NEIRA

NEIRA
Bab. 6



Malam ini aku menemani nyonya Ratih di ruang tamu, menunggu aden Naragra yang katanya malam ini mau datang. Ngantuk sih, tapi ya masak iya nyonya nunggu sedangkan aku malah molor ileran. Enggak sopan itu namanya.


Sudah pukul 23.00 tapi yang ditunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.


"Jam berapa Nyonya, si aden datangnya?"


Tanyaku ke nyonya yang sepertinya juga sudah mengantuk. Tuan sudah tidur karena kondisi tubuh agak kurang sehat. Dan mak Oni juga sudah tidur kacapean seharian tadi bekerja.


"Nei sudah mengantuk? Tidur saja kalau sudah mengantuk, kasian baby perlu istirahat"


Nyonya memang selalu baik dan perhatian atas kehamilanku. Tak seberapa lama bunyi bel rumah sudah terdengar.


"Nah.. Nei, panjang umur tuh si ganteng baru diomongin langsung datang" ucap nyonya.


Aku langsung bangkit menghampiri pintu. niat semula ingin membuka pintu, tapi kenapa jantungku jadi enggak karuan?


Deg... Deg.. Deg..


"Nei.. Kamu tidak apa-apa?"


Nyonya menghampiriku. Melihatku dengan raut penuh selidik, mungkin khawatir karena aku tiba-tiba menghentikan langkahku dan meremas baju di dada. Sudah mirip seperti orang mau serangan jantung.


"Engga apa-apa, Nya.. Nei buka dulu"


Aku segera beranjak dan membuka pintu. Aku sudah memasang senyum paling manis.


TAPI..


Mataku rasanya langsung mau copot melihat sosok pria yang berada di depan pintu, yang baru saja aku buka.


Jantungku. Jantungku please jangan lepas.


BRAAAKK..


Reflek aku menutup kembali pintu yang tadi sudah aku buka. Aku masih mematung dibalik pintu dengan napas entah sedang berlomba lari dengan siapa.


Rasanya ada segerobak batu bata yang langsung dijatuhkan di atas kepalaku.


"What the..!! Ngapain tuh manusia genderuwo ada di sini, jangan bilang dia anak nyonya?"


"Siapa Nei? Kok ditutup lagi?" sontak aku bangun dari lamunan ku, tapi nyonya sudah dihadapanku.


Ya Tuhan.. Cobaan apa lagi ini?


"Nei.. Nei mau pipis, Nyonya" entah masuk akal atau tidak alasan ku. Yang penting aku bisa langsung menghindar lari ke ruang belakang.


Nyonya yang masih bingung hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku.


"Jadi pria itu Naragra. Anak nyonya?


Ya salammmm... kenapa dunia ini sempit banget sih."


Aku melihat mereka begitu hangat, tidak menyangka walau nyonya Ibu tiri tapi hubungan mereka seperti sangat dekat. Aku jadi iri.


***


"Siapa tadi, Bunda? Kok lihat Agra seperti lihat setan?" Tanya gue. Masih terbayang senyum manisnya, gue kira tadi bidadari lagi bukain pintu, sejak kapan rumah gue jadi surga?


Tapi gue kicep saat melihat perutnya sudah buncit. Gagal deh dapat gebetan bidadari. Mana langsung ditutup tuh pintu, untung gue enggak jantungan. Padahal gue masih pengen lihat senyumnya. Manis kayak le mineral.


"Ooh.. Kaget kali lihat kamu ganteng banget, Gra. Itu Neira, yang bantu-bantu di rumah" Jawab bunda sembari terkekeh


"Ih Bunda. Masa Agra Bunda ledekin sama mba yang bantu-bantu sih, Bun. Bunda ada-ada saja"


"Masih muda loh, Gra. Baik, pinter lagi. Hati-hati nanti kamu naksir" bunda mengerlingkan mata. Haduh ada-ada saja ini bunda gue.


"Udah ah.. Agra mau ketemu Ayah aja, Bunda jailnya kebangetan banget sih. Enggak sembuh-sembuh"


.


.


.


Setelah peristiwa bidadari bertemu genderuwo tadi, Nei langsung masuk ke kamarnya di dekat dapur.


Nei sekarang duduk di atas ranjangnya, sambil mengelus perutnya yang buncit. lebih besar dari usia kandungan normal. Neira masih linglung dengan apa yang baru saja terjadi.


"Oh jadi cowok pengecut itu namanya Agra?"


"Dan ternyata dia anaknya Nyonya? Dan dia jadi majikan aku sekarang?"


"Terus aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Kabur? Pura-pura amnesia? Kira-kira apa yang dia akan lakukan kalau ingat aku adalah cewek yang kemaren minta pertanggung jawabannya?" gadis itu mengacak rambutnya, frustasi.


"Harus bagaimana ini?


Semalaman gadis itu tidak tidur. Frustasi, bingung harus berbuat apa. Bagaimana tidak frustasi melihat pria yang sudah memperlakukannya semena-mena, menolaknya mentah-mentah. Tanpa rasa bersalah sudah menghancurkan masa depannya, malah dengan seenaknya melecehkan dan memandang remeh ke Neira. Dan sekarang pria itu di sini? Jadi majikan


nya??? Go to hell Naragra !!


________________®________________