
"Truth or Dare?"
Terlihat sekelompok remaja memakai seragam SMP yang sedang duduk melingkar. Mereka sedang memainkan permainan Truth or Dare didalam salah satu kelas yang sedang tidak ada gurunya. Seorang gadis remaja yang rambutnya dikuncir satu kebelakang, mendapat giliran karena botol yang dipergunakan untuk permainan tersebut mengarah padanya.
"Dare!!" Serunya dengan semangat. Iris mata hitamnya nampak berbinar karena sedari dulu dia sangat menyukai tantangan. Dan sejauh ini saat dia dan teman-teman memainkan permainan tersebut, dia selalu bisa melaksanakan tantangan dari teman-temannya.
"Yakin lo? Kali ini kita gak bakal nantangin lo kayak biasanya, yang hanya disuruh nyanyi di depan umum, atau tantangan lainnya yang lo anggap remeh." Ucap salah seorang cowok berkacamata terlihat serius dan diangguki oleh yang lainnya.
"Gue siap kok, apapun tantangannya!!" Ucap gadis itu dengan menyakinkan. Yah, anggaplah untuk melatih diri agar lebih berani. Pikir gadis tersebut.
"Oke!! Gue terima." Ucapnya yakin. Oh god dia pasti akan menyesali permainan Truth or Dare nya kali ini. Karena entah kenapa dia memiliki firasat bahwa semua tidak akan baik-baik saja.
Semoga saja firasatnya kali ini meleset. karena biar bagaimanapun, Rumah yang menjadi target permainan mereka kali ini terlihat menakutkan. Tidak, gadis itu tidak merasa takut dengan adanya makhluk halus dalam rumah tua itu. Bukannya sok berani hanya saja beberapa hari yang lalu, saat gadis itu melewati jalan di dekat rumah itu. Tak sengaja dia melihat beberapa orang berpakaian hitam memasuki rumah tua tersebut. karena tidak mau mencampuri urusan orang lain dan mendapatkan masalah, gadis beririskan hitam memilih meninggalkan tempat menakutkan yang kata orang banyak hantunya.
Siapa sangka, takdir malah membawanya ketempat itu. Jika saja dia bisa memutar kembali waktu, dengan bahagianya dia tidak akan memilih Truth. Tapi mau bagaimana lagi, karena tidak mau dianggap sebagai pengecut, gadis berkuncir satu itu harus bisa masuk ke rumah tua untuk menyelesaikan Dare-nya.
Tanpa diketahui oleh sang gadis, laki-laki berkacamata itu menatap dalam kearahnya. Jika saja mata orang-orang yang berada dalam lingkaran itu jeli. Mereka akan tau bahwa tersimpan kekhawatiran dalan sorot sang laki-laki berkacama.