Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Menghapus Ingatan



"APA!! MENGHAPUS INGATAN RAQUELL?!" 


Brisia menatap suaminya tidak percaya. Baru saja dia bertemu dengan putrinya yang sudah bertahun-tahun hilang. Kini dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ingatan Putrinya harus dihapus.


"Kita tidak punya pilihan lain, sayang. Raquell mengalami depresi berat. Dan sewaktu-waktu dia bisa melakukan percobaan bunuh diri jika kita membiarkannya saja. Didalam pikirannya sudah tertanam keyakinan bahwa semua orang tidak menginginkannya, makanya semua orang ingin berbuat jahat padanya. Aku tidak mau kehilangan putri kita satu-satunya lagi. Dan dengan menghapus memori Raquell dengan hipnotis dan menciptakan memori baru dikepalanya. Kita bisa melihat putri kita bahagia. Memulai semuanya dengan lembaran baru"


Brisia menangis sesegukan, "Tapi kenapa harus dengan menghapus kenangannya? Apakah kamu yakin dia akan bahagia dengan apa yang kita lakukan?"


William memeluk istrinya sembaya mengelus punggung Brisia, mencoba memberi ketenangan untuk sang istri.


"Semua yang kita lakukan untuk kebahagiaan putri kita."


"Raquell tidak membutuhkan ingatan menyakitkan tentang mereka. Mereka telah menyakiti putriku. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka sampai kapanpun." Lanjut William dengan sedikit geram. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah memaafkan mereka yang telah memisahkan Raquell dengan dirinya juga istrinya. Ditambah lagi mereka telah membuat putri kesayangannya depresi berat.


"Lalu bagaimana dengan anak Laki-laki Jonathan? Bukankah dia menyukai puti kita? Apakah kita perlu memberitahukannya soal Raquell?" Tanya Brisia setelah melepas pelukan suaminya.


"Tidak perlu" Jawab William tanpa pikir panjang.


Brisia menatap suaminya bingung, "Kenapa?"


"Aku butuh menyeleksinya dulu. Aku tidak ingin kejadian ini kembali terjadi pada putri kita. Aku ingin lihat seberapa tulus perasaannya untuk Raquell. Kamu tau sendiri mereka masih remaja labil. Bisa saja kan anak Laki-laki Jonathan hanya sebatas penasaran dengan rasa asing yang baru dia rasakan. Dan dia akan pergi saat rasa 'penasarannya' terpenuhi."


"Tapi dia terlihat tulus dengan putri kita" Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tidak mau menyerah. Menghilangkan memori ingatan Raquell bukanlah hal baik untuk Raquell kedepannya.


Brisia juga bisa melihat ketulusan dari mata anak Laki-laki Jonathan, saat mereka memutuskan membawa Raquell ke Jerman.


"Kita akan tau jawabannya dua atau tiga tahun kedepan. Itu sudah waktu paling singkat yang aku berikan padanya." Ucap William sembari tersenyum penuh arti.


Brisia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Menyerahkan semua keputusan pada sang suami.


Dalam hati Brisia yakin bahwa Laki-laki itu akan membawa kebahagiaan untuk putrinya, dia yakin bahwa Laki-laki itu akan sangat mencintai dan menjaganya. Feeling seorang ibu tidak mungkin salah.


****


"Aku udah ingat semuanya!" Lirih gadis cantik bermanik abu-abu. Semua memori masa lalunya bagaikan film yang berputar jelas dipikirannya, kala dia berada didalam air biru nan dingin itu, dengan keadaan luka tembak di dadanya.


Rafa tertegun. Dia tau cepat atau lambat Raquell akan mengingat semuanya. Tapi yang membuat Rafa tidak percaya yaitu tepat pada hari pertunangannyalah ingatan Raquell kembali.


"Kenapa kamu gak ngomong apa-apa sama aku? Kenapa kamu gak bilang bahwa ingatan aku harus dihapus karena kejadian itu?" Raquell menangis. Sejak pertama kali bertemu dengan Rafa sebagai Raquell, Gadis itu selalu bermimpi buruk. Itu sebabnya dia ragu menerima Rafa dikehidupannya. Laki-laki misterius yang datang ke kehidupannya itu menawarkan Cinta yang besar, dan itu bisa dilihat dari binar mata Rafa dan pembuktiannya yang tidak kenal kata menyerah.


Raquell menggeleng, "Kamu egois, Ax. Kalian semua egois. Bagaimana bisa kalian membiarkan aku tersiksa. Setiap malam aku selalu ketakutan dengan mimpi-mimpi itu,  seakan berteriak padaku mengatakan bahwa semua ini bukan hanya mimpi semata tapi ingatan aku yang berontak untuk diingat." Raquell berpaling dari tatapan Rafa yang akan membuatnya luluh kapan saja.


Raquell menarik nafas dalam-dalam kemudian memejamkan matanya, meredamkan semua emosinya yang berontak ingin keluar, "Maaf. Seharusnya aku gak nyalahin kamu. Ini bukan kesalahan kamu ataupun orang tua aku yang udah ngehapus memori masa lalu aku. Kalian hanya berusaha untuk membuat aku melupakan kejadian dulu. Membuat aku bisa menjalani hidup tanpa bayang-bayang mereka."


Rafa menangkup kedua pipi Raquell. Memaksa gadis itu untuk menatap kearahnya.


"Hey, kamu gak perlu minta maaf sayang. Aku yang salah karena gak ngomong apa-apa. Kamu bener, aku egois. Aku gak mau lihat kamu kesakitan kayak dulu. Aku gak mau lihat kamu kehilangan semangat hidup kayak dulu. Aku gak mau lihat air mata kesedihan kamu. Melihat kamu sebagai Rachel dulu, yang depresi karena orang-orang yang kamu sayang, orang-orang yang sangat kamu percayai, ngehianatin kamu. Aku gak mau kamu berpikir semua orang bakal ngehianatin kamu, aku gak mau kamu ninggalin aku karena menganggap aku bagian dari masa lalu kamu yang menyakitkan. Aku hanya gak mau ngelihat kamu kayak dulu lagi saat ingatan kamu kembali. Aku gak mau"


Raquell menangis sesegukan, Rafa sungguh membenci melihat kekasihnya menangis.


Dengan perlahan Laki-laki itu membawa Raquell kedalan pelukannya. Membiarkan kekasihnya menangis sepuasnya. Rafa akan selalu berada disamping Raquell, memberikan bahunya sebagai tempat gadis itu bersandar, dan menumpahkan semua air mata kesedihannya. Rafa sungguh sangat menyayangi dan mencintai gadis yang ada dipelukannya.


Rafa terus bergumam meminta maaf. Rafa tau dia bersalah telah menyembunyikan masalah ini dari gadisnya. Dia tidak bisa melakukaan apa-apa. Karena semua telah diatur oleh William Wagner.


Awalnya, setelah mengetahui fakta bahwa ingatan Raquell di hapus secara paksa, Rafa marah besar pada Daddy William, rasa segannya pada laki-laki paruh baya itupun pudar. Itu sebabnya hubungannya dengan William Wagner tidak baik di awalnya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pengusaha hebat asal Jerman itu, yang telah menyabotase ingatan Raquell.


Tapi semakin kesini, dia dapat memahami Daddy dari kekasihnya itu. William Wagner telah kehilangan putri kesayangannya selama belasan tahun. Pengusaha sukses itu telah menantikan seorang anak perempuan dari dulu, ditengah-tengan sang Istri yang divonis susah hamil setelah melahirkan Alvaro. Sekalipun istrinya bisa hamil, kehamilannya itu sangat beresiko. Tapi yang namanya kehendak Tuhan, tidak ada yang bisa menduganya. Brisia bisa hamil lagi dan berhasil melahirkan anak perempuan yang sehat.


Keluarga mereka penuh dengan kebahagiaan, Willian sangat menyayangi putrinya begitupun Brisia yang merasakan sendiri bagaimana berjuangnya dia melahirkan Raquell di saat kondisinya memburuk.


Sayang sekali kebahagiaan hanya sekedar menyapa tanpa menetap. Mereka kehilangan bayi mereka yang akan berumur dua tahun. Waktu itu mereka memutuskan untuk merayakan ulang tahun Raquell di Indonesia di kediaman Keluarga Brisia.


Raquell menghilang sehari sebelum ulang tahunnya, ditaman yang tidak jauh dari rumah orang tua Brisia. Balita yang baru bisa berjalan itu, dengan aktifnya berjalan kesana kemari dengan langkah tertatih. Sekali-kali balita itu terjatuh, tapi tidak urung membuat dia menyerah. William yang waktu itu sedang menerima telphon dan brisia yang sedang duduk santai sambil tertawa melihat anaknya, dikagetkan dengan seorang laki-laki berpakaian serba hitam menggendong balita tersebut dan membawanya masuk ke mobil berwarna hitam.


Kejadian itu begitu cepat terjadi, tanpa bisa di cegah oleh siapapun. Setelah kejadian itu Raquell kecil, tidak lagi ditemukan. Pada akhirnya mereka pulang ke Jerman membawa kesedihan mendalam. Mereka tidak bisa berlama-lama di Indonesia karena William Wagner berkewarganegaraan Jerman. Tapi hal itu tidak membuat mereka menyerah, mereka telah mengerahkan semua kemampuan untuk mencari Raquell kecil. Tapi tidak pernah berhasil, karena nama Raquell telah berubah menjadi Rachel, nama anak Bunda Mila yang telah meninggal. Dan saat Raquell remaja, penampilan gadis itu telah disamarkan.


Pada saat Kejadian di Rumah kosong itu terjadi, Jonathan Ellard menyadari ada yang aneh dengan identitas Rachel, itu sebabnya dia mencari tau tentang Rachel sebelum mengatakan pada William yang telah meminta bantuannya selama bertahun-tahun.


Setelah Mengetahui bahwa Identitas Rachel adalah palsu dia pun mengabari sahabatnya itu. Langsung saja William mengambil penerbangan pertama ke Indonesia, dan melakukan tes DNA. Hasilnya membuat laki-laki paruh baya bertangan dingin itu menangis.


Dia sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan putrinya. Tapi lagi-lagi keluarga mereka di uji dengan keadaan Raquell. Brisia sangat terpukul melihat kondisi anaknya yang depresi dan hampir bunuh diri.


Dengan keadaan Raquell seperti itu, mereka tetap memaksakan membawa Raquell ke Jerman, agar mereka bisa mengawasi kondisi putri kesayangan mereka.


Kondisi psikis Raquell semakin hari semakin memburuk, William Wagner yang tidak tega melihat putrinya seperti itu memutuskan mengambil jalan tengah yaitu menghapus ingatan Raquell secara paksa.


Rafa tau, William Wagner hanyalah seorang Ayah yang menginginkan kebaikan untuk putrinya. Apapun akan dia lakukan sekalipun salah dimata orang lain.