My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 18. Yang Pdkt dan Yang Nungguin



Seperti janjinya tadi, ternyata dokter Petra beneran datang ke rumah Fou. Muncul dengan penampilan santainya, celana pendek dan kaos oblong. Fou berusaha bersikap biasa aja, tidak ingin baper dicariin sampai ke rumah seperti ini. Memang sempat muncul pertanyaan dalam hati, ini indikasi apa? Tapi mengingat beberapa kali tindakan akrab si pak dokter gak berarti apa-apa membuat Fou justru menjaga sikapnya.


Fou ke dapur membuatkan minuman dingin untuk sang dokter, menerapkan penerimaan secara formal untuk orang yang bertamu.


"Orang tuamu ada?"


Petra bertanya pada Nando yang sedang duduk di salah satu sofa sedang menyelesaikan rubik 3x3 terbarunya. Anak ini selalu membeli itu, entah berapa banyak miliknya.


"Pergi..." Nando menjawab tanpa menoleh.


"Jadi di sini hanya berdua aja dengan kakakmu?" Petra berusaha menjalin keakraban.


Nando hanya mengangguk, perhatiannya lebih tertuju pada rubiknya, itu membuat dokter Petra berhenti bertanya, dia disuruh Fou duduk di sofa tamu, jadi merasa kaku.


Saat Fou datang, For gak mengeluarkan suara, hanya meletakkan nampan lalu mengatur sebuah stoples berisi cemilan dan segelas nu trisari dingin yang dia campurkan sedikit gula aren.


“Diminum pak dokter… sengaja yang dingin karena cuaca sekarang sangat panas kan… tapi gak pakai es batu jadi gak terlalu dingin…”


Fou menerangkan minuman yang dia sajikan sambil duduk di sebuah sofa single yang agak jauh dari dokter Petra. Sang dokter jadi bingung bagaimana memulai obrolan, ada adik Fou duduk di antara mereka dan seperti tidak ada tanda-tanda untuk pergi dari ruangan itu.


Petra mengelilingi ruangan itu dengan matanya sambil mencari bahan obrolan, lalu mengambil gelas yang ada di hadapannya. Minum aja dulu, Fou tidak mengatakan apapun lagi, juga tidak melihat padanya justru memandangi adiknya.


“Ini minuman apa Fou, baru sekarang aku mencicipi…” Inspirasi akhirnya datang juga, minuman ini sepertinya berbeda.


“Itu minuman biasa pak dokter, nu trisari aja…”


“Nu trisari? Rasa apa ya, kok warnanya seperti warna teh pekat?”


“Aku tambahin gula aren, pak dokter… gak cocok ya? Aku ganti yang lain kalau gak suka…”


“Eh… suka kok… hanya... memang belum pernah minum jadi aku tanyain aja…”


Lalu hening lagi, Petra jadi tahu Fou hanya akan berbicara jika ditanyain sesuatu.


“Kamu berapa saudaranya Fou, Nando aja?”


“Aku punya 2 adik perempuan juga, Nando yang paling kecil.” Fou menjelaskan.


Dia tahu Nando sedang memandangnya dengan senyum, merasa bahagia mungkin anak itu karena diakui keluarga di rumah ibu tirinya. Fou melihat ke arah Nando dan tersenyum geli melihat ekspresi senangnya.


“Oh… jadi kamu anak tertua?”


“Iya…” Singkat Fou menjawab.


“Dua adik perempuanmu… kuliah atau SMA?” Petra, entah kenapa jadi seformal ini dalam menanyakan beberapa hal pada Fou. Petra merasa tidak nyaman, sepertinya Fou sengaja menjauh, padahal sebelumnya dia cukup terbuka menyambut dirinya.


“Dua adikku udah gak kuliah…” Fou menjawab datar saja, seperti sedang wawancara pekerjaan saja situasinya.


“Kerja?” Petra lagi.


“Gak, udah menikah…”


“Oh??” Nada tinggi dari suku kata itu membuat Fou tak sadar menatap tajam pada dokter Petra.


Dalam otaknya Fou menerjemahkan ucapan satu suku kata si dokter Petra itu dengan arti… Mereka melangkahimu? Atau… Kenapa kamu belum menikah? Jadi, kamu sudah tua ternyata? Dan paling parah… Kamu gak laku-laku? Dalam hati Fou merasa, Petra sama aja seperti orang yang lain.


Pemikiran yang membuat Fou menjadi kesal pada si dokter Petra. Fou berdiri meninggalkan ruang tamu dan menuju ke belakang, malas untuk meneruskan basa-basi dengan tamunya ini.


“Ra… mau ke mana?” Petra segera berdiri, dia bisa melihat ekspresi gak baik di wajah Fou.


“Ada pekerjaan 'yang harus aku lakukan' di belakang, habisin aja minumnya.” Fou berkata dengan menekankan kalimat 'yang harus aku lakukan', ingin menyampaikan bahwa kedatangan si dokter telah mengganggunya.


Fou pergi ke area laundry, memutuskan mengangkat jemuran, mengikuti frasa yang telah diungkapkannya pada si dokter. Sambil mengangkat pakaian sambil Fou melipatnya menurut jenisnya biar lebih mudah merapihkan saat menggosok, salah satu ajaran si adik tiri tersayang, Fou mengikuti saja.


"Mengerjakan apa Ra?" Suara pak dokter yang seharusnya menyejukkan jiwanya ditanggapi Fou dengan mengangkat pakaian yang ada di tangannya.


"Aku bantuin ya..." Akhirnya Petra gak tahan waktu berlalu dalam kebisuan, dan tanpa menunggu persetujuan Fou Petra mulai mengangkat pakaian dan meletakkan di meja di tempat Fou meletakkan pakaian yang sudah dilipatnya.


"Eh?? Gak usah, ini pekerjaan ringan, aku gak perlu bantuan..."


"Gak papa Ra, itu bajunya banyak, cucian seminggu ya?"


"Pak dokter, tangannya hanya untuk merawat pasien, gak cocok untuk perkerjaan ibu rumah tangga..." Fou berkata asal karena Petra masih bersikeras meneruskan mengangkat jemuran.


"Hahaha... kamu juga bukannya seorang guru, kamu belum jadi ibu rumah tangga, Ra..."


Fou memandang si dokter yang sedang tertawa entah di mana lucunya.


"Tapi aku perempuan, di rumah tetap aja kerjaannya seperti ini..."


"Aku juga terbiasa mengurus diri aku sendiri sejak kuliah, Ra... jadi hanya angkat jemuran mah, biasa kok... masak juga aku bisa..."


"Serius pak dokter? Aku malah gak bisa masak..."


"Nanti aku ajarin deh..."


Haha... Nyambung deh mereka berdua.


Percakapan masih terus berlanjut, Fou yang awalnya menahan diri dan bersikap datar akhirnya terbawa dengan pembawaan si dokter yang suka tertawa.


Ini akan maju seterusnya atau ... Semoga alur kehidupan memberi jalan yang terbaik untuk mereka berdua.


.


@


.


Dokter Petra jika sabtu dia lowong maka akan muncul di rumah Fou. Beberapa kali seperti itu, dan mama Silvia mulai senyam-senyum menanggapi hal ini, berharap anaknya yang sudah kepala tiga segera dilamar seorang pria, dan nampaknya pria yang kost di depan rumah ini punya kualifikasi yang tinggi, siapa yang bisa menolak hal itu, maka hati mama yang tadinya condong pada Jerol sekarang menemukan pria yang baru yang tidak kalah dengan Jerol.


"Fou, udah hampir sore, si Petra gak datang hari ini?" Mama melongok ke dalam kamar. Fou sedang asyik bermain rubik 3x3 milik Nando.


Ini yang pdkt siapa yang nungguin siapa? Begitulah seorang mama yang selama ini mengkuatirkan anak gadisnya sudah ada di usia yang cukup tua di negara ini, kuatir tentang jalan jodoh sang anak. Dan tiba-tiba ada seseorang yang datang, maka menjadi antusias berharap tahun ini Fou menikah.


Mama takut jika semakin bertambah umur Fou tetap sendiri, mungkin dia akan semakin jauh dari jalan jodoh. Jangankan pria yang masih single om-om duda pun dalam mencari wanita selalu yang masih muda. Sama seperti Leonardo D'Caprio, di atas dua puluh lima tahun gadis di sampingnya langsung dihempaskan.


"Memang dia wajib datang ke sini?" Fou menjawab sang mama seolah tidak peduli, tapi pikirannya segera mengingat kebiasaan Petra.


"Bukannya kalian..." si mama tidak meneruskan pertanyaannya karena melihat sorot gak suka di mimik anaknya.


Si mama menutup pintu akhirnya, hari sabtu belum berakhir siapa tahu pak dokter ganteng itu malah datang malem-malem untuk malam mingguan. Mama Sil malah yang mengharapkan kedatangan Petra.


Dan apa yang menjadi harapan si mama rupanya sejalan dengan pengaturan sang Pemberi hal-hal yang baik dalam lalu-lintas hidup manusia...


Pak dokter Petra muncul di depan pintu dalam balutan jeans dan kaos oblong yang terlihat mahal, dengan sneakers di kaki, pilhan outfit yang lebih rapih kali ini, biasanya si pak dokter hanya menggunakan celana pendek yang menurut Fou terlalu pendek.


"Selamat sore tante..."


"Oh pak dokter... silakan masuk..." Mama Sil tersenyum girang, hatinya berbunga-bunga seperti taman bunga yang sedang mekar mewangi.


"Saya mencari Foura, tante..."


"Oh iya... masuk ke dalam aja... Tante panggilkan Fou ya...."


"Terima kasih...


Petra masuk ke dalam rumah. Memang tidak membuat janji dengan Fou sebelumnya, niat spontan aja ingin mengajak Fou jalan malam ini. Dan sengaja datang masih sore, ingin menikmati waktu lebih panjang di malam minggu ini bersama gadis tetangga yang sudah mencuri perhatiannya.


.