NEIRA

NEIRA
Bab. 2



Gadis itu hanya mampu manarik dan membuang napas kasar berulang kali.


Entah sudah berapa jauh dia melangkah meninggalkan apartemen lelaki sinting, gila, berengs*k, dan entah apalagi julukan yang pantas disematkan kepada lelaki itu. Dasar cupu tidak bertanggung jawab!


Lelah. Tanpa tahu kemana lagi tujuan untuk melangkah..


Gadis itu masih duduk termenung di salah satu sudut taman kota, lumayan ramai hari ini. Banyak orang berolah raga dan anak-anak kecil bermain ayunan dan sepeda. Ada pula suami menemani istrinya yang hamil berjalan santai. Sakit rasanya melihat orang-orang tampak bahagia tanpa beban. Sedangkan dia? Tempat tujuan saja dia tidak punya.


Gadis itu memandang perutnya yang sedikit membuncit. Entah apa yang dia rasakan. Campur aduk seperti gado-gado. Bedanya itu gado-gado enak tapi perasaan Neira itu ENEG!.


Perasaan sayang mungkin saja itu yang dia rasakan ke calon anak ini, karena memang dia darah dagingnya. walau bagaimanapun proses terjadinya.


Benci? Jangan ditanya lagi. Karena kehadiran bayi inilah masa depan dan 'cinta'nya hilang. Cinta yang dirajut sekian lama dengan lelaki sangat ideal menurutnya. Dan masa depan yang cerah sebagai seorang Dokter. Apa lelaki itu pikir untuk bisa lolos menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran itu mudah?


Neira mengacak-acak rambutnya sendiri. Pusing! Ya iya rambutnya sendiri, kalau rambut orang nanti ditabok sama yang punya! Benar kan?


.


Perasaannya yang amburadul membuat Neira mengingat kembali bagaimana peristiwa laknat itu terjadi.


3 bulan lalu. Ya 3 bulan lalu awal dari semua bencana di hidupnya.


Saat itu, Neira baru pulang dari tempat kerjanya. Dia memang bekerja setelah pulang sekolah. Neira bekerja di tempat fotocopy dekat sebuah kampus dan apartemen yang lumayan jauh dari sekolahnya.


Suka tidak suka, Neira harus melakukan ini. Karena kehidupannya yang sangat miskin dan ayah yang sudah mulai sakit-sakitan. Dan hanya bekerja sebagai kuli panggul pasar.


Malam itu Neira pulang terlambat karena dia mengambil lembur, ada orderan penjilid-an yg lumayan banyak hari itu.


Gadis itu memaksakan saja untuk pulang, walau sebenarnya masih agak gerimis di luar. Romantis pikirnya gerimis-gerimis jalan kaki menikmati udara yang segar sehabis hujan. Tahu sendiri kalau tidak hujan betapa kering dan panasnya Jakarta ini.


Entah apa yang gadis itu lamunkan di sepanjang jalan pulang, hingga akhirnya:


GUBRAAAAKKKK...


Dia jatuh tersungkur. Lebih tepatnya lutut Neira tiarap mencium trotoar. Sakit!


"Ah elah mata kemana coba, bisa-bisanya nginjek kaki orang... Eh wait"


Neira mengamati dari atas sampai bawah lelaki yang dia injak tadi. Duduk lesehan di jalan aspal, dengan badan menyandar ke mobil, dan kakinya selonjor ke depan. Untung menghadap ke trotoar, coba kalau ke jalan aspal pasti sudah gepeng itu kaki di tabrak mobil lewat.


"Ni orang napa dah cakep-cakep baju modis, tapi tidur ngampar di pinggir jalan?" 


Neira mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu, bukan berniat mencium ya, jangan ke Pe-De an. Tapi untuk memastikan nih orang mati, pingsan, mabuk, atau malah tidur?


"Iuuuhhhh...... Mulutnya bau alkohol"


"Kobam ya?"


"Ah elah Neira, orang sudah teler kok malah kamu tanyain. Jangan **** banget napa jadi orang"  Neira menepuk jidatnya sendiri.


Neira terus mengamati wajah lelaki ini. Seperti kenal, atau mungkin sering melihat lelaki ini.. rasanya..??


Ah.. dia baru ingat, ini kakak ganteng yang suka main gitar sama anak jalanan sekitar sini.


Neira memang beberapa kali memperhatikan lelaki ini sewaktu sore berangkat kerja.


"Nih orang yang biasanya suka nongkrong main gitar sama anak jalanan sekitar sini bukan?" Neira menggigit bibir bawahnya ragu atas analisanya barusan.


Kata beberapa bocah yang pernah Neira temui, kakak ini juga suka traktir mereka makan. Bahkan tiap hari beli kemoceng dan gayung ke bapak tua yang suka jualan di pinggir jalan masuk gang. Dari situ Neira sempat kagum pada sosok lelaki ini.


"Tolong nggak ya??" gadis itu sejenak berpikir


lalu, dia memeriksa kantong kemeja lelaki itu, rupanya ada kunci apartemen. Di lihat dari nama dan logo di kunci rupanya dia tinggal di apartemen ini.


"Dasar mas-mas geblek sudah di depan apartemen bukannya masuk malah tidur di jalan" gumamnya, yah orang teler mana dengar.


"Apa lu bilang, gue geblek? Elu yang sinting" racau lelaki itu mencoba membuka mata dan berdiri dibantu Neira.


"Astagaaaa. Dia dengar? Kenapa jadi aku yang sinting? Kan kamu yang tidur di jalanan. Aku waras kok" gumamnya lagi. Setengah mati menahan sebal kepada lelaki di hadapannya ini.


Lelaki itu mengerjapkan matanya


Mencoba berdiri tapi,


BRUAAKKK..


Malah ambruk lagi.. Parahnya lelaki itu memakai bahu Neira sebagai tumpuan. Ya jelas lah gadis itu ikut nyungsep... 😴


Jantung Neira berdebar kencang!!


Gadis itu jatuh tengkurap tepat di atas tubuh pelukable milik lelaki itu. Ya salammmmmmm nyusruk lagi. Dua kali sudah Neira jatuh gara-gara lelaki ini. Tapi yang kedua ini jatuh membawa berkah.


"BIBIR KU.... 😱" pekiknya.


Bibir gadis itu tepat menempel di bibir lelaki mesum yang malah dengan tanpa rasa berdosa tersenyum lebar, setalah mendapat nikmat tak terduga dari gadis perawan yang ada di atas tubuhnya. menyebalkan!


Setengah mati Neira mengelap bibirnya. Menggerutu atas cengiran lebar tanpa dosa___ "Kalau jedotin kepala nih cowok ke aspal, dosa nggak sih?" Batin Neira, sungguh mati dia ingin jedotin nih cowok nyebelin, siapa tahu jadi sedikit waras.


.


.


"Ini sudah malam banget, kasian kalau dia dibiarin, entar kalau dirampok bagaimana? Lagian kenapa nggak ada orang yang menolong sih? Walau sepi masa nggak ada yang lihat dia sama sekali?" Neira melongok mengamati sekitar yang sangat sepi.


Ok.. Gadis itu memutuskan menolong cowok mesum menyebalkan ini. Kurang baik apa coba anak perawan satu ini?


Sebenernya niat awal Neira hanya ingin mengantarnya ke resepsionis dan meminta tolong satpam saja untuk mengantar lelaki ini ke kamar. bukan malah dirinya sendiri yang harus repot mengantar orang mabuk ini. Berat jadi sandaran tubuh cowok setinggi tiang bendera begini.


Tapi mungkin takdir mulai memainkan permainannya. Tiba-tiba ada pertengkaran di lobi dan semua orang terfokus di sana.


Ya sudahlah. Tak ada pilihan lain. Gadis itu pikir karena sudah ada kartu kunci pintu kamar lelaki ini, maka Neira memutuskan mengantarnya sendiri.


Neira merebahkan lelaki itu di salah satu kamar. Ada dua kamar di apartemen itu. 2 kamar 1 dapur dan ruang tamu.. Beserta kamar mandi di dalam kamar.


Lalu Neira melepaskan sepatu dan kaus kaki pemuda mabuk itu. Sebenarnya Neira berniat langsung pulang. Tapi entah rasa kasian, akhirnya gadis itu memutuskan akan mengkompres saja kepala lelaki ini memapakai air hangat.


"Oh, ternyata seperti gini ya isi apartemen". gumamnya, maklum belum pernah masuk apartemen. "Enak juga ya, lebih bagus dari rumah kontrakan petak.. Kapan bisa tinggal di sini?" gadis itu tersenyum sendiri di dapur, membayangkan tinggal di apartemen ini, sekalian menunggu rebusan airnya mendidih. Tidak ada salahnya bukan untuk berhayal? why not?


Setelahnya, gadis itu mengoleskan sedikit minyak kayu putih di leher, perut, dan telapak kaki lelaki itu. Mungkin saja dia kedinginan pikirnya.


"Ah selesai juga.. Oke, waktunya pulang... "


Tapi......


______________***