NEIRA

NEIRA
Bab. 20



Sore itu langit cerah, nampak seorang wanita berwajah oriental dengan body aduhai melewati lorong-lorong rumah sakit. Memakai stelan span berwarna putih selutut dan baju biru maroon, pasti orang tak akan menyangka bahwa wanita ini sudah berumur. Siapa lagi kalau bukan bunda Ratih yang cantiknya paripurna!


Setelah sampai pada kamar yang dituju, bunda meletakan buah-buahan dan biskuit di meja pasien. Lalu duduk di pinggir tempat tidur Neira yang disambut senyum manis Neira. 


"Putri Bunda apa kabar ini? Sudah sehat?" ucap bunda sembari mengecup kening Neira yang masih terbaring di ranjang.


"Putri Bunda?" batin Neira.


Ada rasa hangat di hati Neira saat bunda memanggilnya dengan sebutan 'putri bunda', apalagi saat bunda mengecup kening Neira.


"Ternyata seperti ini rasanya punya seorang bunda? " batin Neira. Walau agak sedikit kikuk, tapi Neira juga segan untuk bertanya maksud dari ucapan majikannya itu.


"Lho.... Kok malah nangis anak, Bunda? Cup cup cup.... Sudah-sudah sayang, Bunda ada di sini" bunda membantu Neira untuk duduk dan memeluk Neira. mengusap punggung Neira dengan lembut. Agar Neira tenang.


"Ih, Bunda. Datang-datang bikin anak orang nangis. Ntar kalau minta balon susah Bunda nyariinnya" ucap Agra yang tersenyum dari balik sofa.


Disambut gelak tawa bunda, dan Neira hanya cemberut saat melihat Agra menghampirinya


"Gra, temenin Bunda ke kantin ya.  Bunda mau bicara sama kamu" diikuti anggukan pelan dari Agra.


"Bentar ya sayang, Bunda tinggal dulu" lalu bunda berlalu ke arah pintu keluar.


CUP....


Satu kecupan manis mendarat di bibir Neira. Serangan mendadak ini sukses membuat Neira membeku di tempat!!


Kesempatan dalam kesempitan!


Sudah bukan rahasia lagi, kalau Agra adalah penggemar berat bibir Neira!


Dan Agra? Langsung berlalu ke arah bunda dengan senyum tersungging di bibir tanpa sepatah katapun.


"hahahhaa.. 1:0 Nei!" batin Agra.


Agra dan bunda berlalu menuju kantin.


Neira masih membeku dengan kecupan yang tadi dia dapat dari Agra.


Sesungguhnya, Neira jengah dengan sikap Agra yang seolah mempermainkan Neira. Tidak jelas apa yang dia inginkan.


"Mau ditaruh di mana muka ku, kalau dia nanti balik ke sini lagi?" gerutu Neira. Menyembunyikan wajah malu dan marahnya dibalik selimut.


Sementara di kantin. Bunda dan Agra mengambil tempat duduk di pojok.  Bunda memaksa Agra untuk makan,  Bunda tahu, Agra belum makan dari kemarin.


"Makan, Gra! Neira kan sudah membaik, sekarang kamu makan.  ngga lucu kalau dia sembuh malah kamunya yang di opname" ujar bunda sembari menyodorkan sepiring nasi gorang seafood kesukaan Agra.


Agra hanya mengangguk dan memakan nasi goreng yang di bawakan untuknya. Bunda tersenyum puas melihat Agra. Dia mengusap-usap rambut ikal Agra. "Habisin ya." Bunda menemani Agra makan dalam diam.


fdghdhfjjfnmckdnbcnkdksnbchsjnxbgajkzbxbjsnxbvxj


vdbcncnmxbcbncnncbbzgdhncbbfvjJzzbvxhnznxbcb


fdghdjxjjhfbsjagxhcbsjsgxjxbshxhxbgstahsbvxghshh


fdhdncbhshdhhxgdggggfdgghhffffgghggfffffgggggghh


fdhxnajajxvgwfsuaknxfekalncgshnxvvd


______________________________________Makan, Gra! Neira kan sudah membaik, sekarang kamu makan.  ngga lucu kalau dia sembuh malah kamunya yang di opname" ujar bunda sembari menyodorkan sepiring nasi gorang seafood kesukaan Agra.


Agra hanya mengangguk dan memakan nasi goreng yang di bawakan untuknya. Bunda tersenyum puas melihat Agra. Dia mengusap-usap rambut ikal Agra. "Habisin ya." Bunda menemani Agra makan dalam diam.


Makan, Gra! Neira kan sudah membaik, sekarang kamu makan.  ngga lucu kalau dia sembuh malah kamunya yang di opname" ujar bunda sembari menyodorkan sepiring nasi gorang seafood kesukaan Agra.


Agra hanya mengangguk dan memakan nasi goreng yang di bawakan untuknya. Bunda tersenyum puas melihat Agra. Dia mengusap-usap rambut ikal Agra. "Habisin ya." Bunda menemani Agra makan dalam diam.