NEIRA

NEIRA
Bab. 34



Suasana temaram jalanan Ibu kota menemani laju mobil Agra menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Malam ini, Agra dan Neira mengantar Ethan ke bandara.


Ya__malam ini adalah malam keberangkatan Ethan ke Japan,  setelah acara berpamitan yang mengharu biru kepada bunda dan ayah di rumah.


Kini hanya tinggal mereka bertiga di mobil. Berdiam, bergulat dengan pikiran masing-masing.


Agra masih fokus menjalankan kemudi mobil. Dengan sesekali melirik melalui kaca spion melihat genggaman erat Ethan di jemari Neira yang tidak pernah lepas. Agra hanya tersenyum sesekali, senyum yang sebenarnya sulit diartikan.


Ethan yang berada di bangku belakang Agra memilih memejamkan mata. Merebahkan kepala ke sandaran bangku, entah apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikirannya. Walau genggamannya tak pernah lepas dari jemari Neira.


Neira, diam di samping Ethan. Pandangannya jauh menerawang ke luar jendela, hampa, kosong, menyembunyikan mendung di mata.


"Cinta... Kenapa harus begitu rumit?"


"Kadang cinta tidak pernah permisi sih ya datangnya, Bro.... Ucluk-ucluk nongol gitu saja tidak pakai acara survei masih jones apa engga?"


"Karena Dewi Cupid-nya bukan anggota sensus kali ya, Bro?"


"Nah bisa jadi - bisa jadi. Wokeh deh kayaknya ada lagu yang pas nih buat cinta-cinta yang rumit... Langsung aja ya guys __secret love song by little mix feat jason Derulo__ selamat menikmati para lovers"


Hanya cuap-cuap para penyiar radio yang memecah keheningan diantara ketiganya. Kenapa harus tema cinta juga yang dibahas penyiar ini?


Tak seberapa lama Sayup-sayup mulai terdengar lagu Secret Love Song dari radio. Apakah penyiar itu tidak tahu?  Ini lagu mampu menohok ketiganya?


Bait lagu yang mampu menghempas mereka ke jurang hati yang paling sakit. Apa Tuhan sedang bermain-main hingga lagu on radio pun harus sangat-sangat sesuai dengan keadaan mereka saat ini?


Saat lagu mengalun, Neira tak mampu lagi menahan tangisnya. Hati wanita itu terasa sesak, seolah paru-parunya tak lagi bisa menampung oksigen untuk bernapas.


Ethan mengeratkan genggamannya,  sesekali melirik ke arah Agra. Dia tahu, Abangnya sedang menyembunyikan tangisnya. Dia bisa melihat sesekali Agra memijit pangkal hidungnya alih-alih menghapus jejak air mata.


Tangis Neira pecah. Neira melepaskan genggaman Ethan, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya. Tubuh itu bergetar dengan begitu hebat, hingga wanita itu tersengal tak bisa bernapas.


Melihat tangisan pilu itu. "Semua harus di akhiri" batin Agra. Kemudian ia menghentikan mobilnya. Berlari ke luar ke arah pintu Neira.


Agra merengkuh tubuh Neira dalam pelukan. Neira masih menutupi wajah dengan kedua tangan,  tangisnya kian histeris.


"Sssttt.... Sudah, jangan nangis lagi.  Jangan sedih lagi ya. Ngga usah khawatir kita ngga bakal nikah! Kamu boleh ikut Ethan ke Jepang. Setelah ini, gue selesaikan surat-surat dan tiketnya. Ok?"__ Agra mencoba melepas tangan Neira dari wajah wanita itu. Agra menatap lekat mata Neira__ "Sudah, jangan sedih lagi ya...."  Agra menghapus air mata Neira dengan ibu jarinya. Tersenyum tipis dan perih yang tak bisa dia sembunyikan.


Ethan sungguh tidak percaya dengan keputusan Agra. Ethan menggelengkan kepala pelan melihat Abangnya yang tersenyum ke arahnya.


Ethan meremas bahu Abangnya kuat-kuat, saat Agra sudah kembali ke kursi kemudi.


"Apapun, Than" gumam Agra pelan,  seolah tahu apa yang ada di benak Ethan.


"Bang...." lirih Ethan.


Haruskah Ethan bahagia? Atau malah hatinya semakin perih?


Pikirannya kembali melayang ke peristiwa beberapa hari yang lalu. "Engga, Bang. Lo harus tetap nikah. Apapun alasanya" batin Ethan.


Flashback


Ethan menapaki rumah bekas bangunan Belanda yang sangat luas di hadapannya. Sudah berapa lama dia tidak menginjakkan kaki di sini? 7 tahun? 8 tahun? Sudah lama pastinya! Tak ada yang berubah, hanya suara bocah yang semakin riuh di dalam sana.


"Assalamualaikum" salam Ethan.


"Waalaikum salam" jawab seorang gadis di meja penerima tamu.


"Maaf Mbak, saya mencari bude Jamilah, beliau pengurus di sini dulunya"


Setelah paham gadis itu langsung mempersilahkan Ethan duduk dan dia berlalu memanggil wanita sepuh yang dicari oleh Ethan tadi.


"Bude, masih ingat saya?" sapa Ethan saat melihat wanita tua itu memasuki ruangan dan menyalaminya.


Wanita itu menatap Ethan lamat-lamat. Menilik dan mengingat, siapa gerangan lelaki muda tampan di hadapannya ini.


"Hayooo... Siapa, Bude? Lupa ya? Saya Ethan, Bude. Putra kedua daddy Bagaskara" jelas Ethan sembari menatap menggoda wanita tua yang ada di hadapannya ini.


"Masya Allah.... Ethan? Bude sampai pangling. Sudah gede, ganteng lagi.  Pasti banyak ini pacarnya" sambutnya sembari menepuk bahu Ethan.


"Bude tahu aja, sih?" balas Ethan malu-malu. Si bude suka benar kalau ngomong.


"Kok lama ngga ke sini anak ganteng?"


"Saya tinggal di Jepang, Bude. Sudah dari tujuh tahun lalu. Memangnya mamah ngga cerita ke Bude? Baru balik tiga mingguan ini. Lusa sudah mau ke Jepang lagi, makanya sekarang mampir ke sini. Kangen!" Ethan memeluk Bude Jamilah.


"Kangen Bude atau kangen siapa ini? goda wanita paruh baya mengerling ke arah Ethan.


"Ya keduanya, Bude. Kangen mengenang masa kecil" jawab Ethan.


"Masih nyari Rara?" tanya Bude.


"Sudah ketemu kok, Bude. Sekarang tinggal di rumah malah"


"Takdir, Bude" Ethan terkekeh.


"Itu muka, kenapa bonyok semua gitu? Haduh.... Gantengnya jadi hilang" kata bude sembari mengelus luka lebam di wajah Ethan.


"Biasa cowok, Bude. Enggak laki kalau belum bonyok hehehe" Ethan menggaruk tengkuknya dengan kikuk.


"Tadi pagi, Abang mu ke sini juga mukanya bonyok. Dari kecil tetap kompak ya kalian. Tadi Bude tanya, jawabannya juga begitu. Enggak lagi rebutan pacar, kan?"


"Abang? Abang Agra maksud Bude? Ethan terkejut Agra juga datang ke sini.


"Memang kamu punya Abang yang lain, selain Abang mu Agra itu?" sewot bude Jamilah.


Alih-alih menjawab, Ethan malah balik bertanya kembali.


"Abang sudah mau ke panti? Sejak kapan? Kangen ibu mungkin ya?" tanya Ethan sembari berjalan ke arah taman bermain anak-anak di halaman belakang panti.


"Baru kali ini sejak ibu wafat dulu. Bude juga kaget tadi. Nanyain tentang data Neira tadi ke sini"


"Oh" sahut Ethan.


"Kangen banget sama Neira Abang mu itu. Padahal kata kamu tadi Neira di rumah Bagas. Aneh, kok ya masih kangen aja?" sahut bude tanpa Ethan duga-duga.


Ethan mengeryit menyatukan alisnya bingung. "Apa hubungan Abang dengan Neira?" tanya batinnya.


"Kangen?" tanya Ethan.


"Iya. Wong tadi sampai duduk telungkup begitu, nangis di bekas kamarnya Neira bayi dulu. Lama lagi, sampai Bude khawatir." kata bude tanpa rasa bersalah, padahal wajah Ethan sudah berubah pasi.


"Abang kenal dekat sama Neira kecil, Bude?" tanya Ethan kembali, dia semakin penasaran namun juga semakin gelisah.


"Ya lebih dari dekat dong, Than" bude melihat bingung ke arah Ethan.


"Maksud Bude?"


***


Bandara Soekarno-Hatta


Di sinilah mereka sekarang. Bandara, tempat berjuta rasa ada di sini,  melepas dan menyambut. Menangis dan tersenyum. Tempat yang selalu riuh dengan hingar-bingar manusia dan hingar-bingar perasaan yang berkecamuk.


"Hai.. Honey, look at me" Ethan meraup wajah Neira.


"Ingat lagu yang di restoran kemarin? __Neira mengangguk__ itu kata hati aku beneran lho. Jadi ingat! aku akan selalu ada buat kamu dan kamu ngga akan pernah sendiri" Ethan menghapus air mata Neira. Tak tahu kah Ethan, senyum lembutnya itu justru membuat Neira semakin jatuh dalam kubang kesedihan? 


"Please, kalau Sugar benar-benar sayang sama Abang Ethan dan ngga mau Abang Ethan menghilang dari hidup kamu, tolong menikah dengan Abang Agra. Abang mohon" bisik Ethan sebelum akhirnya memeluk Neira erat dan meng-ecupi seluruh wajah dan puncak kepala Neira.


Tak ada jawaban dari Neira, seolah pelukan erat itu mematikan keduanya. Hancur lebur tanpa bisa Neira dan Ethan memungut sisa keping hati mereka masing-masing. "Apa yang mau di jawab? toh aku terjebak seperti boneka yang tak punya pilihan apapun!"


Lama, dengan berat hati Ethan melepas pelukannya. menatap kembali manik sendu wanita itu. Wanita yang mampu membuatnya 'hidup' kembali namun 'mati' juga di saat bersamaan. Ethan menatap ke arah Agra, menghambur ke pelukan Agra.


"Bang, maaf gue banyak salah. Nitip Sugar, Bang" Ethan membenamkan wajahnya di ceruk bahu Agra.


"Abang juga banyak salah, maafin Abang ya,  Than. Jangan khawatir, Neira bentar lagi bakal nyusul kamu ke sana. Kamu sendiri nanti yang akan jaga Neira" Agra mengeratkan pelukannya. 


"Bang.... Please jangan mundur. gue mohon, sekali ini saja, Bang. Elo nggak ngalah sama gue. Gue mohon Bang! Gue akan menghilang lagi kalau lo ngga nikahin Neira. Lo tahu seberapa serius omongan gue!"


Agra hanya terdiam menepuk bahu Ethan.


"Sudah sana nanti ketinggalan pesawat" Agra tersenyum pahit mengacak rambut Ethan.


Ethan hanya mengangguk dan berlalu memasuki area check-in. Matanya melihat sendu ke arah Neira. Tapi baru beberapa langkah, Ethan berbalik ke arah Agra dan memeluk Abangnya dengan erat.


"Please, Bang kali ini lakuin untuk gue. Atau gue bakal nyesel seumur hidup." Ethan terisak di pelukan Agra.


"Hei.. Lelaki tidak menangis [S]ethan" Agra terkekeh walau dia sendiri dari tadi tidak bisa membendung air matanya.


"Janji dulu Bang ke gue" Pinta Ethan.


"Sudah sana. Gue ngga mau nombokin tiket lo, kalau lo ketinggalan pesawat" Agra menoyor kepala Ethan. 


"Bang..." lirih Ethan menatap Abangnya dengan mata memohon.


Agra hanya tersenyum,  dan berlalu pergi meninggalkan Ethan dan Neira. Menyembunyikan segala perih dari mereka adalah hal terbaik yang dia lakukan.


"Ibu... Bisa kasih tahu Agra? Agra harus jawab apa?" bisik Agra mendongak melihat hamparan langit. Menghembuskan napas berat, tersenyum getir dan berlalu.


🥀🥀🥀


Semoga bisa jadi obat kangen buat kamu yang sabar menunggu Neira.


Selamat membaca sambil menunggu berbuka puasa.


to be continued.