Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Perasaan Ayumi



Bunyi alarm yang nyaring dan memekakkan telinga membuat Raquell terbangun dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya dengan ogah-ogahan, dengan nyawa yang belum terkumpul semuanya dia bangun dan mematikan alarm yang sangat berisik tersebut.


Dia melirik kearah sampingnya dan mendapati Ayumi yang masih tertidur pulas tanpa merasa teganggu sedikitpun. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa kebonya sahabatnya itu.


"Ayumi wake up. Ayumi!!" Raquell menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang mendapat tepisan oleh gadis itu.


"Ayumi, bangunnn. Kita ada kelas pagi. Lo mau kita telat?" Ayumi terlihat menutup telinganya dengan bantal. "Berisik ah, gue tuh baru aja tidur"


"Siapa suruh lo begadang sampai jam empat subuh" omel Raquell sembari berdiri dari tempat tidur Ayumi. Gadis itu berjan kearah kamar mandi dengan kantuk yang masih tersisa. Tapi belum juga sampai dia sudah mendengar suara ketukan dari arah luar sana.


Awalnya dia tidak ingin membukanya tapi mendengar suara Rafa yang memanggilnya akhirnyapun dia berbalik arah menuju pintu kamar Ayumi.


Ceklek.


Raquell membuka pintunya, dia menatap laki-laki dihadapannya yang sudah terlihat rapi, berbeda dengannya yang belum bersiap sama sekali ditambah muka bantal dan rambut yang acak-acakan. Bukannya ilfeel, Rafa malah terkekeh geli sambil mencubit pipi sang gadis. Laki-laki itu merasa gemas dengan wajah Raquell yang terlihat sangat menggemaskan.


"Morning sayang" ucap Rafa setelah mengacak rambut Raquell.


"Morning" balas Raqull sambil menguap, "Kamu tunggu bentar yah, aku mau siap-siap" ujarnya sembari meinggalkan Rafa, tapi kemudian dia berbalik ketika ingin mengatakan sesuatu, "Dan tolong bangunin adik kamu yang kebo itu. Udah dari tadi aku bangunin tapi gak bangun-bangun juga. siapa tau kamu punya cara buat dia melek"


Rafa mengangguk lalu masuk kekamar adiknya, dia melakukan apa yang disuruh oleh sang kekasih yaitu membangunkan Ayumi. Ayumi tidak akan mempan jika hanya dibangunkan begitu saja. Karena tidak mau ribet, Rafa pun hanya mengatakan satu kalimat yang sukses membuat Ayumi bangun dan melompat dari tempat tidurnya.


"Ayumi, ada Kavin tuh didepan. Katanya dia mau ketemu sama lo"


"Mana.. Mana kavinnya?" Ayumi celingak celinguk mencari seseorang yang selama ini diam-diam disukainya.


"Didepan rumahnya" balas Rafa santai.


Ayumi melempar bantal gulingnya kearah Rafa yang sedang duduk disofa, "Rese lo kak" gadis itu memanyunkan bibirnya kesal. Rafa terlihat acuh tak acuh yang penting tugas yang diberikan Raquell sudah dilaksanakannya.


Dengan kaki yang disentak-sentakkan, Ayumi berjalan kearah kamar mandi yang sudah kosong karena Raquell sudah berpindah di walk in closet milik Ayumi.


***


"kenapa muka lo, kok kusut gitu? masih ngantuk?" tanya Raquell sembari memakan rotinya dengan lahap.


Bukannya menjawab, Ayumi malah menatap kearah Rafa dengan pandangan permusuhan, dia mencebikkan bibirnya kesal kala melihat sang kakak malah terlihat bodo amat.


"Makan tuh yang bener, Princess" Rafa mengusap ujung bibir Raquell yang terkena selesai dari roti yang dimakannya.


Raquell tersenyum dengan sangat manis ke arah Rafa, "Makasih sayang"


Tingkah kedua sejoli itu berhasil membuat Ayumi bad mood parah, dia bahkan membuat gerakkan seolah-olah ingin muntah.


"Lebay lo berdua, nafsu makan gue jadi ilang deh" Ayumi melatakkan rotinya dengan kesal.


"Mom, Dad, liat tuh kak Rafa. Nyebelin banget deh" lapor Ayumi pada kedua orang tuanya. Sedangkan kedua orang tua Rafa dan Ayumi hanya mampu menggelengkan kepala mereka tidak habis pikir dengan tingkah kekanakan keduanya. Tapi dalam hati mereka bersyukur karena Rafa sedikit demi sedikit bisa kembali kesifatnya seperti beberapa tahun yang lalu sebelum kejadian penculikkan itu terjadi.


"Kenapa sih sama Ayumi? Kamu jailin dia yah?" bisik Raquell pada kekasihnya yang hanya dibalas kedikkan bahu pertanda dia tidak tau.


Yah mana mau dia ngaku, bisa-bisa dia bakalan dimusuhi Ayumi kalau sampai Raquell tau rahasia Ayumi. Bukannya tidak mau memberitahukan perihal perasaan Ayumi terhadap Kavin, hanya saja Rafa rasa dia tidak memiliki hak untuk menjelaskan masalah hati Ayumi pada kekasihnya itu, biarlah Ayumi sendiri yang menjelaskannya pada Raquell.


***


Ayumi menatap laki-laki dingin yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam itu tidak percaya, pasalnya ketika Ayumi keluar rumah dengan wajah cemberut, dia mendapati Kavin sahabat kakaknya sedang duduk sambil bermain game di ponselnya.


"Ternyata kak Rafa gak bohong. Dia beneran ada didepan rumah gue" batin Ayumi senang.


"Ka- kak Kavin!!" Kavin menoleh kearah suara yang memanggil namanya, "Nyari kak Rafa yah?" lanjutnya dengan lancar kala dia berhasil menguasai dirinya sendiri, tidak seperti tadi.


"Gue nungguin lo. Ayo!!" ajak Kavin setelah berdiri dari tempat duduknya lalu menyimpan ponselnya.


"Kemana?"


"Ke kampus. Emang lo mau kemana?" Ayumi diam tidak lama kemudian di melirik kearah kakaknya yang baru keluar bersama Raquell.


"Gue minta tolong ke Kavin buat antar lo ke kampus, karena gue masih mau kesuatu tempat sama Princess" ucap Rafa kala melihat tatapan bertanya dari adiknya.


"Emang kita mau kemana, ax? satu jam lagi kan kelas aku mulai. Jangan aneh-aneh deh" protes Raquell tidak suka.


Rafa menggandeng kekasihnya menuju mobil, "udah ikut aja" katanya sembari menengok kearah Ayumi lalu mengedipkan matanya. Dia sangat yakin setelah ini Ayumi akan berterimakasih padanya, karena bisa membuat Kavin mengantarnya ke kampus.


Setelah Rafa dan Raquell pergi dengan mobil sport laki-laki itu. Ayumi masih terdiam ditempatnya.


"Ayumi!!" panggil Kavin sedikit keras saat melihat Ayumi hanya melamun.


"Eh i--iya kenapa kak?"


"Ayo" ajak laki-laki dingin itu sembari berjalan lebih dulu, Ayumi pun mengikuti Kavin yang berjalan kearah motor hitam yang sedang terpakir didepan rumah alias mansion milik keluarga Ellard. "Sorry gue bawa motor. Mobil gue lagi di bengkel. Lo gak papa kan?"


Ayumi menggeleng dengan cepat, "Enggak lah. Gue malah seneng" Ayumi tersenyum yang membuat Kavin mengernyit. "Seneng kenapa?"


Ayumi gelagapan, 'Gue seneng karena itu artinya gue bisa deket sama lo kak'. "Yah seneng ajah, karena gue--gue bisa hirup udara bebas."


kavin mengangguk tanpa membalas ucapan Ayumi, laki-laki itu naik ke motornya sembari menggunakan helm. Setelah dirasa Ayumi sudah naik, Kavinpun menjalankan motornya tersebut.


"Kak Kavin, aku gak tau sejak kapan rasa ini tercipta, tapi yang aku tau rasanya begitu mendebarkan bahkan aku ragu kalau orang lain tidak akan mendengar debaranku saking kuatnya. Kak, Aku rela panas-panasan demi bisa berada dibonceng kakak. Mungkin ini kedengaran bodoh, tapi bukankah orang yang sedang jatuh cinta emang sebodo amat itu? Mereka yang hatinya sedang berbunga-bunga gak akan pernah mau tau apapun selain hatinya yang terasa hangat kala berada disamping orang yang dicintai. Aku bahagia kak. Walaupun hanya sebatas diam-diam" Ayumi tersenyum dibalik helm yang digunakannya sembari menatap punggung laki-laki yang berada sangat dekat didepannya.