Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Aku Benar-Benar Mencintaimu!!



*Hospiz in Berlin von Heinle. Dua tahun yang lalu...


Gadis cantik beririskan mata abu-abu menatap sedih pada seorang lelaki tampan yang sedang diobati oleh salah satu dokter yang ada di Rumah Sakit terkemuka di Berlin.


Lelaki itu menatap jengah sang gadis yang sedari tadi tidak melepas pandangannya dari sang lelaki. Oh ayolah siapa yang tidak mau ditatap oleh gadis yang dicintainya.


Rafa bukannya tidak senang dengan Raquell yang terus saja menatapnya. Tapi tatapan yang Raquell berikan padanya seolah-olah Rafa sedang terluka parah dan berada diambang kematian. Rafa bahkan hanya mendapatkan sedikit luka lecet di tangannya dari insiden 'hampir tertabrak' yang baru saja terjadi.


Mobil yang hampir menabrak Raquell berhasil dihindari oleh Rafa, tapi mobil tersebut sempat menyerempet kaki Rafa dan membuat lelaki jangkung itu terjatuh dan tergeletak dengan tangan yang terluka juga mengeluarkan sedikit darah.


"Come on Princess, I'm Fine. Aku baik-baik saja, jadi berhenti menatapku seperti itu" ucap Rafa setelah Dokter yang memeriksa lelaki itu berkali-kali pergi. Dokter tersebut tidak ingin mengambil resiko takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selain luka yang ada di tangan anak laki-laki Jonathan Ellard. Salah satu orang yang berpengaruh besar didunia bisnis.


Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca dan Rafa yakin sebentar lagi gadis cantik itu akan menangis.


"I'm Sorry. Semua ini salahku, kamu jadi terluka seperti ini semuanya adalah kesalahanku"


Rafa membawa Raquell kepelukannya, "Ini bukan salah kamu, okay. Aku benar-benar mencintaimu Princess, aku tidak ingin melihatmu terluka. Mengingat aku hampir saja kehilangan kamu tadi, nyaris membuat aku berhenti bernapas. Sesak sekali rasanya"


"Tapi-"


"Stop menyalahkan dirimu sendiri, Princess. Setelah kejadian tadi, aku semakin yakin untuk menjadikanmu kekasihku. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa hanya akan ada namamu didalam hatiku"


"Baiklah. Tapi sebelum itu aku ingin tau alasan kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?"


"Love at the first sight?" jawab laki-laki itu yang terlihat ragu dengan jawabannya sendiri.


"Seriously? Itu adalah omong kosong terbesar yang pernah aku dengar, Ax. Jika cinta pada pandangan pertama ada, itu tandanya orang itu tidak benar-benar tulus mencintai. Karena bisa saja cintanya hanya sebatas pada fisik semata. Lalu bagaimana cinta itu akan terus bertahan jika suatu saat nanti orang itu kehilangan alasannya untuk mencintai? Aku tidak senaif itu Ax. Atau.." Raquell menatap Rafa sendu. "Kamu hanya menjadikanku pengganti sementara sebelum masa lalu kamu kembali?"


Rafa terdiam mendengar ucapan Raquell yang membuat hati kecilnya terluka. Tatapan Raquell membuat Rafa ingin sekali merengkuh tubuh yang terlihat rapuh itu.


'Apakah segitu tidak percayanya kamu dengan perasaanku, Princess?"


"Aku punya cinta yang tulus untukmu, Princess. Sekalipun kamu tidak mempercainya. Kamu bukanlah pengganti siapapun. Masa laluku akan selalu berada dibelakang dan akan selalu menjadi kenangan. Alasan kenapa dengan cepat aku jatuh cinta padamu, aku tidak bisa menjawabnya." Raquell tersenyum kecut mendengar jawaban Rafa, sekaligus ada rasa hangat menjalar di hatinya ketika ucapan cinta keluar dari mulut Rafa.


"Baiklah kalau seperti itu. Kamu bisa datang lagi padaku saat kamu sudah mendapatkan jawabannya." Ucap Raquell dingin. Dia tidak ingin terlalu berharap lebih, biarkanlah egonya kali ini menang.


Raquell membalikkan badannya untuk segera pergi dari hadapan Rafa. Tapi langkahnya terhenti saat Raquell merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Jangan memintaku untuk pergi lagi. Please, aku tidak mau kehilanganmu!!" Mohon Rafa pada Raquell yang hanya terdiam membisu dengan apa yang dilakukan laki-laki itu.


Raquell merasa tidak tega melihat Rafa memohon seperti itu dengan suara serak seperti akan menangis. Selama hampir setahun ini, setau Raquell seorang Rafa Ellard tidak akan pernah mau memohon-mohon pada orang lain.


Raquell menghembuskan nafas berat. Kali ini gadis itu akan mencoba mempercayai lelaki yang sedang memeluknya dengan Possesive, sekalipun hatinya taruhannya. Biarkan waktu yang akan menjawab apakah keputusan Raquell kali ini benar atau sebaliknya*.


♡♡♡


"Aduh!! Menantu kesayangan mama udah datang. Udah lama kamu gak main kesini, sayang. Terakhir kali kalau gak salah saat kamu berlibur ke Indonesia lima bulan yang lalu yah kan? Mama kangen loh sama kamu, Princess"


Rafa memijat keningnya saat melihat kelakuan wanita yang melahirkannya. Baru saja Rafa dan Raquell memasuki Mansion kediaman Ellard, Momnya itu dengan tidak sabaran sudah menarik Raquell dan memonopoli pacarnya itu. Dengan hebohnya Mom Aiko berbicara dengan Raquell yang tidak kalah hebohnya dari wanita paruh baya tersebut. Gadisnya memang tidak terduga, seperti bunglon. Selalu berubah-ubah sesuai tempat dimana dia berada.


Rafa memilih untuk membiarkan kedua perempuan kesayangannya melepas rindu, kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang tidak lain adalah kamarnya yang ada di mansion tersebut. Rafa ingin mengganti pakaiannya dengan baju santai yang selalu dia gunakan ketika berada di Mansion mewah milik keluarga Ellard.


Sejak pertama kali Rafa memperkenalkan Raquell pada orang tuanya, Mom Aiko sudah meminta dirinya untuk memanggil Mom pada ibu dua anak tersebut.


Mom Aiko menyesap teh buatannya sendiri, lalu wanita paruh baya yang berwajah oriental itu menatapnya. Saat akan menjawab pertanyaan Raquell tiba-tiba Hp milik gadis itu berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


Boss Alva is Calling...


Raquell menerima panggilan tersebut setelah meminta izin pada Mom Aiko terlebih dahulu, setelah mendapat anggukan setuju diapun beranjak dari tempat duduknya.


"Was ist los, Bruder? (ada apa kak?)" Tanya Raquell setelah dia mengangkat panggilan dari kakak satu-satunya itu.


"Wo bist du, princess? (kamu dimana, princess?)" Nada khawatir terdengar jelas dari suara orang yang berada diseberang sana membuat gadis itu tersenyum. Huh! Kakaknya itu sangat Over protektif. Baru saja hampir sehari tidak bertemu dengannya, sudah dicari seperti tidak pernah ketemu seminggu saja.


"Aku dimansion orang tuanya Ax, emang dia gak bilang yah sama kak Alva?"


"Dia gak ngomong apa-apa!!" Sentak kakaknya dengan nada kesal didalamnya. Bisa di bayangkannya wajah tampan Alvaro yang sedang kesal kepada Rafa karena tidak memberitahukannya sama sekali untuk membawa adik kesayangan Alvaro. Tampang kesal kakaknya akan terlihat sangat imut menurutnya. Hihi.


"Hari ini aku mau nginap dikediaman Mr. Ellard. Katanya Ax yang bakal izinin aku ke kakak. Tapi kayaknya dia lupa deh. Yaudah lah yang penting sekarang kan kakak udah tau."


Alvaro mendengus pasrah, "Kalau begitu kamu jaga diri baik-baik, dan langsung Telephon kakak kalau terjadi apa-apa"


Raquell terkekeh mendengar ucapan kakaknya,"Siap Bosque!! Lagian aku tuh di mansion keluarganya Ax, gak mungkinlah terjadi apa-apa"


"Yaudah, kamu baik-baik disana"


Raquell memutar bola matanya,"Iya-iya. Aku udah besar kalo kak Alva lupa. Udah bisa jaga diri sendiri"


"Kamu masih adik kecil kakak, kalau kamu juga lupa" Balas Alvaro yang tidak mau kalah dari adiknya.


"Gak mungkin dong aku lupa sama kakak aku yang ganteng, yang kegantengannya tidak melebihi Ax"


Raquell bisa mendengar kakaknya menggerutu kesal dengan ucapan yang dilontarkan adik kesayangannya itu. Alvaro pun langsung mematikan sambungan telephonnya tanpa ucapan manis yang selalu mereka lakukan seperti biasanya. Raquell terkikik geli dengan tingkah kekanakan kakaknya itu yang tidak mau kalah dari Rafa Ellard dalam memperebutkan perhatiannya.


Raquell kembali ketempat duduknya setelah sambungan telpon dengan kakaknya berakhir.


"Maaf yah mom, aku kelamaan angkat telponnya"


"It's okay, Princess. Sekarang mending kamu susul Rafa kekamarnya. Suruh siap-siap buat makan malam."


Gadis itu menganggukan kepalanya pertanda bahwa dia setuju dengan yang dikatakan Mom Aiko. Kemudian mata nya menatap langit yang sebentar lagi akan gelap.


Setelah itu Raquell melangkahkan kakinya menuju kamar Rafa yang ada dilantai atas. Sebelum kekamar Rafa yang ada di lantai atas, gadis itu harus melewati Ruang keluarga yang menjadi tempat bersantainya keluarga Ellard.


Langkah kakinya terhenti saat melihat Rafa sedang berpelukan dengan seorang gadis berambut pendek diruang keluarga tersebut.


Yang membuat Raquell tercengang dan tidak percaya adalah gadis yang ada dipelukan Rafa adalah orang yang sangat dikenalnya dalam tiga tahun belakangan ini.


"Ayumi!!"