
Gadis itu menuju pintu hendak keluar dari kamar itu untuk pulang. Tapi,
BRAAKKKK..
Pintu ditutup dan dikunci. Mata lelaki itu nanar menatap Neira. Neira tahu lelaki itu belum sadar benar dari mabu nya. Matanya saja masih merah seperti mata srigala.
"Kak, istirahat saja. Saya mau pulang"
Neira tersenyum tipis karena ketakutan. Walau tahu tidak berguna tersenyum kepada orang mabuk. Gadis itu mulai takut dan khawatir. Untuk apa pintu kamar itu dikunci?
"Lu mau pulang setelah nyakitin gue, hah? Mau ke mana, Sayang?" Lelaki itu mulai mendekati Neira yang mundur secara perlahan.
"Mau balik ke tunangan lo? Oh, gue sudah nggak ada artinya sekarang buat lu?" racau lelaki itu.
Neira sebenarnya tidak mengerti apa yang lelaki ini bicarakan. Sepertinya salah orang bukan untuk Neira. Untuk pacarnya maybe? Jangan-jangan dia itu PETUNOR -perebut tunangan orang. Ngeri!!
Lelaki itu terus saja meracau. Membuka seluruh pakaiannya.
"Lah kaga malu ada anak perawan di sini main buka baju aja?" batin Neira. Oh, polosnya gadis ini.
"Kak kamu mau ngapain? Please kak, kamu salah orang."
Tubuh Neira mulai menggigil. Neira ketakutan saat lelaki itu mendekat dan melempar Neira ke kasur dengan keras.
"Au sakit... ttt... " Neira menjerit.
Dia mencengkeram tangan Neira, menjambak rambut gadis itu. Dan Neira terus meronta meminta tolong. Berontak, menjerit, menangis.
Entah berapa luka dan memar yang Neira dapatkan. Karena lelaki itu terus meremas dan menarik gadis itu dengan kasar.
lelaki itu berada di atas Neira. Berusaha menelanjangi Neira.
Sakitt. Hanya itu yang Neira rasakan. Benar-benar sakit dan kosong.
Entah dia menggigit, mencumbu. Entah apapun yang dia lakukan hanya sakit yang gadis itu rasakan.
Dan..
Harapan Neira mulai pupus untuk berontak saat darah mengalir segar di daerah kewanitaannya.
Dasar brengs*k.. Bajing*n...
Neira hanya bisa merasakan sakit dan tubuhnya melayang. Gadis itu sudah tidak bisa merasakan apapun selain rasa kotor yang terus berputar-putar di kepalanya.
Bayangan ayah dan Prayoga terus berputar putar di kepala Neira. Bagaimana hati mereka kalau tahu keadaannya saat ini.
Entah berapa luka di tubuh Neira. Entah berapa kali lelaki iti memuntahkan air napsunya ke rahim Neira.
Neira benar-benar tidak bisa mengingat apapun selain pudar dan semua menjadi gelap dan hilang.
.
.
Pagi itu Neira sadar dengan berjuta perasaan berkecamuk. Marah, jijik, putus asa dan entah apalagi.
"Ssttt.. Ahhh sakit" desisnya, saat merasakan sekujur tubuhnya ngilu.
Hampir-hampir gadis itu tidak bisa berdiri, sakit teramat sangat di paha dan kewanitaannya. Entah air mata gadis itu pergi ke mana. Tak ada lagi tangis. Hanya ada amarah dan amarah.
Neira sama sekali tak ingin menoleh ke orang di sampingnya ini. Orang terbang**t yang pernah Neira temui. Orang tidak tahu terima kasih. Gadis itu meralat ucapannya yang pernah berkata lelaki ini pria baik -baik. Susah payah gadis itu bangun mencari kunci pintu.
Dan...
"Ya tuhan... "
Neira melihat sekujur tubuhnya penuh memar. Bahkan tepi bibirnya pun membiru. Berdarah. Gadis itu benar-benar tak habis pikir "kenapa tidak dia bunuh saja aku sekalian?"
Di tangannya ada begitu banyak goresan luka. Mungkin karena terkena barang-barang yang Neira lemparkan ke lelaki itu semalam. Apapun barang yang bisa gadis itu raih, Neira lemparkan ke tubuh lelaki itu. Tapi sangat sangat-sangat tidak berguna!
Terhuyung berjalan keluar dari apartemen. gadis itu ingin pulang.
_______\=_______
Neira tiba di kontrakan tempatnya tinggal. Kontrakan tiga ruangan sempit di pemukiman padat penduduk.
Sepi. Neira pikir ayahnya sudah berangkat ke pasar untuk bekerja. Semalaman pasti ayahnya khawatir anak gadisnya tidak pulang dan tidak memberi kabar.
Baru sejenak gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi teras, namun sudah dikagetkan dengan kehadiran tetangganya.
"Nei. Dari mana? " sapa tetangga sebelah kontrakan.
"Dari rumah temen Bude. Kemaren Nei ada sedikit kecelakaan" jelasnya sebelum di cecar pertanyaan tentang wajah dan lengannya yang babak belur.
Namun ibu itu langsung memeluk Neira yang membuat Neira semakin terheran-heran. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Nei. Kamu yang sabar ya."
Neira merenggangkan sejenak pelukan wanita yang biasa dia panggil bude itu.
"Ada apa ya, Bude?" hatinya sudah mulai cemas.
"Bapakmu sudah tenang di sana.. Kami kemaren mencarimu, Coba meneleponmu tapi hapemu tidak aktif"
"Sabar ya Nei. Ayo Bude antar ke pemakaman... "
GELAAAP....
.
.
.
Ternyata ayah Neira semalam terkena serangan jantung. Kata Bude, Ayah panik saat Neira tidak kunjung pulang. Kenyataan itu memukul Neira telak.
Setelah Neira sadar dari pingsannya. Bude mengajak gadis itu ke pemakaman. Ayah Neira disemayamkan tadi sehabis sholat subuh
Neita meraung seperti anak kecil di pusara ayahnya.
"Cobaan apa lagi ini, Tuhan" lirih batinnya getir.
"Yah.. Nei sama siapa, Yah? "
"Jangan tinggalin Nei, Ayah... "
"Nasib Nei bagaimana Ayah... Nei mau ikut Ayah... " isak Neira pilu dan putus asa.
"Ayahhhhh maafin Neiii.... "
Gadis itu terus terisak di makam ayahnya. Beribu penyesalan kini menohok hatinya. Belum sempat dia berbakti dan meminta maaf, tapi ayahnya, satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini, justru telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Pergi saat dirinya benar-benar hancur. Lalu pada siapa setelah ini dia harus bersandar?
Mendekati magrib, Bude mengajak gadis itu pulang.
Gadis itu masih melamun di depan rumah Bude. Memegang secangkir teh hangat yang tadi Bude buatkan agar hati gadis itu lebih tenang.
"Nei.. Setelah ini mau tinggal di mana?" Suara dan sentuhan lembut bude di bahunya menyadarkan gadis itu dari lamunan.
"Tadi ibu Marta pemilik kontrakan bilang kontrakan ayahmu habis bulan ini, bahkan masih menunggak 3 bulan"
Gadis itu terdiam. Hanya mampu mengangkat bahunya, tanda tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.
"Cobaan apa ini, Tuhan?
Dalam sehari aku kehilangan semua yang aku miliki" Neira kembali meneteskan air matanya dalam diam. Tak mampu berucap apapun.
Dia terus merutuk dirinya sendiri. Keinginan terbesarnya saat ini adalah menyusul ayahnya. Hilang dari dunia ini. Meninggalkan semua luka, sedih, kecewa, dan semua hal yang menyakitinya.
Gadis ini lelah. Tak punya lagi harapan hidup dan sandaran hidup. Semua terasa kosong dan entah apa yang harus dia lakukan setelah ini, jika ia memilih untuk melanjutkan hidup.
"Ayah.. Bawa Nei bersama Ayah"