NEIRA

NEIRA
Bab. 27



Cinta selalu datang tanpa permisi.


Tanpa melihat alamat yang di tuju.


Namun, nyatanya Cinta tak pernah bisa disalahkan.


Hanya kita yang dituntut untuk Arif meletakan Cinta pada tempat semestinya.


Cinta itu buta. Maka dari itu butuh logika untuk melihat, agar kita bisa bijak dalam bersikap.


❤❤❤


Ethan


Jakarta.


Tempat ini selalu sukses membuatku merasakan luka dan kehilangan.


Selalu membuatku merasakan sakit pada setiap pilihan.


Namun, Jakarta pula yang membuat ku selalu rindu untuk pulang.  Menyusun setiap kepingan luka,  rindu, dan Cinta.


Dan sekarang, aku kembali terhempas, tersakiti, hancur. Kembali menjadi kepingan yang berserakan.


-Ethan-


Malam ini Jakarta diguyur hujan deras. Ethan masih betah bergelut dengan hati dan fikirannya.


Memandang Neira yang sekarang tertidur pulas di kamar Ethan.


Ya, Neira malam ini tidur di kamar Ethan. Neira lari ke kamar Ethan dengan menangis setelah


bermimpi bertemu almarhum ayahnya. Neira rindu ayahnya!.


Ethan memandang lekat wajah pulas polos itu. Menyibak anak rambut di wajah gadis yang sejak dulu sudah mengambil separuh dari jiwanya.


" I LOVE YOU, UNTIL THE END "


Bisikan lirih itu seolah hanya untuk dirinya sendiri, membelenggu di sanubarinya, tanpa mampu terucap lewat kata. Mengecup lembut bibir itu sepelan mungkin. Meresapi setiap sentuhan dengan rasa hati yang tulus namun pilu.


"Sweet dream, Sweetheart" kecupan kening, kemudian meninggalkan Neira dalam tidur nyenyaknya.


Ethan menghela napasnya berat.  Langkahnya menuju keluar kamar. menatap hujan yang lebat, seolah mengerti kecamuk dalam hatinya.


"Aku masih tidak percaya, akhirnya aku menemukanmu kembali. Takdir memang selalu mempermainkan kita Nei, tapi takdir juga yang selalu membawamu kembali ke sisiku. 


Aku akan menunggumu, sampai takdir benar-benar menyerah dan rela melepaskan mu sepenuhnya kepadaku. Aku akan menunggu Nei,  SELALU!"


Lelaki itu kembali menghembuskan napas beratnya. Mencoba berbagi beban pada malam. Menghamburkan semua luka itu ke udara.


"Rasanya aku jadi merindukan Osaka"


***


01.00 wib.


"Than, belum tidur? Ngapain malam-malam di jendela? Nanti masuk angin" ujar bunda yang melihat Ethan bersandar di jendela ruang tamu.


"Engga bisa tidur, Mah. Mamah kok ngga tidur?" Ethan berjalan menuju kursi ruang tamu, tempat di mana bunda berada.


"Tadi kebangun. Haus ambil minum di dapur, kamu ada masalah?"


"Engga, Mah" Ethan menggelengkan kepala lemah dan tersenyum ke arah bunda.


"Sini.... " Bunda menepuk pangkuannya, merebahkan kepala Ethan di pangkuannya.


"Ethan kangen sama Mamah" Ethan membenamkan wajahnya ke perut bunda, seakan menumpahkan semua beban batinnya malam ini.


"Ethan.... Walau kamu tidak cerita,  walau Mamah juga tidak tahu persis masalahnya, tapi Mamah tahu perasaan kamu. Mata kamu tidak pernah bisa berbohong saat melihat Neira. Pilihannya hanya dua,  berjuang atau mengikhlaskan" Bunda membelai rambut putranya seolah memberi kekuatan. Perasaan seorang ibu, tidak akan pernah bisa dibohongi.


"Mamah engga usah khawatir. Ethan masih jaga amanah Mamah, belum saatnya buat Ethan dan Neira. Ethan tahu di mana posisi Ethan saat ini. Masih banyak cara untuk mencintai dan menjaga Neira. Iya kan, Mah?" Ethan tersenyum ke arah bunda.


"Karena Ethan yakin, Mah. Cinta tahu arah jalan pulang. Dan Neira tahu ke mana dia harus pulang." batin Ethan


***


Pagi ini terjadi kembali keributan di meja makan keluarga Bagaskara. Sepertinya, keributan sekarang adalah menu wajib dalam setiap acara makan di rumah ini.


Keributan apa lagi, kalau bukan perselisihan antara Agra dan Ethan.


Ya Tuhan.. Sudah berasa Tom and Jerry.


"Than. Itu rambut kan udah di kuncir. Ngapain lo lepas lagi, terus lo kuncir lagi?"


"Kepo amat sih, Bang. Suka-suka gue, lah. Yang punya rambut aja nggak protes."


"Lu juga Nei, manja jadi cewek"


"Lah.... Kenapa jadi aku kena juga sih, Gra?"


"Bilang aja lo iri, Bang. Lo cemburu ya?" sergah Ethan.


"Aku juga nggak minta kamu kuncirin, Gra. Kalau kamu nawarin pun, aku juga ogah!" sungut Neira tak terima.


"Enggak santai banget sih Nei ngomongnya"


"Lah, kamu yang mulai, Gra" Neira mendengus kesal.


"Udah-udah. Mau makan apa mau ribut? Kalau ribut di luar sana!" skakmat dari ayah.


"Ethan, setelah sarapan ke kamar Daddy. Daddy mau bicara" ucap ayah menatap tajam ke arah Ethan.


"Ya, Dadd" Ethan mengangguk diam. Ok, kali ini dia kena batunya. Dia kembali ke kursinya.


"Nasi gue mana, Nei" protes Agra.


"Bo-do ah. Ambil sendiri!" ketus Neira melirik sinis Agra.


"ASTAGFIRULLAH" kompak Ayah,  Bunda, dan mak Oni.


Jadi kapan mereka bisa memulai sarapannya?


***


Hari ini senin. Cuaca cukup cerah.  Sangat mendukung bagi penduduk kota metropolitan ini kembali beraktivitas bekerja. Ditambah sisa hujan deras semalam, menambah sejuknya suasana pagi ini.


Tumbenan kan Jakarta segar?


Sudah bukan rahasia lagi, jika udara Jakarta penuh dengan polusi. Sampai kadang terasa berkabut. Bukan! Bukan kabut dingin seperti yang di pegunungan, tapi kabut polusi. Coba saja lihat langit di malam hari. Melihat bintang dan bulan saja laksana sedang mencari jarum di tumpukan jerami.


Seusai sarapan, Agra bergegas ke kantor. Akhir-akhir ini dia sudah banyak membolos ke kantor, bukan teladan yang baik tentunya untuk karyawan Agra. Modus juga sih,  paling janjian dengan Larasati di kantor.


Jangan di contoh!!


Kamar Ayah.


Ethan sedang membantu ayah turun dari kursi roda, dan merebahkan ayah di tempat tidur.


Ethan duduk di pinggir ranjang,  sesekali memijit kaki ayah. Ethan masih terdiam menunggu apa yang akan ayah bahas dengannya.


"Than. Kamu suka sama Neira?" ayah memecah keheningan. Langsung pada inti permasalahannya.


Ethan terkesiap sejenak, tidak menyangka ayah akan menanyakan perihal Neira secepat ini.


"Kok Daddy nanya gitu ke Ethan?"


"Daddy kan lagi bertanya. Kenapa kamu malah balik tanya?" ayah menaikan alis.


Ethan hanya tersenyum salah tingkah. Sudah ditembak begini. Apalagi yang bisa dia sembunyikan?


"Perlakuan kamu ke Neira itu nggak wajar kalau dibilang kakak beradik. apalagi Neira sudah dewasa, bukan anak kecil yang layak dimanja seperti itu, Ethan"


Ethan hanya terdiam.


"Daddy ingat Rara, engga?" setelah keterdiamannya, Ethan mulai membuka suaram


Ayah mengerutkan kening


"Rara... Larasati pacarnya Abang?" tanya ayah.


"Bukan Daddy. Itu malah Ethan ngga kenal. Rara adik kecilnya Ethan" jelas Ethan.


Ayah terdiam, mencoba berpikir dan mengingat kembali sosok bernama Rara.


"Rara yang di panti asuhan Ayah?" tanya ayah tidak yakin.


Ethan mengangguk, terdiam sejenak sebelum melanjutkan berbicara.


"Ethan udah bisa nemuin Rara, Dad.___  Sekarang dia di rumah ini,  dan akan jadi kakak ipar Ethan" suara Ethan tenggelam di tenggorokan. Ethan menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang diam-diam mencuri keluar dari sudut matanya.


Ayah tampak shock. Memandang raut wajah putranya. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi?


Sedetik kemudian, ayah memeluk erat Ethan.


"Takdir kadang memang suka bermain-main, Nak" menepuk pelan punggung Ethan. Ayah sangat tahu bagaimana perasaan Ethan saat ini.


Sabar ya babang Ethan... Sama dede Deeta aja, dede ngga nolak kok 😭😭😭😭


🥀🥀🥀


Mungkin sedikit bingung ya sama part ini,  karena info terpotong-potong.


Tapi akan nyambung kok ke part selanjutnya, jadi kalau baca part ini enggak boleh ketinggalan part berikutnya. Karena penjelasannya ada di sana.


Jangan lupa masukin Neira ke perpustakaan kamu ya, larasati coming soon di chapter chapter selanjutnya.


Chapter selanjutnya update setelah komen dan votenya banyak ya.


Mohon kerjasamanya. Author lagi enggak mood nulis soalnya.


Thanks