NEIRA

NEIRA
Bab. 7



Pagi ini aku bangun dengan kepala yang sangat berat. Mungkin karena semalaman aku tidak tidur.


Sekarang sudah pukul 07.00 pagi, ya ampun sudah jadi kebo aku rupanya kalau tidur, sampai lupa bangun pagi, jadi merasa bersalah karena tidak membantu mak Oni menyiapkan sarapan untuk keluarga ini.


"Mak.. Maaf Nei kesiangan, kurang enak badan" sapa


ku ke mak Oni yang sedang mencuci piring.


"Iya gapapa Nei, sudah selesai juga sarapannya. Sudah kamu istirahat saja, tapi sarapan dulu" jawab mak Oni


Sebenernya aku berniat bertemu dengan nyonya. Ingin bilang hari ini aku kurang enak badan, jadi minta maaf kalau tidak banyak mengerjakan pekerjaan.


Tapi buru-buru aku batalkan, karena aku baru ingat ada Agra di rumah ini. Harus panggil 'aden' gitu ke kucing garong. Behh!


Aku mengambil sarapan ku dan kembali ke kamar.


Rutinitas ku selama 3 hari ini adalah menghindari Agra, sebisa mungkin aku mengerjakan tugas rumah yang tidak mungkin berpapasan dengan Agra.


Bolehkah, ku panggil dia genderuwo saja?


"Nei.. Besok Mak mau cuti 1 minggu, cucu Mak menikah, kamu jangan kecapean ya kerjanya" ucap mak Oni yang sedang menggosok baju.


Mak Oni cuti?


"Mak, seriusan cuti? " tanyaku yang sudah melotot, membuat mak Oni mengangkat satu alisnya, mungkin dia bingung dan kaget dengan respon ku.


"Iya Nei.. Masa Mak bercanda. kamu kaget banget kenapa? tenang aja, nyonya sudah bilang kok, kamu enggak harus kerja yang berat. Santai, Nduk" wanita paruh baya itu mencoba menenangkan ku.


Tapi, kan bukan itu mak masalahnya. Masalahnya itu si Agra alias tuan genderuwo sialan itu.


***


Hari ini setelah subuh mak Oni sudah berangkat mudik ke kampung halamannya.


Seperti biasa, sehabis sholat subuh aku langsung berkutat dengan baju kotor. Memasukkan ke mesin cuci, setelah itu menuju dapur memasak sarapan.


Eh.. Ternyata di dapur sudah ada nyonya.


"Pagi, Nyonya." sapaku ke nyonya Ratih yang sudah cantik, menggunakan daster batik dibalut celemek. Siapapun tak akan menyangka berapa umur sebenarnya wanita cantik ini.


"Pagi Nei. Pusing enggak pagi ini? Sakit kakinya? " tanya nyonya sembari sibuk memotong sayur kacang panjang.


"Enggak, Nyonya. Neira sehat kok pagi ini. Nyonya ada di dapur pagi-pagi? "


"Iya. Kan mak Oni pulang. Jadi bantuin kamu masak, biar kamunya enggak terlalu capek. Nanti kalau mau angkat yang berat-berat panggil Agra aja, Nei. Jangan kamu angkat sendiri ya." kata nyonya.


Aku hanya mengernyitkan dahi ku.


"Heh.. Minta tolong ke Angra? Enggak salah dengar nih? Yang benar saja!!" batinku


"Oya satu lagi Nei. Yang tugas ngepel si Agra aja kamu jangan ngepel, kalau halaman depan biar saya saja. Ya sudah, sini bantuin masak jangan bengong aja." ucap nyonya melihatku yang masih cengok karena memikirkan kata-kata nyonya. minta tolong saja ke Agra??


"Iya, Nya" jawabku seketika dengan muka yang masih linglung.


***


Agra Pov.


Hari ini mumpung libur kerja, pengennya sih molor seharian. Enggak tahunya bunda pagi-pagi sudah bangunin gue suruh anterin mak Oni ke terminal.


Elahh, mak Oni pake mudik segala. Jadi ketiban gawean dah gue, dari harus nganter ke pasar, ngepel, kadang gosok baju sendiri kalau nyokap enggak gosokin baju gue.


Sekarang gue lagi ngepel ruang tamu Ngantuk sih. Tapi, dari pada nyokap ngomel bisa tuli nanti kuping gue. Bukannya kenapa-kenapa, tapi nyokap kalau ngomel lebih 'merdu' dari penyiar radio prambors.


"Agra.. Kalau ngepel jangan sambil melamun, bolong itu nanti lantai di gosok mulu." suara bokap bikin buyar lamunan gue. Gue nengok ke bokap yang dengan santainya baca koran.


Kok gue udah tiga hari di rumah tapi enggak pernah ketemu si 'mbak' yang baru itu ya.


"Neira.. Neira.. Neira" gumam gue sambil mikir, kayaknya tuh nama pernah gue dengar. Tapi di mana ya? Wajah manisnya yang bikin gue diabetes, juga kayaknya pernah gue lihat. Gue beroikir keras tanpa sadar, alis gue sudah nyatu kayak uler keket dan bibir gue udah maju 5cm seperti bibir bebek yang siap dikuncir.


"Kenapa, Gra? Neira.. Neira.. Neira..naksir, Gra?"


buset dah bokap gue kalau ngomong kaga pake disaring.


"Heheheh.. Ayah dengar aja "Gue cuma bisa meringis kuda dan garuk kepala, padahal mah ya enggak gatel, kan gue enggak ternak kutu.


"Naksir gimana-gimana sih, Yah? Orang sudah hamil gede begitu, masa Agra naksir istri orang?"


Jawabku sambil menyudahi acara ngepel pagi, dan duduk di sebelah bokap baca koran.


"Yah, kok sudah hamil gede masih di bolehin kerja sama suaminya? Nginep di sini pula, memang enggak dicariin sama suaminya? " basa-basi dikit sama ayah. Elahhh babang bilang aja modus!.


"Baru lima bulan, Gra hamilnya. Kalau enggak kerja dan tinggal di sini memangnya mau tinggal di apartemenmu? Enggak punya suami dia" nyelon banget bokap ngomong sambil tetep baca koran.


"Wah ngaco aja si Ayah. Mana bisa, Yah. hamil enggak ada suaminy. Ayam bertelur saja harus ada jantannya, Yah"


Malah dicuekin sama Ayah. Ya sudahlah, ke dapur saja minta kopi sama si mbak, sekalian kenalan. Masa sama pembantu sendiri nggak kenal. Kan lumayan pagi-pagi dapat asupan glukosa dari senyum si mbak Neira.


***


Gue cari di dapur enggak ada. Di halaman juga enggak ada, ke mana deh si mbak ini? Apa gue bikin sendiri aja kopinya?


Gue coba ke halaman belakang kali aja mbanya lagi jemur baju gitu.


Nahhh.. Benar, kan? ada orangnya di belakang.


Si mbak sedang duduk di balai bengong, sembari mengompres kakinya. Gue perhatikan sih kakinya bengkak banget, memang begitu mungkin kalau perempuan hamil.


Duh, begitu kok masih ada aja laki-laki yang tega bikin wanita menderita. ___Ada yang ngga nyadar diri rupanya, perlu ditabok juga si babang ini___ Ya sudah, gue samperin aja.


"Ehem.. Eee, Mbak Neiraaa" basa-basi busuk gue memanggil dia dengan nada sekalem mungkin. "Bisa minta tolong bikinin kopi enggak, Mbak?" orang yang gue sapa malah membeku. Perasaan ngga lagi di dalam freezer deh? Grogi mungkin mbak Neira ketemu orang ganteng.


"Mbak...? " sapa gue lagi.


Dia langsung balik badan menghadap gue.


"I.. Iya, Den. sebentar saya buatkan" jawabnya gugup dan menunduk.


"Bentar-bentar.. Kayaknya Agra pernah bertemu ya sama Mbak Neira?" tanyaku penuh selidik, karena dia menunduk jadi tidak begitu jelas melihat wajahnya.


Sedetik kemudian dia mendongak memandang gue. Yang membuat gue spontan berteriak.


"ELU, KAN.....????????? "