NEIRA

NEIRA
Bab. 1



Gadis itu tetap berdiri mematung di depan pintu apartemen. Ini sudah satu jam lamanya, dia hanya diam.


Ada banyak perasaan berkecamuk di hatinya. Marah, takut, benci. Bagaimanapun, pintu ini dulu adalah jalan masuk menuju nasib buruknya. Harusnya dia tidak pernah melewati pintu ini.


Matanya menatap nanar pada pintu di hadapannya. Jika saat ini dia mengulang lagi langkahnya untuk masuk ke dalam, apakah nasibnya akan berubah jadi baik?


Gadis 17 tahun dengan tinggi sekitar 160cm, rambut hitam lurus sebahu, dan kulit kuning langsat. Jauh dari kriteria putih dan cantik versi perempuan saat ini.


Kita sama-sama tahu bagaimana perempuan jaman sekarang. Jika tidak putih, maka tidak masuk dalam kriteria cantik. Hingga rela melakukan apapun. Menggunakan segala macam pemutih agar kulit terlihat putih dalam waktu singkat. Kenapa tidak memakai bayclin aja sekalian? Segala resiko terkena kanker pun diabaikan. Jika kita bijak, Tuhan itu menciptakan manusia sudah dengan sempurna. Untuk apa cantik, jika brains hanya 1cc, kan percuma. Lebih baik percantik hati, dan kapasitas otak kita sebagai perempuan yang unggul.


Kakinya bergerak gelisah. Ada rasa ragu yang mendalam untuk melanjutkan tekadnya menemui seseorang di dalam sana.


Neira menarik napasnya dalam. Sejenak gadis itu melihat ujung kakinya, sebelum akhirnya mendekatkan diri ke pintu dan mengetuknya.


TOK TOK TOK...


______#______


Jika gadis belia itu berdiri mematung di depan pintu kamar apartemen. Maka, lelaki inilah yang berada dalam kamar apartemen itu. Dia, Agra. Pria 26 tahun, pemilik perusahaan keluarga Digital Printing Advertising.


Perusahaan lumayan besar dengan cabang yang sudah menggurita di berbagai kota.


Lelaki itu sedang bersandar di pojok sofa, mencoba bersantai sebentar melepaskan letih setelah 2 hari berturut-turut tidak tidur. Lembur akhir tahun yang sudah menjadi rutinitas. Alhamdulillah rejeki anak sholeh pikirnya. Walau entah kriteria sholeh menurut dia itu yang bagaimana? 


Baru saja akan terlelap, pintu apartemennya ada bunyi ketukan. Padahal, kan ada tombol bel?


"Sebentar" Agra berjalan santai untuk membuka pintu. Pria itu mengintip melalui kaca kecil di pintunya. Tidak terlihat jelas, hanya terlihat perempuan yang sedang menunduk.


"Cari siapa?" Agra bertanya setelah membukakan pintu untuk gadis itu.


Dahinya sedikit mengeryit melihat sosok di hadapannya. Agra melihat Neira dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Anak siapa ini hilang?" pikir Agra. Bagaimana mungkin dia tidak berpikir gadis ini adalah anak hilang? Jika yang dilihatnya adalah gadis dengan baju lecek dan muka kucel. Rambut acak-acakan, mata bengkak seperti habis disengat tawon. Sungguh penampilan yang luar biasa untuk datang berkunjung ke tempat orang.


Dan yang ditanya, hanya diam seribu bahasa. komplit sudah!


Neira yang dilihat hanya menunduk, memandang kakinya sendiri yang sedari tadi bergerak gelisah.


"Halooo, Nona... Any body home?" sapa Agra kembali setelah menunggu beberapa saat. Agra melambaikan tangannya di depan wajah Neira.


"Ni bocah ilang apa gimana sih, kesasar? jangan-jangan modus penipuan baru. Kan sekarang banyak ya modus penipuan,  bermodalkan muka memelas. Iya ngga? Pasti iya!" alis Agra semakin menukik memerhatikan Neira.


"Eh.. Kamu siapa? Cari siapa? Jangan-jangan kamu modus mau merampok atau penipuan ya?" ketus Agra. Kepala lelaki itu melongok ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang lain atau komplotan gadis ini.


Neira langsung shock membuka mulutnya lebar. "Astagfirullah, orang ganteng tapi kok suka su'udzon" pikir Neira dalam hati. Gadis itu tanpa sadar mengelus dadanya.


"Kalau nggak ada urusan gue tutup nih, sorry gue sibuk"


"Braaakkkk.. " Dan, Pintu tertutup!!


.


.


.


4 JAM KEMUDIAN.


"Tok tok tok... " pintu itu kembali bersuara.


"Siapa lagi sih?"  pikir Agra. Biasanya tidak pernah ada yang mengetok pintu apartemennya, kecuali abang GO-FOOD dan mbak loundry yang manisnya seperti habis direndem gula se-ember.


"Haduhhh... Kamu lagi, kamu lagi" __Agra mengacak rambutnya__ "Sudah bisa bicara sekarang cari siapa?" ketusnya.


"NIKAHIN SAYA!!" teriak gadis itu mengkagetkan Agra.


"Whatttt..?? " teriak Agra tak kalah kencang. Percayalah, jika ini adalah adegan sinetron alay ala televisi ikan bersayap, pastilah wajah mereka berdua sudah di zoom dengan ekstra tambahan musik dramatis yang bunyinya lebih horor dari suara tawa mbak kuntilanak. Seraaaaaamm.


"Hee...?? " ini gadis kesurupan setan di mana sih? Muka kucel, ditanya diam saja. Sekarang sekalinya buka mulut minta kawin... Eh nikah maksudnya. Untung jantung dan mata Agra nggak auto menggelinding saat mendengarnya. HAMPIR!!


Terbatuk!! Agra langsung tersedak dan langsung menepuk-nepuk dadanya. Diamati gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Boleh saya masuk dulu, Kak? Saya butuh bicara dengan Kakak"


Dan tanpa dipersilahkan, Neira tancap gas langsung masuk ke dalam apartemen. Melewati Agra yang terbengong tidak percaya.


"What the... " Sensor.


Neira duduk manis dan langsung menenggak air minum yang ada di meja, sepertinya sisa Agra tadi sebelum membuka pintu untuk Neira.


Agra bingung, dan masih dengan ekspresi shock-nya. Karena kedatangan mahkluk yang menurut Agra lebih aneh dari pada alien ini. "Gadis ajaib!!" Agra menggeleng takjub.


"Eh.. Eh.. Bentar, siapa yang mengijinkan kamu masuk? Siapa yang mengijinkan kamu minum air saya?" Agra frustrasi raut wajahnya masih linglung dengan keadaan ini.


"Maaf kak saya sudah capek, sudah 5 jam berdiri di depan pintu" lah, siapa yang suruh?


"Kaki saya pegel"


"Saya haus" 


Jawab Neira datar dan masih dengan menundukkan kepala. Tanpa ekspresi, pandangannya kosong ke arah gelas yang tadi dia minum.


..


Hening menjeda.


..


"Ok.. Sekarang jelaskan, kamu siapa dan kenapa kamu minta nikah ke saya? Kawin aja saya milih-milih apalagi nikah" yang benar saja!!


Agra terus menatap tajam Neira setelah memantapkan diri duduk di sofa depan Neira.


"Saya Neira, saya minta Kakak nikahi karena saya___ " ucapan Neira menggantung. Rasanya ada yang menyumbat di lehernya. Sakit rasanya ketika harus melanjutkan apa yg harus Neira ucapkan. Dadanya sesak menahan tangis agar tidak jatuh.


Agra masih menatap tajam. Menunggu apa yg akan diucapkan gadis itu.


"Saya.. Sudah tidak punya siapa-siapa, Kak" ucap Neira lirih.


"Saya sudah tidak punya uang dan tempat tinggal"


"Ayah saya sebagai orang tua tunggal saya, sudah meninggal tepat saat peristiwa menyakitkan yang Kakak lakukan ke saya."


Sekuat tenaga Neira berbicara kepada Agra. Tatapannya tetap kosong. Bibirnya makin mengering. Tapi air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Memangnya saya melakukan apa? " Agra mengernyit bingung.


"Terus.. Hubungan beban hidup kamu sama saya apa? Kenapa juga harus yang nikahi kamu?"


Agra tak habis pikir terhadap apa yang diucapkan gadis di hadapannya ini. Pusing karena pekerjaan menumpuk dan sekarang ada mahkluk aneh nyasar ke apartemennya dengan omongan yang aneh-aneh pula!! Mungkin semalam dia bermimpi kejatuhan duren runtuh makanya sekarang sesial ini.


"Kenal aja kaga masa semua beban hidupnya dilimpahan ke gue sih? Banyak dong bini gue kalau semua cewek yang hidup susah minta gue nikahin" Mencoba masih menahan emosi. Sabar Agra.. Sabar.


"Karena saya sudah tidak punya siapun dan tidak tahu lagi arah tujuan saya harus kemana." isak gadis itu putus asa.


"Ya tapi kenapa ke saya?"


"Ya karena saya hamil karena kamu" teriak gadis itu emosi.


Kalaupun andainya gue hamilin anak orang, ya cewek gue yang gue hamilin bukan elu" ok, emosi Agra sudah pada tombol on.


"Walau gue emang doyan kawin, tapi cuma kawin sama cewek gue doang.  Gue bukan pria yang suka jajan. Jadi, lu salah alamat!"


Agra sudah mulai panik. Nada bicaranya sudah mulai meninggi. Mondar-mandir sesekali mengacak rambutnya, tak habis pikir dengan apa yang dia baru saja dengar.


Sementara Neira...


Neira mengeluarkan kaos dari dalam tasnya. Meletakkannya di atas meja.


Sambil takut-takut Neira menjelaskan perihal baju tersebut.


"Ini kaos Kakak, kan?"


Agra mengamati lipatan kaos yang gadis itu letakkan di atas meja.


"Baju saya Kakak sobek. Jadi saya pakai baju ini untuk pulang"


"Bagaimana saya bisa dapat baju ini, kalau saya tidak masuk ke sini?"


"Kenapa saya harus pakai baju ini kalau saya punya baju sendiri yang bisa saya pakai?"


Neira menjeda ucapannya. Menarik dalam napasnya yang sudah mulai ngos-ngosan.


"Dan kamu.. Kamu... "


Meledak sudah emosinya.


"Kamu bagaimana bisa tidak ingeat apapun setelah kamu merenggut hidup saya?"


"Merenggut kebahagiaan saya.. Masa depan saya... !!"


"Merenggut satu-satunya kehormatan yang saya miliki." teriaknya histeris.


Tangisnya pecah. Suaranya meninggi walau tetap terdengar parau efek menahan tangis dan emosi yang meluap-luap. Bahkan untuk bernapas saja gadis itu kesulitan.


Agra. Dia meraih kaos yang Neira letakkan di atas meja. Mencoba mengamati dengan seksama. Memang itu bajunya. Bajunya yang hilang lebih tepatnya, karena ini termasuk baju favorit Agra, makanya dia tahu persis itu baju miliknya.


"Bagaimana dia bisa dapat baju ini?  bagaimana dia bisa masuk apartemen nya, hah?"


Agra mencoba menenangkan diri


Mengingat kembali kejadian aneh beberapa waktu lalu. Kurang lebih 3 bulan lalu.


Pagi itu, Agra bangun dengan kepala sangat pusing. Badan Agra terasa lemah dan remuk semua. Seperti capek habis maju ke medan tempur saja. Padahal Agra juga belum pernah ke medan tempur.


Tapi yang membuat Agra bingung, kenapa dia bangun tanpa memakai baju sehelaipun? Kamar berantakan.


Maklum Agra termasuk orang yang rajin dan piki terhadap kebersihan. Agak aneh kalau kamarnya hancur seperti kapal pecah. Mungkin lebih mirip seperti bumi yang tertabrak meteor. Porak poranda!!


Dan..


Saat dia mulai beberes, ada beberapa bercak darah di atas seprai kasurnya. Juga ada baju putih panjang yang sudah sobek tak berbentuk. Seingat Agra seperti baju SMA karena ada bet osis.


Walau penasaran tapi akhirnya Agra tak ambil pusing, karena memang tak ada petunjuk dan titik temu apa yang sebenarnya terjadi pada malam hari sebelumnya.


Dan... Sekarang ini lah jawabannya..


.


.


"Lalu.. Gue tahu dari mana itu anak gue?" Agra gugup bukan main, tapi tetap mempertahankan ekspresi dinginnya.


"Siapa yang tahu kalau lu tidur juga sama cowok lain atau pacar lu?" suaranya tersendat di kerongkongan.


"Atau siapa tahu lu ngejebak gue buat lakuin itu semua ke elu?"


Iya tidak? Sekarang kan banyak modus tidak jelas dan cewek-cewek tidak jelas. Tidak salah dong waspada? Walau sebenarnya dia cukup menyesali kata-kata kasar yang baru saja dia ucapkan.


Setelah lama berfikir mencoba memutar otak. Di peras seperti jemuran bunda di rumah. Akhirnya Agra masuk ke kamar mengambil buku ceknya.


Setelah menulis nominal di selembar kertas cek, dia melangkah lagi ke ruang tamu apartemen tempat di mana Neira berada. Dan langsung duduk di sofa depan Neira.


"Ok.. Anggep saja gue kasian sama lu dan berusaha berbuat baik sama lu" Agra tidak berani menatap gadis itu.


"Ini cek senilai 100 juta.. " Agra meletakan cek tersebut di meja.


"Bisa lu pakai gugurin kandungan lu" Agra mengatakannya dengan ragu. Agra menelan ludahnya susah payah.


"Bisa lu pakai hidup sementara, sebelum lu dapat kerjaan." lanjutnya, menormalkan kembali ekspresi ragu di raut wajahnya.


"Bisa lu pakai cari tempat tinggal"


"Anggap saja gue lagi bermurah hati sama elu. Ok? "


Ini kenapa malah ngasih cek sih? 100juta pula. Kalau memang tidak yakin dia yang menghamili untuk apa coba buang duit 100juta? Pikir!!


Agra meletakkan cek di atas meja,  tepat di depan Neira. Lalu pergi melangkah ke dapur mengambil minum. Haus, setelah berpikir rumit tentang kejadian saat ini.


Neira hanya diam. Tersenyum getir.


Mencoba menyusun semua kekuatan yang dia masih miliki.


"Dasar cowok bejat nggak punya harga diri" batin Neira


Otaknya berfikir,


"Lumayan Nei 100juta bisa untuk kamu hidup dan tinggal sementara. Jangan bodoh Nei kapan lagi dapat uang sebanyak itu?"


.


.


"Nei kamu punya harga diri. Apa semua yang telah kamu lalui cukup senilai dengan cuma 100juta? Pikir Nei! "


Ok. Hatinya berdebat tiada henti.


Mirip perang Barata Yudha. Di mana hati kecilnya sebagai Krisna dan hati satunya lagi sebagai Sengkuni.


Sementara Agra masih mengamati, duduk sambil memegang gelas minum tak jauh dari tempat Neira.


Ah.. Dia sebenarnya tak benar-benar lupa dengan wajah manis di hadapannya!! Bibir itu... 🤔


"Terima kasih Kak, atas kebaikan dan waktunya" gadis itu berkata datar.


Neira melangkah pergi keluar dari apartemen tanpa menoleh ke belakang. Tanpa menangis.


Dan tanpa mengambil cek yang diberikan Agra. Dia hanya keluar berjalan entah kemana. Tatapannya kosong tanpa senyum. Hatinya hampa seolah jiwanya telah lari entah kemana.


Hanya tersisa seonggok daging hidup yang terus berjalan tanpa hati, jiwa dan pikiran.


AKU HARUS TETAP HIDUP...


***