
Jakarta malam ini diguyur gerimis tipis, membuat udara berbau tanah yang sangat khas ketika hujan turun menyeruak ke permukaan.
Mmm.. Gerimis memang selalu menyisakan cerita sendiri bagi setiap orang. Bukan hanya bulir air yang gerimis bawa dari langit, tapi kenangan maupun rindu.
Seperti Neira yang sekarang sedang duduk memeluk lututnya di atas jendela besar khas bangunan jaman belanda itu.
Senyumnya mengembang tipis. Dia rindu pada ayah. Rindu pada Yoga.
Neira semakin mengeratkan pelukannya, persis kata Dilan -rindu itu berat, Neira tidak kuat.
Tanpa Neira sadar, dari tadi Agra sudah berdiri di pintu dapur mengamati Neira.
Hati Agra sedang tidak menentu setelah bertemu baby tadi pagi. perasaannya sedang campur aduk. Manis, asam, asin. Persis permen Nano-nano.
Agra memilih kembali ke kamarnya.
***
Tok.. Tok..
Lamunan Agra buyar mendengar pintu dibuka oleh sang ayah.
"Ya Ayah, tumben ke kamar Agra?" Agra langsung bersila di atas kasur.
Ayah menghampiri, memposisikan kursi rodanya di samping Agra.
"Kenapa kamu, Gra?" tanya ayah sembari mengambil majalah di meja nakas Agra. Membolak balikan sampulnya. Majalah bisnis yang ulasannya sudah ayah hafal di luar kepala.
"Memang Agra kenapa, Yah? Agra baik baik saja kok, Yah" Agra mengerutkan keningnya.
Padahal sebenarnya Agra sudah gugup kalau ditanya begitu oleh ayah. Buktinya, jari Agra sibuk bikin lingkaran di kasur. Ngapain Coba?Memang lagi bikin lubang donat?
Agra tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari ayahnya. Maka dari itu, saat lulus SMA Agra langsung kabur tinggal di apartemen.
"Yakin?" Kata ayah sembari memicingkan matanya.
"Yakin lah, Yah hahhahaha" tertawamu sangat terdengar garing, Gra -_-
"Ya sudah kalau tidak mau cerita, kalau begitu Ayah saja yang cerita" ucap ayahnya yang masih sibuk membolak balikan majalah di tanganya. Sebenernya mau dibaca tidak, sih? Kok Agra gemas ya lihatnya.
Agra menelan salivanya, "Membahas masalah apa, Yah?"
"Mau membahas masalah Neira" ucap ayah sembari melirik Agra.
DUUAARRRR terasa ditembak di tempat si Agra. "Apa jangan-jangan ayah tahu masalah anak Neira" batin Agra.
Uhuk.. Uhuk.. Uhuk... Agra langsung tersedak. Mengelap keringat dingin yang anehnya tiba-tiba datang begitu saja. Kucluk-kucluk tanpa dipanggil.
"Kamu kenapa, Gra? Kok gugup begitu, langsung keringat dingin?" ayahnya menatap Agra penuh selidik.
"Eng.. Eng.. Ngga, Yah. hehehe Agra cuma kepanasan aja, ngga tahu ini mendadak panas kamar Agra, Ayah mau dikipasin?" jawab Agra meringis, sembari mengkipasi ayah dengan majalah di tangannya.
"Gini, Gra.." Jeda sesaat.
tapi bukan bertambah mengerti justru malah makin rumit untuk Agra.
"Gimana, Gra?" tanya ayah, herannya mata ayah sedari tadi penuh selidik ke Agra. Agra sudah berasa menjadi tersangka maling ayam.
Kusut-kusut deh otak Agra.
"Terserah Ayah, Bunda sajalah, Agra pusing" jawab Agra asal, pergi meninggalkan ayah begitu saja. Meninggalkan ayah yang semakin curiga dengan sikap Agra.
"Sumpah demi apapun, skenario konyol apa lagi ini?" batin Agra.
Tanpa pikir panjang, Agra langsung menuju kamar Neira yang berada dideket dapur, "Ini harus di selesaikan!!"
***
Agra lihat Neira masih di jendela.
"Ngapain sih, nih cewek malam-malam di jendela? nggak mikir bisa masuk angin? kalau sakit gimana itu kandungannya? Egois banget sih udah mau jadi ibu juga"
"Sini ikut gue."
Langsung saja Agra menarik Neira ke kamar gadis itu, entah setan dari mana yang meracuni otak Agra, yang pasti otak Agra sudah kusut gara-gara Neira.
"Gra pelan. Sakit tangan aku" Neira mencoba melepaskan diri dari Agra, "Enak aja udah bikin gue kusut gini ya lu harus tanggung jawab"
"Bodo amat gue nggak peduli" jawab Agra ketus.
Sampai di kamar, langsung Agra membanting tubuh kecil Neira ke atas kasur, Agra bisa melihat wajah Neira takut, mungkin trauma mengingat apa yang dulu Agra lakukan. Tapi sekali lagi BODO AMAT!!"
Agra menindih tubuh gadis itu tanpa peduli lagi dengan perut Neira yang mungkin sakit tertindih tubuh Agra.
Agra pikir gadis itu akan berontak seperti yang dulu dia lakukan, akan berteriak minta tolong, ternyata__ TIDAK!!
Neira hanya memalingkan wajah dengan tatapan kosong
"Gra, bisa bunuh saya saja nggak? Apa lagi yang kamu mau dari saya?" dengan suara bergetar yang manahan tangis.
"****... anj*ng...." umpat Agra memukul keras tempat tidur tepat di samping wajah Neira. Agra bisa melihat air mata gadis itu sudah jatuh.
Agra menarik paksa tubuh Neira untuk bangun, awalnya Agra hanya berniat mendorong Neira ke dinding, tapi mungkin karena dorongan tangan yang terlalu kuat pada tubuh kecil Neira, justru membut Neira jatuh tersungkur ke lantai.
"Damn.. Gra, lu benar-benar setan" batin Agra memaki dirinya sendiri.
Agra melihat gadis itu hanya tersenyum tipis memegang perutnya, napasnya naik turun, matanya terpejam entah menahan sakit atau menahan emosi.
"Dengar ya, Nei"
"PERGI DARI SINI ATAU GUE.KIRIM.JANIN.LO.KE.NERAKA"
Bisik Agra ke telinga Neira, setelah itu Agra keluar begitu saja. Persetan dengan semuanya.