Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Tentang Reagan



Reagan menatap sendu sebuah kotak musik yang menyerupai miniatur piano itu. Benda yang mengingatkannya pada sang penyelamat. Seorang gadis lincah, yang sangat berarti untuknya.


Sebenarnya terlalu singkat untuk menjadi berarti karena nyatanya mereka tak punya cukup kenangan istimewa untuk diingat. Tapi entah kenapa kengan singkat itu sangat membekas di hati dan pikirannya.


Memorinya berputar pada saat itu, dimana Reagan adalah seorang nerd yang beruntung bersahabat dengan seorang Rafa Ellard.


♡♡♡


Flashback..


Bugh.


Bugh.


"Cowok cupu kayak lo gak pantas ikut kompetisi piano bergengsi antar pelajar. Bisa-bisa lo malu maluin sekolah kita. Lo tuh gak ada apa-apanya, Reagan!" ucap salah seorang remaja laki-laki kepada Reagan, yang terlihat tersungkur dilantai kotor gedung belakang sekolah.


Reagan meringis kesakitan karena baru saja dipukuli oleh beberapa orang seusianya yang sedang mengerubunginya. Mereka tidak terima Reagan terpilih sebagai perwakilan Sensius.


"Kalau bukan karena orang tua lo yang berpengaruh disekolah ini dan juga bukan sahabatnya Rafa, lo pasti gak ada apa-apanya. Hanya sampah yang tidak berguna." Lanjutnya lagi sembari berjalan mendekat kearah Reagan dengan tampang angkuh. Seringai licik terlihat diwajah laki-laki itu dan beberapa detik kemudian dia menginjak tangan Reagan. Menciptakan bunyi retak pada tulangnya.


"Aaaaaaaaa"


Reagan berteriak kesakitan. Tulang tangannya terasa remuk. Dia berharap seseorang bisa membantunya. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan tangannya.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Teriak seorang gadis, menghentikan penyiksaan yang dilakukan oleh beberapa remaja yang diketuai oleh anak laki-laki bernama Deon - Saingan Reagan dalam bermain piano.


Reagan menghebuskan napas lega melihat kedatangan gadis itu.


"Kalian semua keterlualuan tau gak?! Beraninya main keroyokan, cih pengecut! Dan lo singkirin gak kaki lo" Gadis itu melotot kearah Deon.


"Mending lo gak usah ikut campur kalo gak mau berakhir kayak dia!" Ancam salah satu diantara mereka, kemudian menunjuk kearah Reagan dengan dagunya.


"Heh. Lo pikir gue gak bakalan ikut campur liat orang lain ditindas di depan Mata gue sendiri" Gerutu sang gadis dengan kedua jarinya menunjuk kearah Matanya, kemudian gadis itu tersenyum licik sembaya berkacak pinggang.


"By the way, gue udah fotoin kelakuan kalian tadi. Cih kalian pikir gue bakalan diam liat pembullyan didepan mata gue? liat aja, bakalan gue laporin ke kepala sekolah langsung. Dan nasib kalian disekolah ini akan... End"


Deon menggeram, mau tidak mau dia harus menghentikan semua ini. Dia tidak mau mendapat masalah dan dikeluarkan dari sekolah. Dengan wajah memerah menahan amarah, dia memberi kode pada teman-temannya untuk segera pergi.


Sebelum benar-benar pergi Deon menatap tajam gadis sok pahlawan itu, dan berjanji dalam hati akan membalasnya suatu hari nanti.


Gadis itu mendekat kearah Reagan. Membantu laki-laki itu berdiri. Reagan meringis kesakitan saat tangannya tidak sengaja disentuh oleh gadis itu.


"Eh, sory gue gak sengaja. Lo gak apa-pa kan kak?"


Reagan mengangguk menjawab pertanyaan gadis itu.


"Mereka itu pengecut banget, beraninya keroyokan. Sebel gue jadinya. Tapi kok Lo diam aja sih, kak? Tangan Lo gak kenapa- Napa kan? Pasti sakit banget yah? Haish! Coba tadi gue fotoin beneran, pasti mereka dapat balasannya"


Reagan terkekeh mendengar ocehan gadis yang sedang memapahnya itu, mulutnya menyerocos tiada henti. Gadis itu terus bertanya tanpa memberikan kesempatan padanya menjawab. Apalagi saat mendengar bahwa adik kelasnya itu berbohong pada Deon dan teman-temannya, rasanya dia ingin tertawa.


Gadis pemberani yang unik.


Reagan tidak pernah tau bahwa di Sensius tepatnya di Junior High School terdapat gadis ajaib yang menyenangkan, seperti yang ada dihadapannya saat ini.


Kemudian dia tersenyum kecut mengingat bahwa dia jarang memperhatikan sekitarnya.


Reagan adalah jenis orang yang tidak gampang mengakrabkan diri dengan orang lain. Dan selama ini dia selalu dikatakan sombong karena tidak mau bergaul dengan mereka. Padahal semua itu tidaklah benar, dia hanyalah seorang laki-laki pendiam dan penakut. Dirinya hanya dekat dengan tiga orang laki-laki populer yang menjadi sahabatnya dari kecil. Hanya merekalah teman yang dia punya, karena memang hanya mereka yang memahami sosok Reagan seperti apa.


Dunianya hanya tentang bermain piano dan mencari cara agar bisa membahagiakan orang yang mendengar permainannya.


Dia merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa dihakimi saat kedua tangannya menciptakan nada lewat permainannya. Dia suka orang-orang menerimanya ketika dia berada di atas panggung dan memujinya. Bukannya Reagan gila pujian dia hanya merasa bahagia dan dihargai.


Dan sekarang dia mendapatkan kebahagiaan baru selain keluarga dan sahabatnya yaitu dia, seorang gadis pemberani disampingnya, tersenyum padanya, dan membuat hatinya menghangat.


♡♡♡


Laki-laki itu sudah menahan rasa sakitnya diseluruh tubuh termasuk tangannya, selama berjalan dengan dibantu oleh adik kelas yang belum Reagan tau namanya. Setelah terbangun, dia sudah berada di kamarnya dan sedang diperiksa oleh dokter keluarga, yang tak lain adalah sahabat papanya sendiri.


Dokter mengatakan bahwa Reagan belum bisa bermain piano karena tangannya cedera dan itu akan memperparah keadaan tangannya jika dipaksakan. Jika itu terjadi, selamanya Reagan tidak akan bisa bermain piano.


Reagan menatap sedih tangannya. Tanpa sadar cairan bening keluar dari kedua matanya. Pikiran-pikiran buruk melintas di bayangan laki-laki remaja itu. Apakah tangannya akan sembuh, jika untuk pertama kalinya dia menyerah pada dunianya? Apakah dia bisa bermain piano lagi? Apakah harapan-harapannya masih bisa diraih kembali?


Reagan seorang laki-laki dan dia pikir bahwa dia tidak boleh menangis. Tapi dia sungguh tidak bisa menahan air matanya. Reagan hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan kesedihan. Reagan sudah mempersiapkan kompetisi ini dengan harapan yang tinggi dan niat yang kuat.


Apakah sekarang dia adalah seorang pecundang yang kalah sebelum berperang? Memikirkan semua itu membuat dia merasa menjadi orang yang tidak berguna.


Tanpa Reagan sadari kedua sahabatnya sedang menatapnya sedih dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.


♡♡♡


"Muka lo jelek kalo kayak gitu terus"


Seorang gadis terlihat melepas headset yang digunakan Reagan. Bukannya marah aktifitasnya terusik, laki-laki itu malah tersenyum.


"Nah. Gitukan kelihatan lebih ganteng" gadis itu menunjuk wajah Reagan yang sedang tersenyum kearahnya.


"Gue kemarin kerumah lo, kak. Gue ketemu sama sahabat-sahabat lo, tapi gue langsung pulang gak mau ganggu. Gue cuman mau liat aja kedaan lo, sih. Secara gue kaget banget tiba-tiba lo pingsan."


"Hm. Gue tau lo datang, dari Rafa" Reagan mengalihkan tatapannya pada sebuah gedung tinggi yang diketahuinya sebagai gedung senior high school. Tempatnya berada saat ini adalah sebuah taman belakang yang membatasi gedung senior dan junior di Sensius High School.


Dari cerita Rafa kemarin, dia jadi tau bahwa gadis itu adalah Rachel Anastasya, gadis yang selama ini dikagumi oleh sahabatnya itu.


Awalnya dia merasa hatinya sedikit tidak terima bahwa Rafa lebih dulu mengenal gadis ajaib yang membuatnya tertarik. Tapi Reagan bukan laki-laki egois yang menjadikan urusan hati diatas segala-galanya.


Yang dia syukuri ialah Reagan merasa lega orang yang menarik perhatian sahabatnya adalah Rachel, gadis baik hati dan sedikit bar-bar. Entah apa jadinya kalo Rachel tidak datang membantunya waktu itu, mungkin saja Dunianya tidak akan ada lagi. Dan bermain piano hanya akan menjadi kenangannya.


Reagan mengira bahwa selama ini Rafa menyimpan perasaan pada Kanaya, gadis yang entah kenapa tidak disukai oleh Reagan. Selama ini dia terlibat obrolan dengan Kanaya hanya sebatas menghargai Rafa yang dekat dengan gadis itu.


"Gue punya sesuatu buat lo, kak" ucap Rachel sembari memberikan paper bag yang sedari tadi dibawahnya.


"Happy Birthday, kak Reagan. Dan Gue cuman mau bilang ke lo, bahwa kesempatan kedua selalu ada di dunia ini. Lo gak boleh nyerah dan terus terpuruk dalam kesedihan saat lo gagal dalam mewujudkan salah satu harapan lo. Kasihan sama harapan lo yang lain menunggu untuk lo raih. So, kompetisi yang dilaksanakan hari ini adalah kegagalan lo untuk menuju kesuksesan dikemudian hari" Rachel menepuk pundak Reagan sebagai penyemangat untuk laki-laki itu.


"Ya udah gue pergi dulu, bentar lagi udah mau bel pelajaran selanjutnya. Lo jangan menyendiri trus, kak. Kasihan sahabat-sahabat lo yang gak lengkap tanpa kehadiran lo diantara mereka."


Rachel berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Reagan.


"Terimaksih Rachel, sang penyelamat Reagan"


Gadis itu terkekeh geli, "Sama-sama kak Reagan ganteng. Semoga lo bisa lebih berani lagi. Agar kedepannya nggak ada yang nindas loh seenaknya. By the way, mereka udah dapat balasannya kok dengan dikeluarkannya dari sekolah, yaudah gue pergi dulu"


Reagan mengangguk kearah gadis manis yang sedikit berbeda kali ini. Rambut hitamnya yang sering di kuncir ala ponytail, dibiarkan terurai membuatnya terlihat lebih kalem.


Reagan membuka paper bag pemberian Rachel, kemudian dia tersenyum melihat kotak musik berbentuk piano dengan memo tertempel diatasnya.


To: Reagan Giovani


'Udah deh gak usah sok sedih kayak gitu. Kegagalan lo adalah pengingat untuk keberhasilan lo di kemudian hari. Lo adalah pianis berbakat, kak. Gue bisa liat itu dari permainan lo selama ini. Ups ketahuan deh gue selalu perhatiin lo. haha jangan geer lo. Gue hanya suka cara lo main piano kok, kayak ada nyawa disetiap tuts-tuts yang lo mainin. Nanti ajarin gue yah. Btw, salam kenal. Nama gue Rachel.'


Reagan baru ingat bahwa dia dan Rachel belum berkenalan secara resmi. Mereka hanya saling tau nama dari orang lain. Jujur Reagan terharu sekaligus tidak bisa menyembunyikan tawanya. Gadis ini terlalu ajaib. Dia tau caranya membahagiakan orang lain.


Reagan telah memutuskan untuk menjadikan kotak musik pemberian Rachel sebagai barang antik yang harus dijaganya. Dia menyimpan benda berharga itu baik-baik. Dan tidak boleh sampai Rafa tau, dia pasti iri Reagan bisa dekat dengan Rachel dalam satu hari dan bisa-bisa sahabatnya itu akan memarahinya karena menerima hadiah ulang tahun dari Rachel.


Yah ulang tahunnya bertepatan dengan kompetisi piano. Itu sebabnya dia merasa sangat sedih karena dia berniat menjadikan kemenangannya di kompetisi itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Tapi siapa sangka dia mendapatkan hadiah istimewa yang sangat berharga dari apapun.


Hari itu Reagan sangat bahagia bertemu dengan Rachel tanpa tau bahwa hari itu juga terakhir kalinya dia bisa melihat sosok gadis pemberani penyelamatnya.