
"Raf, coba lihat deh arah jam 3!!" seru Gio pada seorang laki-laki remaja yang sedang membaca buku pelajaran.
Bukan hanya Rafa, dua orang laki-laki lainnya dan satu perempun sepantaran Rafa ikut menoleh pada yang dimaksud oleh Gio. Seulas senyum mempesona terbit diwajah laki-laki tampan itu, disana dapat dilihatnya sosok gadis remaja berambut hitam yang di ikatnya asal-asalan.
Gadis itu sedang tertawa lebar, bercanda dengan laki-laki seangkatan Rafa yang sering terlihat bersama gadis yang disukainya.
Ah, Rafa sedikit iri dengan laki-laki itu. Dia bisa menikmati wajah bahagia gadis tersebut secara dekat dan lebih sering tentunya.
"Biasa ajah liatinnya, kalo berani samperin. Gak bosan lo cuman liatinnya dari jauh melulu?" suara Gio kembali terdengar dan kali ini memanas-manasi Rafa.
Gadis disamping Rafa menatap Gio tidak suka, "Udah deh, gak usah hasut Rafa. lagian apa bagusnya sih dia? liat aja penampilannya, mirip anak cowok!"
"Sewot aja lo!! biar kek cowok gitu dia gak kalah cantik sama lo!"
Gadis yang bernama panjang Kanaya mauretta, mendelik kearah Gio. Selang beberapa detik gadis itu menghembuskan nafas kasar.
"Rachel baik!" dua kata itu mampu membuat semua orang ditempat tersebut menoleh kearah laki-laki berkaca mata, tak terkecuali Rafa yang sedari tadi tidak melepas pandangan dari gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka. Dan anehnya laki-laki berkaca mata yang tidak lain adalah Reagan mau repot-repot berkomentar perihal gadis tomboy kesayangan Rafa.
Biasanya remaja laki-laki itu hanya akan diam saja sambil mendengar instrumen piano melewati earphone kesayangan miliknya. Reagan dan dunianya tidak akan terpisahkan terkecuali itu hal yang penting dan menarik untuk diperhatikan.
Kanaya tersenyum, "Jangan bilang lo suka sama dia?!" Ucapnya memancing Reagan. Entahlah dia seperti ingin kedua sahabat baik itu bertengkar.
Reagan menatap Kanaya datar kemudian beralih pada Rafa yang juga menunggu jawabannya dengan ekspresi tegang.
"Kagum!! Kalian tau sendirikan kalo dia yang nolongin gue waktu gue di bully sama anak-anak lain." Reagan tersenyum lembut menatap Rachel.
"Sejak itu buat gue Rachel berharga. Gue bakal ngelakuin apapun buat Rachel, sekalipun menjadi 'Guardian Angel' buat dia. Dan tentunya gue harus jadi orang yang kuat agar bisa ngelindungin dia dikemudian hari"
Rafa merasa tidak suka dengan penjelasan Reagan, apalagi tatapan sahabatnya itu pada Rachel. Hatinya merasa tidak rela. Rafa memilih untuk berbalik pergi, tapi sebelum itu dia memberi peringatan halus untuk Reagan.
"Lo tau gue suka sama dia kan? gue harap kita gak akan menjadi saingan."
Kavin menepuk bahu Reagan sebelum mengikuti Rafa yang sudah berjalan pergi, "Jangan terlalu dipikirin. Gue tau perasaan lo ke Rachel gak sama dengan perasaan Rafa ke cewek itu."
Reagan hanya menghembuskan napas dalam-dalam. Tanpa mereka tau keesokan harinya Rachel menemuinya dan memberikan hadiah ulang tahun yang sangat berharga untuk Reagan, karena itu adalah pemberian pertama dan terakhir yang dia dapat dari Rachel Anastasya. Karena setelah hari itu, Rachel dinyatakan menghilang bahkan ada kabar yang mengatakan bahwa gadis itu sudah pergi untuk selama-lamanya.
♡♡♡
"Aldo, Lo kenapa?" tanya Kanaya ketika mendapati teman sekelasnya terlihat cemas.
"Nay!! pas banget lo datang"
Kanaya mengernyit, "Emang kenapa? Dan lo kok bisa ada disini?" Tanya gadis itu saat menyadari Aldo berada didepan rumah tua tempat Rafa disekap.
"Rachel, dia di dalam" laki-laki itu berujar pelan, "lo bisa gak? Keluarin Rachel. Dia gak ada hubungannya sama rencana lo dan om lo kan?"
Kanaya membelalak mendengar ucapan Aldo. Kenapa bisa Rachel ada di dalam. Rencananya bisa gagal untuk pura-pura menolong Rafa dan membuat laki-laki itu merasa hutang budi padanya, dan selalu terikat dengannya.
Sialan! Gadis tomboy itu memang menyebalkan.
"Kenapa bisa sih dia didalam? Lo tau kan Rumah ini tempat dimana Rafa disekap?"
"Iya gue tau. Gue udah coba ngelarang dia buat masuk, tapi Rachel gadis yang keras kepala." Aldo mengacak rambutnya yang sudah tidak tertutupi topi hitam kesayangannya, "Lagian kenapa juga sih dia masih ajah mainin permainan gak jelas kayak gitu." Gumamnya frustasi.
Kanaya yang dapat mendengar gumaman Aldo, mengerutkan dahi.
Permainan? Permainan apa sih yang bisa membuat seorang gadis remaja kayak Rachel mau-maunya masuk ke rumah kosong yang terkenal berhantu.
"Truth or Dare. Lo tau kan permainan itu? Rachel orangnya nekat. Dia akan dengan berani memilih tantangan dari pada kejujuran. Karena dia gak mau rahasianya terbongkar" Jelas Aldo ketika melihat raut kebingungan tergambar jelas diwajah Kanaya.
Gadis dihadapannya mengangguk-angguk mengerti.
"Yaudah Ayo!!"
Baru saja kedua remaja berbeda gender itu ingin melangkah kaki untuk masuk, tiba-tiba suara familiar yang sangat dikenali Aldo, menghentikan langkah mereka.
"AlDO!!"
Remaja laki-laki itu melotot mendapati mamanya yang sedang melemparkan tatapan tajam kearahnya.
"Kenapa? kamu gak suka mama kesini? Supaya kamu bisa kedalam buat nolongin Rachel? Mama sudah bilang jangan terlalu dekat sama gadis itu."
Aldo menatap sendu kearah mamanya. Mamanya selalu seperti ini, melarang dirinya dekat dengan gadis kecilnya.
Laki-laki itu merasa ada yang aneh, kenapa mamanya bisa tau Aldo akan menyelamatkan Rachel didalam sana. Pandangannya pun beralih pada Kanaya. Gadis itu tersenyum smirk sembaya menggoyangkan benda pipih milik gadis itu, pertanda bahwa dia telah menghubungi mama Aldo tanpa laki-laki itu sadari. FYI, Om Kanaya dan Mama Aldo teman dekat, itu sebabnya Kanaya kenal akrab dengan mama Aldo.
"Ups! Sorry gue sengaja. Habisnya gue kesel sama sahabat lo itu. Ya udah deh gue kasih pelajaran sedikit. Setelah gue pikir-pikir pasti seru buat dia ketakutan didalan sana. Yah anggaplah sebuah peringatan. Kebetulan juga tante Rani ada didekat sini, pas banget kan? Jadinya lo gak bisa nolongin cewek menyebalkan itu." Jelas Kanaya tanpa merasa bersalah.
Aldo mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat kesal dengan perempuan yang sempat disukainya itu.
"Sekarang kamu pulang! Biarin Kanaya sama Om-nya menyelesaikan dendam mereka sekalian juga mewakili dendam Mama ke Rachel" ucap Mama Aldo sembari menarik tangan anak laki-lakinya.
"Ma!! Aldo gak bisa ninggalin Rachel didalam. Bahaya buat dia. Aldo janji setelah nolongin Rachel, Aldo bakal jauhin dia." bujuk Aldo, mencoba bernegosiasi dengan wanita yang telah melahirkannya. "Lagian Mama gak ngomong kalo Rumah ini berbahaya untuk Rachel" Lanjutnya dengan bergumam sangat pelan sehingga kedua orang itu tidak mendengar apa yang laki-laki itu katakan.
"Kamu ngomong apa?" tanya Mama Aldo yang mendapat gelengan oleh anaknya.
Mama Aldo menimbang-nimbang pilihan apa yang harus dia ambil. Belum sempat wanita paruh baya itu menjawab. Suara sirine polisi mengagetkan dirinya. Jonathan Ellard pasti tidak akan tinggal diam anaknya diculik.
"Aldo kita harus segera pergi dari sini. Mama gak mau berurusan sama polisi"
Mama Aldo dan Kanaya meninggalkan tempat tersebut dengan sedikit tergesa. Berbeda halnya dengan Aldo yang memilih masuk sebelum beberapa polisi itu sampai kedepan rumah kosong itu.
Aldo berjalan kelantai atas dengan tergesa-gesa, saat pendengarannya menangkap suara berisik dari arah sana.
Dan benar saja dari tempatnya berdiri dapat dilihatnya Rachel sedang berada di balkon tepatnya didepan pagar pembatas yang terlihat rapuh, sedangkan tidak jauh dihadapannya ada Om Kanaya juga Rafa yang terlihat diapit oleh kedua anak buah dari Om kanaya.
Aldo melihat sebuah pistol diatas nakas berwarna coklat. Walaupun tidak pernah menggunakan pistol, Aldo cukup tau cara pemakaiannya dari film action yang sering dia tonton bersama Raquell, semoga saja dia tidak salah. Dengan sedikit gemetar dia membidik ke arah Om-nya Kanaya.
Dor
"Kak Rafaaaa!!"
*Byurr.
Dor*
Aldo tersentak kaget dengan teriakan seorang gadis yang terdengar menyedihkan di telinganya. Suara teriakan itu diikuti dengan suara seseorang yang tercebur kedalam kolam.
Tidak
Bukan itu alasan utama dia gemetaran hebat dengan keringat membasahi tubuhnya. Tapi kenyataan baru yang membuat hatinya terluka parah. Tembakan Aldo meleset, dan malah mengenai sosok gadis yang sangat dia sayangi. Aldo telah melukai Rachel. Pada malam itu ada dua tembakan yang terjadi secara berdekatan.
Aldo bisa melihat tatapan terluka dari Rachel padanya sebelum dia jatuh dan meneriakan nama Rafa. Dengan cepat Aldo melempar pistol laknat itu dan berlari ke arah kolam berenang yang dia yakini terdapat di lantai bawah belakang rumah ini.
'Tuhan jangan hukum aku seperti ini. Ini terlalu menyakitkan untukku' Batinnya mengiba
Sebelum benar-benar turun ke lantai bawah, Aldo sempat mendengar suara Rafa yang meneriaki nama sahabatnya. Dan tanpa Aldo sadari Rafa melihat tindakan Aldo yang menembak Rachel.
Perasaan menyesal menghampiri Aldo. Memikirkan Rachel tidak akan selamat akibat tembakannya itu membuat Aldo ingin menangis meraung.
Langkah Aldo terhenti cukup jauh dari kolam berenang dan tubuhnya seketika membeku melihat gadis kecilnya tidak bergerak dipinggiran kolam. Disana nampak dua orang berbadan besar dan berpakaian hitam membantu menyelamatkan gadis itu, wajah kedua orang itu terlihat tegang Melihat tubuh Rachel yang terluka parah dan basah kuyup.
Kaki Aldo terasa sangat lemas, pada akhirnya dia terjatuh berlutut di tempatnya berdiri tadi, air mata laki-laki itu tidak bisa di tahan lagi ketika manik matanya menatap gadis yang selalu mengisi hari-harinya terbujur kaku dengan wajah pucat.
Apakah dia telah kehilangan Rachel?
Tiba-tiba perasaan bersalah menggerogoti hati dan pikirannya. Seandainya dia bisa lebih cepat lagi. Seandainya dia tidak mendengar perkataan mamanya. Seandainya dia tidak ceroboh ingin menembak Om-nya Kanaya.
"Rachel" lirihnya dibawah lampu yang menjadi penerang di area kolam berenang, dia menggumamkan nama gadis itu berkali-kali dengan nada yang begitu pilu. Dia telah membunuh sahabatnya sendiri, dia telah mengecewakan Rachel. Jika saja Rachel benar-benar tertolong, Aldo yakin gadis itu tidak akan pernah memaafkannya. Tatapan Rachel adalah buktinya.
Ini semua salahnya. Rachel tidak akan seperti ini kalau saja dia tidak ceroboh. Perasaan bersalah itu sangat mengganggu Aldo. Dia tidak bisa berhenti menangis. Persetan jika dia dikatakan banci karena tidak sepatutunya laki-laki menangis. Aldo tidak peduli dengan pandangan orang yang terlalu dangkal itu. Laki-laki juga manusia yang mempunyai air mata dan memiliki hak untuk menumpahkan semua kesedihannya lewat air mata.
Please jangan pergi, chel.
"Kita harus membawa gadis ini kerumah sakit secepatnya, dia kehilangan banyak darah dan detak jantungnya melemah. Saya rasa gadis ini tidak akan tertolong lagi" ucap salah satu dari kedua orang berpakaian hitam yang Aldo tau adalah orang-orang dari Jonathan Ellard. Karena tidak sengaja Aldo memdengar salah satu dari mereka menelphone bos mereka itu. "Kita harus cepat, jangan sampai Polisi mengetahui kondisi gadis ini"
Rumah sakit? Apakah Rachel-nya masih bisa diselamatkan?
Seperti orang ling-lung Aldo hanya bisa melihat kepergian kedua orang itu dengan pandangana tidak fokus. Tidak lama kemudian Aldo tersentak kaget kala seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya menariknya menjauh dari tempat itu.
♡♡♡