
Hujan tak henti-hentinya mengguyur Jakarta. Seperti pagi ini sejak subuh hujan sudah turun lebat. Mungkin memang sudah masuk musim penghujan.
Saat ini pukul 06.00, bunda sedang di dapur membuat sarapan nasi goreng seafood dengan telur mata sapi, tak ketinggalan dendeng sapi goreng kesukaan ayah, juice untuk bunda, susu untuk Neira, kopi untuk Agra dan teh untuk ayah.
Pagi ini ada yang berbeda, bunda di dapur ditemani Agra yang duduk manis di mini bar. Biasanya sehabis sholat subuh Agra akan tidur sejam, dua jam menunggu sarapan siap, setelah sarapan baru berangkat ke kantor.
Tapi pagi ini moodnya sedang tidak Bagus. Mungkin buntut dari kejadian semalam bersama Neira. Agra masih dihantui rasa bersalah ke Neira. Dia memilih menemani bunda di dapur sembari menikmati kopi pagi.
"Gra.. Nanti kamu bisa, nggak ke kantor?" bunda memecah keheningan.
"Bisa, Bunda. Kenapa, Bun? "Agra menyeruput kopinya sesekali memainkan gaway sekedar mengecek media sosial.
"Bunda mau arisan, nanti pulangnya mau sekalian jemput mak Oni di stasiun" bunda masih sibuk menggoreng dendeng sapi, membolak balik agar tidak gosong.
"Kan ada mbak Neira, Bun" ah Nei, Agra jadi ingat Neira, bagaimana mana kabarnya setelah kejadian semalam? Agra gusar!
"Nei nggak sehat kayaknya, Gra. Pukul segini belum keluar kamar, biasanya pukul lima sudah di dapur. Nanti kalau nggak kesorean pulang, bunda mau antar ke dokter"
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Suara langkah Nei yang menuju ke arah dapur menghentikan obrolan ibu dan anak tersebut.
"Pagi, Nyonya. Maaf Nei kesiangan" sapa Nei ke nyonya Ratih, Nei tidak menyapa Agra, hanya meliriknya sepintas.
"Pagi, Nei__" kalimat bunda Ratih langsung terhenti saat melihat kondisi Neira yang pucat pasi dengan bibir kering dan sudah mirip orang mati. Raut panik langsung terlihat di wajah bunda, ditelangkup wajah Neira dengan tatapan penuh khawatir.
"Astagfirullah Neira.. Kamu kenapa, sakit? Habis sarapan langsung saya anter ke dokter ya. Sudah sana siap-siap" ujar bunda langsung mematikan kompor dan tidak melanjutkan menggoreng dendeng sapi.
"Gapapa, Nyonya. Cuma kurang tidur saja, semalam insomnia" kilah Neira sembari membuang sisa pembalut ke tempat sampah.
Bunda Ratih sepintas melihat apa yang dibuang Neira.
"Loh, Nei kok pakai pembalut, kenapa?" tanya bunda cemas. Mana ada orang hamil pakai pembalut.
"Semalam pendarahan sedikit, Nyonya. Tapi sudah tidak apa-apa kok, pagi ini sudah berhenti. Nei sudah tidak apa-apa Nyonya, sungguh" sebisa mungkin Neira mencoba tersenyum.
"Neira di kamar saja dulu istirahat. Jangan lupa bawa susunya, nanti harus ke dokter. Pendarahan bahaya buat janin kamu" ucap nyonya Ratih langsung meninggalkan dapur.
Agra? Agra hanya mematung dengan muka pucat pasi. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, mungkin kalimat bunda tentang bahaya 'pendarahan untuk janin' sukses membuat jantung Agra berhenti berdetak. kopi yang sedari tadi akan diminum, masih setia di tangan. Menggantung statusnya, yang seharusnya sudah mencapai bibir Agra beberapa centi lagi.
****
Agra pov
Gue bangun dengan pikiran yang kacau balau. Lara, Neira, bunda, ayah, almarhum nyokap, kayaknya gue udah nyakitin semua orang. Gini amat sih hidup gue.
Neira. Gue harus gimana sama lo? lihat lo pagi ini di dapur bikin gue merasa jadi manusia paling laknat di muka bumi. Gimana mungkin gue nyakitin cewek yang udah hancur hidupnya karena gue, sekarang gue nyakitin fisik dan hatinya. Belum lagi semalam gue membahayakan dia dan calon anak gue sendiri. Lo harus jauh dari gue, Nei. Sebelum lo tambah sakit karena gue.
"Gra, bengong aja" buyar lamunan gue di sapa bokap. Gue lagi nemenin bokap di teras membaca koran. Bunda sudah berangkat arisan sejak pukul 8 tadi.
"Itu apartemen kenapa di renov, Gra? Bukannya masih bagus? Belum ada setahun dari renovasi terakhir" ucap bokap ke gue, tapi pandangannya masih di koran. duh tapi jangan sampai natap gue deh, kalau lagi begini dengar suaranya aja gue keder.
"Ganti suasana Yah, biar lebih ada feminimnya, biar istri Agra nyaman nanti di rumah" jawab gue yang berhasil langsung bikin Ayah berpaling ke gue dan meletakkan korannya.
"Istri?" raut muka bokap antara kaget, atau mengejek sih sebenernya? Gue cuma mendengus. kesel, kayak anaknya ngga laku banget aja diresponnya kaya begitu.
"Emang kapan mau nikahnya? Calon aja kamu nggak punya. Mau nikah sama siapa? Apa sama kucing tetangga?"
"Sama Larasati" ucap gue ragu. Bagaimanapun, gue udah jujur dulu masalah Larasati ternyata tunangan orang.
Ya mau bagaimana lagi? Menurut gue, bokap dan nyokap adalah tempat curhat terbaik yang engga akan pernah khianatin gw.
"Lara yang dulu?" gue hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan bokap.
"Bukannya dia tunangan orang, Gra? Jangan macam-macam, Gra. Ayah ngga suka kamu aneh-aneh. Emang ngga ada wanita lain yang bisa dikawinin kalau kamu sudah kebelet? Sampai calon istri orang juga mau kamu kawini?" nada suara bokap mulai emosi, dan mengambil kembali korannya.
"Bukan gitu, Yah. Dia seminggu lalu datang ke kantor. Dia bilang sudah pisah sama tunangannya. Dan mau kembali ke Agra. Agra masih sayang. Sebelum dia hilang lagi, Agra mau nikahin Lara dalam waktu dekat ini, Yah"
YAKIN??
________________________________