
"Abang.... "
"Iya.... "
"Abang, jangan tinggalin aku lagi ya"
"Engga akan pernah"
"Walau nanti Abang sudah ada wanita lain?"
"Tetap kamu prioritas dalam hidup Abang"
"Sungguh?"
"Iya, Abang janji"
***
Pagi yang sangat bersahabat. Langit cerah, udara sejuk nan semilir, ditambah kicauan burung-burung kecil yang bersahutan di rindangnya pohon beringin halaman rumah keluarga Bagaskara.
Namun, damainya suasana pagi ini sangat bertolak belakang dengan suasana yang terjadi di ruang makan. Drama opera sabun 'Ngambeknya Sang Putra Mahkota' masih berlanjut.
Semua berawal dari keisengan Ethan. Disaat semua telah bersiap untuk sarapan, dan sudah menduduki kursi masing-masing. Lelaki itu tiba-tiba saja bangkit berdiri, berlari sebentar ke kamarnya. Dan disaat kembali, pria itu bukan kembali ke tempat duduknya, melainkan pergi ke arah Neira. Dengan cekatan Ethan meraup rambut Neira dari arah belakang wanita itu. Merapikan dengan jarinya, mengumpulkan jadi satu, lalu mengikatnya dengan gaya cepol yang sedikit berantakan.
Sebenarnya ini bukan hal yang berlebihan. Semua orang di rumah ini juga tahu, Ethan tidak suka melihat wanita menggerai rambutnya disaat sesi makan. Tapi, semua jadi berlebihan di mata Agra.
'Kenapa harus dibantu? Bukankah bisa, Ethan cukup memberi tahu bahwa Neira harus mengikat rambutnya saat makan?'
'Dan satu lagi! Pentingkah, memberi pemanis berupa satu kecu*pan di pipi?'
HELL YEAAHH.... Agra ingin membakar adik tunggalnya ini hidup-hidup.
Setelahnya, Neira memandang Ethan penuh selidik seolah berkata 'Sengaja banget sih, menuang minyak di bara api?'. Yang hanya disambut acuh oleh Ethan, alias BO-DO AMAT!!
Sekedar informasi. Meja makan di rumah ini berbentuk persegi panjang dengan enam kursi. Biasanya, keluarga ini makan dengan bangku sebelah kanan akan diisi ayah, bunda, dan Agra. Lalu di bangku kiri akan ada Neira yang berhadapan dengan Agra dan mak Oni berhadapan dengan bunda.
Dengan formasi seperti itu, Neira terbiasa menyiapkan nasi untuk piring Agra dan mak Oni. Bunda menyiapkan nasi di piring ayah. Tapi pagi ini berubah.
Ayah, bunda dan mak Oni satu deret. Di hadapan ayah, ada Agra. Di hadapan bunda, kursi Ethan. Dan di depan mak Oni ada Neira. Yang artinya, Neira berada di dekat Ethan dan jauh dari Agra.
Alhasil, Neira hanya menyiapkan nasi di piring Ethan dan mak Oni.
"Gue ngga diambilin nasi?" tanya Agra ketus.
"Kan jauh, Abang. Lagi pula, Abang ambil sendiri bisa kan?" saut Ethan yang malah menyulut api dalam diri Agra kian membara.
Dan seketika ruang makan berubah horor !!!
Setelah banyak mata yang saling melirik, akhirnya Neira mengalah. Menghela napasnya dalam dan berdiri kembali, bersiap mengambil piring Agra.
"Ya sudah, sini aku ambilin." sudah semanis mungkin sebenarnya Neira berucap, karena tidak enak hati dengan bunda dan ayah yang diam menunggu mereka.
"NGGA USAH!! TELAT, UDAH NGGA LAPER" ucap Agra penuh penekanan.
Neira shock. Rahangnya hampir jatuh karena terbuka lebar.
"Bunuh aku aja sekalian. Bayi tua ababil" batin Neira.
Tobat nak tobat!!
***
10.00 wib.
Neira sedang sibuk menjemur pakaian di belakang. Setelah tadi Ethan membantunya mencuci, dan membawakan baju basah ke belakang. Pria itu sekarang sedang mengantarkan bunda dan mak Oni berbelanja.
Baru beberapa saat Neira berdiri, namun Agra tiba-tiba datang dan menarik tangan Neira ke dapur.
"Apaan sih, Gra? Saya masih jemur pakaian. Engga bisa lihat?" sungut Neira protes. Iya dong, kenapa sejak ada Ethan, manusia satu ini bertingkah seperti anak usia dua tahun yang sedang tatrum.
"Gue laper" katanya.
"Ngga perlu, ambilin aja" Agra duduk di minibar dapur.
Neira menggeleng perlahan, namun tetap menuruti keinginan Agra. Repot!!
"Silahkan" tutur Neira, setelah meletakkan sepiring nasi komplit dengan lauk pauk di atas meja minibar. Tapi Agra masih cemberut.
Masa bo-do. Neira ingin beranjak meninggalkan Agra. Tapi buru-buru dicekal oleh Agra. Neira terdiam sejenak, mengamati Agra. "Masih aja lucu wajahnya walau cemberut. Tapi tetap aja ngeselin" batin Neira.
"Apa lagi, sih?" manusia satu ini tidak tahu apa, kalau dirinya sedang repot.
"SUAPIN!"
Tunggu.... Tunggu.... Tunggu... Ini Neira tidak salah dengar, kan? Atau, telinganya memang sedang gangguan?
"Suapin?" tanya Neira, dan Agra hanya mengangguk sembari masih bermain ponsel.
"Ya ampun, Gra! Sejak kapan jadi manja? Masih punya tangan kan, untuk makan?"
Neira benar-benar dibuat heran oleh tingkah Agra hari ini. Tadi pagi marah tidak jelas, mogok makan. Sekarang lapar minta disuapi pula. Tidak konsisten!.
"Mulai sekarang, kenapa? Mau protes? Keberatan? Ya sudah kalau ngga mau. Gue ngga jadi makan! kalau maag gue kambuh, itu semua karen lo. Tanggung jawab. Titik!" jawab Agra ketus dan hendak berdiri.
Neira menghela napas panjang.. Ok. Lagi dan lagi dia harus mengalah pada 'bayi' besar ini.
"Ok.... " Neira mengambil duduk di samping Agra, "Kalau bapaknya manja kaya begini. Apa kabar anak ku nanti? ya.... Nasib." gerutu Neira, tanpa peduli Agra mendengarnya atau tidak. Perduli amat.
Dan menyuapi 'bayi besar' ini ternyata menjadi ritual yang sangat merepotkan bagi Neira. Ada saja yang lelaki itu permasalahkan. Nasinya terlalu banyak, lah. lauknya terlalu sedikit, lah. Nyuapinnya kebesaran, lah. Kekecilan, lah. Nasinya masih terlalu panas. Kuahnya kurang.
Ya Tuhan.... Ingin rasanya Neira menambahkan Sop yang ada di mangkok ini ke atas kepala Agra.
Sabar.... Sabar....
Tapi, di tengah kekesalan Neira yang menggunung, ada hal manis yang tidak Neira lewatkan. Sepanjang dia mendengarkan mulut Agra yang cerewet itu, sepanjang itu pula Neira menikmati senyum manis Agra. Lelaki itu tak berhenti tersenyum, ada sorot jenaka di matanya yang malu mencuri pandang ke arah Neira.
Berada sedekat ini dengan Agra, kenapa jantung Neira tiba-tiba jadi berolahraga? Beberapa kali Neira berdehem dan menelan ludahnya sendiri, menutupi rasa gugup dan juga salah tingkahnya.
Mungkin wanita itu juga tidak sadar. Bahwa, sepanjang dia berada di dekat Agra, pipinya selalu bersemu merah.
"Nei.... "
"Iya.... "
CUP
"Bibir lu,____manis!"
"Eh..... ¥&*@%¥%¥@*¥:"*¥"
________________________
Uhuk....Uhuk....
Mendadak keselek kodok nih yang nulis.
Jadi laper, Eh salah... Baper, maksudnya. 🤭🤫
Episode ini spesial untuk kalian yang kemarin malam sudah menggila di kolom komentar. Terima kasih.
Karena kebijakan yang baru dari NT. Boleh dong aku ikutan Author lainnya untuk minta like dan komentar yang banyak dari pembacaku tercinta sekalian. Rate juga bagi yang belum memberi tanda Bintang. GRATIS lho.
Vote Koinnya jangan lupa 🤪
Kalau enggak ada vote koin, Deeta ngambek enggak bakal Update lagi! Boleh dong, ketularan manjanya si Agra?
Hahahha... Becanda deh 😘
Tapi engga nolak juga. Serius! Sumpah! Mi apah? Mie goyeng. 😎🙄😒