
"Nei.. Nanti sehabis masak, cepat dandan yang cantik ya. Nyonya mau ajak kamu USG, sekalian mau cek kesehatan tuan Bagaskara"
Just information tuan Bagaskara terkena stroke dan harus memakai kursi roda.
"Iya Mak. Makasih ya Mak, bentar lagi sarapan sudah siap kok"
Ini lah hidup baruku.
Kini aku tinggal di rumah tuan Bagaskara dan nyonya Ratih.
Aku bekerja di keluarga yang sangat baik ini sebagai seorang pembantu ditemani mak Oni. Wanita sepuh yang sudah mengabdi di sini selama 20 tahun.
Aku sudah dua bulan bekerja di sini. Dan usia kandunganku sekarang sudah lima bulan. Tak mudah mendapatkan tempat bekerja sekaligus tempat bernaung dalam kondisi hamil.
Sebelum sampai ke rumah ini. Aku berhari-hari terlantar di jalanan. Tidur di emperan toko. Berkali-kali di tolak saat meminta pekerjaan.
Pagi ini nyonya mengajak ku cek ke dokter kandungan. Rasanya nyonya dan tuan jauh lebih perhatian ke bayiku ketimbang aku sebagai ibunya. Apalagi ayahnya, jangan ditanya lagi. Mungkin sudah hanyut ke laut dimakan ubur-ubur.
Nyonya yang rajin membelikan aku susu hamil, vitamin, buku hamil. Dan tuan setiap habis subuh memberiku air mineral satu botol, yang katanya sudah dibacakan doa dan ayat suci ketika tuan habis sholat subuh.
"Duh, Nak.. Coba kamu punya eyang seperti mereka, pasti bahagia hidup kamu, Nak. Dipenuhi kasih sayang." aku membelai perutku yang sudah mulai membuncit.
"Nei.. Nanti bilang sama dokternya ya, kalau kaki kamu bengkak" ujar nyonya disela-sela dia menyetir menuju rumah sakit.
"Iya, Nyonya" sautku di bangku belakang.
Nyonya adalah istri kedua tun Bagaskara. Beliau dulu adalah perawat yang merawat istri pertama tuan Bagas. Nyonya Bagaskara meninggal karena leukimia saat putra beliau masih berusia 10 tahun.
Karena tuan Bagaskara yang sibuk dan orang tua tuan Bagas sudah meninggal, karenanya tuan bagas menikahi nyonya Ratih agar anak tuan Bagas ada yang merawat.
Sepulang dari rumah sakit, nyonya memintaku membersihkan kabar belakang. Yang aku tahu kamar itu kosong.
"Ya, Nyonya"
"Nanti tolong kamar belakang dibereskan ya, anak saya mau tinggal di rumah selama sebulan"
"Iya, Nyonya"
Jujur, aku belum pernah melihat anak nyonya dan tuan. Kata mak Oni, sejak lulus SMA dia sudah tidak mau tinggal di rumah ini dan memilih tinggal di apatemen.
Sebenernya sempet heran juga kenapa selama 2 bulan di rumah nyonya aku belum pernah melihat tuan muda datang menjenguk orang tuanya. Padahal tuan sudah tidak sehat lagi, bahkan sudah di kursi roda.
"Namanya siapa, Nyonya? " ladalah, kenapa aku lancang sekali menanyakan anaknya? Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku.
"Oh iya lupa, kamu belum pernah bertemu, ya? Namanya Naragra. Baik kok orangnya, tapi pendiam"
"Jarang pulang ke rumah ya, Nyonya?"
"Iya, biasanya kami yang ke sana. Sekalian beresin apartemennya. Tahu sendiri Nei anak cowok bagaimana berantakannya"
"Jadi sekarang tumben gitu ya, Nyonya" mungkin pembawaan bayi, mulutku rasanya tidak bisa berhenti untuk bertanya.
"Iya, apartemennya mau di Renovasi"__ Mobil yang kami kendarai sudah masuk ke halaman rumah___"Akhirnya sampai rumah. Kamu istirahat dulu saja Nei, kasian dedenya lama di jalan, biar mak saja yang masak malam ini"
"Iya, Nyonya"
Aku bahagia sekali mendapat majikan sebaik nyonya Ratih, rasanya seperti memiliki ibu. Ditambah lagi emak yang selalu perhatian sama aku.
"Ayah.. Aku punya keluarga baru.. " gumamku lirih.