
Di sini Neira sekarang. Di rumah Prayoga. Seorang yang selama ini Neira banggakan dan cintai.
Setelah Ayahnya meninggal gadis itu otomatis tidak punya tempat tinggal, dia sama sekali tidak tahu tentang keluarga ayahnya. Yang dia tahu hanyalah, bahwa ayahnya mengadopsi Neira dari panti asuhan sejak usianya lima tahun.
Ayahnya tidak pernah mengenalkan Neira pada keluarga besarnya, karena ayah Neira sudah dibuang oleh keluarganya karena menikah tanpa restu. Dan akhirnya pernikahan itu kandas sebelum beliau mengadopsi Neira.
Kembali ke Prayoga. Neira memutuskan ke rumah Prayoga. Gadis itu menceritakan kepergian ayahnya kepada keluarga Prayoga yang memang dari awal sudah menyayangi Neira.
Dan tanpa Neira duga, mereka mengijinkan Neira tinggal di rumahnya, bahkan mereka membiayai sekolah Neira.
"Nei.. Nggak usah kerja lagi, kan bulan depan sudah ujian. Fokus belajar saja, Nak. Nanti tante yang akan cukupi kebutuhan Nei" itulah yang diucapkan oleh ibunya Prayoga.
Berbicara Prayoga. Dia adalah teman sekelas Neira dari SD. Mereka berpacaran sejak kelas 3 SMP. Saling mengejar dalam prestasi.
Dia peringkat satu dan Neira peringkat dua, kadang sebaliknya.
Walau berpacaran sudah cukup lama, namun Prayoga sangat sopan kepada Neira. Bahkan pacaran mereka hanya sebatas mengobrol, bergandengan tangan dan cium kening.
Dia sama sekali tidak pernah menjamah bibir gadis itu. Takut khilaf katanya.
Neira senang. Dan Neira berharap, Prayoga-lah masa depannya. Karena Prayoga pasti akan menjadi imam yang baik untuk Neira. Dia lelaki yang taat beribadah.
Masihkah mungkin dia menjadi imam Neira, setelah tahu Neira yang sudah kotor seperti saat ini?
Sore ini mereka pergi ke taman deket rumah Prayoga. Rumahnya merupakan komplek perumahan mewah, jadi sudah wajar jika ada taman bersantai di komplek tersebut. bukan hanya taman, tapi juga arena bermain dan beberapa gerai kuliner.
Mereka duduk disalah satu sudut taman. Seperti biasa Prayoga akan manja tidur di pangkuan gadis itu. Setelah itu kegiatan favorit Neira adalah membelai rambut Prayoga yang lurus panjang, yang selalu wangi dan lembut, lebih terawat dari pada rambut Neira. Seperti saat ini, Prayoga yang dengan santai rebah di pangkuan Neira.
"Nei.. Kamu sudah tahu mau kuliah di mana?" tanya Prayoga memecah kebisuan.
"Sudah.. Aku sudah ajuin beasiswa Kedokteran di UI hehehe"
"Diterima..??" tanya Yoga antusias.
"Iya dong.. Nei gitu" jawab Neira bangga.
"Gadis pintar. Aku bangga sama kamu" prayoga mengusap pipi Neira lembut.
Itu percakapan Neira dan Prayoga setelah meraka menyelesaikan ujian akhir sekolahnya.
"Ayang.. Kita satu sekolah sudah tinggal sebulan lagi ya? Mmm kamu setelah ini mau lanjut ke mana?? " tanya Neira, jemarinya masih setia membelai rambut Prayoga.
"Aku belum cerita ya Nei? Maaf lupa.
Aku lanjut kuliah ke Kairo Nei. Itu sudah jauh hari diurus sama ayah"
"Kamu gapapa, kan? Nei aku tinggal? Kamu di sini menemani ayah bundaku. Jangan nakal ya Nei selama aku tinggal" ucap Prayoga dan menatap Neira penuh harap.
Gadis itu hanya tersenyum, padahal dalam hati nyesek.
"Nanti, setelah aku lulus. Kita langsung nikah ya Nei"
Neira bahagia mendengarnya.
"Iya Yoga. Aku janji akan setia menunggu kamu"
"Apa mungkin Ga kamu masih mau menikahi ku kalau kamu tahu apa yang terjadi padaku?" Batin Neira lirih. Perasaan perih akan ingatan peristiwa yang dulu sepintas menggelayut di batin gadis itu. seperti monyet yang asik mencari buah rambutan. Sangat merusak momen romantis!!
Mendadak Neira merasa mual, padahal tadi sudah makan. Dan gadis itu tidak merasa makan sianida, tapi kenapa dia merasa seperti orang keracunan?
"Yoga permisi.. " gadis itu langsung mendorong kepala Prayoga. Memuntahkan semua makanannya.
Dari kemarin, tubuh gadis itu lemas. Setiap malam demam. Dan pagi ini dia muntah saat mandi. Bahkan sore ini pun gadis itu muntah saat bersama Yoga.
"Nei.. Kamu gapapa?" tanya Yoga dengan panik, terlihat dari wajahnya yang pucat pasi.
"Engga, aku gapapa. Masuk angin kayaknya dari pagi muntah terus"
.
.
.
3 hari sejak kejadian di taman, kondisi Neira tidak kunjung membaik.
"Nei ke dokter yuk. Aku yang antar. Kamu sudah tiga hari muntah terus. Nanti aku dimarahi bunda kalau tahu kamu sakit tapi nggak bawa ke dokter"
Ya.. Bunda dan ayah Yoga sedang ke Kairo, katanya selama 2 minggu. mungkin mengurus persiapan kuliah Yoga di sana.
"Iya.. Makasih ya" Neira mengiyakan tanpa khawatir sedikit pun.
Sore ini mereka ke puskesmas, karena puskesmas lebih dekat dibanding rumah sakit.
"Halo Dok.. " sapa kami berdua.
"Iya silahkan.. Siapa yang sakit" Dokter itu tersenyum ramah, dari name tag-nya tertulis nama dr. Rahma.
"Ini dok istri saya sudah tiga hari muntah sama demam" ya. Memang dari SMP dulu Yoga selalu bilang Neira istrinya kepada siapapun. Mungkin dia memang bener serius dari awal mereka pacaran, dan Neira pacar pertama Yoga.
Setelah Neira tidur di ranjang pasien dan diperiksa, gadis itu kembali duduk di samping Yoga.
Perasaan takut tiba-tiba datang begitu saja tanpa dijemput, tanpa diantar.
"Mmm... Pasangan baru ya? kayaknya masih muda sekali ini, selamat ya pak istrinya sedang mengandung. Ada baiknya sekarang langsung diperiksakan ke dokter kandungan biar jelas usia janin, kesehatan janin, dan resep yang harus diminum oleh istrinya. Karena usianya masih sangat muda ini ya" kata dokter tersebut dengan tersenyum cantik.
Bagai disambar petir diterik panas siang bolong.
Yoga langsung keluar ruangan dokter tanpa berkata apapun. Neira melihat ekspresi bingung dokter Rahma. Rasanya bukan cuma dokter Rahma tapi Yoga dan Neira juga punya ekspresi yang sama.
"Permisi dok.. Saya pamit, terima kasih"
Neira langsung menyusul Yoga yang sudah berada di dalam mobil.
Sambil terisak merutuki dirinya sendiri, Neira melihat Yoga dengan ekpresi begitu marah kepadanya. Mata merah, wajah merah, tangan mengepal erat di setir kemudi.
"Turun.. " bentak Yoga. neira tahu kekasihnya itu kecewa dan terluka.
"Yoga please.. Ini nggak seperti yang kamu kira Yoga" gadis itu berusaha susah payah untuk berucap disela-sela tangisnya.
"Iya memang tidak seperti yang aku duga Nei.. Aku salah duga, aku kira kamu terhormat makanya aku menghormati kamu, aku kira kamu setia makanya aku berjuang untuk halalin kamu"
"Enggak kaya gitu Yoga.. Sumpah aku nggak selingkuh"
"Terus apa? Cinta satu malam? Gratis apa di bayar? ****** atau *******?"
"YOGAAAA.. " sungguh hati Neirasakit mendengar kata-kata Yoga, gadis itu tidak pernah mengira Yoga bisa bicara sekasar itu, menilai dirinya serendah itu. Walau sekarang dirinya memang kotor.
Neira menangis sejadi-jadinya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh langit rasanya sudah runtuh. Tepat di atas kepala Neira.
Setelah entah sekian lama gadis itu menangis, akhirnya ia mulai menyeka air matanya. Dengan sisa sedikit kekuatan yang dia miliki. Dia mencoba menjelaskan kejadian yang sebenernya.
"Yoga. Maaf aku ngecewain kamu. Aku memang kotor Yoga. Tapi sungguh aku juga terluka dengan kejadian ini."
Yoga masih diam...
"Aku diperkosa. Tepat di hari... " rasanya gadis itu tak sanggup berucap. Cukup ingin mati saja.
Neira masih mengatur napasnya, mengatur kekuatannya untuk berbicara.
"Tepat di hari ayahku meninggal"
Tangis gadis itu pecah sudah.
"Aaaaarrgggggg... " Yoga berteriak memukul keras kemudi mobil yang sedari tadi dia cengkeram erat.
HENIING...
Entah berapa jam mereka terjebak dalam mobil ini di parkiran. Hening mereka dalam pikiran masing-masing.
Dirasa setelah sekian lama gadis itu menunggu tak ada reaksi dari Yoga, akhirnya Neir memutuskan keluar dari mobil.
Yoga sama sekali tak mencegahnya.
"Terima kasih Yoga. Atas semua kebaikkanmu dan keluargamu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri untuk kamu. Semoga kamu bahagia Yoga. Maaf" ucap gadis itu lirih, sebelum menutup pintu mobil dan meninggalkan Yoga.
.
.
.
.
Neira berdiri di tepi jembatan dekat puskesmas. Sudah tidak mampu lagi berfikir jernih. Neira hanya ingat Ayahnya. Sepertinya menyusul ayah adalah solusi satu-satunya yang terbaik.
"Ayah.. Nei kangen Ayah... "
"Ayah.. Maafkan Nei Ayah... "
"Ayah.. Tolong bawa Nei.. Nei sudah nggak kuat, Yah.. " isak gadis itu dalam diam.
"Lebih baik aku akhiri saja hidupku"
Ya.. Inilah keputusan terbaik menurutnya saat ini. Neira melangkahkan kaki ke tepi jembatan, siap untuk terjun mengakhiri hidupnya.
"Nei... " suara Prayoga.
Bahu Neira di tarik keras sesaat sebelum melompat dari atas jembatan.
"Ikut aku Nei.. " Yoga menarik paksa Neira masuk ke mobilnya kembali. Walau susah payah gadis itu berontak.
"Nei.. Aku antar kamu ke tempat lelaki itu. Minta pertanggung jawabannya Nei"_____"Apa yang kalian lakukan itu dosa. Jangan tambah dosamu dengan bunuh diri dan membunuh janinmu"
Rasanya jantung Neira seperti dicabut paksa dari tempatnya mendengar perkataan Yoga.
"Astagfirullah ampuni aku ya Allah"
Akhirnya dengan segala pemaksaan yang Yoga lakukan kepada Neira. Gadis itu bersedia menunjukan alamat lelaki brangs*k itu kepada Yoga.
Yoga mengantar Neira sampai ke basemen apartement.
"Nei. Maaf kita ngga bisa sama-sama lagi. Walau aku tahu itu bukan salah kamu"
"Tapi aku benar-benar ingin istri yang masih suci. Makanya selama ini aku sungguh menjaga dan menghormatimu"
"Maaf Nei. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku"
"Cari lelaki itu. Dia yang sekarang berhak atas diri kamu. Maaf tolong jangan kembali lagi ke rumahku ya, Nei.
Pasti akan sangat tidak mudah bagiku melupakan kamu dan sakit ini" Yoga menunduk dalam-dalam.
"Turun Nei. Aku akan selalu mendoakan segala kebaikan untuk mu"