
"Apakah kalian tidak punya hati? sampai harus menyiksa remaja seperti kami?" Ucap Rachel dengan geram. Dia tidak tahan lagi dengan orang-orang jahat yang berdiri dengan sombong dihadapannya. Dengan laki-laki paruh baya yang masih betah menjabak rambutnya. Kepalanya merasa sangat sakit karena jambakan laki-laki jahat itu. Dia sungguh tidak berperasaan.
Rachel hanya bisa berharap Aldo bisa cepat membawa bantuan untuk mereka. Tapi sepertinya harapannya itu tidak akan terkabul mengingat sudah cukup lama laki-laki itu pergi.
"Pemandangan yang sangat indah. Ketika melihat seorang Ellard tidak bisa melakukan apa-apa, disaat temannya membutuhkan pertolongan" Ujar laki-laki itu sembari terkekeh. Cih, apakah laki-laki itu seorang Psikopat? Umpat Rachel dalam hati, dia sudah sangat jengkel dengan orang-orang dihadapannya ini. Dia tak menyangka bahwa wajah kesakitannya bisa membuat laki-laki tua itu senang. Kemudian pandangannya beralih pada Rafa yang sedang menatapnya khawatir. Rachel mencoba tersenyum, memberi tatapan menenangkan agar laki-laki itu tau bahwa dia baik-baik saja.
Rachel merasa lega saat laki-laki gila itu melepas tangannya dari rambut Rachel. Hahh! Terlalu banyak julukan yang dia berikan pada orang itu, padahal mereka baru bertemu belum sampai sejam yang lalu.
Laki-laki paruh baya itu menyeringai kearah Rafa, Menatap Rafa dengan remeh.
"Axelle Rafardhan Ellard, anak pertama dari dua bersaudara. Kamu begitu mirip dengan ayah brengsekmu itu, rasanya aku ingin membunuhmu dan membuat seorang Alexander Jonathan Ellard berang dan merasakan rasa sakit yang tidak akan pernah terlupakan olehnya. saat dia kehilangan penerus kerajaan bisnisnya dan tentu saja anak kesayangannya". Laki-laki paruh baya itu terkekeh sinis sembari melangkahkan kakinya menuju sofa mewah yang terletak disudut ruangan temaram tempat Rafa disekap. Setelah para anak buah orang jahat itu menyalakan lampu, dapat dilihat olehnya Ruangan itu dengan jelas. Terdapat barang-barang mahal yang Rachel yakini mempunyai nilai harga yang tinggi.
"Hanya saja, aku tidak akan setega itu membunuh kamu Rafa karena saat melihat kedua matamu, aku teringat pada wanita yang begitu aku cintai"
Rafa menyernyit bingung dengan ucapan laki-laki itu. kenapa dia harus disamakan seperti wanita yang dicintai si pak tua itu?
Menyiksaku?
Hell No!! Tidak akan segampang itu. Batin Rafa.
"Aku merasa sangat kesulitan ketika membawamu kesini. Karena bodyguard-bodyguard suruhan Jonathan sangat menggangu rencanaku. Tapi untungnya dengan bantuan keponakan tersayangku semuanya menjadi mudah" Perkataan laki-laki paruh bayah itu sontak saja membuat Rafa terkejut. Siapa yang berani-beraninya membantu laki-laki sinting dihadapannya ini?
"Kanaya. Apakah kau mengenalnya?" Rafa melotot tak percaya, nama itu terucap dari bibir laki-laki yang menculiknya.
"Hahaha. Tentu saja kau mengenalnya, bukankah dia sahabat perempuanmu?" Laki-laki itu terlihat sangat puas dengan jawabannya sendiri. Berbeda dengan Rafa yang wajahnya memerah menahan marah. Wajah yang selalu terlihat ramah itu kini menjadi menakutkan jika diliputi oleh amarah. Rachel bisa melihat Rafa mengepalkan kedua tangannya, dia pasti sangat marah dan kecewa. Karena setau Rachel, mereka berdua bersahabat dekat. Sebenarnya, kanaya tidak hanya terlihat dekat dengan Rafa tetapi juga dekat dengan ketiga sahabat laki-laki Rafa. Kanaya adalah gadis cantik satu-satunya yang akrab dengan Rafa dkk. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka dekat hanya karena status Rafa sebagai ketua Osis dan Kanaya sebagai sekretaris Osis. Dan kenyataan bahwa orang yang cukup dekat dengannya ikut andil dalam penculikkan ini, pasti membuat dia sangat kecewa.
"Keponakanku yang cantik itu memang sangat berguna. Kau pasti tau kan Kanaya dari masih sangat kecil sudah kehilangan orangtuanya. Dan karena itu aku mengangkatnya menjadi anak, berhubung aku tidak mempunyai anak karena belum menikah, dan kebetulan juga ibunya adalah kakakku. Siapa sangka bahwa Kanaya sangat berguna untuk menghancurkan kalian"
"Kanaya mulai mendekatimu atas saranku, dan langkah pertamanya yaitu masuk kesekolah milik keluargamu, dan menjadi sekretaris osis lalu akhirnya membuat kamu diculik. Hahaha tentu saja semua skenario itu dariku" lanjutnya dengan bangga. Suara tawa itu memenuhi ruangan itu dengan kedua mata Rafa yang menatapnya penuh kebencian.