
"Jadi gitu ceritanya Ra, gue gak bermaksud buat bohongin lo soal gue adiknya Rafa. Dari dulu gue emang gak pernah suka orang lain tau gue bagian dari keluarga Ellard. Bukannya gue malu tapi gue gak suka aja dikelilingi orang-orang bermuka dua atau istilahnya munafik. Gue mau yang didekat gue adalah orang-orang yang tulus menerima gue apa adanya."
"Kamu gak percaya yah sama aku? Makanya kamu gak cerita ke aku soal kamu adiknya Axelle"
"Yah, gak gitu juga Ra. Gue..Gue cuman gak mau aja lo berubah saat tau gue adiknya pacar lo, gue lebih nyaman lo anggap gue sebagai sahabat lo."
Raquell menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Berarti dari dulu kamu udah tau dong aku pacaran sama Ax? "
Dengan cepat Ayumi menggelengkan kepalanya. "Gak kok. Gue aja kaget pas tau lo pacaran sama kakak gue saat kita di kantin waktu itu. Selama ini gue gak pernah tau kak Rafa ternyata punya pacar dan itu lo"
Raquell memicingkan matanya "Ax gak pernah cerita soal aku ke kamu? Padahal aku udah kenal lama sama orang tua kalian. Aku juga sering main ke rumah kalian, cuman aku gak pernah ketemu sama kamu tuh. Kata mereka, adik Axelle sekolah di luar negeri. Kamu emang sih sekolah di Jerman, tapi kamu kan udah balik ke Indonesia karena kejadian itu. Lagian aku ketemu sama Ax waktu kamu udah gak di Jerman. Itu artinya kamu di Indonesia kan? Terus kenapa mereka bilang kamu keluar negeri? Kamu-"
"Aduh Ra gue pusing tau, dengar pertanyaan lo. Kalo nanya tuh satu-satu aja. Ya udah deh Gue mau tidur, udah ngantuk lagian lo gak capek? Kita kan baru aja keliling Bandung. Nanti sesi nanyanya dilanjutin lagi besok" Ayumi terlihat menguap, dengan agak terburu-buru dia berjalan kearah kasur.
Raquell mencoba untuk berpikir positif ketika Ayumi mengalihkan pembicaraan, gadis itu tidak mau memperpanjang masalah. Dari awal dia hanya ingin mendengar penjelasan Ayumi tentang dia adiknya Rafa dan Raquell sudah mendengarnya, toh Ayumi juga sudah meminta maaf padanya atas ketidak jujuran gadis itu dari awal dia tau Raquell adalah pacar kakaknya. Seharusnya dia sudah merasa legah tapi entah kenapa dia merasa Ayumi tidak sepenuhnya jujur, ditambah lagi Ayumi tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya tadi.
'Aduh Raquell, jangan negatif thingking.' rutuk gadis blasteran itu dalam hati
Raquell berjalan ke arah kasur dan membaringkan tubuhnya di samping Ayumi yang sudah lebih dulu tidur membelakanginya, dalam heningnya malam diam-diam Ayumi meneteskan air matanya. Ia membekap mulutnya rapat-rapat agar isaknya tidak keluar dan membuat Raquell mendengarnya.
'Maafin gue Ra, gue bohong sama lo. Gue gak siap ceritain yang sebenarnya, gue gak mau lihat kak Rafa sedih. Gak seharusnya gue terus-terusan bohong sama lo karena kenyataannya pertemuan kita berdua sudah dalam skenario. Kalo saja lo gak nyelamatin gue waktu itu mungkin sampai sekarang gue gak akan tulus berteman sama lo' batin Ayumi dengan perasaan sedih menyelimutinya.
Ayumi merasa sangat bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya. Dan sekarang ucapannya pada Rafa seperti berbalik lagi padanya. Dia merasa dirinya adalah seorang pengecut yang tidak pantas menjadi sahabat dari gadis baik seperti Raquell.
♡♡♡
Seorang laki-laki berwajah pucat tampak menatap kosong kearah pigura yang berisikan foto sepasang remaja laki-laki dan perempuan. Sang laki-laki dalam foto itu terlihat memakai topi yang selalu menjadi kesukaannya waktu remaja dulu. Sedangkan sang perempuan terlihat mengikat rambut sebahunya dengan asal-asalan menampilkan senyum lebar andalannya.
"Gue kangen sama lo. Maafin gue. Gue salah karena udah ninggalin lo waktu itu. Dan gue.. Gue selalu dihantui rasa bersalah sampai gue sendiri gak tau harus bagaimana untuk menebus kesalahan gue"
Laki-laki itu meneteskan air matanya, dia tidak peduli dengan keberadaan wanita paruh baya didepan pintu kamarnya yang terbuka, sembari menatapnya penuh iba.
"Aldo, Kamu gak boleh terus-terusan seperti ini. Kamu harus merelakan semua yang sudah terjadi nak. Mama gak mau anak mama terus larut dalam kenangan masa lalu. Ingat, kamu baru sembuh sayang!"
Laki-laki yang tak lain adalah Aldo mengalihkan pandangannya dari pigura kearah wanita paruh baya yang sedang berdiri tak jauh dari tempat dia berada.
Aldo menatap datar mamanya. "Semua ini salah mama!! kalau saja mama dulu gak jahat. Kalau saja mama dulu gak selalu menghasut Aldo buat ikutin semua rencana mama, semua gak akan terjadi ma. Aldo gak akan kehilangan dia. Aldo gak akan semenyesal gini. Aldo gak akan hidup dalam bayang-bayang dia yang udah-"
Aldo menghentikan ucapannya saat ia mendengar isak tangis dari perempuan yang telah melahirkannya, sang mama terduduk di lantai sembari menyender pada pintu kamar Aldo. Wanita paruh baya itu terlihat menyedihkan.
Aldo memalingkan wajahnya, dia tidak tega melihat wanita yang disayanginya dan dihormatinya selama ini terlihat tidak berdaya dengan semua kesalahan masa lalu yang terlanjur dilakukan. Tapi laki-laki itu tidak mau menenangkan sang mama. Dia masih sakit hati atas apa yang dilakukan mamanya dan lebih sakit lagi ketika dia juga terhasut dengan dendam masalalu mamanya itu.
Aldo dia punya andil dalam kejadian menimpa sahabatnya, Tapi dia butuh orang lain untuk disalahkan agar dia tidak menjadi satu-satunya orang yang bersalah disini. Terdengar egois tapi laki-laki itu tidak peduli dengan semua itu.
Rachel.
Aldo sangat merindukan gadis itu. Dia telah kehilangan gadis ceria kesayangannya. Dia kehilangan kebahagiannya ketika melihat gadis remaja itu terbujur kaku dengan tubuh dingin basah kuyup.
Aldo kehilangan dunianya yang tadinya ceria menjadi suram ketika dia ternyata telah terlambat, dia terlambat hanya beberapa menit saja. Dia terlambat merubah pikirannya. Dan dia terlambat menyadari bahwa sosok gadis yang membuat dirinya nyaman itu sangat berharga bagi hidupnya.
Dan sekarang Aldo kembali. Dengan berjuta harapan bisa memperbaiki kesalahan yang diperbuatnya dimasa lalu.
Saat Aldo berada diluar negeri menjalani terapi psikologis akibat depresi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, laki-laki itu mendengar kabar bahwa gadis kesayangannya masih hidup dan itu menimbulkan secercah harapan untuk Aldo menebus semua kesalahannya.
Setelah dia selesai dengan urusannya di Bandung, tempat dimana keluarga ibunya berada. Dia akan langsung ke Jakarta mencari Rachel ditempat yang penuh dengan kenangan masa kecil mereka.
♡♡♡
Rafa menghembuskan napas kasar saat gadis yang dirindukannya beberapa hari ini, membatalkan penerbangan untuk kembali ke Jakarta.
Awas saja kalo sampai gadis nakal itu menunda lagi kepulangannya. Maka Rafa tidak akan mempedulikan Raquell yang melarangnya ke Bandung.
Dua hari yang lalu ketika Rafa akan menyusul Raquell dan juga adiknya, tiba-tiba saja laki-laki blasteran itu mendapat telpon dari sang kekasih. Raquell mengatakan bahwa dia berada di Bandung mengikut kakaknya untuk menghadiri acara peresmian hotel milik keluarga Wagner. Raquell tidak sempat menghubunginya karena ponselnya hilang saat dibandara dan Ayumi yang sedang mogok bicara dengan sang kakak memilih tidak memberi kabar pada kakaknya.
Awalnya Rafa ingin protes karena tidak mengajak dirinya ikut serta. Tapi saat mendengar jawaban Raquell dia pun mencoba memaklumi. Calon Kakak iparnya yang tidak lain adalah Alvaro Wagner, masih menyimpan kekesalan pada Rafa yang telah membuat adiknya menangis. Walaupun sebenarnya dia tidak salah karena Ayumi si gadis usil yang telah mengerjai Raquell.
Alvaro mengetahui kejadian itu dari cerita Raquell yang tidak bisa berbohong pada kakak kesayangannya, ketika Alvaro bertanya kenapa mata Raquell terlihat sembab dan dengan acuhnya dia bercerita bahwa semuanya karena Rafa. Pada akhirnya Rafalah yang harus menerima kemarahan dari Alvaro yang sebenarnya tidak membuat nyalinya ciut.
Huh! Kalo saja Alvaro bukan kakaknya Raquell, mungkin Rafa tidak akan segan-segan menghabisi Alvaro yang sudah beraninya membentak Rafa waktu itu.
Tapi Rafa sedikit legah karena Raquell baik-baik saja. Dan Rafa tidak perlu khawatir dengan Aldo yang bisa saja bertemu dengan Princessnya. Rafa sudah mengirim orang suruhannya untuk menjaga Raquell dari kejauhan, lagipula Rafa mendapat kabar bahwa Aldo sudah tidak berada di Bandung.
♡♡♡
Tbc...