NEIRA

NEIRA
Bab. 9



Agra menjalani hari nya dengan malas di kantor. hari ini Agra telah menyelesaikan seluruh pekerjaan, sedari tadi dia hanya bolak-balik berkeliling melihat pekerjaan para karyawan untuk membunuh kejenuhan.


Di rumah pun, rasanya juga malas karena pasti bertemu dengan Neira. Di kantor pun malas tidak ada perkerjaan yang bisa dia lakukan, hanya tiduran di sofa. Repot banget hidup lu ya bos!


Agra memang bukan tipe anak nongkrong, kalau ada waktu luang Agra lebih seneng tidur atau nemenin ayah berbincang.


Anak mami dan anak rumahan.


ditengah kebosanannya, tiba-tiba bunyi ponsel membuyarkan lamunan Agra, ada pesan WA dari bunda.


Bunda : Sayang, lagi sibuk ngga di kantor?


Agra : Enggak, Bun. Kenapa?


Bunda : Bisa anterin Bunda nggak, Gra? Ke rumah sakit, mobil Bunda mogok nih. naik taksi nggak enak.


Agra : Bunda sakit?


Bunda: Pokoknya cepetan jangan bawel. Jangan ngebut. Baca doa safar. Jangan main hape di mobil.


Ya Allah, banyak amat itu larangannya, suruh cepetan tapi nggak boleh ngebut. Gimana coba?


Untungnya jalanan lumayan sepi, mungkin karena sudah lewat jam makan siang dan belum jam pulang kantor.


Tapi Agra masih berpikir di jalan "siapa yang sakit? jangan-jangan sakit ayah kambuh?" Secepatnya Agra tancap gas agar bisa cepat sampai rumah.


***


"Nei. Cepetan dandannya, keburu Agra datang" teriak nyonya dari dapur.


"Iya, Nya.. "


"Loh, Nya. Kok sama den Agra sih, nggak naik mobil Nyonya?" tanya Neira bingung, duh kenapa musti sama Agra sih? kan tekanan batin ini si baby kalau deket Agra.


"Mogok, kalau naik taksi nggak enak. Udah buruan, Bunda tunggu di teras ya"


Akhirnya Agra sampai juga di rumah. Rumah gaya zaman dulu dengan halaman luas dan model bangunan tinggi dengan jendela-jendela super besar. Ya karena ini rumah peninggalan buyut jadi masih rumah tempo doeloe.


belum juga sempat Agra keluar mobil. Bunda dan Nei sudah masuk ke dalam mobil. Agra hanya bengong dan menggeleng perlahan.


"Lah.. Yang sakit siapa? Bunda?" tanya Agra


"Emang Bunda bilang ada yang sakit apa. Engga kayaknya tuh!' jawab bunda dengan sewotnya  "Udah buruan keburu macet, mau anter Nei USG" ucap bunda yangs udah cemberut mungkin karena kelamaan menunggu. Padahal Agra sudah secepet mungkin mengendarai mobilnya.


"Buset deh, ternyata nganterin nih cewek.. Gitu amat bunda sama pembantu. udah kayak anak sendiri. Ngrepotin aja lu Nei.. " Agra menggerutu dalam hati.


"Ya allah, Bunda.. Bunda lagi PMS ya? galak bener sama anak sendiri, anak orang disayang-sayang.. Iklas Bunda, ntar kalau ngga iklas Agra durhaka dong jadi batu" benar-benar nih bunda.


Neira cuma menahan tawa geli melihat polah ibu dan anak ini. Neira sesekali melihat ke Agra.


"Kamu tuh anak baik, cowok baik, tapi kenapa kalau ke aku jahat banget ya, Gra?" batin Neira.


***


Mereka tiba di salah satu rumah sakit bersalin, namun dengan kondisi yang sangat luar biasa ramai oleh pasien. 


"Ini rumah sakit udah kayak pasar yang lagi obral sale 90% aja. Rame nyaaaaaa" gerutu Agra kembali ketika dia harus rela mengantre panjang nomer antrean.


Setelah menunggu antrean kurang lebih sejam akhirnya giliran Nei tiba.


"Ya Allah, ini banyak benar ibu hamil, pada doyan banget bikin anak" gerutu Agra, ini manusia kalau di ingat dari tadi menggerutu mulu ya?


"Ntar kamu juga doyan, Gra. ayo buruan ikut masuk nggak usah kayak pak satpam yang cuma jagain pintu" celoteh bunda sambil menarik lengan Agra.


lelaki itu cuma geleng-geleng kepala. "Kenapa dah emak gw hari ini? Seriusan hari ini tuh emak gw udah kaya macan betina kaga dikasih jatah.. Kalah dah emak-emak antagonis di sinetron Cinta fitri. Ehh!!" 


Agra memerhatikan Nei berbaring di kasur periksa. Sejujurnya Agra agak malu ikut melihat Neira. Bagaimanapun kan Agra orang asing bagi Neira. Kalau kata ayah 'Bukan muhrim, Gra. harus jaga pandangan'. Hehehe tapi itu kata Ayah ya bukan kata Agra.


"Gaya lu, Gra sok alim. Bukannya lu udah nikmati setiap incinya sampe tuh cewek bunting? " celoteh setan di otak Agra yang tiba-tiba muncul begitu aja. Udah seperti jelangkung datang tak diundang pulang tak diantar.


Agra melihat gambar yang berada di monitor USG, menunjukkan bentuk janinnya. Entah kenapa tiba-tiba Agra diliputi dengan berbagai macam perasaan. Sedih, haru, senang, bahagia, merasa berdosa dan berbagai perasaan lainnya, yang membuat dirinya sekarang merasa sendu.


Agra melihat raut Neira berbinar melihat layar monitor. Senyum di gadis itu sangat lepas, dan entah bagaimana senyum itu dengan segera menular ke Agra. Ada rasa hangat di hatinya saat melihat gadis itu begitu berbinar... "adududu hati dan bibir gue berhianat"


Dan melihat senyum itu, tiba-tiba pikiran mesum Agra berkelebat dengan tidak sopannya "Rasanya gue masih ingat banget bagimana rasanya tuh bibir"__"Astagfirullah" Agra menggelengkan kepalanya cepat-cepat, bahaya godaan setan!!


"Baby-nya malu-malu, jenis kelaminnya ini terlihat cewek ya. Pasti cantik nanti kalau melihat bapak dan ibunya cantik dan ganteng begini" kata si dokter sembari melihat Agra dan Neira. Sedangkan Agra dan Neira hanya saling melotot. tidak tahu saja dokter ini, kalau mereka sudah seperti Tom and Jerry.


"Ehem.. Ehem.." deheman bunda membuyarkan perang mata laser yang sedang mereka berdua lakukan.


"Sekarang kita denger jantungnya ya" kata dokter kembali.


Deg.. Deg... Deg... Deg... Deg...


"Ini suara jantung gue apa suara jantung bayinya ya?" itulah yang terlintas dibenak Agra. Agra tertegun saat mendengarkan detak jantung itu. Tidak bisa di defisinisikan perasaan Agra. Jantung Agra seolah berdetak berpuluh kali lipat lebih cepat. Rasanya sakit tapi juga seperti ada ledakan cinta yang begitu besar yang tidak dapat dia bendung untuk calon putri kecilnya. Agra menekan dadanya sendiri sebagai bentuk pengendalian atas luapan perasaan nya. Agra terus membatin berkata Subhanallah, Astagfirullah untuk menenangkan hatinya sendiri takut jantungnya terlempar keluar secara tiba-tiba.


_____