaja dan wajah Raquell sekarang, mereka terlihat mirip. Bahkan Gio akan beranggapan bahwa itu adalah Rachel jika saja mata mereka memiliki iris dan rambut yang sama. Tapi sayangnya berbeda. Rachel mempunyai iris mata berwarna hitam layaknya orang Indonesia pada umumnya. Sedangkan Raquell memiliki iris mata berwarna abu-abu. Dan Raquell terlalu western dibandingkan Rachel.
Apakah mereka hanya kebetulan mirip?
Ataukah--
Mereka kembar?
Yang menjadi pikiran Gio dan membuat dia ragu akan hubungan Rafa dan Raquell jika berada ditahap yang lebih serius ialah Rafa yang hanya menjadikan Raquell sebagai pengganti Rachel karena mendapati kemiripan dari mereka berdua. Gio peduli dengan Rafa dan tidak mau sahabatnya itu salah langka.
"Becanda? Ya nggak lah!! Apa lo kira hubungan gue sama Princessa hanya untuk bahan candaan doang? Lo kayak gak suka denger gue tunangan sama Princess. Suka lo sama dia?"
What the hell.
Ada rasa sama Raquell? Mana mungkin Gio senekat itu untuk menaruh perasaan pada gadis milik Rafa Ellard. Gio emang playboy yang tukang ngegombalin dan nge-php-in cewek. But, This is Raquell. Gadis kesayangannya prince dari keluarga Ellard. Lagi pula Gio tidak seserakah itu untuk menyukai kekasih dari sahabat baiknya.
Rafa yang terlihat bahagia tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Jika sudah seperti itu maka mereka harus siaga satu, bisa saja kan 'devil' dalam diri Rafa keluar tanpa mereka mempersiapkan diri.
Rafa tidak senang dengan jenis pertanyaan Gio. Sebenarnya bukan pertanyaanya yang membuat Rafa tidak suka, tapi nada yang dikeluarkan Gio dari pertanyaannya itu seolah-olah Gio menyorakkan keberatannya. Padahal Gio tidak bermaksud seperti itu. Rafa saja yang baperan.
Gio sukses membuat mood Rafa hancur. Dan orang yang sekarang menjadi objek tatapan tajam dari sang devil terlihat menelan salivanya.
"Yakali Raf gue suka sama Raquell. Lagian gue bukannya gak seneng dengar lo mau tunangan sama dia. Yah, gue hanya kaget aja"
"Gio hanya shock. Lo kayak gak tau tuh anak. Omongannya kan selalu blak-blakan, gak disaring dulu"
Kavin hanya tersenyum setengah menanggapi ketidak sukaan Gio atas ucapannya. Dia hanya mencoba mencairkan suasana dan memberi sedikit bantuan untuk Gio, karena Kavin tau Rafa sedang kesal pada laki-laki tengil itu.
Jika Rafa kesal, dia akan bersikap sangat sinis pada orang yang sudah mengusiknya bahkan sampai memusuhinya, dan Gio tidak akan suka jika hal itu sampai terjadi padanya.
Tidak banyak yang tau, bahwa Gio berhutang nyawa pada Rafa.
Jika Reagan remaja adalah seorang anak yang lugu dan pendiam, maka Gio remaja adalah sosok yang nakal dan pembuat masalah. Gio adalah korban broken home, yang membuat Gio menjadi anak yang tidak bisa diatur.
Mereka tau bahwa Gio sangat tertekan dengan permasalahan yang ditimbulkan oleh kedua orang tuanya, dan menyebabkan Gio remaja menjadi nakal pada waktu itu. Gio sering bolos, dan pernah sehabis pulang dari sekolah mereka memergoki Gio sedang merokok dengan anak-anak SMA, disebuah warung yang tidak jauh dari sekolah mereka. Hal itu membuat ketiga sahabatnya mara, mereka merasa Gio sudah terlalu jauh terjerumus di dalam dunia kehancuran.
Dari mereka bertiga, Rafalah yang tampak sangat emosi. Rafa yang baik hati dan selalu ceria terlihat menyeramkan ketika marah saat melihat Gio berubah menjadi liar, tanpa pikir panjang Rafa memukul Gio membabi buta. Maka terjadilah perkelahian antara mereka berdua tanpa ada campur tangan yang lainnya.
"Lo gilaa!! Mau jadi apa lo kalo kelakuan lo kayak berandalan gini!!" Rafa mencengkram kemeja sekolah Gio. Rahangnya mengeras, melihat Gio terkekeh sinis. Gio menatap tajam sahabatnya, dia sudah rusak jadi buat apa Rafa peduli padanya, orang tuanya saja tidak pernah mempedulikan keberadaannya.
"Tau apa lo soal hidup gue? hm? Lo yang sempurna dan punya segalanya tau apa soal gue, BANGSA*!!" Gio mendorong pundak Rafa dengan sedikit keras, lalu menatap ketiga sahabat sedari kecilnya satu-persatu. Batin Gio sedang terluka parah dan mereka bisa melihat itu dari tatapan matanya yang sendu dan kosong.
Laki-laki itu nampak menyedihkan dengan wajah babak belur, tapi Gio tidak peduli dengan luka fisiknya, karena dalam beberapa hari pasti akan sembuh. "Kalian gak pernah ngerasain gimana tersiksanya jadi gue. Kalian gak pernah tau seberapa tertekannya gue ngeliat pertengkaran kedua orang tua gue setiap hari. Mereka gak peduli jika pertengkaran mereka berdua bisa menggaggu psikis gue. Bahkan.. Bahkan nyokap bilang kalo dia nyesel ngelahirin anak dari bokap gue. Dan kalian tau sendiri itu siapa, GUE!! GIO LEONARD"
"Aaaaa buat apa gue hidup, Bangsa*" Gio memukul dadanya yang terasa sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Remaja laki-laki itu menangis, hatinya terluka dan yang menggoreskan luka paling dalam adalah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Setelah mengeluarkan kemarahan sekaligus kesedihannya, Gio berbalik pergi meninggalkan tiga sahabatnya yang tercengang dengan apa yang diucapkan Gio. Tanpa sadar air mata mereka pun jatuh. Anak seusia mereka sangat membutuhkan cinta kasih orang tua mereka, jangan heran Gio merasa sangat terluka.
Setidak pedulikah mereka pada Gio selama ini? Sampai sahabat mereka sendiri harus memendam semua kesedihannya tanpa mengatakan apa-apa pada mereka. Tanpa mau membagi kesedihannya dan kekecewaannya pada mereka. Dan memilih melampiaskannya pada hal-hal yang negatif.
Selama ini mereka menyadari Gio terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Dia terlihat murung dan menjadi sangat nakal, mereka bisa menebak bahwa Gio mempunyai masalah yang tidak diceritakan pada mereka. Tapi sayangnya mereka tidak mencoba bertanya pada Gio, masalah apa yang sedang dihadapinya. Mereka hanya diam seolah-olah semuanya baik-baik saja, karena mereka menganggap bahwa kenakalan Gio masih dalam 'zona aman'.
Reagan sibuk dengan dunia musiknya. Rafa sibuk dengan Cinta terpendamnya. Sedangkan Kavin? Entahlah laki-laki itu terlalu cuek dan kaku, Kavin sang otak komputer itu terlalu serius dalam belajar. Mereka tidak bisa menebak jalan pikiran Kavin.
Rafa, Reagan, dan Kavin terlalu sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, tanpa menoleh pada Gio yang sangat membutuhkan mereka sebagai seorang sahabat.
♡♡♡