
Malam ini, suasana di sudut kota Jakarta lumayan dingin. Mungkin karena sedari pagi tadi kota ini sudah diguyur hujan. Berita lalu-lalang tentang banjir sudah tak asing lagi di media televisi jika kota ini sudah terkena rain syndrom.
Kota dengan tingkat kesenjangan sosial yang bisa dibilang cukup tinggi. Di mana kemiskinan dan kemakmuran terlihat jelas hidup berdampingan, seperti Romeo dan Juliet yang sangat romantis namun sebenarnya tragis.
Bagaimana tidak tragis? Kalau akhirnya sama-sama mati. Terus di mana kisah romantis bahagianya? Sudah, lupakan dulu sejenak drama Romeo dan Juliet
Back to Jakarta. Bagaimana tidak tragis? Coba pikir, diantara gedung tinggi pencakar langit dan gedung-gedung apartemen yang sudah seperti jamur yang tumbuh subur di musim hujan. Coba melongok sedikit ke belakang gedung-gedung cantik itu. Deretan rumah kumuh dan pemukiman sempit padat penduduk sudah seperti rumput liar yang tumbuh bebas. Jadi bagaimana? Benar bukan romantis seperti Romeo and Juliet yang lengket seperti perangko??
Sudah, tinggalkan saja drama sejoli itu. Ada yang lebih romantis dan tragis malam ini.
Gerimis yang enggan pulang sangat ampuh mengirimkan dingin yang menusuk tulang. Tapi sepertinya itu tidak berlaku disalah satu kamar apartemen yang berdiri kokoh dekat pemukiman padat penduduk ini.
Tragedi keji telah terjadi. Niat baik yang berakhir buruk.
Neira terus meronta. Suaranya kian serak. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari matanya tanpa diminta.
Ya. Neira sekarang bagai anak rusa yang sedang meronta belas kasian dari singa lapar. Yang sudah sedari tadi menggigit lehernya siap untuk menjadi hidangan utama makan malam.
Tapi percuma, lelaki itu bergeming. Dia masih sibuk memegang Neira agar tidak berontak. terkungkung di bawah tubuh atletisnya. Tak peduli pada teriakan Neira, seolah teriakan itu adalah musik merdu penyemangat apa yang sedang dia lakukan sekarang.
Napasnya masih menggebu. Tak peduli gadis mungil di bawah tubuhnya meronta minta dilepas. Lagi pula, mana ada singa lapar melepas mangsanya yang sudah ada di mulutnya? Yang benar saja!
Lelaki itu berceloteh yang Neira tidak mengerti maksudnya. Sambil terus lidahnya bermain di telinga Neira. Menjilat masuk ke rongga-rongga telinga Neira, menggigit ujung telinganya perlahan. Terkadang turun menjilati inci demi inci leher Neira.
Tangan kirinya masih sibuk memegang kedua tangan Neira. Mengumpulkannya di atas kepala Neira. tapi tangan kanannya sibuk membelai dada Neira dari balik baju seragam gadis SMA tersebut. Gadis itu masih meraung-raung meminta pertolongan. Berharap lelaki ini masih punya otak walau sedikit untuk bisa berfikir. Atau paling tidak, dia punya hati untuk berbelas kasian kepadanya.
Harusnya gadis itu bergairah
Ya seharusnya___
Kalau saja ini bukan adegan pemerkosaan!!!
"Toooollloooonggg"
Pekik Neira setelah bibirnya terlepas dari lumatan demi lumatan lelaki bejat yang sedang menindihnya sekarang.
Lelaki itu menyeringai tanpa belas kasian. mulutnya masih sibuk bermain dengan bibir mungil nan manis milik gadis yang ada di bawah tubuhnya itu. Ah, rupanya iblis sudah memegang penuh kendali di otaknya. Tapi bisa juga bukan iblis yang berperan, melainkan napsu kelelakiannya saja yang begitu liar sulit ditaklukan.
"Brengs*k.... Lepasin saya, Kak!"
"Saya sudah menolong Kakak. Kasiani saya, Kak!"
.
.
"Sorry Baby... Nggak bisa, malam ini lu milik gue."
.
.
Tanpa menunggu lama, Baju Neira sudah terkoyak entah berterbangan ke mana. Malang tak dapat ditolak, dan nasi sudah menjadi bubur. Terjadilah sesuatu yang tak seharusnya terjadi.
Malam ini gerimis menjadi saksi akan permainan takdir. Mengantarkan satu kisah panjang yang dahulu sempat tertunda. Gulungan benang merah kusut antara Neira dan takdir. Akankah kali ini akan terurai dan tersimpul sempurna?
***
- Deeta Pratiwi -
Dalam rangkaian kisah panjang ini. Ada begitu banyak hal baik dan buruk yang tersajikan. Keluarga, persaudaraan, cinta, ketulusan, pengorbanan, dan kesetiaan.
Ambil baiknya dan buang buruknya. Semoga nanti dilembar terakhir kisah ini, bisa menjadi alasanmu tersenyum menyambut kerasnya hidup.
Semua memang harus dilewati, dan semua akan baik-baik saja.
🌻 dee.