
"Elu, kan?" teriak Agra setelah melihat Neira.
Neira hanya diam, masih berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Agra. Dia tahu, pasti tidak mungkin menghindar terus dari Agra.
"Ngapain lu di sini?" bentak Agra.
"Saya di sini kerja, Den. Dan saya tidak tahu kalau ini keluarga Aden"
jawab Neira ketus, hatinya panas mengingat perlakuan Agra terakhir ketika di apartemen. Iyalah panas, diminta pertanggung jawaban malah dikasih duit, memang dia pikir Neira cewek apaan?.
"Halah, nggak usah banyak alasan. Ada maksud apa lu ke gue dan keluarga gue? Kebetulan banget gitu lu kerja di keluarga gue? Lu pikir gue bodoh?" cecar Agra dengan menatap tajam Neira.
Neira hanya diam, hatinya sakit. Tapi diam lebih baik dari pada kehilangan kontrol.
Dia masih ingat dengan bayi di kandungannya. Neira hanya terpejam, mencoba mengatur napasnya yang sudah naik turun karena emosi.
Tiba-tiba Agra mencengkeram rahang Neira. Membuat Neira meringis kesakitan.
"Awas lu macam-macam sama keluarga gue. Dan ingat! jangan bahas masalah kita di depan ayah dan bunda. Paham lu? Atau lu bakal kehilangan bayi lu, ngerti?"
Itu kan bayi kamu juga.
Setelah itu, Agra berlalu begitu saja meninggalkan Neira yang sudah tidak bisa lagi menahan tangis.
"Sabar ya, Baby. Kamu harus kuat agar bunda juga kuat" lirih Neira.
***
Sudah 4 hari Neira ditinggal mak Oni,
Tapi rasanya sudah seperti satu tahun mak Oni pergi.
Setiap hari harus sabar dengan kelakuan Agra. Yang semakin hari bukan semakin baik, tapi malah makin buruk.
Rasanya ada saja yang membuat Neira selalu salah di mata Agra. Mungkin lebih tepat sengaja di cari-cari kesalahannya. Kalau sudah seperti itu, Neira hanya bisa mengelus dada untuk sabar.
Seperti kali ini.
"Heh bocah.. Buatin gue nasi goreng. cepat enggak pakai lama"
ujar Agra sembari menarik kursi duduk di mini bar yang ada di dapur.
"Iya, tunggu sebentar." ucap Neira sesopan mungkin dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
15 menit kemudian..
"Ini nasi gorengnya."
Naira meletakkan nasi goreng di meja, sekaligus dengan segelas air putih. Lalu melanjutkan pekerjaannya membereskan dapur.
Tapi, tiba-tiba dikagetkan dengan suara piring dibanting di wastafel dekat Neira membersihkan alat dapur.
"Astagfirullah.. Ini orang apa setan sih? bikin jantungan aja" batin Neira.
Agra mencengkeram lengan Neira membuat Neira meringis kesakitan.
"Nei.. Lu mau gue mati darah tinggi? Berapa banyak garam yang lu kasih? Lu mau balas dendam ke gue?"
"Maaf, tadi saya rasain enak kok. Ya sudah maaf, nanti saya buatkan lagi" ucap Neira yang masih meringis kesakitan.
"Enggak usah." jawab Agra berlalu begitu saja.
Neira meringis mengelus lengannya yang sakit.
Sejak ditinggal mak Oni. Neira selalu memakai baju lengan panjang, untuk apa lagi kalau bukan untuk menutupi lengannya yang penuh luka memar akibat Agra.
"Apalagi setelah ini Gra yang mau kamu lakukan? Apa benar kamu ingin banget aku mati?" gumam Neira.
Sebenarnya kalau dicermati ada dua kemungkinan dari sikap Agra. Pertama. Memang lelaki ini berniat membuat Neira tidak nyaman untuk tinggal di sini. Kedua, bisa juga itu cuma aksi cari perhatian alias caper, modus yang berbalut gengsi.
Iya bukan??
***