
Lara mencium kening Agra yang masih membisu lalu pergi begitu saja meninggalkan Agra.
"Demi apapun.. Siapapun tolong katakan sama gw, kalau barusan yang gw dengar adalah fake, just a joke"
Agra berlari ke arah pintu di mana Lara di sana sudah bersiap untuk keluar apartemen Agra.
"Ayolah, Beib" Agra meraih tangan Lara, menangkup kedua tangan Lara dalam genggamannya.
"Beib.. Aku tahu kamu mau ngerjain aku kan? Karena hari ini anniversary kita.. Emm, iya kan?" ucap Agra sambil tersenyum menatap mata Lara mencari kebohongan di sana.
"C'mon, Beib.. nggak harus selucu ini kan bercandanya?" hati Agra mulai was-was melihat Lara hanya menunduk tak menjawab apapun.
Direngkuh gadis itu dalam pelukan, diciumnya berkali kali puncak kepala Lara. Tapi gadis itu masih membisu.
"Beib, tahu ngga aku juga ada surprise lho buat kamu. Aku hari ini mau lamar kamu untuk jadi istri aku" suara Agra bergetar masih dalam memeluk Lara, air matanya sudah berkumpul di pelupuk bagai bendungan yang sudah akan jebol siap membanjir.
Agra menarik Lara, membawa gadis itu ke arah meja makan. Agra mengambil kue yang seharusnya tadi jadi surprise termanis untuk Lara.
"Lihat deh, Beib.. Nih lihat cincin yang aku pesan spesial buat kamu." Agra membongkar kue anniversary mereka untuk mengambil cincin di dalamnya.
Diperlihatkan ke Lara, cincin cantik bertahta diamond dan di tengahnya terdapat blue safir berwarna legam.
"Lihat deh, Beib. Cantik kan? Aku pesan khusus buat kamu. Kamu pernah bilang ingin cincin blue safir yang seperti ini. Cantik seperti kamu" Agra menatap nanar kepada Lara yang masih diam membisu hanya isak lirih yang Agra dapat dengar dari gadis di depannya.
"C'mon Beib.. Udah dong bercandanya. Ini benar-benar ngga lucu Lara.
Apa semua yang udah kita lalui ngga ada artinya buat kamu? apa semua perhatian yang kamu kasih selama ini ke aku palsu? Ngga kan, Beib? Aku rasain kok kamu tulus ke aku. Udalah jangan bohong.. Aku tahu kamu beneran cinta sama aku" ucap Agra yang sudah putus asa.
"Maaf, Gra. Aku sudah menyakiti kamu. Aku tulus cinta sama kamu, Gra. Tapi aku miliknya Gra dan harus kembali ke dia, cintaku lebih dulu untuknya dan disisinya harusnya aku berada, Gra. Apa yang sudah kita bangun selama ini salah. Maaf Gra. Maaf"
Ucap Lara yang langsung berlari keluar apartemen meninggalkan Agra. Lelaki itu luruh dalam sesak hatinya.
*****
Agra pov
Ini beneran ngga lucu buat gue, dia ninggalin gue begitu aja setelah kasih gue harapan manis selama 2 tahun... Dia anggap gue apaan? Sampah? Sampah saja masih bermanfaat cuy, masih bisa didaur ulang, masih bisa jadi pupuk. Lah gue? Main dihempas cantik gitu aja. Emang dia Syahrini?
Emang dia ngga bisa nunggu besok kek? lusa kek? atau kapan gitu? Paling engga bukan pas hari anniversary kita. Kalau kayak gini lo bukan cuma cabut jantung gie dari tempatnya, tapi sama saja udah jatuhin meteor raksasa ke hidup gue.
Gue bakal buktiin sama lo, kalau lo bakal nyesel ninggalin gue. Gue akan buktiin kalau gue bakal jauh lebih sukses dari cowok brengsek lo itu. Gue akan buktiin gue bisa bahagia tanpa lo.. INGAT ITU LARA!!
Tapi nyatanya kelakuan gwlue ngga sinkron dengan otak gue. Kelakuan gue lebih pro ke hati gue yang tercabik-cabik. Akhirnya di sinilah gue, di club malam!!
Sebenarnya ngga pernah ada dalam hidup gue menyentuh minuman keras, gue anak baik-baik, Bro. kasian ayah sama almarhum nyokap gue kalau gue kayak gini, apalagi bunda pasti akan merasa berdosa sama almarhum nyokap. Tapi apa mau dikata, hati gue lagi sakit. Cukuplah malam ini untuk yang pertama dan terakhir.
Malam itu gue menghabiskan malam di club, mencoba mengusir sakit hati gue dengan minuman keras.
Tapi baru beberapa sloki saja, gw malah sudah terkapar, mungkin karena tidak pernah menenggak alkohol.
Pusing yang amat sangat di kepala akhirnya membuat gue memilih untuk pulang, toh nyatanya dengan memabukkan diri tidak membuat bayangan Larasati hilang, justru Lara makin menari -nari memenuhi pikiran gue. Dasar cewek laknat. Coklat sianida!!
Ya bagi gue mantan itu sama saja dengan coklat bertabur toping sianida. Manis tapi bikin lu mati!
Kan kata orang kalau jatuh cinta itu ibarat *** kucing rasa coklat, ya kalau mantan tetep coklat, tapi ada sianidanya buat bunuh lu pelan-pelan. BUANGLAH MANTAN PADA TEMPATNYA!!
***
Di sinilah gue bertemu Neira, di depan apartemen gue sendiri.
Gadis bodoh yang bisa membuat hati gue berdebar-debar di pertemuan pertama. Bisa-bisanya dia nendang kaki gue. Memang itu mata ditaruh di mana, Neng?
Walau gue mabuk, gue masih bisa sedikit melihat wajah manisnya, pipi cubienya hahahha. Ke mana si Larasati yang dari tadi memabukkan kepala gue? Kenapa sekarang jadi ini cewek yang bikin gue fokus.
Entah efek alkohol atau memang mata gue yang lagi nggak benar? tapi gue senang melihat bibirnya, pipi cubienya, apalagi matanya yang sayu dan teduh. Aduh babang meleleh dede 😌
Dasar cewek sinting bikin gue mabuk kepayang melihat bibirnya. Pingin banget gue ***** saat itu juga. Hahahha and see!? I have my dream come true. Ternyata, nyata Tuhan kasih bibir itu untuk gue saat itu juga, ketika dia nyusruk jatuh ke tubuh gue. Rejeki mah ngga akan tertukar, Bro.
Antara sadar dan tidak sadar gue melakukan hal tidak terhormat kepadanya. Di bayangan gue dia adalah Larasati, tapi bibir itu nyata bukan milik Larasati. Gue yakin itu bukan bibir Larasati dan mata yang gue kagumi itu juga bukan milik Larasati.
Tapi milik siapa??
Ketika gue bangun tidak ada satupun petunjuk siapa gadis yang sudah gue jamah semalam.
Tapi bagaimana rasa bibir itu masih sangat gue ingat, bahkan sampai sekarang. MANIS!!
*****
Flashback off
Agra masih menatap langit langit kamarnya. Rasanya nyeri mengingat Larasati, tapi lebih sakit lagi saat mengingat Neira.
Agra merasa dosa besar telah menghancurkan hidup Neira.
Ingin sebenarnya dia bertanggung jawab walau mungkin anak yang dikandung Neira bukan anaknya. Biar bagaimana pun dia telah meniduri anak gadis orang.
Tapi entah kenapa hati Dan tindakannya tidak pernah sejalan. Apalagi mengingat kejadian yang baru terjadi tanpa sengaja dia menyakiti Neira. Menyakiti fisik maupun hatinya. Sungguh Agra tidak pernah bermaksud menyakiti wanita itu.
AARRRGGGGGH.... Agra mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa jadi kayak gini sih? Gue cape dihantui rasa bersalah gue ke Neira"
Kenapa Ayah harus mengadopsi anak Neira? Yang otomatis menjadikan Neira sebagai adik gue sendiri?
"Bagaimana cara gue lari dari Neira? Please, Nei pergi dari hidup gue"
Dan kenapa disaat seperti ini justru Lara datang lagi ke gue, merengek cinta gue?
Walau memang sampai saat ini statusnya masih gue gantung, tapi jujur gue nggak ingin kehilangan Lara untuk kedua kalinya.
Walau gue masih sakit hati banget atas perlakuan dia ke gue, Memang gue ban serep apa cuy? Tahu dah pusing gue gagal move on!
***
Sekitar 1 minggu yang lalu, Lara datang ke kantor Agra, menceritakan kalau dia memilih Agra dan memutus kan pertunangannya karena dia tidak bisa melupakan Agra. Agra tidak memberikan keputusan apapun ke Lara. Jalani sajalah mungkin itu yang Agra pikir.
"Maafin Agra, Yah. Maafin Agra, Bunda. maafin Agra, Ibu. Maafin gue ya, Nei... " bisik Agra pilu tanpa sadar air matanya sudah jatuh di ujung mata.
****