
Pagi yang cerah, terbalut kabut dingin sisa hujan semalam.
Agra sedang menikmati kopi pagi di balkon apartemennya. Pagi ini, senyum lelaki itu mengembang sempurna, seolah tidak ada lagi beban hidup.
Menghirup udara dalam-dalam, menyegarkan paru-parunya yang beberapa bulan ini rasanya terhimpit. Burung-burung pun tidak kalah bahagia dibanding Agra. Sepagi ini sudah berkicau saut menyahut bertengger di sepanjang jalur kabel listrik.
Ini Jakarta! Burung sudah modern, Bro. Tidak jaman lagi bertengger di pohon, burung sekarang gaulnya di tiang listrik. Gokil.
ngomong-ngomong soal burung, kok semalem 'burung' babang anteng ya? meluk si Neira semaleman loh padahal. Apa ke"NORMAL"an babang Agra sekarang perlu kita pertanyakan??
***
Neira pov.
Aku menggeliat, tubuhku terasa lebih ringan pagi ini. Terlalu nyaman bersembunyi dibalik selimut yang hangat.
Tunggu dulu__
Sejak kapan selimutku, sehangat dan setebal ini?
Tapi, kenyamanan ini mengalahkan pikiran janggal ku akan selimut. Bo-do amat dengan pertanyaan ini selimut siapa? Yang terpenting saat ini, bisa tidur cantik yang nyaman.
"Mau bobo terus sampai kapan, Nei?"
Astaga. Aku langsung terjengkit kaget. Saat mendengar suara__ Seperti suara Agra. Apa cuma mimpi? Terlalu mustahil jika benar itu Agra. Manusia satu itu, mana bisa dia bertanya baik-baik dengan suara lembut.
Aku berusaha untuk bangun dan duduk. Perlahan membuka mataku, menguceknya sedikit. Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul.
Tapi, saat mataku terbuka,__
"Astagfirullah... Ganteng banget kalau di dalam mimpi. Coba saja di dunia nyata senyum terus kayak gini. Pasti aku jatuh Cinta setiap hari."
Aku mengagumi senyum manis yang terpampang di depanku. Ini hanya mimpi, santai saja. Di dunia nyata, si 'tuan jutek' itu tidak mungkin tersenyum selembut ini kepadaku.
"Rejeki. Cuci mata pagi-pagi" aku bergumam membenahi selimut, bersiap berbaring kembali.
Tapi jitakkan di dahi, membuatku terperanjat.
"Kenapa, gue ganteng ? lihatin gue sampai-sampai nggak berkedip gitu??" lelaki di depanku ini menahan tawanya, walau masih bingung ini mimpi atau bukan, tapi saat melihat di menahan tawa hingga matanya menyipit. Rasanya menenangkan.
"SUBHANALLAH..."
Kata itu meluncur begitu saja dari bibir ku yang masih terbuka. Seandainya ini semua nyata. Tolong, siapapun pinjamkan aku panci agar aku bisa bersembunyi.__Memalukan.
Lalu, dia menarik tanganku untuk bangun. Membawaku mengikuti langkahnya menuju dapur.
"Makan, gih! Tadi gue sendiri yang masak bubur spesial buat lo"
Aku sangat yakin ini mimpi. Agra berkata lembut, Agra sengaja memasak spesial buat aku, Agra menatapku dan bersikap hangat, apa lagi saat ini dengan penuh kelembutan membelai pipiku. Sangat mustahil ini adalah kenyataan.
Kalaupun kejadian ini nyata, tidak mungkin yang di hadapanku ini Agra yang asli. Mungkin kembarannya? Mungkin siluman? Atau mungkin alien? Yang pasti, Agra asli tidak mungkin seperti ini.
Sepertinya aku mulai gila, terlalu banyak berhalusinasi. Ah, sudahlah nikmati saja.
Agra palsu ini menggiringku untuk duduk.
"Kok ngga dimakan sih, Nei? Gue ngga kasih racun kok. Nih ya gue makan." aku masih linglung, mendengarkan Agra palsu ini berbicara, alhasil hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
Dia makan dua sendok bubur yang awalnya disediakan untukku.
Aku panik. Gila saja anak orang mati, hanya berdua di tempat ini. Bisa-bisa aku yang jadi tersangka pembunuhan.
"Aduh.. Jangan mati dong. Walau ini cuma mimpi. Kalau Agra yang asli nggak pa-pa deh mati. Tapi kamu yang palsu jangan mati"
Aku mengguncang-guncang tubuh Agra. Berharap semua hanya lelucon.
Beberapa detik kemudian..
3
2
1
"BAAAAA....BO'ONG!! HAHAHAHHAHA" tawanya menggelegar, mengkagetkan ku. Dia tertawa hingga wajahnya merah dan mengeluarkan air mata.
Sial.
Jantungku sudah benar-benar ingin keluar karena ketakutan. Dan ternyata semua hanya lelucon yang sungguh tidak lucu. Puas banget sepertinya dia tertawa.
Melihat aku yang sudah akan menangis, dia jadi panik. Agra bergegas duduk bersila di hadapanku.
"Udah dong jangan nangis, kan cuma bercanda, sayang. Maafin Agra ya." dia mengusap air mataku.
Sebentar! Sepertinya, ada yang salah dengan panggilan yang keluar dari mulutnya. Atau pendengaranku saja yang rusak?
"Cie cie.. Ada yang takut Ayah mati beneran, lho" dengan santainya dia mengusap perutku diiringi sisa tawanya.
Janggal dan aneh.
"Maem dulu ya, Agra suapin." Dia bangkit. mengambil kembali mangkuk bubur yang tadi dia tinggalkan di meja.
Dan...
Aku masih bingung antara ini mimpi atau memang nyata?
Setelah habis satu mangkok dia menyuapiku, dan aku masih saja linglung, seperti orang bodoh.
Dan, kalimat selanjutnya yang meluncur dari mulutnya, sukses menampar kesadaranku.
"Ini Agra beneran, Nei. Agra ngga punya duplikat. Dan ini nyata, bukan mimpi. Sadar Neng, sadaar" ucapnya sambil mencubit pipi ku. Sebegitu jelaskah isi kepalaku?
Tunggu dulu__ Ini tidak benar.
"INI...NYATAAAAA??"
"SERIUSANNN???" teriakku panik.
Huaaaaaaaaaa......... Ya Allah, Nei nitip muka dulu ya Allah.
Aku tidak tahu, wajahku sudah seperti apa penampakannya. Bukan merah kepiting rebus lagi. Aku rasa, sekarang wajahku sudah seperti pelangi; merah kuning hijau di langit yang biru karena M. A. L. U.
Aku langsung berlari ke kamar, bersembunyi di bawah selimut. Sedangkan Agra? sudah tertawa tidak karu-karuan.!
SEMBUNYIKAN AKU PEMIRSAAAAAA!!!!
_________________\=\=\=________________