Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Kanaya



"Akhirnya kamu pulang juga sayang!" Rafa terlihat memeluk seorang gadis Yang memakai topi dengan rambut sebahu diurai.


"Ya ampun Axelle, aku baru beberapa hari loh di Bandung!"


"Kamu emang baru beberapa hari di Bandung, tapi kamu juga mendiamkan aku beberapa hari sebelum ke Bandung. Gimana aku gak kangen sama kamu coba?"


Raquell mengerucutkan bibirnya. Kemudian dia membalas pelukan Rafa. Huh! Dia juga sangat merindukan pacar kesayangannya.


"Ya udah, Aku minta maaf. So, bisa kita pulang? Aku udah capek banget"


Rafa tampak celingak celinguk seperti mencari seseorang diantara banyaknya orang yang berlalu lalang di bandar udara ibu kota.


"Ayumi sama kakak kamu mana? Kok mereka gak kelihatan?"


"Ayumi udah balik duluan, katanya dia punya janji sama orang lain. Kak Alva masih ada urusan di Bandung, jadi kepulangannya gak barengan sama aku dan Ayumi"


Rafa tersenyum kecut mendengar penjelasan Raquell. Apakah segitu tidak mau bertemu kah Ayumi dengannya? sehingga menghindari kakak satu-satunya ini? Huh! Rafa tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Dia harus berbicara dengan adik nakalnya itu.


"Ax!!"


"Hmm?"


"Axelle!!"


Rafa mengecup puncak kepala Raquell karena merasa gemas dengan kekasihnya. Laki-laki jangkung itu tau bahwa Raquell tidak suka jika dirinya hanya membalas panggilan gadis itu dengan deheman saja dan terkesan cuek pada gadis itu "Ya Sweetheart?!"


"Kamu marahan yah sama Ayumi?"


Rafa terkekeh "Marahan? Kok pertanyaan kamu kedengeran aku tuh childish banget yah?"


"Serius Ax!"


Rafa mengelus puncak kepala Raquell dengan lembut,"Gak sayang. Aku gak marahan sama dia. Ayumi hanya lagi ngambek aja sama aku"


"Ngambek? Kok bisa?!"


"Yabisalah. Udah yah, kita harus pulang. Katanya kamu capek?"


Raquell yang tidak mau berdebat, memilih mengiyakan ajakan Rafa untuk pulang. Lagipula dia juga benar-benar butuh istirahat.


Kedua pasangan itu pun berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa tau bahwa sedari tadi seseorang sedang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan sembari mengepalkan kedua tangannya.


♡♡♡


"Tck!! Dia udah balik. Bakal ada drama lagi nih"


"Bukannya itu cewek yang ngejar-ngejar Rafa?"


"Si rubah licik udah kembali. Pasti bakal sial banget orang-orang yang suka sama Rafa secara terang-terangan. Pasti bakal di bully. Dia kan gak pernah bisa diam kalo menyangkut Rafa."


"*Liat deh wajah angkuhya. Cantik sih tapi make up nya itu loh. Menor banget"


"Gimana yah kalo dia tau Rafa gak sendiri lagi. Rafa kan udah punya pacar. Cantik banget lagi,  Kanaya mah kalah*"


Emosi gadis yang memakai dress selutut itu tiba-tiba meningkat saat telinganya mendengar bahwa Rafa sang laki-laki pujaannya sudah mempunyai pacar.


Sial!


Dirinya kecolongan. Baru beberapa bulan saja dia meninggalkan Indonesia, dia sudah kehilangan kesempatan menjadi pacar cowok perfect seperti Rafa Ellard.


Gadis itu mengibaskan rambut panjangnya yang di curly dengan angkuh. Kemudian ingatannya kembali pada saat dia berada di bandara. Gadis itu yang tidak lain adalah Kanaya, teman remajanya Rafa dkk dulu tidak sengaja melihat Rafa bersama dengan seorang gadis yang bukan seperti orang Indonesia dan terlihat mesra. Dia tidak pernah melihat Rafa sehangat dan sebahagia itu setelah kejadian masa lalunya.


Apakah itu adalah pacarnya? Hah! Gadis itu kelihatan biasa saja. Masih cantikan dia. Pikir Kanaya dengan bangga.


Kanaya memutuskan untuk berjalan menuju kelasnya yang ada di fakultas yang sama dengan Rafa, tapi langkahnya terhenti saat dia melihat Rafa dkk bersama dengan dua orang gadis yang salah satunya dapat dia ketahui bahwa itu adalah gadis yang sama yang dilihatnya dibandara kemarin.


Dengan percaya diri Kanaya menghampiri mereka semua.


Not bad.


Raquell yang ditatap seperti itu oleh gadis asing yang belum pernah dilihatnya, merasa terganggu.


"*****! What are you doing in here. Gue kira lo udah mati. Tapi ternyata belum yah? Tck gak asik!!" Raquell terngaga mendengar ucapan kasar keluar dari mulut Gio, laki-laki yang terlihat care sama semua perempuan.


Sedangkan Kanaya yang sudah terbiasa dengan ucapan pedas Gio hanya memasang muka tebalnya.


"Aduh mulut lo yah. Lemes banget kek cewek. Gini nih kalo kebanyakan bergaul sama cewek-cewek rendahan"


"Shut up youre mouth. Mulut lo yang hina itu gak pantas ngehina orang lain"


"Gak usah ngeladenin cewek gak tau diri kayak dia. Buang-buang waktu aja"


Untuk kedua kalinya Raquell ternganga. Seorang Kavin yang paling tenang diantara mereka berempat, terlihat tidak bisa menahan emosinya. Apa sebenarnya yang terjadi antara mereka dan gadis asing itu? Keempat orang laki-laki itu terlihat menyimpan amarah pada gadis tersebut. Dan diantara mereka Raquell bisa melihat bahwa Rafalah yang terlihat sangat emosi. Laki-laki blasteran itu mengepalkan sebelah tangannya yang sedang tidak merangkul Raquell, wajahnya juga terlihat memerah. Raquell yang tidak biasa melihat ekspresi Rafa seperti itu speechless dibuatnya. Raquell mengusap pipi Rafa untuk menenangkan kekasihnya, dan kelihatannya caranya itu berhasil.  Rafa nampak lebih relax.


"Oh jadi ini yah pacarnya Rafa Ellard? Cantik sih tapi cantikkan gue tentunya"


Ayumi yang mendengar ucapan kelewat percaya diri itu rasanya ingin muntah "Hello. Lo mimpi yah? Masih cantikan sahabat gue lah kemana-mana dari pada muka menor lo yang kayak tante-tante girang itu!!"


Raquell mengira hanya keempat pangeran kampus itu saja yang tidak suka akan kehadiran gadis asing itu. Tapi ternyata sahabatnya juga seperti mereka. Dan tampaknya mereka semua sudah saling kenal cukup lama. Siapa sebenarnya gadis asing itu?


"Ini lagi satu. Lo siapa sih? Mahasiswa baru? Lo jangan cari masalah yah sama gue, Gue ini senior lo!!"


"Gue gak peduli dengan kesenioran lo itu. Selagi lo cari masalah sama gue ataupun sahabat gue. Gue gak bakal tinggal diam!"


Kanaya yang berang ingin memberikan pelajaran pada juniornya itu, dengan menamparnya. Tapi sebelum itu terjadi Rafa sudah menahan tangan Kanaya dengan mencengkeramnya kuat lalu menghempaskannya begitu saja.


"Pergi!!" bukanya pergi seperti yang diperintahkan Rafa, Kanaya yang hampir terjatuh itu lebih memilih menggandeng tangan sebelah Rafa yang bebas. Karena tangan satunya lagi masih merangkul Raquell, tapi kali ini bukan pada bahu pacarnya tapi pada pinggangnya.


"Raf-"


"Lo budek yah? Rafa udah nyuruh lo pergi. Jangan terlalu nunjukin sifat murahan lo itu deh. Jijik gue lihatnya"


"Apa-apaan sih lo Reagan! Gue gak ada urusan yah sama lo semua. Gue kesini mau ketemu sama Rafa!!"


Muka Kanaya yang merah karena blush on terlihat semakin memerah karena emosinya yang ditahan. Ditambah lagi tangannya sakit karena sekali lagi Rafa menghempaskan tangannya dengan begitu kejam.


Reagan terkekeh sinis. "Gak ada urusan sama kita? Lo lupa? Atau pura-pura lupa? Karena lo Rach-"


"Reagan!!" panggil Rafa memperingati sahabatnya.


"Oh jadi lo masih marah sama gue karena cewek tomboy itu udah gak ada? Dia memang pantas ma-"


"KANAYA!! GUE BILANG PERGI YAH PERGI!!"


Teriakan Rafa menggema di koridor kampus, membuat semua orang yang mencuri dengar pembicaraan mereka kaget. Tak terkecuali para sahabat Rafa, Ayumi, Kanaya dan juga Raquell.


Kanaya yang ketakutan melihat ekspresi Rafa, dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Sedangkan yang lainnya masih terpaku, apalagi Raquell yang belum pernah melihat seorang Axelle Rafardhan Ellard semarah itu.


Apakah lagi-lagi ini soal gadis masa lalu Rafa?


Apakah sebegitu berharganya gadis itu sampai  bisa mempengaruhi emosi sang kekasih?


Setelah kejadian itu Raquell jadi sadar bahwa gadis masa lalu Rafa mungkin saja masih menempati posisi istimewa di hati laki-laki itu.


Raquell membutuhkan cerita tentang masa lalu Rafa, agar hatinya tetap baik-baik saja dan bisa meyakinkannya bahwa gadis itu selamanya akan menjadi masa lalu kekasihnya. Tapi sampai sekarang cerita itu tidak pernah keluar dari mulut Rafa, laki-laki itu seolah menyimpan kisahnya dengan rapat dan tidak ingin diketahui oleh Raquell.


Jujur saja Raquell merasa cemburu dengan Rafa yang bersikap berlebihan menyangkut masa lalunya.


♡♡♡