NEIRA

NEIRA
Bab. 19



Sepertinya semesta mengerti kesedihan dua insan ini. Gerimis rintik-rintik turun menghembuskan udara kedamaian dari dalam tanah.


Agra masih pilu memeluk Neira.  Sampai sang bunda menyadarkannya, mengusap punggung Agra lembut, dan meminta Agra membawa Neira ke kamar bunda, yang memang terletak di ruang tengah.


Ayah yang sedari tadi melihat Agra dan Neira, sepertinya sudah bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Wajah Baskara sudah memerah, rahang itu mengeras. Tapi lagi-lagi luluh oleh bunda yang sedari tadi menangis.


Bunda dengan sabar menggenggam erat jari-jemari ayah dan mengelus punggung tangan ayah. Seolah memberi kekuatan agar ayah bersabar.


Bunda tahu Agra juga sedang hancur saat ini, bagaimana pun dia seorang ibu. Dan disaat anaknya hancur bukanlah amarah dan makian yang dia butuhkan, tapi support agar anaknya dapat bangkit dan mengambil keputusan yang tepat.


Setelah membaringkan Neira di kamar bunda, Agra kembali ke ruang tengah. Wajah Agra pasi, menunduk seolah tak ada gairah hidup lagi.


"Gra.. " ayah mendekat ke arah Agra,  emosinya sebenernya di atas ubun-ubun, tapi ayah berusaha selembut mungkin terhadap Agra.  bagaimanapun dia tidak tega melihat kondisi putranya sendiri.


"Ada yang mau kamu jelasin ke Ayah?" ayah menatap lekat-lekat Agra.


Agra bergeming.


Ayah menarik napas dalam. Menepuk pelan bahu Agra, mencoba memberi kekuatan pada Agra bahwa semua akan baik-baik saja.


Namu bukannya malah membuat Agra tenang, Agra semakin terisak dan bersimpuh di hadapan Ayahnya. Tangan lelaki itu erat memegang lutut ayah yang duduk di kursi roda.


"Agra mohon maaf, Yah. Sebagai anak laki-laki, Agra sudah membuat Ayah kecewa" ucap Agra penuh penyesalan.


"Duduk, Gra. Ayah butuh tahu tentang kamu dan Neira. SEMUAnya!!


Sudah kepalang tanggung. Akhirnya Agra menceritakan semua kepada ayah. Agra tahu, pasti semua hal yang dia ceritakan akan membuat ayahnya emosi, terlihat jelas dari ayah yang sudah mengepalkan tangan menahan amarah.


Apalagi selama ini ayah dan bunda begitu menyayangi Neira. Mungkin memang hubungan darah tak pernah bisa berbohong, seolah tahu bahwa anak di kandungan Neira adalah cucu mereka.


"Jadi kamu selama ini menelantarkan cucu Ayah, Gra? Darah daging kamu sendiri?" Geram Ayah


Agra hanya diam tak menjawab. Ayah menepuk bahu Agra setelah lama anak lelakinya itu tak menjawab sepatah katapun.


"Gra, Ayah yakin kamu bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab.  Karena Ayah dan Bunda tidak pernah mengajarkan kamu jadi pengecut"


"Jangan bikin sedih almarhum ibu mu ,Gra"


Agra hanya menunduk, mere-mas rambutnya, nasi sudah menjadi bubur.


"Agra nggak bisa memilih, Yah. Antara Lara dan Neira. Tapi Agra janji akan jaga dan merawat anak Agra. Agra juga bisa menjaga Neira sebagai adik Agra"


Ayah menghembuskan napas berat mendengar apa yang dikatakan putranya. Bunda hanya bisa menggeleng kepala melihat Agra yang begitu keras kepala.


"Saat kamu pertama kali menyentuh Neira, saat itu juga kamu sudah tidak punya pilihan lain, Gra. Kecuali menikahi Neira"


"Nikahi dia, Nak. Ini permintaan terakhir Ayah ke kamu. Ayah tidak ingin mati menanggung rasa bersalah pada gadis yatim piatu seperti Neira.  Kasihani ibumu yang sudah di alam kubur, Gra"


"Ayah yakin kamu lelaki baik, tidak akan salah mengambil keputusan" ucap ayah sebelum berlalu menuju ke kamar untuk melihat Neira. 


Agra masih mematung di tempatnya,  seolah sedang menghitung, berapa banyak rasi bintang di alam jagad raya?


***


20.00 wib.


Agra nampaknya melupakan janjinya pada seseorang.


Dia masih setia menemani Neira yang sekarang dibaringkan di kamar Agra. Bahkan Agra melupakan perutnya yang sejak tadi pagi belum terisi.


Sejak pingsan tadi pagi, Neira belum sepenuhnya sadar. Tekanan batin rupanya memberikan efek yang signifikan bagi tubuh Neira. Wnita itu kembali demam dan terus meracau dalam tidur.


Drrttt... Drrtttt.. Drttt.. Drtttt


Sejak tadi benda kotak berlambang apel setengah digigit itu terus berbunyi.


Malas-malas Agra mengangkat telepon.


"Ya"


"Kamu ngga jadi ke apartemen ya, Gra? Kok ngga ada kabar sih?"


"Aku ngga bisa ke sana sekarang Ra,  maaf!"


"Jangan tuntut apapun dari gue, Ra. Gue belum memutuskan apapun tentang kelanjutan hubungan kita."


Dan, Agra memutus sepihak telepon dari Lara.


***


"Hi.. Little girl. Lagi ngapain di dalam? Main sama Papi, yuk" Agra menelusupkan tangan kirinya kebalik baju Neira. Mengelus lembut perut Neira.


Agra duduk di tepian ranjang Neira.  Jemari tangan kanannya erat menggenggam jemari tangan Neira. Menautkan satu sama lain. Di sinilah Agra sekarang, menemani Neira yang terkulai lemas di rumah sakit.


Setelah tengah malam demam Neira tak kunjung turun, akhirnya Agra memutuskan membawa Neira ke rumah sakit.


"Maafin Papi ya, Sayang. Kamu sehat kan di dalam sana?" senyum Agra merekah saat janin kecil dalam perut Neira seolah merespon perkataan Agra. Agra merasakan tendangan-tendangan kecil di perut Neira.


"Uunnnccch .... My princess sudah bisa nendang-nendang." Agra dengan gemas mengelus perut Neira.


***


Neira menggeliat. Demamnya sudah turun. Perlahan kesadarannya mulai membaik, seiring bau obat-obatan yang menyeruak masuk ke penciumannya.


Sebenernya rumah sakit itu bukan cuma bau obat tau,  ah.. Kalian ini terlalu nefting!  Kalau bagi author di rumah sakit itu juga bau-bau cowok ganteng calon suami masa depan!  Jadi rajin-rajin lah ya kalian main ke rumah sakit!  Warning.. Khusus buat yang jomblo!


Neira membuka matanya, melihat sekeliling. Hanya ada sofa, TV, tirai putih, dan juga pemandangan gedung menjulang yang terlihat dari kaca jendela tempatnya berbaring.


"Aawww.." Neira merasa agak janggal pada perutnya yang terasa lebih berat! Belum lagi pada area tangan kanannya terasa kebas, kesemutan dan mati rasa.


Bagaimana tidak berat perut Neira? Sedangkan tangan kanan Agra dari semalam melingkar memeluk perut wanita itu. Belum lagi kepala Agra yang menindih tangan kanan Neira,  menjadikan bantal ternyaman di dunia. Dengan jemari masih saling bertautan! So sweet.


Emang ngga ada gitu ya? Yang mau menautkan jari-jarinya ke jari author?  Nganggur nih jari author!


"Agra .... " panggil Neira, tapi sepertinya Agra masih terlelap.


"Agra, bangun. Tangan ku sakit!" Agra terkesiap kaget mendengar suara Neira.


"Gra .... Buruan bangun. Berat tahu" lanjut Neira yang menyingkirkan tangan kanan Agra.


Agra setengah sadar. Nyawanya masih on the way, hanya mampu mengucek matanya yang merah karena masih mengantuk.


"Pagi .... Sudah bangun? Maaf, sakit ya tangannya? Gue ketiduran" Agra bangkit dan mengusap pipi Neira,  walau Neira agak kikuk menerima perlakuan tersebut.


Agra berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah acara bersih-bersih dirinya selesai, Agra kembali ke ranjang Neira.


"Udah enakan badannya? Udah turun kok demamnya" Agra duduk di ujung ranjang Neira sembari memijit kaki Neira.


Namun bukan menjawab pertanyaan Agra, Neira justru sibuk mencari sesuatu. Agra mengernyit keheranan.


"Nyari apa? Bunda masih di rumah.  Nanti sore baru ke sini" seolah tahu Neira sedang mencari sesuatu.


Neira memutar bola matanya jengah, tidak puas dengan jawaban Agra. mata Neira masih mengekor ke penjuru ruangan. Nampak ragu Neira menggigit bibir bawahnya.


Agra yang sedari tadi melihat Neira menggigit bibir bawahnya menjadi gemas sendiri dan menggerutu. Melontarkan umpatan di dalam hati, karena bibir Neira begitu menggoda. Tahan, jangan khilaf!!.


"Nyari apaan sih, Neira?" Agra menelangkup wajah Neira agar fokus melihat ke arah dirinya.


"LAPEERRR" singkat! Padat! Dan jelas! Jawaban Neira dengan puppy eyes-nya sontak membuat agra terbahak-bahak. "gemesin banget sih!"


"Ooo, jadi dari tadi itu nyari makanan? Bilang dong!" Agra berdiri meraih makanan dari rumah sakit,  yang tadi pagi dia masukan ke dalam laci.


Agra meletakan meja tatak di pangkuan Neira dan mulai membuka plastik penutup makanan.


"Princess-nya Papi mau disuapin?"  Agra mengelus perut Neira, tapi sorot matanya fokus ke arah mata Neira.


Neira sedikit mere-mang ditatap seperti itu, apa lagi dengan telapak tangan Agra yang mengelus perutnya, membuatnya menjadi kikuk. Dia yakin, pipinya kini sudah seperti buah ceri. Merah manis menggoda minta dilahap oleh Agra.


Tak mau terlarut, Neira langsung merebut sendok di tangan Agra.


"Bisa makan sendiri!" ketus Neira, wajahnya menunduk karen malu.


Agra terkekeh "Kalau lagi ngambek makin gemesin, ya?" Agra mencubit kedua pipi Neira, yang membuat wajah Neira makin merona. Haduh, olah raga jantung pagi-pagi, Nona.


"Aku kan masih marah sama kamu Gra. Sudah sana!. Ngapain sih nungguin orang makan?" gerutu Neira yang disambut gelak tawa Agra. Setelah mengelus Puncak kepala Neira sebentar, Agra memilih meninggalkan wanita itu. Dan membiarkan Neira menikmati sarapannya.