NEIRA

NEIRA
Bab. 24



Neira.


Aku bersyukur, hari ini aku sudah diijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Sejujurnya aku berharap, bahwa bunda adalah orang yang menjemput ku untuk pulang. Tapi apa mau dikata, hingga detik ini hanya si 'Genderuwo' ini yang ada di rumah sakit. Lelaki paling labil dan menyebalkan sejagat raya.


Kadang aku meragukan bahwa manusia yang sekarang berada satu ruangan denganku ini adalah anak dari tuan Bagas. Sifatnya sungguh berbeda jauh, seperti jarak Matahari ke Pluto. Coba kalian hitung saja sendiri seberapa jauh jaraknya? Kalau untuk aku sendiri? Terimakasih, aku tidak ingin capek menghitungnya.


Bersama manusia satu ini, aku harus punya stock kesabaran yang unlimited.


Tolong garis bawahi! UNLIMITED!


Mood-nya bisa berubah kapan pun tanpa bisa diprediksi. Sedetik baik, dan sedetik selanjutnya bisa sangat tak manusiawi.


Rasanya, aku yang sedang hamil saja tidak se-labil itu dalam berpindah emosi.


Apakah itu pembawaan bayi yang aku kandung? Entahlah. Mungkin saja karena dia bapak biologisnya.


Satu hal lagi yang harus diingat tentang manusia satu ini. Dia adalah perusak momen yang paling handal di dunia. Tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam menghancurkan momen manis menjadi mimpi buruk.


Bayangkan saja, aku sudah terharu dengan perlakuan manis yang dia berikan beberapa hari yang lalu. Menyuapiku, memberikan lelucon garing hanya demi membuatku tidak mati kebosanan di rumah sakit, mengajakku bermain batu-gunting-kertas selayaknya anak kecil yang kurang bahagia, kami tertawa lepas.


Walau awalnya aku sangat marah, karena kejadian yang menyebabkan aku masuk ke rumah sakit. Namun, perlakuan manis itu membuatku luluh juga. Salahkan hatiku yang terlalu rapuh jika menerima kebaikan.


Dan, yang membuatku semakin meleleh seperti es krim yang kepanasan adalah kejadian tadi pagi. Aku menemukan Agra tidak tidur di sofa seperti biasanya, melainkan disisi ku. Berbagi ranjang walau dia hampir terjatuh karena terlalu kepinggir. Berbantal tangan yang bisa aku pastikan akan kebas saat dia terbangun, dengan tangan kanan yang berada di atas perutku, menggenggam erat jemariku.


Oh, andai kami adalah sepasang suami istri yang sedang berbahagia menanti kelahiran sang buah hati. Jangan mimpi!


Begitu mudahnya pertahanan ku untuknya runtuh. Tanpa manusia ini perlu repot-repot membuatkan ku seribu candi.


Bo-dohnya diriku.


Dan Puncak dari semuanya adalah, ketika lelaki ini meminta maaf atas segala kesalahannya selama ini. Bagi seorang Agra? Meminta maaf kepada seorang Neira? Suatu keajaiban yang patut dirayakan.


Aku berpikir, mungkin ini adalah awal yang indah untuk kami berdua kedepannya. Lagi dan lagi pikiran bo-doh ini meracuni diriku.


Hingga aku tak sadar, satu cium*an sudah mendarat di bibirku. Saat kecupan itu hadir, aku sama sekali tidak menyadari. Aku masih melayang terbawa segala pemikiran yang berputar-putar di kepalaku.


Ketika aku sadar, Agra sudah melu*mat bibirku.___Hangat___ Itu hal yang pertama kali terbersit di otakku. Ciu*man penuh perasaan, tanpa menggebu-gebu. Detik tiap detik seolah ter-jeda, melambat dan mengalir begitu saja. Tanpa harus terburu-buru. Aku menyebutnya dengan penuh arti, dan sepenuh hati. Sebagai permulaan yang indah untuk kami berdua.


Dan aku lupa. Bahwa pikiran baik itu hanya ada di kepala ku. Bukan di kepalanya. Aku semakin terbawa arus yang berbahaya.


Semakin lama cium-an kami semakin dalam. Aku meremang dan sisi-sisi telingaku mulai memanas. Saat tangan itu perlahan merayap ke tengkuk ku, dan membawaku pada cium*an yang semakin intens, bukan hanya telingaku yang terasa panas, tapi sekujur tubuhku.


Dan, ke mana larinya oksigen di ruangan ini?


Dan, mimpi indah telah usai nona Cinderella. Aku melupakan siapa Agra. Melupakan rumusan di atas, bahwa dia adalah manusia yang paling ahli dalam merusak suasana.


Terbukti.


Setelahnya, satu kata darinya menampar kesadaran ku telak.


"JALA*NG*


Rasanya, segerobak pasir langsung terlempar ke wajahku. Aku tidak tuli. Tidak salah dengar. Dan aku tidak punya gangguan pendengaran.


Gila saja, jika hatiku dengan santai menerima perlakuan seperti ini. Tapi terlalu tidak elegan jika aku membalasnya dengan cacian.


Siapapun wanita di bumi ini tidak akan rela diteriaki sebagai jala*ng. Bahkan seorang pelac*ur pun. Apalagi aku? Yang keperawanan dan cium*an pertamaku terenggut olehnya.


Setelah mengambil cium*an pertama ku, dia memakiku jala*ng?


HEEL YEAAHHHH... FIX, dia adalah makhluk yang wajib DIENYAHKAN!!


ingin rasanya saat itu juga aku mendorongnya jatuh dari jendela kamar ini. Lumayan, lantai 10. Setelahnya, aku akan tertawa dari atas melihatnya terkapar di bawah sana.


____________________


By the way. Bisa engga sih authornya diganti? Deeta terlalu kejam pemirsa kepadaku 😭😭


***


AGRA.


Gue, sama sekali enggak pernah berniat menyakiti wanita manis di depan gue ini. Gue juga enggak pernah mengerti, kenapa setiap dekat dengan dia, gue selalu lepas kontrol!


Hati gue ingin A, tapi sikap gue justru B, dan mulut gue menjadi terlontar Z. Gue selalu salah tingkah. Bingung harus bagaimana.


Bibir gue dengan lancangnya melontarkan kata 'Jala*ng' begitu saja untuknya. Walau sedetik setelahnya gue menyesal, dan merapal sejumlah isi kebun binatang dalam hati, untuk mengumpati diri sendiri.


Be-Go!


Mana mungkin gue menganggap dia wanita seperti itu. Gue fans berat bibirnya! Mulut gue berhianat gara-gara 'S-ethan' yang tiba-tiba nongol di kepala gue.


Terus, sekarang gue harus bagaimana? Dia meninggalkan gue begitu saja. Memang, dia berkata dengan lembut dan senyum manis. Tapi, langsung menusuk tepat di jantung gue. Rasanya seperti jatuh tertimpa se-truk mangga, ketiban duren sekaligus se-pohonnya.


Ya nasib.... Ya nasib.