NEIRA

NEIRA
Bab. 15



Jam menunjukan pukul 10.00 wib. Agra masih saja berkutat dengan Ayahnya di teras depan membicarakan Larasati.


Sungguh, Ayah dibuat pusing dengan cara berpikir Agra. Perasaan, Ayah selama ini sudah memberi asupan gizi terbaik untuk Agra mulai bayi sampai gede, tapi kenapa otak anak semata wayangnya ini tidak pernah penuh? Selalu saja geser sedikit tidak sesuai garis lurus.


"Gra, cinta saja ngga cukup dalam membina pernikahan. Harus ada perjuangan kedua belah pihak. Cari gadis lain saja, Gra. Lara itu sudah ninggalin kamu. Harga diri kamu sebagai laki-laki itu kamu taruh di mana?" seru ayah Agra sembari memijit pangkal hidungnya__ Pusing!


"Tapi Agra mau menikahnya sama Lara, Agra cintanya sama Lara"


"Ayah itu sudah makan asam garam kehidupan, Gra. cari wanita lain di luar sana masih banyak. Cinta itu karena terbiasa, Gra. Sudah Ayah masuk dulu, kamu ini bo-doh kok ngga sembuh-sembuh" ayah langsung masuk ke kamar meninggalkan Agra untuk istirahat.


Agra mengusap kasar wajah nya, lelah.


Terdengar suara notifikasi dari ponsel Agra. Agra segera mengambil ponselnya di saku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan, ternyata Bunda


Bunda:


"Gra, ke kamar mbak Neira sana, sayang. Lihat kondisi mbak Neira sudah membaik apa belum? Kalau kamu lagi ngga ngapa-ngapain, sana antar mbak Neira ke dokter. Oh iya Gra, bilang ke lope-lope bunda (read:Ayah) jangan di teras lama-lama, dingin nanti sakit."


Heh..? Lope-lope?


Astagfirullah Agra kalah romantis!!


Agra segera bangkit dari kursi menuju kamar Neira. Agra pikir, sekalian minta maaf semalam sudah keterlaluan terhadap Neira.


Tapi saat sudah di kamar Neira, Agra dibuat binggung, karena Nei tidak ada di kamarnya. Agra sudah mencari ke penjuru rumah, bahkan di halaman depan dan belakang, tapi nihil.. Neira HILANG!!!


"Oh ****...!!" pikiran Agra mulai berspekulasi ke mana-mana, merutuki dirinya sendiri yang semalam mengusir Neira. Di luar hujan angin dan petir. Agra benar-benar khawatir terhadap Neira dan bayinya.


"Gimana nasib anak gue? bo-dohnya lo, Gra. Bo-doh. Kenapa lo jadi sebe-go ini sih, Gra" merutuki diri sendiri


Agra masih ingat jelas bagaimana wajah Neira semalam. Langsung pucat membiru, saat Agra mengancam membunuh janinnya. Ya memang penyesalan selalu datang belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran. Bukan kah begitu pemirsah? Kan, author pinter ngga kaya si Agra yang geser otaknya.. 😎😎


12.00 WIB, Agra melihat jam tangannya, "Sudah jam dua belas" gumamnya, Agra masih mondar-mandir di teras, tidak bisa duduk tenang. Karena semakin kalut, akhirnya Agra memutuskan mencari lagi ke semua ruangan, tetap nihil!


Tanpa pikir panjang lagi, Agra langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja nakas kamar, memacu mobilnya keluar dari rumah dan menyusuri jalan, berharap melihat sosok Neira.


Giliran hilang dicari. Ada disuruh pergi.


"Hujan, macet begini gue harus cari di mana? Ini lampu merah kenapa lama sekali, sih?" emosi Agra meluap, Agra terus membunyikan klakson mobil  berharap jalan cepat lancar.


15.00 wib. Agra masih menyusuri jalanan, tak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan Neira di sepanjang jalan yang Agra lewati. Tapi paling tidak, sekarang hujan sudah sedikit mereda. Bisa membantu Agra melihat lebih jelas lagi keluar jendela mobilnya.


Bunyi ponsel Agra terdengar, ada notifikasi pesan di sana.


Bunda:


"Agra, bagaimana mbak Neiranya? Sudah dibawa ke dokter? Bunda udah on the way pulang ini. Tapi macet parah. Aduh, rempong deh Gra, chat dibalas jangan dilihat doang, emangnya koran?"


Agra:


Bunda:


"Singkat amat, sariawan ya?


Bo-do amat, bunda... Bo-do amat.


Setelah lampu berganti hijau, Agra melajukan kembali mobilnya, tapi lebih pelan. Dan rasa lapar menderanya karena belum sarapan.


Agra memarkirkan mobil di pinggir jalan ketika melihat warung nasi padang.


"Makan dulu deh, ngga fokus kalau begini" Agra segera menuruni mobil setelah mengambil payung pada jok belakang mobil.


"Pake rendang sama terong balado aja, Uda. Sama teh tawar panas" pesan Agra ke pelayan warung padang.


Agra mengambil tempat duduk di paling pojok belakang, menyenangkan memang jika duduk di kursi pojok, bisa mengamati banyak kegiatan orang yang lalu-lalang.


"Mas, kalau di sini ada lowongan ngga ya, Mas? Yang bisa tinggal di dalam? nyuci piring juga nggak pa-pa, Mas" terdengar suara seorang gadis sedang meminta pekerjaan di sebelah meja kasir.


"Waduh maaf ngga bisa. Mbak lagi hamil, susah Mbak kasian bayi-nya yang di dalam perut" jawab bapak-bapak yang di sebelah meja kasir, pemilik warung makan ini.


Mata Agra menatap tajam gadis tersebut. Ekspresi wajahnya sulit di tebak, seperti ingin menumpahkan segala emosinya saat itu juga.


Agra berdiri dari bangkunya, belum sempat dia menyantap nasi padang yang tadi dia pesan. Langkahnya tertuju pada gadis yang sedang berdiri setengah basah kuyup.


Agra langsung mencekal tangan gadis itu, bedanya kali ini Agra masih sedikit punya otak untuk tidak menyakiti pergelangan tangan orang yang dia cekal.


"Ngapain lo di sini? Bukannya tadi pagi lo sakit? Terus ngapain berjalan sejauh ini? masih punya otak ngga sih, lo? pikirin itu janin lo, basah kuyup kaya gini, nyusahin orang aja. kalau lo sakit gimana?" cecar Agra dengan nada yang cukup tinggi, tidak memberi kesempatan Neira untuk membantah sama sekali.


Agra sudah tidak perduli dengan banyak mata di sekitar yang memperhatikan mereka berdua, Agra langsung menyeret Neira ke bangku pojok yang tadi sempat Agra duduki.


"Makan dulu, habis itu ikut gue pulang. Engga usah nangis, ngga usah banyak protes." Agra mendudukan Neira di kursi yang tadi dia duduki, sedangkan Neira hanya bisa sesenggukan menangis.


Manusia satu ini benar-benar tidak bisa lemah lembut terhadap dirinya.


Agra menatap Neira lekat-lekat, ada perasaan lega bisa menemukan perempuan ini, walau dengan kondisi tidak baik-baik saja.


"Udah jangan nangis" ucap Agra dengan lembut menyeka air mata di pipi Neira.


"Sini Agra suapin, makan dulu habis itu kita pulang. Bunda pasti khawatir kalau nanti kamu ngga ada di rumah."


Kamu?


Dengan sabar Agra menyuapi Neira, sesekali masih mengusap air mata di pipi Neira.


Babang Agra sehat? FIX DIA KESAMBET !!


______________________________________