
Gaes, part kali ini masih membahas masa lalu yah.
**
Sudah dua minggu lebih berlalu setelah kejadian itu, dan Rachel belum juga sadarkan diri.
Sedangkan Om Kanaya dan para anak buahnya sudah dipenjarakan. Kanaya, Aldo serta Mamanya sempat di interogasi oleh polisi, mereka dinyatakan tidak bersalah karena tidak ada bukti yang mengarah pada mereka bertiga. Pihak Rafa juga tidak berbicara apapun perihal Rachel tertembak, Jonathan Ellard menyembunyikan Fakta itu atas permintaan orang tua kandung dari Rachel Anastasya.
"Kamu sudah janji yah sama mama buat jauhin Rachel setelah kamu mau masuk ke rumah itu buat nolongin dia" ucap mama Aldo memperingatkan. Mereka sedang berada dirumah sakit tepatnya didepan kamar rawat Rachel. Mama Aldo menatap anaknya bingung, pasalnya Aldo hanya diam saja menatap kosong kearah ruangan Rachel yang tertutup rapat. Wanita paruh baya itu beranggapan bahwa anaknya mungkin masih sedih melihat Rachel dirawat. Mamanya tidak tau saja bahwa anaknya hampir saja menjadi seorang pembunuh.
"Ayo kita pulang." Ajak Mama Aldo tidak peduli dengan Aldo yang masih tenggelam dengan rasa bersalahnya.
Aldo tidak bisa diam lagi dengan Mamanya, "Ada apa sih dengan Mama? Selalu saja seperti ini. Mama selalu berusaha jauhin Aldo dari Rachel. Mama belum puas dengan apa yang dialami Rachel?" teriaknya marah.
"Mama itu gak suka sama dia, Aldo. Orang tua dia udah buat hidup mama menderita. Papa kamu meninggal karena orang tua Rachel."
Aldo terdiam mendengar ucapan mamanya yang terselip nada kemarahan.
Tidak mungkin. Rachel anak yatim piatu.
"Gak mungkin Ma. Rachel gak punya orang tua. Bagaimana bisa Mama bilang orang tua Rachel penyebab papa meninggal"
Mama Aldo terkekeh sinis."Orang tua Rachel masih hidup. Mereka nabrak papa kamu sampe meninggal. Saat mama nuntut mereka ke pengadilan, malah pengadilan memutuskan mereka tidak bersalah. Mama gak bisa berbuat apa-apa karena mereka punya kekuasaan."
Wajah mamanya berubah sendu ."Kamu gak tau betapa sedihnya mama saat kehilangan papa kamu, ditambah lagi waktu itu kamu masih kecil. Sampai pada akhirnya Mama nyulik Rachel dibantu Mila adik papa kamu yang juga tidak terima dengan kematian kakaknya. Tapi Mila malah menyayangi anak kecil itu pada pertama kali mereka bertemu. Makanya dia merawat Rachel penuh kasih sayang. Mama ingin membuat orang tua Rachel merasakan bagaimana kehilangan orang yang mereka sayang"
"Mama kok tega banget misahin Rachel dengan orang tuanya?! Rachel gak salah apa-apa, dia masih sangat kecil untuk tau kesalahan yang diperbuat orang tuanya. Lagian semua ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan" elak Aldo. Dia tidak mau menyalahkan Rachel, gadis itu sudah cukup menderita pada masa kecilnya.
Siapa yang akan menyalahkan Gadis kecil bermanik abu yang terlihat cantik dan menggemaskan, rambutnya yang pirang sedikit kecoklatan membuat dia terlihat mencolok. Bahkan bukan cuman Bunda Mila yang akan menyayangi gadis kecil itu pada jumpa pertama, Aldo saja yang masih kecil merasa gemas dengan wajah layaknya boneka itu.
Hanya saja beberapa anak sepantarannya sering membully Rachel. Manik mata berbeda dengan orang pribumi, membuat teman-teman gadis itu menatap Rachel layaknya gadis itu alien.
Gadis kecil yang cantik itu selalu menangis tersedu-sedu, mengadu pada Bunda Mila, karena sering di ejek. Pada akhirnya Bunda Mila mewarnai rambut Rachel menjadi hitam. Dan memakaikan softlens berwarna hitam pula saat Rachel memasuki bangku SMP.
"Bagi mama dia tetap bersalah. Dan satu lagi!" Mamanya menatap sesuatu dibalik punggung Aldo. "Rachel tidak akan memaafkan kamu yang sudah mengkhianantinya."
"Ma--Maksud Mama?"
"Kamu jangan pura-pura lupa Aldo. Kamu yang membuat Rachel pergi ke rumah tua itu lewat teman Rachel."
Mama Aldo mengusap singkat puncak kepala anaknya,"Kamu memang anak penurut, walaupun kamu sering membela gadis itu tapi kali ini kamu menuruti perkataan Mama. Kamu melakukannya sampai akhir, meninggalkan dia didalam rumah itu. Kamu juga--"
"MA!! MAMA MANFAATIN ALDO?" teriak Aldo penuh kekecewaan. Wajahnya yang terlihat memerah berubah senduh kemudian, "Mama tau gak? Aldo hampir aja menjadi seorang pembunuh" lirihnya sedih.
Mama Aldo membekap mulutnya tidak percaya dengan pengakuan Aldo. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia ingin membalaskan dendamnya tapi bukan dengan cara menjadikan anaknya seorang pembunuh.
"Ternyata begitu yah" lirih suara lemah yang Aldo kenali bahwa itu adalah Rachel.
Aldo berbalik kemudian terpaku ketika manik matanya bertemu dengan manik abu milik gadis yang sedang duduk di kursi roda, mata indah itu dipenuhi dengan air mata. Rachel tidak memakai soflensnya lagi.
Awalnya Mama Aldo sengaja membuat Rachel mendengar semua kebenarannya. Agar Rachel bisa pergi dari kehidupan sang anak. Dia sudah melihat keberadaan gadis itu dibelakang Aldo. Sebenarnya Mama Aldo sudah tau bahwa Rachel telah sadar dua hari yang lalu, dari perawat yang sedang berada dibelakang Rachel, yang membantu mendorong kursi roda milik gadia itu.
Saat Mama Aldo ke kamar mandi tadi dia bertanya pada salah satu perawat dan kebetulan perawat itu yang telah merawat Rachel selama di rumah sakit. Perawat itu mengatakan bahwa Rachel sedang melakukan perawatan pasca bangun dari komanya selam dua minggu.
Tapi setelah mendengar pengakuan anaknya dia menyesal membuat Rachel mendengar semuanya, wanita paruh baya itu tidak ingin anaknya dilaporkan ke polisi.
Aldo tidak dapat mengelak, pada kenyataannya apa yang dikatakan sang Mama adalah kebenaran. Semua karena dia yang meminta teman sekelas Rachel untuk memberikan Dare itu. Tapi jujur dalam hatinya Aldo berharap bahwa Rachel tidak memilih Dare.
'Dare' itu diberikan Aldo melewati teman sekelas Rachel bernama . Mama nya memerintahkan dia untuk membawa Rachel ke Rumah tua itu bagaimanapun caranya, Aldo menurutinya karena sang Mama berjanji untuk membiarkan dia dekat dengan Rachel.
Tapi bodohnya Aldo, dia tetap menuruti perintah Mamanya dan membuat Rachel dalam masalah bahkan sampai mencelakai gadis itu. Aldo memang bodoh dan tak berpikir panjang. Yang ada dipikirannya saat itu adalah apapun akan dia lakukan agar bisa bersama sahabtnya itu tanpa halangan dari sang Mama.
Pikiran bahwa Rachel tidak akan pernah memaafkannya membuat Aldo sangat marah pada dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain diperalat oleh orang yang dia sayangi, dibohongi oleh orang yang sangat dia percayai. Dan menerima kebencian dari gadis tidak bersalah yang sialnya sangat berarti dikehidupannya.
Aldo yakin Rachel sangat membencinya, dan itu bisa dia lihat dari tatapan mata gadis itu yang menyorot penuh kekecewaan.