
Agra memacu mobilnya dengan pelan. Pikirannya masih terbang kemana-mana setelah tadi mengantar Neira USG. Ya kali itu pikiran punya sayap sampai ada acara terbang segala. yang benar saja bang!
"Haduh anak Bunda, kalau nyetir mobil jangan melamun dong" Tegur bundanya sambil mencubit lengan Agra.
"Aduh.. Duh.. Duh.. Sakit Bunda, iya Agra nggak melamun" jawab Agra bersungut-sungut, sakit tahu.
"Lucu ya Gra dede bayinya, jadi nggak sabar pengen lihat dia lahir. Bentar lagi kamu jadi om, Gra. Bisa gendong-gendong sekalian belajar jadi ayah" ucap bundanya sambil senyum-senyum
Bunda duduk di kursi penumpang depan, sedangkan Nei di belakang sendirian.
"Hehehe.. Jadi om ya, Bunda" senyum Agra kecut, "Bagaimana kalau bunda tahu harusnya Agra jadi ayah bukan Om buat anak Nei."
"Makanya Gra buruan kawin. Nunggu apa sih? calon kamu saja sudah diembat orang. Kamu sih kelamaan" ya allah ini bundanya lagi kenapa sih hari ini? Aneh.
"Kawin mah udah Bunda, nikah yang belum.. Eh!" celetuk Agra yang langsung disambut keplakan oleh bunda.
PLAAKKKK..
"Kalau ngomong nggak pake saringan, Gra? Mau bunda belikan ayakan di pasar?" bunda sudah melotot ke arah Agra yang hanya tersenyum kecut melihat bundanya. Apa yang salah coba? benar kan kawinnya sudah?
"Mampir ke supermarket, Gra" perintah bunda tercinta.
Agra memakirkan mobilnya di baseman salah satu supermarket yang cukup besar, yang biasanya dipakai untuk kulakan grosir.
Kalau di supermarket besar begini, biasanya bunda akan belanja bulanan yang super banyak. Ya siap-siap saja untuk capek nemenin bunda keliling.
Yang namanya emak-emak biasanya kalau sudah belanja suka lupa waktu, bahkan ini lupa kalau yang diajak belanja lagi hamil.
Dari tadi Agra di samping bundanya. Tidak seperti cowok lain, yang biasanya ogah menemeni belanja. Tapi kalau Agra, dia pria yang bisa diandalkan untuk urusan menemani belanja. Padahal dia tidak membeli apa-apa, apalagi kalau nganterin bundanya ke salon, berjam-jam juga Agra tungguin.
Sesekali Agra menengok ke belakang ke arah Neira, yang sedari tadi cuma menjadi buntut saja di belakang. Tapi kok ini nggak ada, ya? Kemana Neira?
"Bun, mbak Neira ke mana? Agra cari dulu, bun. Takut hilang anak orang, bunda langsung ke kasir aja Agra tunggu di depan kasir" setelah dapat anggukan dari ibunya Agra langsung pergi mencari Neira.
Agra mencari ke sana ke mari dan hampir frustasi karena yang dicari tidak kelihatan sama sekali. Lagi pula kenapa sih ini rame banget supermarket, katanya ekonomi lagi menurun, tapi yang shopping kok tidak berkurang.
Setelah melayangkan pandangan dari sudut ke sudut akhirnya Agra menemukan sosok yang dicari. Pantes nggak kelihatan yang dicari lagi duduk manis di store tempat jual perabotan rumah tangga. Mungkin karena di sana ada kursi makannya Nei istirahat di sana.
Agra langsung menghampiri Neira.
"Dicariin dari tadi, kenapa nggak bilang kalau mau istirahat?" celoteh Agra ketika Agra sudah di depan Neira.
"Maaf Gra, tadi pusing dan kaki saya sakit. Mau ijin tapi nyonya sama kamu sudah di depan nggak enak mau teriak" ucap Nei yang sudah ingin beranjak berdiri, merasa tidak enak karena membuat majikannya kebingungan mencarinya.
Tapi baru Nei mau berdiri, bahunya dicegah oleh Agra, secara tidak langsung Nei duduk kembali dan tiba-tiba Agra berjongkok di depan Neira. Membuat Nei terjengkit kaget.
"Kamu mau ngapain? Ngga sopan kalau saya duduk di atas" ucap Neira yang hanya bisa menoleh kanan dan kiri karena tidak enak dengan pandangan orang-orang yang ada di sana.
"Sstttt udah diam" kata Agra, dan langsung melepas sepatu flat Neira, meluruskan kaki gadis itu dan memijitnya perlahan.
Nei hanya tercekat dan diam di tempat, menerima perlakuan Agra.
"Kesambet setan apa nih orang jadi baik begini? Eh.. Tapi kan memang dia dasarnya orang baik ya, sama aku aja dia sok galaknya nauzubillah" batin Neira.
"Udah enakan?" Agra mendongakan wajahnya ke arah Neira. Disambut anggukan kecil dari gadis itu.
Tanpa Neira duga, Agra mengelus perut Neira. Membuat Nei membeku tak percaya tapi juga senang bukan kepalang.
"Perutnya sakit?" tanya Agra dengan intonasi yang sangat lembut dan tatapan yang adem banget layaknya es kelapa muda di bulan puasa. Memang pada dasarnya Agra adalah pria yang lembut dan penyayang. mendengar suara lembut Agra yang belum pernah dia dengar sebelumnya, membat Neira mengerjapkan matanya berulang kali. "Subhanallah" takjup.
Melihat Neira yang kaku seperti patung, membuat Agra sadar kekonyolan yang baru saja dia lakukan.
"GOD.. Napa gue jadi kelepasan baik sih sama nih cewek? bisa gede kepala dia, mau taruh mana muka gue?" gerutu Agra dalam hati. Agra berdehem salah tingkah.
"Ya sudah buruan kalau nggak sakit, ke mobil sana. Gua mau bantuin bunda bawa belanjaan" nada bicara Agra kembali ke intonasi seperti biasanya yang ketus, kasar, dan meninggi.
"Hadeeehhhh.. Kumat lagi" gerutu Neira sambil melangkah pergi dari hadapan Agra. Dasar cowok ababil.
Sedangkan Agra? Hanya terkekeh kecil. Emang ada yang lucu ya, Bang?
***