
Fou sedang menunggu Febi di depan kios pulsanya. Si Febi sedang masuk ke dalam rumahnya karena tangki airnya sudah meluber.
"Eh ada bu guru perawan tua..."
Fou mendelik, sapaan yang gak ada hormat-hormatnya, tapi mengetahui siapa orangnya Fou segera fokus ke hpnya lagi, dia sedang memeriksa beberapa tugas dari murid lesnya. Fou hanya memperbaiki cara duduknya di bangku kayu panjang depan kios Febi ini.
Fou bersikap mengabaikan Vinzy, udah gak level meladeni anak ingusan walaupun ada rasa jengkel terhadap mulut kurang ajar istri sang mantan ini.
"Kasihan banget saingan sama aku, kak Je lebih memilih aku lah... udah gak ada kesempatan ya, jangan coba-coba jadi pelakor."
Fou menulikan telinga, tapi seringai sinis sempat muncul sejenak. Siapa di sini yang gak tahu riwayat dan kondisi pernikahan mereka? Tapi Fou bersikap sabar aja, Fou gak mau terpancing bersilat lidah dengan remaja yang terlihat gak punya ahlak yang bener ini, terutama gak mau hal ini jadi hot gosip di lingkungan ini.
Dalam hati...
Kasihan banget kamu Jerol, ganteng, kaya, penyayang, baik banget... tapi malah mendapatkan istri model begini...
Fou mengenyahkan pemikirannya tentang Jerol. Kenapa harus iba, itu pilihannya sendiri.
"Kasihan juga, meskipun PNS, kalau gak dilirik lelaki, apa bagusnya? Gak laku-laku, walau pun cantik... Eh tapi cantikan aku dong, kak Je milih aku dan sekarang aku hamil anaknya."
Fou sedikit emosi dan merasa perlu menghentikan mulut anak ini. Tapi saat memandang dan menelisik wajah anak itu. Fou akhirnya hanya bisa menatap iba, jadi merasa kasihan. Hati seorang guru selain mengajar juga selalu terpanggil untuk memperhatikan juga keadaan psikis muridnya.
Di hadapannya ada remaja dan jelas tergambar wajah yang tidak bahagia bahkan terlihat baru habis menangis. Seorang remaja yang belum wajar sebenarnya untuk menjadi ibu tapi karena salah bergaul harus menerima kenyataan ini, sekalipun dinikahi tapi tentu mentalnya belum mampu memikul bahkan keadaan dirinya sendiri.
Fou hanya bisa merasa heran masih aja bibirnya mengatakan hal yang buruk tentang orang lain. Fou masih menatap Vinzy, tidak ada tatapan marah tapi itu membuat Vinzy mengalihkan pandangannya, gak kuat melawan aura bu guru di sampingnya ini.
Sejujurnya dia sempat mengidolakan bu guru yang satu ini, meskipun dia murid reguler tapi dalam beberapa kegiatan sekolah bu guru binsus ini yang tampil sebagai MC, dan dia jadi tahu bu guru yang masih single ini jadi guru idola banyak murid dari tahun ke tahun. Dia bangga bertetangga dengan si bu guru. Tapi rasa sukanya pada si bu guru ini berubah saat tahu bu guru cantik ini mantannya cowok pemilik kost yang jadi incarannya.
"Enci* sorry menunggu lama... tadi mintanya yang berapa giga?"
(*sapaan pada guru wanita di daerah ini)
"Yang 51 Giga aja Feb..."
"Oke... bentar ya... nah udah, Enci..."
"Makasih Feb..."
Selesai mengecek bahwa kuota sudah masuk Fou sekilas menatap Vinzy, dan yang dia temukan adalah pandangan Vinzy yang terlihat kalut tidak seberani biasanya.
"Jaga dengan baik kandunganmu ya... semoga lancar saat melahirkan."
Fou memilih bersimpati saja dari pada memusuhi. Pengalamannya berhadapan dengan banyak murid yang di antaranya ada yang bermasalah, membuat dia tahu masa transisi seorang anak tidak mudah, dan tidak ada faedahnya memberikan punishment dan memberikan judge pada perilaku anak yang buruk.
Fou mengusap sebentar lengan Vinzy lalu naik ke motornya dan pergi meninggalkan kios Febi. Fou tidak melihat cibiran Vinzy serta gerakan Vinzy yang menjauhkan lengannya serta cetusan bibir jahatnya.
"Sok baik.."
"Fou memang baik kok..."
Febi dalam hal ini lebih memihak Fou tentu saja, si Vinzy dan kelakuannya membuat orang di lingkungan ini beramai-ramai tidak menyukainya.
"Tapi bu guru itu sainganku."
"Saingan? Kamu udah jadi istri Jerol, Fou cuma mantannya Jerol. Kamu cemburu ternyata?Padahal Enci gak pernah mengganggu rumah tanggamu kan? Kamu aja yang menuduhnya selingkuh sama suamimu."
"Aku tahu kok kak Je masih cinta sama bu guru itu. Banyak foto mereka di kamar kak Je."
"Ya udah Vinzy... itu masa lalu mereka, terima aja... salah suamimu masih menyimpan fotonya Enci bukan salahnya Enci itu, lagian kamu masih anak kecil kali saat mereka pacaran. Emang kamu sendiri gak punya mantan?"
"Punya dong, emang cuma bu guru itu yang cantik, aku juga cantik makanya kak Jerol nikahin aku."
"Eh?? Kalau kak Jerolmu marah karena kamu punya mantan gimana?"
"Ya kan udah mantan."
"Lah sama, Fou juga udah mantan kenapa masih cemburu?"
Vinzy manyun gak menjawab.
"Mau beli apa kamu?"
"Mau beli kuota."
"Mending kamu fokus mikirin kandunganmu, mikirin bayimu... udah mau lahiran gak boleh stress."
"Gimana gak stress, mereka semua gak peduli padaku, mama mertua cuekin aku, si Jilly nyindir aku tiap hari, kak Je apalagi, katanya mereka mau tanggung jawab... aku mau pulang lagi aja, udah gak tahan gak dianggap sama mereka, kenapa mereka harus minta aku ke sini?"
"Ya abisnya kamu bikin huru-hara terus, mencoreng nama baik mereka, gimana mereka mau sayang dan peduli sama kamu... syukur mereka peduli sama anakmu. Makanya bersikap baik sebagai istri dan sebagai menantu keluarga itu, belum terlambat kok, kalau kamu berubah pasti mereka berubah..."
Vinzy mengusap pipinya yang basah.
"Udah... kuotamu udah terkirim..."
Si Febi merasa kasihan juga pada perempuan yang sudah kesusahan dengan perut besar tapi tertekan batinnya.
Vinzy langsung menelpon di depan kios itu, duduk di sebuah bangku papan yang disediakan Febi di depan kiosnya.
.
"Ma? Jemput aku sekarang."
...
"Gak mau, aku gak mau di sini. Kalau mama gak jemput aku pesan taxi gelap."
...
"Aku melahirkan di puskes aja, gak mau di rumah sakit, gak mau bersama mereka."
...
"Biarpun mama mertua ingin merawat bayi ini, aku gak mau bayi ini mereka urus. Aku juga gak akan ijinkan mereka melihatnya kalau udah lahir... aku udah putusin gak mau sama kak Je lagi, dia gak pernah melihat aku ma..."
...
"Mama mertua juga sama kok, gak peduli, buat apa aku di sini?"
...
...
"Pokoknya kalau mama gak datang aku pulang sendiri,"
.
Vinzy menutup panggilan dan belum beranjak pulang, mungkin terjadi sesuatu lagi dengannya di rumah mertuanya. Febi baru punya bayi, jadi pengen memberi nasihat pada perempuan muda yang sedang hamil besar ini.
"Vinzy, masih lebih aman melahirkan di rumah sakit dari pada di puskes. Banyak resiko loh saat melahirkan, kalau gak ada doktek spesialis di puskes bisa bahaya buat kamu."
"Banyak kok yang melahirkan di kampung hanya ditolong biang kampung. Dari pada tinggal sama mereka aku gak masalah ditolong biang kampung atau bidan aja."
"Gak mungkin tante Anet gak peduli padamu, dia bawa kamu ke dokter kandungan paling baik di kota ini, itu karena dia sayang sama kamu, dia udah siapin semua keperluan bayimu sampai menyiapkan satu kamar khusus segala... itu tanda dia peduli."
"Kak Febi tahu kamar bayi itu?"
"Apa yang gak diketahui tetanggamu sih? Tetanggamu kepo semua..."
"Tapi mereka menyakitiku, kak Febi."
"Makanya kamu harus berubah."
"Diih bosan amat disuruh berubah terus."
Vinzy menjawab ketus. Febi hanya bisa menggelengkan kepala, calon mama muda ini memang terlihat susah diatur dan keras kepala.
.
🧊
.
Poskamling lagi ramai saat Fou mampir, ada banyak ibu-ibu dan anak-anak mereka. Jadwal mengajarnya hari ini padat sampai jam setengah empat sore ini. Dan cuaca yang panas seharian membuat tubuhnya gerah. Saat melintas di poskamling Fou berhenti karena tergiur melihat jualan tante Nina.
"Ibu guruku cantik sekali... mau beli apa? Gohu atau rujak?"
Tante Nina menyapa dengan cara yang manis setelah Fou melepaskan helm dari kepalanya. Fou melihat ke dagangan penganan ringan di meja yang ada sambil mematikan mesin motor dan menurunkan standar.
"Kali ini rujak deh tante Nina, tapi gak usah pakai bengkoang."
"Oke bu guru, ini tersisa dua porsi, semua aja ya?"
"Iya tante..."
"Bungkus?"
"Iya..."
"Oke, ditunggu ya..."
Fou mengangguk dan tetap duduk di atas motornya. Fou senyum-senyum mendengar isi gibahan kali ini tentang salah seorang dokter muda yang ngekos di depan rumahnya. Katanya ganteng dan kaya, bawa mobil sendiri dan nyewa kamar paling mahal. Kayaknya si dokter jadi incaran baru ibu-ibu untuk anak-anak mereka, siapa tahu ada jodohnya. Ibu-ibu kompleks sedang menghalu dan Fou memeriksa PR mulis lesnya di hp.
"Tante Nina, aku mau beli rujak."
Suara Vinzy menyapa gendang telinga Fou. Sontak pula cerita ibu-ibu berakhir, si Vinzy jadi perhatian sekarang.
"Ya... Vinzy, ini porsi terakhir, udah dipesan sama Fou."
"Ya tante, aku ngidamnya itu..."
"Ngidam? Udah lewat kali masa kamu masih ngidam? Udah mau brojol."
"Gak tahu, tapi tadi tiba-tiba pengen, makanya aku susah-susah jalan ke sini, cape tau gak bawa-bawa perut, mama mertuaku sadis amat gak bolehin aku bawa mobil, mbaknya juga gak mau disuruh, ihh."
"Ya ampun, Vinzy, emang masih bisa bawa mobil perut udah segitu gedenya? Lagian kamu suka kasar sama mbak, kata mbaknya..."
Vinzy cemberut.
"Tumben kamu ngidam makanan orang miskin, kan kamu ngidamnya makanan mall... pizza, sushi, bistik, ramyeon."
"Tapi emang ada kok yang ngidam sampai menjelang lahiran, aku ngalamin itu juga..."
Ada yang belain Vinzy dan kemudian dia ngelunjak...
"Buat aku aja rujaknya, tante Nina... aku beneran gak bisa nahan keinginanku."
Eh... eh si Vinzy tiba-tiba menangis. Fou mengangkat kepala, Fou jadi iba. Kasihan sekali anak ini, terlihat sekali mencari perhatian, dan memang harusnya dia disayang-sayang, diperhatikan. Dengan kondisinya yang sempat membuat sakit hati keluarga suaminya, mungkin aja dia memang kurang diperlakukan dengan baik. Padahal ibu-ibu yang hamil sangat suka dimanja, Fou melihat ini pada dua adiknya saat hamil, maka...
"Buat Vinzy aja deh, tante Nina... aku kapan-kapan aja belinya. Ya udah, permisi ya ibu-ibu..."
Fou segera menjalankan motornya tanpa memakai helmnya lagi, memilih mengalah pada seorang ibu hamil yang kelihatan kurang kasih sayang.
"Tuh lihat Vinzy, orang yang suka kamu kata-katai, suka kamu tuduh selingkuh sama suamimu... dia ngalah buat kamu. Kurang baik apa coba si Fou... Gak pernah benci kamu walaupun kamu udah nyakitin dia..."
Vinzy hanya cemberut. Entah kenapa dia sakit hati setiap melihat Fou, dia terlanjur menganggap Fou saingannya, jadi walaupun menerima kebaikan Fou dia tetap jengkel.
"Kapan kamu lahirannya?"
"Masih sebulan lagi..."
"Hah? Serius? Kirai udah masuk HPL kamu... tapi perutmu udah sebesar itu, apa bayimu kembar?"
"Gak kok..."
"Iya kayaknya kamu gemuk sekali Vinzy, kurang baik loh. Udah waktunya untuk mengurangi makan, biar gak susah lahirannya."
Vinzy diam dan mulai mengunyah rujaknya, kejengkelannya diatasinya dengan makan. Dan memang sepertinya dia gak bisa mengendalikan keinginannya untuk makan sekarang. Dia ke mall hanya untuk makan dan makan.
Sejak mamanya datang dan justru bukan mau membawanya pulang tapi mengancam dirinya gak akan diakui anak lagi karena mempermalukan orang tuanya di depan besannya. Mungkin sejak itu dia makan tanpa kekang di lehernya.
.
.
.