NEIRA

NEIRA
Bab. 28



"Ini foto siapa?"


Neira bertanya dengan raut wajah yang sulit aku tebak. Ada emosi dalam nada suaranya. Aku meraih foto usang yang dia temukan, lamat-lamat aku tersenyum melihat foto itu. Ada dia di sana. Seseorang yang seumur hidupku ku cari. Seseorang yang membawa separuh dari jiwa dari diriku.


"Foto Abang, lah" jawabku tanpa melihatnya. Aku masih terfokus pada selembar kertas usang ini. Selembar foto usang yang membawaku terlempar jauh ke masa lalu.


"Iya aku tahu, itu Abang. Tapi sama siapa?" intonasi suara Neira semakin tinggi, membuatku mau tak mau menoleh ke arahnya. Ada kilatan terluka yang begitu dalam sorot matanya. Sejenak aku terhenyak.


"Oh.... Ini namanya Rara. Orang paling spesial dalam hidup Abang" aku tersenyum getir, melihat matanya berkaca-kaca seolah aku memberikan luka saat menyebut siapa Rara. Tapi mulutku tidak bisa berbohong untuk hal ini.


"Sekarang dia di mana?" hatiku mencelos seketika.


....


Di mana? Ya, di mana dia sekarang?  Itu juga yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri. Dia sekarang ada di mana? 


Aku menggeleng perlahan, duniaku jungkir balik mengingat Raraku. Where are you, Ra? Kamu harus mengembalikan separuh jiwaku yang sudah kamu bawa pergi.


Flashback


"Daddy .... " panggilku yang menangis di depan kamar Daddy.


Saat itu usiaku 10 tahun. Seorang bocah lelaki dengan wajah  oriental. Berpipi putih tembem, yang selalu membuatku mendapatkan limpahan kasih sayang dari semua orang,  karena gemas melihat kelucuanku.


Bukan tanpa sebab aku menangis. Aku menangis karena Abang tidak mengijinkan aku bermain dengannya.  Saat itu, abanglah duniaku.


Usia Abang 14 tahun. Abang yang sangat aku idolakan, aku kagumi, dan aku sayangi melebihi diriku sendiri.


Aku yakin dia juga sangat menyayangiku. Walaupun sikapnya selalu acuh tak acuh. Dia pendiam,  dan tak banyak orang memberikan perhatian kepadanya. Abang, orang yang sangat tertutup.


Tapi mamah selalu berpesan, agar aku selalu menjaga dan menyayangi Abang. Tidak boleh iri saat mamah jauh lebih peduli kepada abang, ketimbang terhadapku. Karena Abang jauh lebih membutuhkan kepedulian orang lain. Mamah selalu bilang aku lebih kuat dan lebih beruntung dari Abang. Jadi aku harus lebih mengerti kondisi Abang. 


"Kenapa Ethan sayang?" daddy membuka pintu kamarnya, lalu berjongkok agar tinggi kami sejajar.


"Abang marah Daddy. Abang di kamar engga mau buka pintu buat Ethan"


Daddy hanya terkekeh mendengar rengekan ku, lalu merengkuhku ke dalam pelukan hangatnya.


"Abang capek mungkin. Ethan ikut Daddy aja ke panti bagiamana? Nanti banyak teman di sana"


Dari panti inilah takdir membawa ku kepada Rara. Takdir yang akan selalu mengikatku kepadanya, sampai kelak aku tak lagi membutuhkan udara untuk bernapas.


***


Aku berada di tengah taman belakang panti. Melihat anak-anak yang sedang bermain. Saat itu, aku enggan ikut bermain. Walau Daddy sudah memperkenalkan aku pada beberapa anak yang ada di sana.


Perhatianku teralih, saat melihat seorang anak perempuan .... Kira-kira usia 5 tahun, sedang asik bermain sendiri di pojok taman.


Aku mendekat. Gadis kecil itu bersila duduk di tanah, tidak takut gaun putihnya kotor. Rambutnya yang lebat dan hitam terkuncir kuda dengan rapi.


"Sedang apa? Kenapa main sendirian? Engga mau main sama teman-teman kamu di sana?" tanyaku, dia masih sibuk sendiri, tak mau repot menoleh ke arahku.


"Mau kok main sama teman. Tapi kasian kelincinya sendirian. Kelincinya belum makan, Rara mau kasih makan dulu". 


"Oh, nama kamu Rara" tanyaku tersenyum manis padanya. Gadis ini imut dan lucu. Aku sudah dibuatnya gemas pada pandangan pertama.


Dia mendongak melihat ke arahku. Dengan senyum lucunya menunjukan gigi yang sedikit terkikis. Pipi tembem kemerahan, menambah kesan lucu pada wajahnya.


Mata sayu meneduhkan. Sama persis dengan mata milik Abang. Seseorang yang selama ini memenuhi hidupku kini seolah telah menemukan pesaingnya. 


"Abang, sini .... " rajuknya, menarik ujung bajuku untuk ikut duduk bersamanya. Dan memberiku sepotong.... tempe?


Aku menatap dirinya dan tempe di tanganku dengan bingung. "Buat apa tempenya, Sugar? Kok kelinci dikasih tempe?" lagi dan lagi dia tersenyum lebar dengan mata yang berbinar.


"Hari ini lauknya tidak ada sayur. Hanya ikan dan tempe, jadi tidak ada sisa sayur di dapur ibu panti.  Namaku Rara bukan Sugar" protesnya, aku tersenyum geli mendengar itu.


"Enggak pa-pa Sugar aja. Boleh kan, Abang panggil kamu sugar. kamu manis kayak gula" aku tersenyum mengacak rambut Rara. Gemas akan wajahnya yang masih kebingungan.


"Mau main pesawat? Yuk naik ke punggung Abang. Sugar jadi pesawatnya. Mau?" dia mengangguk antusias dan langsung naik ke punggungku.


Dan hari itupun jadi tak sepi lagi bagiku. Setiap kali ayah ke panti, aku akan dengan senang hati mengikuti ayah.


Suatu sore, di panti asuhan ada perayaan ulang tahun anak seorang donatur. Setelah acara selesai, ayah mengajakku untuk pulang. Aku bergegas mencari Rara untuk berpamitan. Tapi aku sama sekali tidak menemukannya di antara ramainya anak-anak yang sedang bermain balon di tempat acara.


"Sugar kenapa menangis?"tanyaku saat melihat dia meringkuk memeluk lututnya terisak secara sembunyi-sembunyi.


Aku mencoba menariknya keluar. Lalu merapikan kembali rambutnya yang berantakan menutupi wajah.


"Tuh, gaun pestanya jadi kotor. Cerita sama Abang, Sugar kenapa?" pipi dan hidungnya sangat merah, membuatku diam-diam tersenyum.


"Kenapa Rara enggak punya ayah dan ibu? Abang punya ayah. Semua yang ulang tahun di sini punya ayah dan ibu. Kenapa Rara dan teman-teman di sini enggak punya?" dia menjelaskan dengan terbata-bata, sesekali mengelap ingusnya yang keluar. Mendengar penjelasannya dan melihat mata polosnya, membuat aku bisu tak tahu harus berkata apa.


Memangnya, diriku yang masih berumur 10 tahun ini bisa menjelaskan apa?


"Kan Sugar punya Abang. Mulai sekarang, Abang Ethan yang akan jadi malaikat pelindung Sugar, selamanya!! Jadi, Sugarnya Abang enggak boleh nangis lagi. Ok?"


Aku mengulurkan jari kelingkingku ke depan wajahnya, disambut senyumnya dengan gigi ompong dan jari kelingking yang saling bertaut.


Senyum kami pun mengembang. Sungguh menggelitik, bagaimana bisa aku yang hanya bocah 10 tahun tercuri separuh jiwaku oleh gadis manis berusia 5 tahun di hadapanku ini.


Detik itu, dunia ku berubah.


Tapi semua hanya sekejap, sampai aku kehilangannya tanpa bisa menemukan jejaknya kembali.


Hilang begitu saja.


Sekuat apapun aku mencari dan sekuat apapun aku merengek kepada daddy dan mamah tapi tetep saja.... Raraku tak berbekas, hilang ditelan bumi.


Yang mengadopsi Rara mengalami kebangkrutan, dan pergi membawa Rara tanpa pemberitahuan apapun.


Akhirnya, aku menyerah pada nasib yang membawaku pada hidup ku di Osaka.


Flasback off


"Sekarang dia di mana?" Sugar kembali menyentak ku ke dunia nyata dengan pertanyaannya.


Aku hanya tersenyum getir.


"Abang udah janji kan mau menjaga Rara, kenapa Abang ingkar?" Air matanya mengalir deras disela suaranya yang terdengar bergetar.


Napasku rasanya tiba-tiba terhenti. saat menatap matanya, dan menyadari bahwa mata teduh itu rasanya tidak asing bagiku.


Aku seperti kehilangan oksigen,  kepalaku menerka-nerka dengan berbagai kemungkinan. Apakah mungkin dia?....


Neira berlari keluar kamar.


Entahlah, aku masih membeku dengan pikiran yang masih bergumul dengan kemungkinan-kemungkinan.


Saat Sugar kembali, dia melempar ku dengan kotak perhiasan yang berada di tangannya.


Aku masih termenung saat isi kotak itu terpampang di depan mataku. Aku mencoba mencari kesadaran ku. Takdir seperti apa yang sedang aku jalani ini?


"Abang jahat!!" dia luruh di hadapan ku, memukul dadaku tanpa bisa aku cegah.


Entah aku harus bersyukur bahagia, atau aku harus menangis sedih saat mengetahui isi kotak yang dia lemparkan.


Sekumpulan ikat rambut berwarna merah berhias buah ceri dan strawberry tertata rapi di sana.


Ikat rambut yang dulu setiap hari aku bawakan dari sekolah untuk Sugar kecilku.


"Rara.... ?" tangis ku pecah memeluknya.


Ribuan ton beban penyesalan yang selama belasan tahun aku pikul, rasanya runtuh detik ini juga. Benarkah aku menemukan Rara ku? Disaat aku sudah menyerah dan putus asa?


"Jangan pergi lagi, Abang mohon. Maafin Abang, Ra...." aku menci*umi seluruh wajahnya.


"Ya Tuhan.... My Sugar. Abang enggak percaya kamu ada di sini. Di depan mata Abang." aku terus meracau, tidak bisa menghentikan tangis ku dan ciu*man ku ke wajahnya.


Takdir kadang memang selucu itu. Aku mencarinya sepanjang aku bernapas. Dan saat aku mulai menyerah, sekarang dia berada dengan sendirinya di rumahku, di pelukan ku. Tanpa aku harus mencari melangkah keluar dari rumah!


Memang semesta sering kali suka bermain dengan candanya yang sungguh tidak lucu.


Dunia ku kembali... Jiwa ku telah kembali... Terimakasih takdir....


❣❣❣