NEIRA

NEIRA
Bab. 16



Kata orang, lelaki itu lebih sulit untuk memahami isi hatinya sendiri.


Lebih sulit mengenali 'rasa' yang dia miliki. Mungkin, karena lelaki lebih dominan menggunakan logika dibanding perasaannya.


Apa Agra juga demikian?


Agra memejamkan mata. Menikmati setiap kehangatan yang dia terima dari gadis yang sekarang berada di dekapan tubuhnya.


Membenamkan wajah lebih dalam lagi, pada puncak kepala gadis yang malam ini berhasil membuatnya menangis. Menggenggam dan mengusap lembut punggung tangan gadis yang kini terlelap begitu dalam.


"Nei.. Maaf" gumam Agra lirih.


***


Flashback


Agra berdecak kagum, lebih tepatnya heran pada kemampuan makan wanita di hadapannya ini. Kecil-kecil ternyata banyak juga makannya. Agra sampai tidak jadi makan karena kenyang melihat porsi Neira.


Sudut bibir Agra terus tertarik ke atas, walau malu-malu. Dia senang saat menyuapi Neira. Melihat wanita itu cemberut saat disuapi oleh Agra, pipinya yang mengembung seperti tupai membuat Agra gemas ingin menggigitnya. Wajah imut dan lucu itu, astaga___ Agra benar-benar ingin menciumnya saat ini juga, membawanya ke kamar, dan 'menguncinya' tujuh hari tujuh malam. Jika seandainya Lara tidak kembali dalam hidupnya, mungkin Agra tidak perlu berpikir ulang untuk menikahi wanita imut di hadapannya ini.


Agra sebenarnya tidak berniat marah pada Neira saat pertama tadi melihat wanita itu. Justru Agra senang dan bersyukur. Tapi, karena rasa khawatir yang berlebihan melihat kondisi Neira, dan didukung sifat Agra yang tidak pandai menyampaikan isi hati. Justru yang dilakukan Agra berbanding terbalik dengan apa yang hatinya rasa.


Agra mendesah, menanti Neira yang lama sekali menghabiskan makanannya. Bagaimana mau cepat selesai acara makan nasi padang ini, kalau dia makan sembari sesenggukan? Walau diam-diam Agra bersyukur bisa berlama-lama memandang wajah Neira dari dekat.


"Udah kenyang?" tanya Agra saat piring di tangannya tak lagi menyisakan apapun. Tanpa sadar, tangan itu mengelus lembut perut Neira. Agra mencoba sedikit membagi senyumnya untuk wanita itu, tapi menyebalkan, saat mendapati ekspresi Neira justru datar seperti jalan tol. Mubazir senyum Agra.


Apa wanita itu tidak tahu, kalau Agra membutuhkan glukosa dari senyumnya? Bagaimanapun, glukosa yang seharusnya masuk ke tubuh Agra, sudah wanita itu habiskan sendiri lewat sepiring nasi padang. Tanpa sedikitpun dibagi untuk Agra.


***


Baru juga hujan reda, sekarang sudah turun lagi hujan yang lebih deras. Terbayang bagaimana macetnya Jakarta?


"Ayah.. Neira mau ikut Ayah"


Agra melirik ke arah Neira yang sedang mengigau.


Dia meraih kenop kursi Neira,  menurunkan kursi agar Neira bisa lebih nyaman merebahkan tubuhnya.


"Kamu demam, Nei?" Agra memegang pipi dan leher Neira. Wanita itu hanya bergumam tidak jelas.


Agra segera mengambil handphonenya yang sedari tadi diletakkan di paha.


Tut.. Tut.. Tut...


"..."


"Assalamualaikum, Yah. Agra lagi antar mbak Neira ke dokter. tapi jalanan macet banget, Agra harus mampir dulu ke kantor ada yang harus dikerjain. Nanti kalau kemalaman, Agra ijin ngajak mbak Neira nginep di apartemen ya. Kasian kalau pulang ke rumah jauh, dia lagi sakit"


".."


Setelah menghubungi ayah. Agra melajukan mobil ke apartemen miliknya.


Bukan tanpa alasan Agra membawa Neira ke apartemen. Jika bunda tahu Neira sakit, pasti bunda akan membawa Neira ke dokter. dengan kondisi Neira yang demam tidak sadar diri, otomatis bunda yang akan mengganti pakaian Neira, bisa panjang urusannya kalau bunda melihat lebam di lengan Neira karena ulah Agra semalam.


19.00 wib.


Agra sampai di apartemen yang masih terlihat sepi. Ini belum jam pulang kantor. Ini memudahkan Agra membawa Neira, tanpa harus berebut lift dengan penghuni lain.


Agra dengan perlahan meletakkan Neira di atas tempat tidur. Sebenarnya Agra ragu untuk mengganti baju Neira. Tapi melihat kondisi Neira yang terus mengigau dan demam yang tak kunjung menurun, Agra tidak punya pilihan lain.


Toh, dia sudah pernah melihat 'semuanya' beberapa bulan lalu.


"Maaf" bisiknya, sebelum melepaskan pakaian yang dikenakan Neira secara perlahan. Agra memandang nanar pada luka lebam yang ada di sekujur lengan Neira, belum lagi luka memar yang ada di punggung Neira akibat benturan semalam saat bersama Agra.


Hati Agra terasa tersayat. Agra tidak mengira, bahwa apa yang dilakukan sampai se-fatal dan sejauh ini akibatnya. Apalagi Neira yang tidak berhenti mengigau.


Agra membasuh perlahan tubuh Neira dengan handuk hangat. Setiap usapan yang dilakukan ke tubuh Neira, terasa bagai tamparan keras untuk Agra. Dadanya bergemuruh melihat akibat dari perbuatannya sendiri. Agra menelan isakan. Air mata dibiarkan jatuh, melupakan bahwa dia adalah seorang laki-laki yang tak seharusnya menangis.


Agra memandang Neira lekat,  mengusap halus wajah wanita itu.


"Harusnya, saat ini kamu tertawa bareng teman-teman kamu di kampus. Harusnya, saat ini tubuh mu tak harus memar karena aku. Harusnya kamu tidak harus menanggung beratnya membawa janin sampai kaki bengkak, dan yang pasti menyakitkan. Harusnya hatimu sekarang bahagia, bukan malah sakit oleh semua sikap ku. Maaf"


Tangis Agra pecah di atas tubuh Nei,  runtuh sudah ego nya sebagai laki-laki..


Semalaman penuh Agra mendekap tubuh Neira, melepas semua pakaian wanita itu. Menyatukan setiap inci kulit mereka tanpa terhalang selehai benang pun. Ini satu-satunya cara untuk menurunkan demam Neira.


Dasar, otak mesum


"Beri demamnya ke aku, Nei" bisik pelan Agra dibalik tengkuk Neira.


***


04.00 wib.


Suasana di luar apartemen masih gelap. Tapi sebagian orang sudah riyuh untuk bersiap bekerja dan sekolah. Berangkat pagi buta adalah keharusan di kota Jakarta ini, jika tidak ingin terjebak macetnya lalu lintas


Agra melepas dekapannya ke Neira. Bangkit dari ranjang. Menggeliat, sekujur tubuhnya teras kaku.


Jam di dinding menunjukan pukul 04.00 wib. Agra segera ke dapur.  Mengambil baju Neira yang telah dia cuci semalam. Dan segera kembali ke kamar untuk memastikan suhu panas Neira telah turun.


"Alhamdulillah, sudah turun" senyum Agra mengembang.


Perlahan, bahkan sangat perlahan Agra mengenakan dress itu kembali ke tubuh pemiliknya.


"Mulai saat ini, gue bakal jagain lo. Jagain anak kita, engga akan nyakitin fisik lo lagi" gumam Agra, kemudian mengecup lembut bibir Neira yang masih terlelap.


______________________________________