
"Ayumi!!"
Seruan seorang gadis yang terdengar familiar di telinga kedua orang yang sedang berpelukan sontak saja membuat mereka berdua melepaskan pelukan mereka.
Rafa dan Ayumi membulatkan mata saat melihat Raquell sedang menatap mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Shit!!
Rafa lupa dengan keberadaan Raquell di mansionnya. Mungkin ini yang dinamakan kesialan yang membuat Rafa seperti lelaki yang sedang tercyduk berselingkuh oleh sang kekasih.
Dengan langkah terburu-buru, Laki-laki blasteran itu berjalan mendekat kearah pujaan hatinya. Saat dia mencoba meraih tangan sang kekasih, dengan tidak berperasaannya Raquell menepis kasar tangan Rafa.
Oh sialan!
Entah sudah berapa kali dia mengumpat, kalo mamanya yang cerewet itu mendengarnya bisa-bisa Rafa ditendang dari mansion tersebut. Raquell tidak pernah menolak sentuhannya mau sekesal apapun gadis itu terhadapnya. Dan dia yakin kali ini Raquell benar-benar marah. Apakah sefatal itu kesalahannya?
"Princess, listen to me!! Semuanya tidak seperti apa yang kamu lihat"
Raquell tidak mempedulikan laki-laki dihadapannya yang mencoba mengambil perhatiannya. Raquell masih saja terdiam dengan tatapan tajam mengarah pada sahabatnya yang tampak tidak merasa bersalah sama sekali.
Kemudian gadis cantik itu terkekeh sinis, "Wah. Aku tidak menyangka bahwa drama menyebalkan seperti ini bisa ada dalam kehidupanku" Gumamnya dengan menggunakan bahasa Jerman.
"Princess. Kamu salah pah-"
"Shut up your mouth, Bastard!!"
Rafa tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar. Gadisnya itu baru saja mengumpatnya.
Rafa benar-benar tidak percaya kata itu bisa keluar dari mulut cantik kekasihnya.
"Princess, aku tidak suka kamu mengumpat seperti itu" ucap Rafa dengan suara rendah, Menandakan bahwa laki-laki itu sedang menahan emosinya.
"Aku tidak peduli!! Aku mau pulang sekarang"
Rafa mendengus pasrah. "Yaudah, aku antar"
Ketika Rafa akan meggapai kembali tangan Raquell, lagi-lagi ditepis kasar oleh gadis itu.
"Aku mau pulang, tapi sendiri!! Kamu urusin ajah selingkuhan kamu itu, dan jangan menghubungiku lagi. Waktunya sudah habis, Ax. Kesempatan yang aku berikan padamu dua tahun lalu sudah tidak ada lagi. Dan tidak akan penah ada lagi. It's Over!!"
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Raquell berbalik pergi meninggalkan kedua orang yang telah mengkhianatinya dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir dari mata indah itu.
Air mata sialan! Raquell sungguh tidak bisa lagi menahan air matanya. Ini benar-benar menyesakkan ketika melihat pacarnya berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Mengapa dia harus mengalami semua ini?
Mungkin inilah waktunya hubungan mereka berakhir. Raquell sudah mempersiapkan diri untuk patah hati, saat dia memutuskan menerima Rafa masuk kedalam hidupnya. Tapi Raquell tidak menyangka bahwa akan semenyakitkan ini.
Rafa terdiam, mencerna apa yang baru saja dikatakan kekasih hatinya. Apakah Raquell sedang memutuskan hubungan dengannya?
Dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat sisi Devilnya terbangun. Rafa merasa sangat emosi, dan ingin menghancurkan siapa saja yang membuat hubungannya dengan Raquell merenggang. Tapi sayangnya dia tidak bisa melampiaskannya pada Ayumi. Dia tidak akan setegah itu menyakiti orang yang dia sayang.
Rafa baru saja akan bergegas mengejar Raquell, tapi tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya.
"Sialan Ayumi!! Lepasin tangan lo dari gue" bentakan Rafa membuat gadis berwajah oriental itu melepaskan tangannya dan menatap tidak suka Rafa yang mengumpat padanya. Tapi sebelum dia akan memprotes, Rafa sudah berlari menyusul Princessnya.
♡♡♡
Raquell terus saja menangis sesegukan memikirkan semua yang baru saja terjadi, kemudian dengan kasar gadis itu menghapus air matanya.
Raquell berjalan keluar dari mansion mewah milik keluarga Ellard. Dia tidak peduli dengan beberapa pengawal dan juga pelayan rumah di mansion itu menatapnya penasaran.
Setelah dia keluar dari pintu depan Mansion, dia harus melewati gerbang utama untuk keluar, dan jaraknya sangat jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki saja. Raquell menyesal karena sudah meninggalkan mobilnya dikampus. Kalau seperti ini dia harus bagaimana?
Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya diapun berjalan kaki untuk menuju gerbang utama.
"PRINCEEEESS!!"
Raquell menengok kebelakang saat mendengar teriakan itu, dapat dilihatnya Rafa berlari kearahnya dengan cepat dan sayangnya Raquell tidak bisa menghindarinya dengan hanya berlari saja karena hal itu sunghuh sia-sia, mengingat kaki Rafa yang panjang.
"Sayang, kamu nangis?" Rafa baru saja akan memarahi Raquell yang berani-beraninya memutuskan hubungan mereka sepihak. Tapi saat melihat mata gadis itu sembab, membuat kemarahannya meluap begitu saja.
Rafa berjalan mendekat kepada Raquell, kemudian membawa gadis itu kepelukannya, tidak peduli dengan penolakan yang diberikan kekasihnya itu.
"Kamu harus dengar dulu penjelasanku, Princess. Ikut aku kedalam yah? Dan kali ini aku tidak menerima penolakan!!" Raquell melepaskan pelukan Rafa sekuat tenaga, lalu menatap tajam sosok jangkung dihadapnnya dengan mata sembabnya.
"Kamu udah nyakitin aku, Ax. Bagaimana bisa aku ikut sama orang yang udah nyakitin hati aku? Apakah aku terlihat sebodoh itu dimatamu untuk disakitin berkali-kali, hm?!"
Rafa menyentuh rahang gadis itu dengan tangan kanannya. Mengelus pipi mulus milik Raquell dengan ibu jarinya. Menghapus air mata yang masih membekas dipipi gadis itu.
Raquell menutup matanya, merasakan sentuhan kecil Rafa yang selalu membuatnya nyaman. Dia bisa merasakan lelaki itu mendekati wajahnya, menyatukan dahi mereka berdua.
"Please jangan bicara seperti itu, Princess. Tidak pernah sedikitpun hal yang baru saja kamu ucapkan terlintas dipikiranku. Seharusnya dari awal aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Agar kesalahpahaman ini tidak terjadi, dan membuat kamu sedih seperti ini" Bisik laki-laki itu dengan sendu. Hatinya terluka mendengar tuduhan yang baru saja keluar dari mulut gadisnya.
Raquell mendorong Rafa. Memutuskan untuk mengeraskan hatinya agar tidak termakan dengan ucapan yang keluar dari mulut manis lelaki yang dicintainya itu.
"Maaf Ax! Aku butuh waktu sendiri. Jadi tolong kamu jangan menemuiku dulu. Aku mau pulang!! Aku akan minta kak Alva buat jemput, kamu gak perlu antar aku lagi."
Kemudian Raquell memilih untuk pergi meninggalkan Rafa yang nampak mengepalkan tangannya. Oh ayolah, Rafa bukanlah laki-laki yang sabar dan pasrah begitu saja dengan keadaan. Bukan tanpa alasan sebutan Devil disematkan untuknya.
Rafa mencekal tangan Raquell membuat langkah kaki gadis itu terhenti. Dengan gerakan cepat Rafa mengangkat kaki Raquell dan membawa tubuh gadis itu kebahunya. Membopong Raquell layaknya karung beras, dengan kepala Raquell berada dibelakang laki-laki jangkung itu.
Sontak saja perlakuan tiba-tiba Rafa membuat Raquell berteriak kaget dan memukul punggung Rafa agar laki-laki itu segera menurunkannya, tapi Rafa seolah tuli dan terus berjalan menuju kamarnya yang ada dilantai atas, tanpa mempedulikan para pelayan dan juga pemilik mansion yang tercengang menatap pasangan itu.
Tanpa disadari oleh keduannya seseorang terkekeh puas melihat Drama yang sengaja dia lakukan sebagai salam perkenalan untuk Raquell.