
Rafa menatap datar kepergian Reagan. Tanpa di ketahui oleh kedua sahabatnya Rafa mendengar semua percakapan mereka dari awal. Sebelum Reagan dan Gio muncul, Rafa sudah berdiri disamping tiang yang terdapat di koridor kampus menghadap ke arah taman.
Tadinya Rafa sedang memperhatikan Raquell dari kejauhan, melihat gadis itu yang nampak melamun dan tidak bersemangat seperti biasanya.
Sedang asyik menatap tunangannya, tiba-tiba dia dikagetkan dengan pertanyaan Gio terhadap Reagan. Kalau saja Gio tidak menyebutkan nama Raquell, mungkin saja dia tidak tau bahwa ternyata Regan berdiri tepat disebelahnya, hanya saja mereka terpisah dengan tiang di koridor tersebut.
Rafa mengepalkan kedua tangannya, entah mengapa dia tidak suka mendengar percakapan singkat antara Reagan dan Gio, Rafa merasa Reagan mempunyai perasaan lebih untuk tunangannya, Walaupun selama ini laki-laki itu selalu mengelak.
Salah satu alasan Rafa tidak ingin Reagan tahu bahwa Raquell adalah Rachel karena Rafa tidak ingin Reagan berharap lebih pada Raquell. Rafa tidak ingin membagai Raquell untuk orang lain. Raquell hanya miliknya. Dan tidak ada yang bisa mengambil gadis itu darinya, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
Dengan langkah lebar, Rafa berjalan ke arah Raquell dan Ayumi yang sedang duduk di taman kampus.
Ayumi yang mengetahui kedatangan sang kakak, segera memberitahukannya pada sahabatnya.
Raquell menyambut kedatangan Rafa dengan senyuman. Rafa dan Ayumi pun tahu jenis senyuman yang tidak menyentuh mata milik Raquell hanyalah topeng untuk terlihat baik-baik saja.
Rafa menarik tangan kiri Raquell dengan lembut, "Ayo"
Raquell tampak mengernyit, "Kemana? Bukannya kamu sekarang ada kelas yah?" tanyanya penasaran.
"Olahraga. Aku lagi malas masuk kelas." jawab Rafa dengan santai, sayangnya Jawaban Rafa tidak mampu membuat Raquell segera berdiri dari tempat duduknya.
"Hah? Olahraga? Lo gila yah kak? Ini udah siang, lagian tumben banget lo gak masuk kelas disaat gak ada kepentingan di luar" seru Ayumi kaget. Gila aja panas-panas gini olahraga. Bisa ajah sih, tapi kan tumben banget kakaknya mau bolos demi olahraga doang.
Rafa menatap adiknya sekilas, "Lo mau ikut?" tanyanya basa basi.
Ayumi melotot tidak suka, "Ogah!" tolaknya tegas. Haduh, dia paling malas olagraga, tanpa olahraga pun badannya sudah bagus dan dia juga sehat-sehat aja tuh.
"Kamu serius, Ax?" Raquell menatap tunangannya penuh keraguan.
"Serius sweetheart. Ayo!!" Rafa menarik tangan Raquell dengan sedikit kuat, sehingga gadis itu tiba-tiba berdiri dan jatuh kepelukannya.
"Aduhh kalo mau mesra-mesraan jangan disini dong. Ini kampus tauu"
Rafa menatap adiknya dengan tatapan mengejek. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rafa mengajak Raquell pergi meninggalkan Ayumi dengan kedongkolannya.
***
Ingin rasanya Raquell mengumpat ketika mengetahui olahraga yang dimaksud oleh laki-laki blasteran itu.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dengan rasa penasaran Raquell yang sudah mencapai level atas.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dimana olahraga yang dimaksud Rafa akhirnya diketahuinya.
Olahraga apaan yang harus menempuh perjalanan jauh? Dan memakai pesawat?
Seketika perasaan Raquell jadi tidak enak. Dan benar saja, rasa penasarannya terbayar dengan rasa takutnya.
Jujur saja Raquell merasa sangat ketakutan melihat posisinya sekarang. Bayangkan saja, sekarang dia berada dalam ketinggian kurang lebih 8.000 kaki dengan pintunya yang terbuka, ditambah lagi seorang laki-laki sekitaran 30-an sedang memasangkan beberapa peralatan ketubuhnya dan juga Rafa yang entahlah dia tidak tau apa, yang pastinya itu adalah alat pelindung untuk olahraga yang akan di lakukannya bersama Rafa.
Sebenarya mereka tidak sendirian, karena ada tiga orang dewasa yang sekarang mendampingi mereka berdua. Mereka hanya sekedar mendampingi dan memberikan intruksi, tapi tidak akan ikit mereka terjun.
Tidak lama kemudian salah satu dari ketiga orang itu memberi kami intruksi agar bersiap-siap untuk terjun kebawah saat pesawatnya berada di ketinggian 10.000 kaki.
Yah, olahraga yang dimasud Rafa adalah olahraga ekstrem yang disebut sky diving.
Bayangkan saja bagaimana ngerinya Raquell melihat pemandangan dibawah sana yang membuat jantungnya merdetak sangat kencang.
Sumpah demi apapun rasanya dia ingin menjambak rambut tunangan tercintanya. Rafa benar-benar membuatnya deg deg-an dan nyaris jantungan.
"Yakin dong. Kan aku udah bilang, kamu bisa ngeluarin semua emosi kamu lewat olahraga ini. Kamu bisa teriak sepuasnya"
Raquell menatap Rafa dengan mata berkaca-kaca seperti akan menangis, "Tapi gak harus sky diving juga, Ax. Kita olahraga yang lain ajah yah?" ucapnya memelas
Rafa yang tadinya tampak menahan tawanya, melihat wajah pias sang gadis seketika merasa sedikit bersalah. Pasalnya ini kali pertama Raquell melakukan Sky diving, berbeda dengannya yang sudah melakukannya berkali-kali bersama ketiga sahabatnya. Bahkan dia bisa melakukannya sendiri tanpa seorang pemandu.
Tapi dia harus melakukan ini untuk mengalihkan perhatian Raquell, dia tidak mau melihat tunangannya terus-terusan bersedih dan terbelenggu dengan masa lalunya. Rafa juga ingin memberikan sedikit hukuman karna Raquell sudah berani-beraninya mengabaikannya selama sebulan.
"Ayo Princess, ini sudah waktunya kita melompat kebawah." seru Rafa sedikit keras, mengingat mereka sudah berdiri di pintu pesawat yang terbuka, dari tempatnya berdiri, laki-laki itu melihat kebawah. Bisa dilihatnya birunya lautan, indahnya pegunungan dan bangunan-bangunan yang terlihat kecil menghiasi keindahan alam tersebut.
Rafa benar-benar sudah gila meminta Raquell untuk meloncat dari pesawat yang dinaiki mereka. Rasanya dia ingin pingsan saja.
laki-laki yang sudah sebulan lebih menjadi tunangannya itu sedikit mendekat kearah Raquell, kemudian dia menangkup kedua pipi sang gadis. "Tenang Princess, ada aku. Kamu percaya kan sama aku?"
Walaupun samar, Raquell bisa mendengar suara Rafa ditengah-tengah angin yang menghembus kencang dari luar pesawat.
Raquell menatap Rafa ragu. Sungguh dia percaya dengan Rafa tapi dia tidak bisa berbohong bahwa dia merasa sangat kemetaran, memikirkan dia akan melompat dari pesawat perintis tersebut.
Melihat Raquell yang masih terdiam, dengan sedikit dorongan dia mengambil kesempatan itu membawa gadisnya melompat bersamanya.
"Aaaaaaaa" Teriak mereka berdua dengan kencang.
Rafa memeluk tubuh Raquell dari belakang, dan memberikan kenyamanan untuk gadis itu. Dia berteriak pada Raquell untuk membuka matanya, "PRINCESS, BUKA MATA KAMU" Tetapi gadis itu terus saja memejamkan matanya dan menggeleng.
"ENGGAK MAU. SIAL* AX, KAMU BENAR-BENAR G*LA"
Raquell terus berteriak mengumpati laki-laki yang dicintainya itu. Sedangkan di sisi lain, walaupun Rafa tidak jelas mendengar apa yang dikatakan Raquell karena angin yang mendengungkan telinga tapi dia tau bahwa gadis itu pasti sedang mengumpatinya.
Saat Raquell merasa sensasi menakjubkan seperti sedang terbang bebas, pelan-pelan dia membuka matanya.
Dia terperangah sekaligus ngeri, melihat keindahan alam dibawah sana dengan dirinya yang melayang di udara. Ini adalah pengalaman mendebarkan yang memicu adrenalinnya, selain jatuh cinta. Dan hanya Rafa yang bisa memberikannya.
Kedua pasangan itu terus saja berteriak ditengah terpaan angin yang menerpa wajah.
Raquell terus saja berdecak kagum melayang diudara seperti sedang terbang bebas. Terasa sangat menyenangkan, semua kesedihannya seperti terangkat dan terbawa angin. Tapi tidak dipungkiri bahwa perasaan takut itu masih tetap ada.
Selama 45 detik terbang dengan bebas, parasut milik mereka berdua pun terbuka. Raquell merasa lega, jantungnya masih memacu dengan sangat cepat dan lebih terasa saat parasut membawa mereka melayang dengan tenang.
"Waw Ax, Aku gak tau harus berkata apa lagi untuk pengalaman menakjubkan yang kamu kasih hari ini. Perasaan aku bercampur aduk, antara kesal bahkan rasanya pengen jambak kamu, perasaan mendebarkan, bebas, dan tentunya seneng banget." Ucap Raquell dengan ngos-ngosan. Napasnya terasa memburu, seperti habis lari marathon.
"Anything for you sweetheart." Rafa mengecup singkat pipi Raquell.
"Terimakasih dan maaf"
"Maaf untuk?"
"Maaf karena udah nyuekin kamu sebulan ini, aku merasa belum benar-benar ngelupain apa yang terjadi di masa lalu. Aku juga tau kamu pasti kesel banget sama aku, sampai milih sky diving untuk ngeluarin semua emosi aku, padahalkan masih banyak cara yang lain."
Rafa terkekeh geli, karena tebakan Raquell sangat tepat.
Beberapa menit kemudian mereka pun mendarat dengan kaki Rafa lebih dulu menapak tanah kemudian disusul oleh Raquell.
***