
Rahasia. Satu kata yang melekat pada setiap orang. Entah rahasia besar atau rahasia kecil yang tidak untuk dikonsumsikan khalayak umum. Tapi terkadang kita lupa bahwa tidak selamanya menyimpan rahasia akan membuat semua baik-baik saja. Seperti halnya Raquell dia merasa semua orang sedang berbohong padanya dengan menyembunyikan kebenaran dengan mengatas namakan kebaikan semua orang. Menyimpannya rapat dan membuat Raquell akan mati penasaran jika semua terus berlanjut untuk disembunyikan.
Bisa saja Raquell mengabaikannya dan berpura-pura tidak peduli, tapi entah kenapa Raquell merasa bahwa rahasia yang disimpan Rafa menyangkut dirinya dan dia harus mengetahuinya.
Entahlah Raquell merasa tidak nyaman dengan gadis masalalu kekasihnya itu. Dan yang lebih membuat Raquell tidak nyaman, yaitu Rafa yang selalu bersikap berlebihan menyangkut gadis itu apalagi jika Reagan tidak sengaja mengungkit nama gadis itu dihadapannya.
Apa sebenarnya hubungan dirinya dan gadis itu?
Kenapa Rafa selalu sensitif dengan hal itu?
Awalnya Raquell tidak ingin ambil pusing. Tapi semakin kesini dia merasa semua tentang gadis itu berhubungan dengannya.
Huh! Semua ini sangat membingungkan buat Raquell. Ditambah lagi akhir-akhir ini dia sering bermimpi buruk. Raquell tidak pernah tau mimpi buruk seperti apa yang dia mimpikan karena semuanya terlihat blur, hanya saja setiap kali dia bermimpi ada rasa ketakutan berlebihan yang hinggap dihatinya dan mengakibatkan dirinya merasa sesak nafas.
Setelah kejadian di koridor kampus Raquell lebih banyak diam. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan tapi tertahan tanpa bisa diucapkan.
"Lo kenapa, Ra? Lo sakit?" tanya Ayumi ketika melihat sahabatnya lebih banyak diam. Biasanya Raquell sangat bersemangat menerima materi-materi kuliah dan akan aktif bertanya. Tapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Raquell tampak tidak bersemangat menerima materi kuliah kali ini. Ditambah lagi wajah blasteran gadis itu terlihat sangat pucat.
"Gak tau. Akhir-akhir ini aku sering kesusahan tidur"
"Lo Insomnia? Kok bisa? Kenapa? Ada yang menggangu pikiran lo ya? Kak Rafa tau soal ini? Lo udah ke dok--"
"Ayumi please! Kepala aku pusing. Dan lebih pusing lagi denger ocehan kamu yang panjang itu"
Gadis berwajah oriental yang diwariskan dari sang mama itu terlihat meringis menyesal saat melihat ekspresi menyedihkan Raquell ketika mendengar ocehan yang dipadukan dengan suara cempreng khas Ayumi Clareesa Ellard.
"Aduh sorry.. Sorry. Gue panggilin kakak gue ajah yah? kayaknya lo butuh istirahat. Biar dia yang anterin lo"
Raquell yang merasa tidak enak badan akhirnya menerima tawaran Ayumi. Gadis itu terlihat merebahkan kepalanya diatas meja. Menunggu Ayumi yang masih mencoba menghubungi Rafa.
Ayumi yang sudah berbaikan dengan kakaknya itu tampak gusar saat telfonnya tak kunjung diangkat. Dan tanpa mau menunggu terlalu lama, akhirnya gadis imut itu memilih menelfon salah satu sahabat Rafa yang juga menjadi orang kepercayaan kakaknya itu.
"Hallo"
Ayumi menghembuskan nafas lega ketika panggilannya terjawab didering ketiga.
"Aduh lo lama banget sih ngangkat telfonnya kak. Kakak gue mana? Kok dia gak jawab telepon dari gue?"
"Rafa lagi rapat sama dosen"
"Lah, kok lo gak ikutan?" tanya Ayumi bingung pada orang diseberang sana. Karena setaunya jika kakanya rapat maka ketiga sahabatnya juga akan berada bersamanya selayaknya bayangan.
"Tadi Gue ketoilet."
"Aduh mending lo cepat balik deh kak. Ini darurat"
"Darurat?" Kavin mengerutkan dahinya mendengar ucapan heboh dari balik telphonenya.
"Raquell--
Raquell pingsan!!"
♡♡♡
Rafa menatap datar adiknya yang terlihat menundukan kepalanya. Ayumi merasa takut dengan tatapan intimidasi dari sang kakak.
"Kenapa lo bohong? lo tau gak sepanik apa gue waktu denger princess pingsan"
Setelah Ayumi mengatakan bahwa Raquell pingsan pada Kavin, langsung saja laki-laki itu memberitahukannya pada Rafa dengan membisikkannya di telinga laki-laki itu saat rapat sedang berlangsung.
"APA!!!"
Dengan tergesa-gesa Rafa keluar dari ruangan tempat diadakannya rapat, mengabaikan para dosen kampus yang menatapnya penuh tanya.
Sedangkan Reagan dan Gio yang juga penasaran akhirnya memilih untuk mengikuti Rafa dan juga Kavin.
Sesampainya di fakultas kedokteran, Rafa dengan langkah lebar memasuki kelas Raquell dan Ayumi. Tapi langkah kakinya terhenti kala melihat Raquell yang tidak terlihat seperti sedang pingsan. Kekasihnya itu terlihat sedang menyenderkan kepalanya dibahu Ayumi sembari mengotak-atik handphonenya.
Dan disinilah mereka berakhir di dalam mobil Kavin dengan sang empunya mengendarai mobil. Disampingnya terdapat Reagan yang bersikap acuh, di kursi penumpang tengah terdapat Rafa, Raquell dan Ayumi dengan Raquell duduk diantara Ayumi dan Rafa, sambil memeluk laki-laki itu.
"Gue gak mau yah lo boong kayak tadi lagi, dek."
Ayumi mengerucutkan bibirnya "Ya sorry, kak. Gue kan bermaksud baik. Supaya lo cepat-cepat datang. Gue gak tega liat muka Raquell yang udah pucat."
"Udah Ax, gak usah dimarahin Ayuminya. Kepala aku tambah pusing dengerin omelan kamu"
Mendengar Raquell membelanya membuat senyum kemenangan terbit dari bibir Ayumi.
"Kok kamu bisa sakit kayak gini sih sayang?" tanya Rafa tanpa mempedulikan ucapan kekasihnya, dan senyum kemenangan dari Ayumi. Dia terlalu mengkhawatirkan Raquell yang mengeluh sakit.
"Aku cuman kurang tidur aja Ax, akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk."
Rafa mengernyit, "Mimpi buruk? Kamu mimpi buruk apa sayang? "
"Aku gak bisa ingat dengan jelas mimpinya seperti apa. Tapi yang aku tau, aku tuh selalu ngerasa ketakutan ketika aku ngemimpiin itu. Samar-samar aku seperti berada didalam air dan kehabisan nafas trus aku gak bisa ngerasain apa-apa lagi, seakan-akan aku tuh udah mati. Aku takut Ax"
Deg
Sesaaat Rafa seakan lupa caranya bernafas. Tubuhnya terasa kaku dan Raquell bisa merasakannya.
Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap kekasihnya. "Kamu kenapa, Ax?"
Rafa tersentak kaget saat tangan kecil milik gadisnya menepuk pelan pipinya. Dengan cepat Rafa menghilangkan bayangan- bayangan buruk yang melintas dipikirannya.
Napasnya terasa memburu. Rafa memejamkan matanya sesaat kemudian dia membukanya kembali dan tatapannya langsung mengarah pada gadis yang sedang menatapnya dalam.
Rafa tersenyum, "Aku gak pa-pa Princess!! Aku hanya kepikiran sama perkataan kamu. Aku gak mau kamu terus-terusan mikirin mimpi kamu yang seperti kita tau bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Aku akan konsultasi sama dokter pribadi keluarga Ellard untuk menghilangkan insomnia kamu. Aku gak pengen liat kamu sakit kayak gini"
Raquell hanya mengangguk singkat mendengar penjelasan Rafa. Kemudian gadis itu merasa puncak kepalanya dikecup, meninggalkan kehangatan yang menjalar sampai ke relung hatinya. Rafa memang selalu bisa membuat dirinya tenang.
Tanpa mereka berdua sadari bahwa orang yang duduk disebelah Kavin nampak menegang mendengar ucapan gadis yang berada dalam pelukan Rafa. Apa yang diceritakan gadis itu membuat dia dejàvu.
Rachel.
Bukannya gadis kesayangannya itu juga kehabisan nafas didalam air?
♡♡♡