NEIRA

NEIRA
Bab. 21



"Watashi wa modotta"


"I'm home, yeaaahhh Jakarta. I'm coming"


Ucapan itu yang langsung meluncur dari mulutku ketika menginjakan kaki ke tanah. Setelah turun dari pesawat yang menerbangkanku dari Japan ke Jakarta.


Ku hirup dalam-dalam oxygen di bandara Soeta. Aku tidak peduli lagi kalau udara di sini penuh dengan polusi. Sangat jauh dibanding udara yang sudah 7 tahun ini ku hirup di Jepang. Tapi bagiku, udara penuh polusi di Jakarta adalah senyawa orang-orang yang ku cintai.


Aku bergegas berlari ke tempat bagasi, tidak sabar rasanya ingin cepat pulang ke rumah dan memeluk orang-orang yang 7 tahun ini aku rindukan.


7 tahun! Ya.... Masa yang bagiku sangat panjang.


"Mom, Dad, Ethan pulang" kata itu terus tersimpan di hatiku, sampai hari ini akhirnya tiba dan bisa mengucapkan langsung di depan mereka.


Jakarta! Sepanjang jalan menuju rumah, aku terus mengamati pemandangan di luar jendela taksi. Kota ini masih sama seperti dulu. Penuh riuh, macet, debu, berisik klakson di lampu merah, dan jauh dari kata disiplin yang biasa kulihat sehari-sehari di Jepang.... Hahhaha tapi ini lah Jakarta.


Kalau dulu aku akan uring-uringan terkena macet di kota ini. Tapi sekarang? Aku sangat menikmati setiap detik di kemacetan yang ku lalui sepanjang jalan menuju ke rumah. Crowded yang seolah menjadi candu baru bagiku saat ini.


Sebenernya aneh! Aku tidak tahu kenapa akhirnya aku memutuskan pulang. Bahkan detik itu juga saat mamah menutup telefonnya, aku langsung blingsatan mencari tiket penerbangan tercepat Jepang-Jakarta. Tanpa peduli lagi pada urusan kantor dan lain-lain yang selama ini selalu menjadi alasanku untuk tidak bisa pulang.


7 tahun aku di Osaka, baru 2 tahun terakhir ini aku menghubungi orang tua ku. Umurku sekarang 22 tahun tapi mamahku masih saja menghubungiku bahkan 2 jam sekali dalam sehari. Dan setiap malam sebelum tidur, pasti mamah akan bertanya kapan aku pulang? Dari semua perlakuan itu, aku tahu mereka sangat merindukan ku, walau aku juga sangat merindukan mereka, tapi entah kenapa keputusan untuk pulang ke Indonesia belum juga aku ambil.


Sampai akhirnya, kemaren siang mamah menghubungi ku dengan menangis, menceritakan kejadian di rumah, saat itu juga rasanya aku mendapatkan kekuatan untuk pulang!


Sebenarnya aku juga bingung apa alasanku untuk pulang? aku pulang karena mendengar mamah sedih dengan masalah di rumah? atau aku ingin pulang karena tidak sabar bertemu "My little princess" yang sudah lama aku minta ke mamah sejak aku umur 10 tahun?


***


Akhirnya, taksi ini berhenti juga di depan rumah. Walau perjalanan hanya 1 jam dari Soeta ke rumah, tapi karena rindu ini sudah menggunung, perjalan ini terasa sangat lama. Aku tertegun, rumah ini tidak berubah sama sekali. Kenangan masa kecil langsung berputar-putar di kepala ku menambah sesak paru-paru. Benar kata Dilan. Rindu itu berat!! Mungkin aku sudah menjadi milyader andai saja rindu ini bisa ku gadaikan dengan rupiah. Walau toh aku memang seorang milyader sekarang.


Walau dengan lutut yang rasanya kehilangan kekuatan saat melihat rumah ini, tapi aku berlari menghambur keluar. Aku berlari sekencang mungkin. Kenapa terasa jauh sekali antara pintu gerbang dan pintu rumah ini? Padahal dulu saat kecil rasanya hanya tinggal melangkah saja sudah sampai! Apa karena rindu?


Rasanya waktu seolah berhenti dan menarik serta semua oxygen di paru-paru ku."Daddy.... " gumam ku yang mungkin hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya.


Bukan hanya tangisku yang berhambur keluar dari mataku, tapi tubuh ku pun langsung berhambur ke pelukan lelaki di hadapanku ini.


"Dad, Ethan pulang."___ "Ethan kangen"


Lelaki ini hanya bisa menangis dan memeluk ku seolah bicara kepada ku jangan pergi lagi!


D-amn!!.. Sudah berapa lama sebenarnya aku pergi meninggalkan rumah ini? Kenapa sekarang aku melihat Daddy begitu rapuh? Gurat-gurat di wajahnya semakin jelas, walau tidak mengurangi ketampanannya khas keturunan Timur tengah.


Well.. Daddy adalah orang yang paling berarti buat ku, orang yang paling dekat dengan ku walau aku hanya putra tirinya. Sedangkan mamah, lebih condong dekat dengan abang.


Dunia memang adil.


Melihat Daddy seperti ini, sungguh aku benar-benar ingin menetap di Indonesia saja dan meninggalkan semua yang aku punya di Jepang.


"Ethan kangen sama Daddy" kata itu yang terus ku ulang, biarkan saja Daddy jengah mendengarnya. Aku hanya ingin melepas rindu. I love you father. You are always my hero!


Setelah puas melepas rindu kepada Daddy, akhirnya aku melangkahkan kaki ku untuk bertemu Mamah. Lagi pula Daddy harus istirahat siang. Jadi ku putuskan untuk bertemu Mamah


By the way.. Tentang My little Princes aku mendapat foto dan cerita tentang dia dari Mamah sejak sebulan belakangan.


Dari kecil aku ingin adik perempuan, karena di rumah cuma ada abang. Abang orang yang pendiam dan introvert, bertolak belakang dengan aku yang bisa dibilang extrovert.


Pikir ku sangat komplit jika aku punya adik perempuan yang bisa aku jaga dan bisa aku goda setiap saat.


And now.. Aku sudah ngga sabar pergi ke tempat mamah yang sedang menemani My little Princes.


Aku harap dia menggemaskan. I hope so..