
Sunyi menyelimuti Neira dan Agra selama perjalanan pulang dari rumah sakit menuju kediaman Agra.
Setelah insiden ciu*man panas di rumah sakit, Agra memutuskan untuk diam tak tahu harus memulai dari mana agar semua kembali cair. Dan Neira pun hanya memandang ke arah luar jendela, dia perlu menenangkan diri, menstabilkan emosi agar tidak 'memakan' Agra hidup-hidup.
2 jam berjibaku dengan kemacetan ibukota. Akhirnya mobil Agra sampai di pekarangan rumah kediaman keluarga Bagaskara.
Terlihat ayah dan bunda yang sedang duduk santai di teras menikmati teh pagi, dan Ethan yang sedang membantu mak Oni membersihkan rumput halaman depan, saat Agra dan Neira keluar dari mobil.
"Loh, Neira pulangnya hari ini?" kata bunda dengan tatapan heran, bertanya pada Neira yang lebih dulu menginjakkan kaki di teras. Agra masih di belakang mengeluarkan barang-barang Neira dari mobil "Kok Agra ngga kasih tahu orang rumah Nei pulang hari ini?" lanjut bunda.
"Iya, Bun" ucap Neira sembari mencium tangan ayah dan nunda.
Neira menggerutu dalam hati. Pantas saja cuma Agra yang menjemputnya. Ternyata si tuan 'Genderuwo' main rahasia.
"Eh, si cantik sudah pulang" suara itu mengagetkan Neira.
Reflek Neira berbalik dan mata Neira terbelalak bingung, tidak percaya melihat Ethan dengan celana jeans pendek selutut dan kaos ketat warna navy sedang melangkah ke menuju ke arahnya.
Sesaat kemudian.
Tubuh Neira menegang, saat Ethan dengan seenaknya langsung memeluk dirinya erat dan menghujani Neira dengan kec*upan di kedua pipi dan keningnya.
Neira hanya bisa terdiam di tempat menerima perlakuan Ethan tersebut. Bingung, tidak percaya, aneh, semua rasa itu bercampur jadi satu.
"Perut Neira tergencet" ucap Neira lirih di tengah pelukan Ethan.
"Uppss.... Maaf, Sayang." ujar Ethan.
Ethan melonggarkan pelukan. Dan menahan tawa saat melihat wajah Neira yang masih terlihat kebingungan. Tapi jelas, mata Neira tidak bisa menyembunyikan pancaran kekagumannya kepada Ethan.
Lelaki itu sedikit membungkuk, mencondongkan tubuhnya ke depan agar sejajar dengan wajah Neira. Lalu berbisik pelan di telinga Neira.
Seolah baru bangun dari mimpi, Neira tersadar dan mundur satu langkah. Alisnya menyatu nampak kebingungan dan juga malu.
Ayah menahan tawanya, sedangkan bunda justru terlihat bingung melihat reaksi Neira.
"Kenapa Oppa Korea ada di sini?" Neira berkata gugup sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah Ethan, dengan wajah yang polos dan pucat karena bingung.
Sontak semua yang di sana tertawa. Termasuk mak Oni. __Tapi, makhluk di samping mobil sepertinya tidak tertawa, justru wajahnya ditekuk sempurna.
Tawa Ethan meledak.
"Ya, di sinilah. Kan mau nemenin kamu." kata Ethan, tak lupa mencubit pipi Neira.
"Ini Ethan. Adiknya Agra, baru pulang dari Jepang. Otomatis jadi abang kamu juga. Kemarin sudah bertemu,kan? Memangnya belum kenalan?" kata Ayah.
Neira hanya menggeleng tak percaya, dan Ethan segera mengacak sayang pucuk kepala Neira.
BUUGH....
Agra dengan kasar melempar tas Neira ke depan kaki Neira. Membuat semua orang memicingkan mata heran.
"Nih bawa sendiri, masih punya tangan, kan?" ucap Agra ketus, sembari berlalu melewati semua orang dan masuk ke kamarnya. Tak lupa adisi terbatas bantingan pintu sebagai iklan penutup.
"Agra.... " bentak ayah yang tidak di hiraukan oleh Agra.
Berbeda dengan ayah yang emosi dan bunda yang masih bingung. Tawa Ethan malah langsung meledak saat itu juga.
"Ciee.... Berhasil bikin abang Agra cemburu niyeee." ledek Ethan sembari mencubit hidung mancung Neira.
.