
Jakarta, suasana panas siang ini.
Tapi dua orang lelaki dalam apartemen ini juga tak kalah panas dengan suasana hati masing-masing.
3 hari di tempat yang sama, tidak membuat dua orang kakak beradik ini berniat untuk memulai pembicaraan satu sama lain. Ataupun memperbaiki mood mereka setelah pertengkaran mereka 3 hari lalu dan berakhir dengan adu jotos.
Wajah-wajah tampan itu kini tampak bengkak dan kebiruan.
"Gue pulang, Bang. Ingat kata-kata gue kemarin lusa, Bang. Gue ngga main-main!"
Ethan mengambil kunci mobil dan meluncur keluar dari apartemen Agra.
------
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam... Abang! dari mana tiga hari tidak pulang?" cecar Neira saat Ethan memasuki rumah.
Lelaki itu masih di teras, tapi Neira sudah mencecarnya.
"Dari rumah teman Sugar. Eh.. Habis ini jalan yuk, shoping sama ke salon. Nanti malam temani Abang dinner." Ethan memegang kedua bahu Neira, men-sejajarkan wajahnya dengan Neira.
Mata Neira terbelalak lebar mendengar Ethan ingin mengajaknya dinner. Tanpa pikir panjang, Neira langsung mengangguk dengan senyum bahagia.
"Abang mandi dulu ya.... Daddy dan mamah ke mana?" Ethan melangkah masuk, ia berjalan menuju dapur dibuntuti oleh Neira.
"Lagi ke rumah tante Ira. Dari kemarin, baru pulang lusa"
"Lama amat?" tanya Ethan sembari membuka botol air mineral dari dalam kulkas.
"Persiapan pernikahannya abang Daniel kan, Bang? Minggu depan bang Daniel nikah"
"Kalau kita kapan?" bisik Ethan tepat di telinga Neira, menciumnya sekilas dan berlalu pergi begitu saja.
Dan apa yang dilakukan Ethan, sukses membuat wajah Neira memerah seperti kepiting rebus. Neira langsung menekan dadanya perlahan untuk menormalkan detak jantungnya.
"Jangan copot.... Jangan copot" batin Neira. Baru dia akan beranjak teriakan Ethan sudah mengagetkannya.
"Buruan siap-siap Sugar, jam 3 kita berangkat" teriak Ethan dari dalam kamar.
"Eh.. iya Bang"
***
Mobil Ethan melaju perlahan membelah ramainya jalan Ibu kota. Malam minggu jalanan cukup riuh, mungkin banyak yang akan berangkat berlibur ke Puncak.
"Abang.... Emang mau dinner di mana? Pakai ke salon segala? Makan di pinggir jalan saja kan enggak pa-pa, Bang?
Bukan masalah apa. Tapi Neira, minder jika harus makan di restoran besar. Bahkan, bisa dikatakan dia belum pernah masuk ke restoran besar.
Membayangkan ada begitu banyak sendok berjejer di dekat piring. Dengan menu yang aneh-aneh, seperti yang dia lihat di televisi, membuat Neira pusing.
Ethan hanya tersenyum simpul tanpa menjawab. Yang membuat Neira semakin gelisah dan salah tingkah.
"Jangan manyun gitu, Sugar. Nanti Abang ci*um aja"
"Coba kalau berani?"
"Serius, ya? Halah.... Paling juga entar nangis kalau Abang ci*um. Terus bilang deh, 'ih Abang jahat' __iya kan?"
"Sok tahu" Neira mencubit lengan Ethan, ada rasa hangat dalam hatinya setiap kali berada di dekat Ethan.
Kehangatan sikat Ethan, senyumnya, tawanya. Semua membuat Neira sangat nyaman dan merasa istimewa. Berbeda jauh saat dia harus berada di dekat Agra. Dia harus jatuh bangun seperti Roller coaster.
Mobil Ethan melaju memasuki parkiran sebuah salon terbesar di ibukota. Bangunan menjulang tinggi dengan papan nama besar.
"Yuk, Sayang...." Ethan membuka pintu mobil untuk Neira, mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh wanita itu.
Neira tampak ragu saat Ethan menuntunnya untuk masuk ke dalam salon. Seumur hidup, dia belum pernah memasuki salon sebesar ini. Dalam mimpi pun Neira tidak berani berharap. Dulu saat rambutnya harus dipotong, ayah yang akan melakukannya. Atau, paling mujur jika mbak Mutia pemilik salon rumahan dekat kontrakannya membutuhkan rambut panjang, Neira akan senang hati diundang ke salonnya untuk menjual rambut.
"Tenang, Sayang.... Abang tajir kok" semahal-mahalnya perawatan di salon ini, tidak akan lebih mahal dari pengeluarannya untuk makan siang di Tokyo.
"Sombong!" Neira mencubit lengan Ethan yang hanya disambut kekehan Ethan. Bukan sombong, tapi kenyataan. Neiranya saja yang tidak tahu siapa Ethan di Jepang sana.
Neira dan Ethan sudah sampai di depan resepsionis salon, dan di sambut oleh.... Mbak atau Mas ini ya? Ya whatever, yang penting manusia, ya kan?
"Halo Handsome. Ada yang bisa dibantu?" sambut salah satu lady boy yang sudah bergelayut manja di lengan Ethan.
Neira mengelus perutnya sepintas __you know what i mean__
"Mmm.... Saya panggilnya apa nih? Mbak, Miss, Mas atau bagaimana? Takut salah" Ethan menggaruk tengkuknya yang 1000% sebenarnya tidak gatal, diiringi senyum kikuk.
"Panggil aja Mince, Handsome"
Ethan susah payah tersenyum kuda sembari menelan salivanya sendiri yang terasa sangat kasar.
"Tolong make over dia, Mince. Paket komplit ya" kata Ethan mendorong Neira ke arah Mince.
Sepintas, Mince menilik Neira dari atas rambut sampai ujung kaki.
"Ok, Handsome.... Beres deh pokok nya"
Setelahnya, Mince membawa Neira masuk ke dalam. Meninggalkan Ethan yang duduk menunggu di lobby salon.
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 tapi Neira belum juga selesai.
Ethan tampak gelisah.
"Lama banget sih, jam tujuh harus sudah di sana" gumam Ethan.
Setelah menunggu sekian menit, akhirnya Neira keluar dengan wajah cemberut.
Menggunakan mini dress berwarna hitam dengan bahu terbuka. Rambut digelung ke atas, menampakkan bahu putih bersih dan leher jenjangnya yang seksi.
Polesan make up natural menonjolkan bibir ranum Neira dan juga pipinya yang bersemu merah muda. Dengan sepatu hak tinggi yang menggoda saat berjalan menggunakan kaki jenjangnya.. SEMPURNA!
Beberapa saat Ethan terpaku. Mulutnya sedikit terbuka mengagumi ciptaan Ilahi di hadapannya ini. Bolehkah Ethan membawanya pulang kembali ke rumah dan menguncinya di dalam kamar untuk dia nikmati sendiri?
"Duh Handsome sampai segitunya.... Ehem.... " seru Mince menyadarkan Ethan dari keterpakuan. Membuang jauh godaan setan yang baru saja menari-nari dalam kepalanya.
"Eehem.. " Ethan mencoba menormalkan suara dan degup jantungnya. "Senyum dong, Sayang. Biar tambah cantik" Ethan menghampiri Neira dan mengelus lembut pipi Neira. Ah.... Andai, andai dan andai. Semua andai-andai itu menghantui hatinya.
"Abang.. Malu ih. Masa pakai ini, sih? Terlalu terbuka" protes Neira menunjukan bahunya yang terbuka.
"Bagus kok, Sugar. Cantik.... Sempurna " kata Ethan mengerlingkan mata.
"Iya.... Sempurnaaaaa...." Mince menirukan lagu Andra dan berlalu pergi. Panas lihat orang ganteng lama-lama. Bikin panas dingin. Aku yang panas, dia yang dingin.
"Tuan Putri sudah ready? Yuk, kita sudah terlambat" Ethan menggenggam jemari Neira.
Keduanya melangkah dengan debaran jantung masing-masing yang sudah berlari maraton.... Neira menebak-nebak gerangan apa yang akan terjadi. Sedangkan Ethan, sedang menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan.
💓💓💓
Waduh ada apakah ini??
Jangan-jangan??
TOLONG BOOM LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE
KALIAN SENANG DAN AKU HAPPY
ARIGATOU