NEIRA

NEIRA
Bab. 23



Lorong dinding bercat putih ini tampak sunyi, walau satu atau dua perawat masih nampak berlalu-lalang keluar masuk kamar pasien.


Sama seperti hati Agra, yang tak kalah sunyi dari lorong rumah sakit yang sedang dia lalui. Menapaki lorong rawat vvip yang cukup lengang, karena memang hanya tersedia empat kamar di setiap blok vvip dengan satu meja resepsionis. Hati Agra masih sibuk mencerna nasehat-nasehat dari bunda di kantin tadi.


Agra sendiri bingung, sebenarnya apa yang dia tunggu untuk menikahi Neira, Larasati kah??


Nyatanya, sampai detik ini pun dia juga belum memberi kejelasan pada Larasati tentang status hubungan keduanya.


Traumakah atas suatu hubungan?? Atau memang Agra saja yang bernyali ciut untuk merajut sebuah komitmen!!


Langkah Agra terhenti disaat berada di depan kamar Neira. Ia berniat masuk ketika pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka. Tapi dia memilih hanya diam saat melihat sosok lelaki di dekat Neira.


Ditatap lamat-lamat lelaki itu, tampak akrab, bahkan saling tertawa.


Agra bergeming, walau jemarinya telah mengepal menahan emosi.


"Ethan" gumam Agra perlahan.


"Sejak kapan Ethan pulang?"


"Dia kenal Neira?"


"Kenapa seperti begitu akrab?


"Kenapa tiba-tiba Ethan pulang?"


"Ada hubungan apa Ethan dengan Neira?"


"Bi*tch!!"


Agra menahan napasnya.


Kenapa harus emosi? Neira tidak ada ikatan apapun dengannya. Ia juga tidak punya perasaan apapun terhadap Neira. Jadi, kenapa harus emosi?


Agra memalingkan pandangan. Tak mungkin juga dia melabrak masuk ke dalam. Memangnya siapa dia berhak untuk marah? Memilih untuk meninggalkan kamar Neira adalah pilihan paling baik untuk Agra.


"Bang! Adeknya pulang dicuekin aja. Ngga kangen lo sama gue?"


Baru beberapa langkah meninggalkan kamar Neira, langkah Agra terhenti mendengar suara Ethan sudah berada di belakangnya.


Agra berbalik memandang Ethan yang sudah tersenyum manis dan merentangkan tangannya menyambut pelukan dari Agra.


"Masih hidup lo? Gue kira utdah lupa jalan pulang" akhirnya mereka berpelukan dan tertawa bersama. Lupakan dulu sejenak bara yang ada di hatinya.


Author ngga di peluk juga bang? Aelaahh..


"Lapar gue, traktir ya ke kantin?" Ethan memasang puppy eyes sadar betul permintaannya tidak akan bisa ditolak.


Agra menggeleng pelan, tangannya terulur memeluk bahu Ethan dan berjalan beriringan ke arah kantin.


***


"Kok tiba-tiba pulang?"


Agra memecah keheningan. Setelah sampai di kantin, mereka mengambil duduk di kursi paling pojok. Kantin sudah lumayan sepi karena sudah lewat jam makan siang, hanya terlihat beberapa orang yang kemungkinan besar adalah keluarga pasien juga di rumah sakit ini.


Agra memesan juice alpukat,  sedangkan Ethan memesan nasi goreng dan lemon tea hangat. Agra hanya memainkan gelas juice-nya sembari sesekali melirik Ethan yang masih sibuk dengan makan nasi goreng.


Hening, sibuk dengan emosi dan pikiran masing-masing.


"Pengen aja" sahut Ethan.


Entahlah, kenapa kakak beradik ini seolah tiba-tiba diliputi suasana perang dingin. Seolah saling memendam amarah satu sama lain.


"Setelah 7 tahun tiba-tiba ingin gitu aja? Hemm, becanda? Engga ada kabar selama 7 tahun, terus sekarang tiba-tiba datang gitu saja? Baru ingat jalan pulang? Atau baru ingat punya keluarga?" 


Agra memandang sinis Ethan.


"C'mon.. Bang, gue baru pulang. Sekarang juga masih makan, jangan dicecar gitu juga kali, Bang. Lo mau gue mati tersedak?" Ethan mendengus malas.


"Terserah!" Agra berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan Ethan. Rasanya campur aduk antara marah; kangen; cemburu; entahlah, rasanya gado-gado saja kalah aneka ragamnya dibanding perasaan Agra saat ini.


"Bang .... " rajuk Ethan memelas ke arah Agra.


Agra menghela napas panjang. Kembali ke posisi duduknya.  Bagaimana pun rasa marahnya masih kalah dengan rasa sayangnya ke Ethan.


"Selama 7 tahun ini lo ke mana aja?  Kenapa nggak kasih kabar?" suara Agra melunak. Ditatap lekat-lekat adik lelakinya ini, walau bisa dibilang Agra selalu cuek kepada Ethan, tapi tidak bisa dipungkiri Agra sayang setengah mati pada adiknya ini.


"Gue kasih kabar kok, Bang. Dua tahun belakangan ini tapi cuma ke nyokap"


"Kenapa cuma ke nyokap? Nyokap juga nggak pernah bilang ke gue dan ke ayah?"


"Gue yang minta, Bang. Supaya nyokap engga kasih tahu. Gue ___Nggak berani hubungi lo. Gue takut lo marah" Ethan tertunduk dia tahu dia salah tidak memberi kabar sedikitpun ke keluarganya.


"Lo takut sama gue? Terus lo pikir sekarang gue engga marah? Lo ngga mikirin ayah? Ayah yang paling kehilangan lo.___ Bahkan, sampai gue kasih kabar ke om Oto bahwa ayah lumpuh, berharap lo pulang sebentar buat bokap, minimal kasih kabar,  nyata apa? Lo engga peduli! Apa karena di Jepang om Oto sudah kasih segala-galanya buat lo, jadi lo lupa sama bokap?"


"BANG!!"  __suara Ethan meninggi__ "Engga mudah buat gue ninggalin lo,  nyokap, apalagi bokap. Ngga mudah buat gue hidup di sana sendiri tanpa kalian. Lu tahu persis kenapa gue ke Jepang. Gue merasa dibuang, Bang. Engga mudah buat ge harus tinggal di sana! Gue bukan ngga peduli sama bokap, Bang. Tapi gue belum punya nyali buat ninggalin bokap lagi kalau gue pulang ataupun hubungi dia. Lo paham banget nggak mudah buat gue. Lo tahu siapa gue, Bang!" 


Agra membuang napasnya kasar. Dia tahu ini tidak mudah bagi Ethan. Di tatap sayu adik semata wayang di hadapannya ini. Entahlah, tiba-tiba dadanya ikut sakit melihat mata Ethan berkaca-kaca di hadapannya sekarang.


Agra bangkit, mengganti posisi duduk di sebelah Ethan. Agra memeluk Ethan erat seolah memberi kekuatan ke Ethan, semua akan baik-baik saja. "Sorry"__ Agra menepuk punggung Ethan.


Agra jelas paham, perjuangan keluarganya melepas Ethan ke Jepang. 


Ethan adalah anak bunda dari perkawinannya dengan om Yokihoto. Seorang blesteran Korea Jepang yang kebetulan saat itu bertugas di Indonesia. Bunda sendiri adalah blesteran Indonesia korea. 


Bunda sempat tinggal di Jepang sewaktu hamil Ethan, tapi setelah Ethan lahir bunda memutuskan pulang ke Indonesia sendirian, sekaligus mengurus surat perceraian.  Yang Agra tahu dari cerita bunda,  ternyata om Oto bukan penyuka perempuan, jadi pernikahannya dengan bunda hanya untuk menutup aib om Oto, karena om Oto waktu itu adalah seorang Diplomat.


Setelah Ethan SMP. Om Oto menghubungi bunda, meminta agar Ethan tinggal di Jepang. Alasannya klasik! Om Oto tidak punya keturunan untuk meneruskan perusahaannya. Oleh karena itu, om Oto butuh Ethan sebagai pewaris perusahaan besarnya.


Tidak mudah melepas Ethan, walau bunda kekeh agar Ethan mau ke Jepang. Kata Bunda demi masa depan Ethan. Ethan sempat sakit tipus selama sebulan karena stres tidak ingin berangkat ke Jepang. Bunda dan ayah yang setiap hari bertengkar karena ayah tidak mau melepas Ethan. Agra masih ingat perkataan ayah waktu itu, bahwa ayah masih sanggup memberi masa depan yang baik untuk Ethan. 


Agra? Setelah Ethan ke Jepang, Agra menjadi mogok sekolah, jadi biang onar di sekolah, dan menjadi lebih introvert.


Agra benar-benar kehilangan sosok Ethan. Adik laki-laki yang dari kecil bahkan sampai SMP pun masih terus meng-ekor kemana pun Agra pergi.  Bahkan kadang Ethan menunggui Agra di depan kamar mandi saat Agra mandi. 


Di mana ada Agra, di sana ada Ethan. Kecuali saat ayah mengajak Ethan ke panti asuhan milik ibu Agra, Agra tidak pernah mau lagi ke sana setelah ibunya wafat. Atau ayah mengajak Ethan ke kantor saat Agra tidak ingin di dekati Ethan.


Dulu memang Agra sangat risih saat Ethan selalu mengikuti kemana pun Agra pergi. Bahkan saat kecil, saat Ethan mendapat satu buah apel dari temannya di sekolah, Ethan tidak memakan apelnya, melainkan membawa pulang dan menunggu Agra pulang sekolah. Saat abangnya sampai rumah, baru Ethan membagi apelnya menjadi dua, setengah untuk dirinya dan setengah untuk Agra. Bucin sejati.


Hening ....


"Lo.... Sudah kenal Neira?" tanya Agra hati-hati.


"Sudah. Sejak si Sugar tinggal di rumah nyokap udah cerita, cuma baru bulan lalu gue terima fotonya dari nyokap" jawab Ethan santai.


"Sugar?" Agra mengeryit tanda tidak mengerti.


"Neira gue panggil Sugar, Bang. Soalnya manis hehehe. Kata nyokap,  bokap mau angkat Sugar jadi anak angkat, berarti kan otomatis dia adik gue, Bang."


"Jadi lo pulang karena dapat adik cewek? Kalau adik, kenapa lo kiss lips segala? Memang di Jepang ada budaya begitu? Gue baru tahu" sindir Agra.


"Laah si babang ngapa ya? Cemburu lo, Bang? Lo naksir? Emang ada hubungan apa lo sama Sugar gue? 


"SETHAN" gumam Agra, sembari berdiri dan meninggalkan meja kantin.


"Dengar kali gue, Bang." Ethan meringsut mengejar abangnya.


Elaahhhhh bocah, dua-duanya ngapa ya??


***


Di salah satu kamar rumah sakit, terlihat dua sejoli yang sedang asik dengan kegiatan dan pikiran masing-masing.


Neira sibuk mempersiapkan diri di depan cermin, sedangkan Agra sibuk membereskan barang-barang Neira yang akan dibawa pulang.


Setelah semua beres, Neira duduk di tepi ranjang rawat. Dia menggantung kakinya di bawah, menatap jendela kamar yang menunjukan bangunan-bangunan tinggi menjulang ___ Ya Nei di rawat di lantai 10 jadi bisa lihat pemandangan kota dari atas____ Sepintas tiba-tiba terbersit ingatan tentang cowok ganteng bin aneh yang datang ke kamarnya, dengan kelakuan yang tak kalah aneh bin ajaib____Mengingat itu membuat Neira tersenyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Agra yang bingung melihat Neira tersenyum sendiri. Agra masih sibuk membereskan berkas rumah sakit, memasukannya ke tas ransel miliknya.


"Eh.. Apanya?" jawab Neira yang kaget dengan pertanyaan Agra.


"Elo, senyum-senyum sendiri kenapa? Jangan bilang lo mulai gila" ujar Agra ketus, di kepalanya mulai menebak-nebak apa yang sedang di lamunkan Neira __"Pasti lagi mikirin si Setan nih bocah"___ gerutunya dalam hati.


"Huuuhhhhhh.... "Neira hanya memutar bola matanya, menghela napas panjangggg dan beraaattt. Agra dengan segala arogansinya, sudah melekat erat dihafalan Neira.


"Nei...." Agra memanggil Neira dengan lembut.


Agra mengambil posisi berdiri di depan Neira, mengambil kedua tangan Neira dan menangkupnya dalam genggaman erat Agra.


"Sorry"_____ "Maaf untuk semuanya yang udah aku lakuin ke kamu. Aku udah merusak masa depan kamu,  udah nyakitin kamu lahir dan batin,  udah nelantarin kamu, dan.... " ucapan Agra menggantung.


"Dan udah buat aku kehilangan ayah dan Yoga, lelaki yang aku cintai?" Neira menimpali ucapan Agra.


Agra terdiam


Agra menunduk


"Maafin gue Nei. Gue udah ambil segalanya dari lo, tapi gue belum bisa kasih apa-apa ke lo selain rasa sakit. Maaf...." ujarnya lirih menarik Neira dalam dekapannya. Membenamkan kepala Neira dalam dadanya.


Neira hanya terisak, rasanya dunianya berputar seketika. Entah lah.


Lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Seolah menyalurkan kehangatan hati masing-masing,  saling bertukar kerapuhan dalam dekapan, saling memberi kekuatan dalam diam.


Agra melonggarkan pelukan.


"Nei....?" lirih Agra.


Neira hanya diam tanpa ekspresi,  entah dia hilang di dimensi mana sekarang.


CUP___


Agra mencondongkan tubuhnya lebih rapat ke arah Neira. Meng*ecup bibir Neira sekilas, bibirnya masih berada beberapa centi di depan bibir Neira,  menunggu reaksi dari Neira setelah kecupan pertamanya.


Mata Agra menelisik pada mata Neira, mencoba membaca ekspresi perempuan yang berhasil membuatnya belingsatan tadi siang karena cemburu buta.


Tapi, Neira seperti berada dalam dunianya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Agra kembali melabuhkan ciu*man lembutnya ke bibir Neira. Perlahan dan lembut,  dilu*matnya bibir manis Neira seolah permen lolipop, sesekali dihisapnya dalam. Tanpa perlawanan dan tanpa balasan dari Neira.


Napas Agra mulai berat. Bisa dirasakan sudut-sudut wajahnya mulai memanas, jantungnya mulai berpacu tidak stabil. Apalagi sekarang Neira mulai membalas ciu*man Agra tak kalah hangat dan lembut.


Kedua tangan Agra mulai posesif membelai tengkuk Neira dan menekannya, membawa Neira semakin memperdalam ciu*man mereka. 


Napas keduanya memburu, seolah berebut oxygen yang mulai langka di ruangan kamar ini, tersedot hawa panas dari pagu*tan dua insan yang sedang iya-iya lupa daratan.


Agra melepaskan pagu*tannya. Menyatukan kening mereka. Memberi ruang bagi keduanya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum paru-paru mereka mengering.


Tiba-tiba dibenak Agra terbersit kejadian tadi siang saat Ethan mencuri ciu*man di bibir Neira. Ego kelelakiannya langsung meletup.


Agra langsung menjauh mundur satu langkah dan menarik napas panjang membuangnya kasar.


"Emang lo selalu kayak gini ya? Gampang dici*um siapa saja? Hemm? Emang ada bakat ya jadi jal*ang!" wajah Agra memerah penuh emosi, tentu saja dengan nada bicara yang tidak lagi lemah lembut.


Neira tercekat, tak percaya apa yang diucapkan Agra barusan. Perempuan itu menyipitkan mata dan menggeleng pelan. Benar-benar dia harus punya stock kesabaran yang ekstra menghadapi anak mami satu ini!


"TERIMAKASIH. SUDAH MENGINGATKAN SAYA, SIAPA JATI DIRI SAYA TUAN AGRA"


Sarkas Neira lembut penuh penekanan. Tak lupa dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Neira langsung beranjak pergi keluar kamar meninggalkan Agra .... PANAS!!