Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Flashback



Jerman, kota Berlin. Tiga tahun yang lalu...


Seorang gadis cantik berwajah oriental tampak ceria memasuki sebuah ruang kelas di salah satu sekolah yang bertempat di Berlin. Gadis itu adalah Ayumi Clareesa, dia terlihat sangat bersemangat dengan sekolah yang menjadi tempatnya melaksanakan program pertukaran pelajar.


Pandangan Ayumi jatuh pada sosok familiar yang terlihat menyendiri di sudut kelas. Gadis yang memakai kaca mata minutes yang sebenarnya hanyalah kaca mata biasa, itu tampak sedang serius membaca sebuah novel tanpa mempedulikan sekitarnya yang berisik.


Ayumi berjalan mendekat saat dia dapat mengenali wajah itu dari sebuah foto yang pernah diperlihatkan kakak laki-lakinya.


"Hey!!" gadis berkaca mata menolehkan pandangannya pada Ayumi.


"Darf hier sitzen? (Boleh duduk disini?)"


Gadis berambut coklat terurai tanpa aksesoris, menatap datar Ayumi yang sedang melemparkan senyum lebar.


"Ich bin Ayumi, du? (Aku Ayumi, kamu?)"


"Raquell"


"Hai Raquell salam kenal. Aku murid pertukaran pelajar disekolah ini. Aku dari Indonesia"


Gotcha.


Ayumi bisa melihat Raquell bereaksi ketika kata Indonesia disebut olehnya. Gadis berwajah oriental itu tersenyum samar mendapat reaksi yang diberikan Raquell setelah mencuekinya sedari tadi.


"Kamu dari Indonesia?"


Ayumi tampak sedikit terkejut mendengar Raquell berbicara dengan bahasa Indonesia fasih.


Haish.


Ayumi sesaat lupa bahwa kakaknya pernah bilang bahwa Raquell punya keluarga di Indonesia, dia terlalu terhanyut melihat wajah eropa Raquell yang sangat kental. Mata abu-abunya dan rambut berwarna coklat agak kemerahan terlihat sangat cantik. Gadis secantik Raquell pastinya populer, tapi yang Ayumi lihat orang-orang malah mengabaikan keberadaan Raquell. Apa karena Ayumi berpakaikan seperti nerd?


Ayumi bodoh!! kakakmu saja juga tidak kelihatan wajah Indonesianya. Gen Rafa lebih mengikuti sang ayah sedangkan gen ibunya menurun pada Ayumi, itu sebabnya banyak yang tidak akan percaya bahwa Ayumi adalah adik dari seorang Rafa Ellard. Mereka berdua hanya memiliki warna rambut yang sama dark brown seperti kedua orang tuanya.


"Lo bisa bahasa Indonesia? Wah, gue senang banget ada yang tau bahasa gue di tempat ini."


"Hmm. Nyokap orang indonesia. Sekali-kali aku juga berkunjung ke negara itu."


Raquell nampak berpikir kemudian gadis itu menggeleng. "Sorry, aku gak bisa"


♡♡♡


Sudah enam bulan berlalu dan itu artinya sudah setengah tahun Ayumi terus saja mendekati Raquell, merecoki kehidupan tenang gadis itu dan membuat gadis itu mau berteman akrab dengan dirinya. Tapi Raquell seperti mempunyai tembok perisai agar tidak ada yang bisa masuk ke teritorialnya selain keluarga gadis itu.


Ada banyak hal yang baru Ayumi tau tentang Raquell dan dia sudah seperti seorang stalker saja selama setengah tahun ini. Gadis itu juga tau bahwa kaca mata yang sering dipakai Raquell hanyalah kaca mata hiasan untuk memanipulasi penampilannya yang sebenarnya fasionable.


Ayumi juga banyak mendapat teman di sekolah itu, tapi dia merasa tidak terlalu suka dengan kepribadian mereka. Entah kenapa, dia juga tidak tau mungkin karena Ayumi sudah terbiasa dengan kepribadian Raquell yang unik. Gadis itu sering berubah-ubah sikap, bukan karena dia alter ego atau gangguan psikologi, hanya saja dia akan berubah sesuai dengan orang yang ada disekitarnya.


Misalnya saat dia bersama keluarganya Raquell akan menjadi gadis periang dan hangat, itu dapat dilihat Ayumi saat kakak Raquell menjemputnya disekolah, gadis itu terlihat sangat manja dan hangat. Berbeda kalau dia bersama teman sekolahnya dia akan menjadi gadis nerd yang pendiam lebih tepatnya tidak peduli dengan sekitarnya. Dan masih banyak lagi tentang Raquell yang tidak bisa dia jabarkan satu per satu. Huh! Ayumi cocok jadi seorang mata-mata. Dia akan memasukkan detektif ke dalam list cita-citanya.


"Kak, lo yakin mau ketemu langsung sama dia?" tanya Ayumi pada seorang laki-laki yang ada diseberang sana.


"Gue harus ke Jerman, dek. Gue gak bisa nunggu lo buat jalanin rencana kita. Lo terlalu lambat dan gue udah gak sabar bertemu dia secara langsung"


"Bukan gue yang lambat, kak. Raquell ajah yang terlalu menutup diri. Kata lo dia orangnya asik. Tapi nyatanya dia cuek banget. Kalo bukan karena lo gue ogah bicara sama orang yang gak peduli sama lawan bicaranya!!" gerutu Ayumi kesal saat mengingat bagaimana usahanya untuk bisa terlibat obrolan santai dengan Raquell.


"Lo kan tau sendiri, Raquell memang orangnya gitu kalo sama orang yang bukan keluarganya. Pokoknya gue harus kesana. Gue bakal cari cara agar bisa kenalan sama dia."


"Gak sabaran banget sih, lo kak"


"Come on, Ayumi!! Lo masih bilang gue gak sabaran, setelah lo tau bagaimana lamanya gue nunggu moment seperti ini? Hah?!"


"Yah sorry, kak. Maksud gue bukan kayak gitu."


"Ya udah lo tunggu ajah. Gue bakal kesana"


Ayumi menghembuskan nafas lelahnya. Tanpa di sadarinya, gadis itu telah banyak terlihat dalam masalah hidup kakaknya. Ayumi tidak menyesal untuk itu, dia sangat menyayangi kakaknya. Ayumi hanya takut ini akan menjadi boomerang untuknya dan sang kakak dikemudian hari.


Gadis cantik berwajah oriental itu memutuskan untuk keluar, melihat indahnya pemandangan malam kota Berlin tanpa sadar bahwa sesorang sedang mengikutinya.


"Akhirnya aku menemukanmu!!"