NEIRA

NEIRA
Bab. 36



05.00


Setelah sholat subuh Ratih dan Bagaskara langsung memacu mobilnya, kali ini ditemani Pak Imin sebagai supir, menuju apartemen Agra.


"Kenapa ngga langsung bangunin Ayah sih Bun semalam, kan bisa langsung ke sana" wajah ayah sungguh tidak santai.


"Aduh ... Tenang dulu Ayah. Jangan panik! Kan kita ngga tahu Agra parah atau tidak?" walau wajah bunda sendiri justru tak kalah panik dari ayah.


"Tapi kan udah lama Agra ngga kaya gini lagi Bun, gimana Ayah ngga cemas?" ayah mengusap wajahyanya kasar.


Nge-dropnya mental Agra bukan masalah sepele bagi ayah dan bunda.  Trauma masa kecil Agra tidak bisa di anggap remeh. Butuh waktu dua tahun kunjungan rutin ke terapis mental kala itu, untuk memulihkan kondisi mental Agra kecil.


"Masalah apa kira-kira? Ngga mungkin Agra kambuh kalau tidak menyangkut masa lalu, Bun."


"Bunda juga ngga paham, tapi kemarin sore waktu Bunda telepon panti, Bude Jamilah bilang Agra ke sana beberapa hari yang lalu.  Sorenya, Ethan yang datang ke panti. Mereka nanyain Neira. Bunda juga ngga paham apa hubungan Neira,  Agra, Ethan dan panti?"


Ayah berdecak tidak sabar. "Cepetan Pak Imin, cari jalan pintas saja" ayah mengerang frustasi.


Ethan memang tidak pernah cerita tentang Rara kecil kepada bunda,  hanya Ayah yang tahu cerita itu.


Semua seperti benang kusut bagi bunda. Teka-teki kenapa Agra tidak mau ke panti sejak ibu-nya wafat juga masih bergentayangan di pikiran bunda dan ayah. Terapis saat itu hanya bilang, sepertinya Agra trauma melihat ibunya di sana.


Satu hal yang bunda pahami dari Agra. Sedari kecil, Agra adalah orang yang selalu lari dari masalah. Tidak pernah berani menghadapi masalahnya sendiri jika itu menyangkut keluarga atau orang yang disayanginya. Lebih memilih untuk menghindar, pergi, dan mengalah. 


Diam merupakan sikap Agra yang paling tidak bisa ditolerir, dia menyembunyikan segala perasaannya dari banyak orang. Tertutup dan tidak ingin diusik. Melihat Agra bisa mengeluarkan sebagian sisi emosionalnya kepada Neira, adalah suatu kemajuan yang dilihat ayah. Itu alasan kenapa ayah ingin menikahkan Agra dengan Neira, selain karena memang Agra harus bertanggung jawab.


Itu juga mungkin yang dilihat oleh Ethan dan menjadi salah satu alasan Ethan melepaskan Neira untuk Agra.


Agra mudah memberi respon kasih sayang ke orang lain, walau terlihat cuek. Tapi Agra tidak pernah bisa mengeluarkan emosinya dan amarahnya selama ini sebelum bertemu dengan Neira. 


***


"Ibu.... Ibu.. Ibu..... " bocah 9 tahun itu nampak kerepotan membawa kardus di tangannya.


Dia berjalan pelan ke arah rumah peninggalan Belanda memanggil ibunya.


"Apa itu sayang? Dapat dari mana?" sapa sang ibu yang menyambutnya di depan pintu.


"Ibu, Agra nemu dedek bayi di bawah pohon beringin depan." jalannya tergopoh setelah melihat Ibunya


Ibu langsung berlari ke arah Agra,  mengambil kardus di tangan putra semata wayangnya itu.


Bukan hal aneh jika ada bayi yang diletakkan sembarangan di area panti asuhan oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anaknya.


"Cantik!" Agra menoel-noel pipi bayi mungil yang sekarang berada di pangkuan ibunya. Bayi perempuan dengan mata besar dan senyum yang sangat manis.


"Agra mau kasih nama adik bayinya?" kata ibu.


"Mmmm ... " Bocah itu tampak berpikir, matanya mengerjap lucu, satu tangannya ditopang di dagu seolah sedang berpikir serius.


Ibu dan semua yang ada di ruangan itu tersenyum geli melihat betapa lucunya ekspresi Agra kecil.


"NEIRA!" sautnya lantang, dengan senyum penuh kemenangan seolah dia baru saja mendapat layangan jatuh.


"Kenapa Neira, Sayang? " ibu kembali bertanya.


"Mmm ... Karena nama ibu Neisila, digabung sama nama Agra. Jadinya Neira deh" senyumnya tak lepas, menunjukan deret mungil gigi-gigi putihnya. Dan disambut gelak tawa seisi ruangan.


"Adik Nei jangan nangis ya. Nanti Abang jadi Superman buat lindungi adik Neira" Agra mem-beo sembari terus menoel-noel pipi Neira yang kemerahan.


"Janji ya, Sayang. Adiknya dijaga,  seperti Agra jaga adik Ethan?" ibu menatap lembut putranya.


"JANJI!" masih dengan senyum yang tersungging.


"Mau dibawa pulang ke rumah, Bang Adiknya?" tanya bude Jamila.


"Jangan.... Nanti dicubitin dedek Ethan, Adik Ethan suka gemes. Nanti kalau adik Neira nangis dicubit, Agra sedih" katanya sembari mencebik lucu.


.


.


.


.


"Ibu, Abang boleh suapin Adik Neira ya?"


"Adik Neira, Abang ikut mandiin ya ibu?"


"Ibu, adik Neira Abang yang gendong. Boleh?"


"Ibu, Abang bobo siangnya sama adik Nei ya?"


.


.


.


5 bulan kemudian


"Ibu... Abang boleh ambil tabungan Abang?"


"Buat apa, Abang?"


"Buat beli boneka dan baju dedek Nei sama mainannya dedek Ethan. Boleh ya, Ibu?" dengan tatapan memohon, Agra meminta kepada ibunya.


"Katanya mau ditabung, buat beliin Adik Ethan sepeda?"


"Nanti nabung lagi Ibu, 


boleh ya" rengeknya untuk kesekian kalinya.


"Memang Abang punya banyak tabungan, Bang?" tanya bude Jamilah.


"Banyak Bude. Abangkan ngga pernah jajan kalau sekolah, ditabung. Kata Ayah harus rajin menabung"


"Anak pintar." bude Jamilah mengusap kepala Agra dengan lembut dan penuh kasih sayang.


.


.


.


Sampai hari itu tiba 1 tahun kemudian


"Adik ... Pelan-pelan jalannya nanti jatuh!" teriaknya saat mengajari Neira berjalan___tapi ...


Bruuukkk ...


Neira menangis, menjerit saat terjatuh tersandung kaki meja. Kepala gadis kecil itu berdarah terbentur pinggiran lantai.


"Abang ... Kenapa adiknya ngga di jagain? Kok bisa sampai berdarah?" Ibu panik menghampiri Agra dan meraih Neira dalam pangkuannya.


"Adik maaf... Adik maaf... Ibu maaf... Adik maafin Abang ngga bisa jagain adik... " Agra menangis ketakutan dan merasa bersalah. Bagaimanapun, ayah selalu berpesan 'Agra jagain Ibu, Ibu sedang sakit, jangan buat Ibu marah ya, Jagoan.' hampir setiap hari ayah mengingatkan kalimat itu ke Agra. Kalimat itu seolah terpatri begitu saja di alam bawah sadar Agra.


Saat Neira sudah diambil bude Jamila dari pangkuan ibu, sesuatu diluar perkiraan Agra terjadi.


Agra panik dan ketakutan saat melihat darah segar keluar dari hidung ibunya terlalu banyak.


"Ibu ... Maaf Agra salah" Agra perlahan mengambil langkah mundur, raut wajahnya pucat pasi. 


"Maaf ... Maaf ... " kata itu yang terus Agra gumamkan dari bibir kecilnya,  langkahnya terus mundur, air matanya terus turun.


"Engga sayang ... Bukan salah Agra,  Abang sayang sini sama ibu" Ibu terus berusaha meraih Agra tapi tubuhnya kian lemah dan akhirnya tersungkur tepat di depan Agra.


Tanpa bangun lagi... Dan akhirnya benar-benar 'pergi' meninggalkan Agra dua minggu setelahnya.


Agra berlari menjauh, tubuhnya bergetar hebat, Agra memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil.


"Jaga Adiknya, Agra... Jaga ibu, Agra... "


Kata-kata itu terus muncul di kepala bocah lelaki kecil itu. Dia meringkuk ketakutan, menyesal, merasa bersalah. Agra menangis di sudut ruangan kamar Neira, dibalik ranjang bayi Neira yang Agra beli sendiri beberapa bulan lalu.


***


Kilasan masa lalu itu malam ini menghantuinya. Menari disetiap sudut kepala Agra.  Menjatuhkan Agra di titik paling dasar dalam dirinya.


Hatinya merintih. Jutaan pisau tertancap di sana dan entah kapan tercabut nantinya.


Keringat dingin terus bercucuran,  meringkuk memeluk dirinya sendiri yang menggigil di sudut ruang kamar.


"Maaf ... Maaf ..." Hanya kata itu yang sedari tadi terus keluar dari bibirnya. Bergumam bagai berbicara pada dirinya sendiri.


Benteng pertahanannya runtuh. Dia malam ini kembali ke lembah hitamnya yang terdalam. Gelap dan sendiri. Hanya ada penyesalan dan rasa berdosa.


🥀🥀🥀


Saat seseorang tersakiti oleh Cintanya sendiri, maka hanya dengan Cinta pula dia dapat terobati.


To be continue