
Jalanan pagi ini cukup sepi, mungkin karena hari libur. Semua orang sibuk liburan ke luar kota.
Tapi di dalam mobil Agra, jauh lebih sepi dari pada jalanan yang sedang mereka lintasi. Hanya terdengar detak jantung sepasang manusia yang sedang mute mode:on.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing..
"Kenapa Agra jadi perhatian? Jangan bilang dia sudah mulai sayang sama anak ini? ngga mungkin!! Orang tidak mungkin berubah secepat itu. Aku tahu bagaimana dia begitu benci ke aku dan anak ini. Dia sering bilang ingin bunuh anak ini. Lalu, apa maksud perlakuan dia selama dua hari ini yang begitu baik. Apa dia mau mengecoh?? Mengelabui aku demi untuk memusnhkan aku dan anak ini?? Itu enggak akan pernah aku biarkan terjadi, Gra."
"Gue engga tahu harus bagaimana terhadap elo. Gue sendiri enggak pernah tahu perasaan gue sebenarnya kayak gimana ke elo. Pagi ini, saat dekat sama elo, gue merasa lepas; merasa damai; gue ngerasain bahagia pagi ini deket sama elo. Saat sekarang kita saling diam kayak gini, hati gue rasanya kosong. Tapi, gue engga mungkin jatuh Cinta sama lo secepat ini. Gue cuma Cinta Larasati, bukan yang lain. Mungkin, gue hanya iba sama lo? Atau mungkin, karena gue sayang sama darah daging gue? Itu yang membuat gue pengen melindungi elo. Iya, pasti karena itu. Hanya karena itu"
hening memainkan peran yang sempurna bagi keduanya, hingga suara ponsel Agra merusak segalanya.
Agra menatap layar ponselnya.
Lara!!
Agra diam sejenak, berpikir haruskah dia angkat atau tidak? Entah, tiba-tiba dia merasa tidak punya hati untuk menerima telepon itu di hadapan Neira. Tapi perasaan itu segera Agra singkirkan.
"Pagi, Ra"
"Pagi Honey, hari ini ngantor ngga? Kangen banget nih. Kamu jarang ngantor sejak pulang ke rumah" Khas suara manja Lara
"Kantor libur hari ini."
"Kamu kapan sih balik ke apartemen? Masih lama ya renovasinya? Apa aku main ke rumah kamu aja?"
"Jangan ke rumah. Ayah sama bunda masih marah sama kamu. Nanti malam aja kita ketemuan di luar ya, sekalian nginep di apartemen kamu."
"Serius ya? Makasih Honey.. Lup u"
Agra langsung memutus panggilan teleponnya tanpa menjawab pernyataan Cinta Lara. Dia melirik ke arah Neira, yang hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya.
Keheningan pecah ketika Neira tiba-tiba berucap "Kalau nyonya dan tuan engga setuju sama pacar kamu, kamu buat hamil saja pacar kamu. Pasti tuan dan nyonya mau tidak mau harus merestui kamu dan pacar kamu"
Neira membuang pandangannya keluar jendela mobil, dadanya rasa seperti ditimpa ribuan ton batu kerikil saat mengucap kalimat itu ke Agra. Susah payah dia menahan agar air matanya tidak lolos keluar. Tangannya memeluk erat perut buncitnya, tak henti-henti mengelus dengan ibu jari.
Agra sedikit kaget saat mendengar ucapan Neira. Dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya wanita di sampingnya ini rasakan dan pikirkan.
***
Mereka tiba di rumah. Masih dengan saling diam.
"Assalamualaikum" salam Agra ketika sudah sampai rumah. Salim tangan ke ayah dan bunda yang memang sedang bersantai di ruang keluarga. Begitupun dengan Neira.
Agra langsung mengambil posisi duduk di sofa depan ayah, dan Neira setelah cium tangan langsung bergegas hendak ke belakang kembali ke kamarnya.
Tapi baru beberapa langkah__
"Yah, Agra mau ajak mbak Neira tinggal di apartemen" ucap Agra to the point kepada ayahnya, tapi mata Agra masih fokus menatap punggung Neira yang sudah akan berlalu meninggalkan ruang keluarga itu.
Ayah dan bunda langsung menatap Agra dengan sedikit kebingungan, tapi masih memberi waktu untuk Agra menjelaskan. Ayah dan bunda masih diam menunggu kelanjutan ucapan Agra.
Emosi Neira tiba-tiba memuncak. Mungkin karena hormon kehamilannya, tapi bisa juga karena emosi dan sakit hati yang selama ini dia pendam ke Agra sudah menumpuk dan tidak bisa dibendung lagi. Akumulasi dari semua peristiwa menyakitkan yang dilakukan Agra berputar putar di kepala Neira.
Neira menatap Agra tajam, tubuhnya bergetar hebat, bahu wanita itu berguncang seolah bendungan air matanya sudah akan jebol dan tidak bisa dikendalikan lagi. Naoas Neira tersengal-sengal menahan semua marahnya kepada Agra.
Ayah dan bunda mengamati dengan tanda tanya besar dipikiran mereka masing-masing, melihat reaksi Neira dan tatapan Neira ke Agra "apa yang terjadi dengan dua anak ini?? " tanya itu yang bersemayam di keduanya.
Neira menghampiri Agra dengan histeris!!
"Kamu mau apa lagi, Gra?? "
"Masih kurang kamu hancurin aku??"
"Masih belum puas nyakitin aku??"
Teriak Neira diiringi tangis yang sudah meluap tak terkendali.
"Apa lagi yang mau kamu ambil dari aku??"
"Aku salah apa sama kamu, Gra??"
"Sampai kamu tega habis-habisan hancurin hidup aku."
"Aku udah lakuin semua yang kamu ingin, Gra"
"Aku ngga minta apapun dari kamu, sedikitpun!!"
"Kamu minta aku pergi? Aku sudah pergi Gra, tapi kamu sendiri yang nyeret aku balik lagi ke sini"
"Jadi kamu mau apa lagi?"
"Enggak!! Aku ngga akan ke apartemen kamu!! ngga akan aku biarin kamu dengan mudah bunuh anak ini Gra. Bunuh aku dulu kalau kamu mau bunuh anak ini"
Agra merapatkan rahangnya. Rasanya Neira menancapkan pisau tepat di inti jantung Agra. Agra tak peduli lagi dengan air matanya yang dari tadi sudah jatuh. Dia tidak bis mengelak, hatinya sangat sakit melihat Neira seperti ini, apalagi itu memang benar karena dirinya. kata-kata Neira membuat hati Agra porak poranda.
Melihat Neira yang sudah histeris hilang kendali, Agra langsung memeluk Neira erat. Mencoba membawa Neira dalam dadanya. "Maaf, Nei.__maaf" hanya kata itu yang terus keluar dari mulut Agra. membenamkan raut wajah Agra ke puncak kepala Neira.
"Lepasin, Gra.. LEPASINNN!!!" teriak histeris Neira. Tapi Agra bergeming.
"Dosa ku ke kamu apa, Gra??" suara Neira melemah ditelan isak tangis.
"Engga Nei, kamu ngga salah apapun. Aku yang sepenuhnya salah. Aku minta maaf. Aku yang berdosa sama kamu."
Lutut Neira sudah mulai lemah, dan Neira roboh dalam pelukan Agra.
Agra menepuk pipi Neira, berusaha membangunkan Neira. Tapi nihil, wanita itu sudah jatuh pingsan. Agra hanya bisa memeluk Neira dan membenamkan tubuh lemah itu lebih dalam lagi ke pelukannya.
"Maafin gue, Nei"
___________________________________