
Prang
"PERGIIII!!"
"KALIAN SEMUA PEMBOHONG!!!"
"GUE BENCIII!!"
Rachel memecahkan gelas yang berada tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri, sembaya menghindari semua orang yang mencoba mendekatinya.
Aldo menatap sendu sahabat tersayangnya. Semua ini salahnya. Berulang kali kata-kata itu dengan entengnya melintas dipikirannya.
"Ra, maafin gue. Gue bisa jelasin, Semua gak seperti yang lo--"
"DIAM!! GUE GAK MAU DENGERIN APA-APA DARI PEMBOHONG KAYAK LO!!"
Rachel menatap nyalang ke arah Aldo, gadis itu menangis sesegukan. penampilannya terlihat sangat kacau. Rambut yang biasanya diikat, terurai begitu saja dan acak-acakan karena tidak di sisir. Wajahnya dipenuhi dengan airmata.
Begitu pun dengan kamar rawat gadis remaja itu yang nampak sangat berantakan. Bantal dan selimut tidak pada tempatnya, ditambah lagi beling-beling dari pecahan gelas berserakan dimana-mana.
Rachel menutup telinganya kala suara tembakan memenuhi pendengarannya, dia menatap ketakutan pada Aldo saat ingatannya dipenuhi dengan wajah laki- laki itu yang menembak kearahnya.
"Gak---Gak mungkin." Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mempercayai ingatannya pada malam itu. Aldo bukan hanya membohonginya tapi laki-laki itu mencoba membunuhnya. Tatapannya kembali jatuh pada sosok sahabat dihadapannya, menatap pilu pada sosok itu. Tangannya terkepal dan menepuk kuat dadanya yang terasa sesak. Gadis itu menangis dengan kencangnya.
'Tuhan kenapa harus aku yang merasakan semua pengkhianatan ini? kenapa dibohongi sesakit ini? Kenapa Orang yang aku anggap keluarga malah adalah musuh sesungguhnya yang harus aku benci. Kenapa aku tidak mati sekalian saat peluru itu mengenaiku. Buat apa aku hidup di dunia ini? hiks' keluhnya dalam hati
"Lo jahat sama gue. Lo jahat Aldo. Bunda Mila juga jahat, kalian semua jahat." lirihan gadis itu terdengar sangat menyakitkan untuk Aldo.
Rachel tidak lagi histeris, ekspresi wajahnya terlihat datar. Sorot matanya memancarkan kekosongan dan air mata terus saja mengalir keluar tanpa isakan, Menggambarkan betapa hancurnya seorang Rachel Anastasya.
Beberapa suster yang melihat kejadian itu tidak dapat berbuat apa-apa. karena saat mereka mencoba mendekat Rachel selalu mengancam akan melukai dirinya sendiri.
"Rachel" panggil suara lembut yang Rachel tau bukan milik Aldo.
"Rachel, ini gue Rafa" Nama tersebut mampu membuat Rachel kembali fokus pada sekitarnya. Gadis yang duduk dipojokan sambil memeluk lututnya itu menatap Rafa datar nyaris tanpa emosi. Rachel sudah sangat lelah dan rasanya dia ingin menyerah saja untuk hidup.
Perlahan-lahan Rafa mencoba untuk mendekat, spontan hal itu membuat Rachel waspada. Gadis itu terlihat sangat ketakutan, dan itu terbukti dari tubuhnya yang bergetar hebat.
"JANGAN MENDEKAT!!"
"KALIAN SEMUA JAHAT!!!"
"PERGIII!!"
Teriak gadis itu penuh kesedihan. Rachel yang hatinya sedang terluka memilih tidak mempercayai siapapun. Semua orang yang dia percayai dan di anggapnya keluarga, telah menghianatinya. Menghancurkan semua ekspektasi nya tentang kepercayaan. dia tidak mau percaya lagi, dia tidak mau terluka lagi. Rasanya sangat sakit dan tidak bisa dijabarkan melewati kata-kata.
Selama ini Rachel selalu percaya dengan ucapan Bunda Mila. Bahwa orang tuanya telah mambuangnya, Dengan sengaja meninggalkannya yang masih bayi di sebuah taman bermain.
Rachel mempercayainya karena Bunda Mila tidak pernah berbohong padanya. Bunda yang selama ini sangat menyayanginya mengatakan bahwa dia mendapati bayi berumur satu tahun itu sedang menangis kedinginan di bawah perosotan saat hujan deras. Waktu itu Bunda Mila sedang mencari kalung pemberian mendiang ibunya yang jatuh saat menemani Aldo yang berumur dua tahun bermain di taman tersebut. Karena tidak mendapati siapapun di taman bermain tersebut, Bunda Mila pun membawa Rachel kecil pulang bersamanya.
Semua yang di katakan bunda Mila membuat gadis itu membenci kedua orang tuanya, dan memilih memakai nama yang diberikan Bunda Mila padanya.
Betapa terluka hatinya saat dia tidak sengaja mendengar dari tante Rani bahwa dia diculik oleh Bunda Mila. Orang yang telah merawatnya dari kecil, sengaja memisahkannya dengan orang tua kandung gadis itu saat orang tuanya lengah. Semua yang dikatakan Bunda Mila adalah kebohongan untuk menutupi kejadian sebenarnya. Perasaan bencinya pada orang tua kandungnya selama bertahun-tahun tidak beralasan.
♡♡♡
"Rachel mengalami Depresi berat yang memang sangat rentan untuk remaja seusianya, jika dihadapkan dengan kenyataan menyakitkan yang mengganggu psikisnya. Stress berat yang dialami Rachel memacu terjadinya Depresi sehingga membuat gadis itu merasa lelah menjalani kehidupannya. Dan kapan saja dia bisa melakukan hal yang tidak pernah kita duga, semisal bunuh diri. Bagi mereka yang Depresi, melakukan percobaan bunuh diri semata-mata bukan karena mereka ingin mati. Mereka hanya merasa lelah menjalani kehidupan dan tidak tau apa yang harus mereka lakukan."
"Sebenarnya Rachel sudah lama mengalami gejala depresi, mungkin saja disebabkan oleh lingkungan yang tidak menerimanya. Seperti apa yang sudah saya dengar sebelumnya bahwa Rachel sering dikucilkan waktu gadis itu masih sangat kecil. Dan sekarang depresi gadis itu diperparah karena orang yang menerimanya saat yang lainnya tidak, atau bisa dikatakan orang yang sudah sangat gadis itu percayai telah membohonginya. Dan mentalnya belum bisa menerima itu. Pada akhirnya gadis itu akan merasa semua orang tidak menginginkan keberadaannya, juga membencinya. Itu memacu terjadinya depresi pada gadis itu."
"Apalagi Rachel juga mengalami trauma berat karena tembakan beberapa hari yang lalu" ucap sang dokter hati-hati. Pasalnya tembakan itu menjadi hal sensitif untuk tidak dibicarakan sembarangan.
Rafa mengepalkan kedua tangannya mendengar penjelasan dokter yang menangani Rachel. Sudah seminggu sejak terakhir kali Rachel pingsan, gadis itu seperti mayat hidup. Rachel hanya diam saja dengan pandangan kosong, sekali-kali dia akan histeris dan menangis saat bunda Mila dan Aldo mencoba berbicara dengan gadis itu.
"Terus apa yang harus dilakukan, untuk membuat Rachel sembuh, dok? Apa saya juga bisa membantu?" tanya Rafa berharap, semoga saja dia bisa melakukan sesuatu untuk Rachelnya. Karena rasa bersalah bukan hanya dirasakan Aldo tapi juga Rafa.
"Kamu tidak usah melakukan apa-apa Rafa!" ucapan tegas itu keluar dari mulut Jonathan Ellard yang juga menemani dia bertemu dengan dokter.
"Tapi kenapa Dad?"
"Karena orang tua Rachel sedang menuju kesini, untuk membawa Rachel ke Jerman"
"DAD!!" Rafa menatap tidak terima dengan ucapan Daddy-nya. Kenapa begitu mendadak? dia tidak mau jauh dengan Rachel.
"Kamu tidak punya hak untuk menolak keputusan orang tuanya, Rafa!" Jonathan Ellard menghembuskan nafas pelan kemudian memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.
"Kita bicarakan ini diluar!!" laki-laki paruh baya melangkahkan kakinya keluar Ruangan.
"Orang tua Racel rekan bisnis Dad yang di Jerman. William Wagner. Dia juga sahabat Dad waktu kuliah dulu. Dia sudah bertahun- tahun mencari anaknya yang hilang ditaman bermain waktu itu, karena kecerobohan William dan istrinya. Dan kamu pikir saat William sudah menemukan anaknya kembali, dia tidak akan membawa anaknya bersama dengan dia? ditambah lagi istrinya sering menangis memikirkan putrinya yang masih bayi berumur satu tahun hilang tanpa kabar, hidup seperti apa diluaran sana. Ditambah lagi mereka tidak bisa lama di Indonesia. Karena William berkewarganegaraan Jerman." jelas Jonathan Ellard panjang lebar. Kalau dalam keadaan biasa mana mau laki-laki yang sudah mempunyai 2 anak itu berbicara lebih dari 5 kata.
Jonathan mengerti anaknya itu sedang mengalami fase dimana dia menyukai lawan jenis untuk pertama kalinya. membuat Rafa akan berat hati melepas gadis yang dia sukai. Dan itu bisa dilihat dari ekspresi Rafa yang sangat sedih.
"Tapi Rafa masih bisa ke Jerman buat ketemu Rachel kan? Daddy akan ngizinin Rafa kan?"
Jonathan menatap lekat anak laki-lakinya, "Tidak!!" ucapnya tegas.
Rafa membelakakan matanya, "Tapi--"
"Ini sudah menjadi keputusan Dad, Rafa. Kamu harus fokus sama pendidikan kamu. Dan kamu tidak boleh membantah atau selamanya kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Rachel."
"DAD!!" Rafa geram dengan keputusan sepihak papanya. Bagaimana bisa Rafa tidak diperbolehkan bertemu dengan Rachel. Perasaannya pada gadis itu bukanlah sekedar main-main, walaupun itu terdengar konyol untuk anak seusianya yang masih suka bermain-main.
"Daddy akan mengizinkan kamu bertemu dengan Rachel jika kamu sudah lulus SMA"
"Itu lama banget Dad!" rengek Rafa tidak terima, sekarang dia kelas 3 smp itu berarti kurang lebih 3 tahun lagi dia bisa bertemu dengan Rachel.
"Kamu jangan seperti anak kecil Rafa" desis Jonathan Ellard memperingati
Rafa mengeraskan rahangnya. Laki-laki itu begitu kesal dengan Daddy-nya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti titah dari Jonathan Ellard. Atau Dadnya itu akan menjauhkannya dengan Rachel untuk selama-lamanya.