
Long weekend, karena hari jumat bertepatan tanggal merah. Sebenarnya papa Emil berkeinginan untuk liburan ke pulau dewata memboyong semua keluarga, tapi mama Anet mengeluhkan tubuhnya yang terasa lelah dan lemah padahal aktivitasnya tidak banyak, seperti itu ternyata keadaan fisik penderita penyakit kardiovaskuler. Akhirnya papa Emil hanya menyewa tempat di sebuah resort terbaik di pinggiran pantai, tiga buah cottage mewah yang dilengkapi dengan kolam renang pribadi menjadi tempat liburan keluarga kali ini.
Fou mulai merasakan seperti ini rasanya sendiri di tengah keramaian, berada di antara orang-orang terdekat dalam hidupnya tapi merasa sepi, tertawa bersama mereka tapi dengan perasaan kosong. Dua adiknya telah punya keluarga masing-masing, Eilleen telah memiliki dua anak dengan jarak yang berdekatan demikian juga Shirley. Tapi meskipun mereka berdua terlihat repot dan kewalahan bahkan terlihat tertekan mengurus balita tapi Fou bisa melihat bahagia mereka, sementara dia hanya sendiri.
Fou menyukai anak-anak, dia peduli dengan para keponakannya, tetapi saat membantu mengurus mereka ada perasaan hati yang muncul, dia menginginkan memiliki anak sendiri. Saat melihat para balita itu saling berebut untuk diemong mama mereka dan tidak menghirau bujukan Fou untuk bersamanya, ketakutan perlahan menyusup dalam dirinya, mungkin suatu saat nanti dia benar-benar sendirian, karena dia gak mempunyai seseorang yang padanya hati mereka tertambat dan terikat.
“Kak… kakak gak berenang?” Nando keluar dari kolam renang kemudian datang duduk di kursi bersantai dan sengaja duduk menempel pada Fou. Tubuhnya yang basah membuat Fou ikut basah.
“Do? Geser sana, kakak jadi basah, ihh…” Fou mendorong tubuh adiknya, tapi malahan Nando kemudian memeluk Fou dengan erat.
“Dooo… iseng amat sih…” Fou gak memberi perlawanan membiarkan Nando yang tertawa-tawa dan menempelkan rambut basahnya ke kaos Fou.
“Turun aja ke kolam Rara… sekalian bantuin Shirley dan Eilleen liatin anak-anak…” Mama Silvia ternyata sudah bangun sekarang duduk di kursi santai yang lain tepat di bawah sebuah payung segi empat warna putih.
“Males ma, ada suami-suami mereka kan…” Fou berkata sambil mengambil sehelai handuk yang tersedia di sebuah meja. Dia melingkarkan handuk tersebut di tubuh Nando.
“Belum pada bangun… papa juga belum bangun…” Mama kemudian meluruskan kakinya di kursi panjang itu.
“Sana Do… duduk di tempat lain…” Fou mendorong lembut tubuh Nando lalu mengambil handuk yang lain, kali ini mengeringkan air di tubuhnya akibat ulah Nando.
“Aku mau berenang lagi…” Nando melepaskan handuk di tubuhnya dan dengan iseng yang berlanjut membungkus kepala kakaknya dengan handuk itu, lalu berdiri dan berjalan ke kolam.
Fou hanya meringis, tapi jujur hanya tingkah Nando saja yang sedikit menghiburnya dalam liburan kali ini.
“Bantuin kakak-kakakmu, Do… liatin anak-anak…” Mama Silvia meminta Nando.
“Iyaaa…” Nando segera melompat masuk, lalu melakukan apa yang diminta mama sambung tersayang, mengambil alih menemani salah satu ponakan bermain di kolam khusus anak.
“Ra…” Mama memanggil Fou setelah memperhatikan anaknya dari tempatnya berselonjor.
“Mama… jangan memanggil namaku seperti itu.” Fou melirik mamanya sejenak, dia terganggu dengan suku kata akhir namanya.
“Kenapa? Mama biasa memanggilmu seperti itu.” Mama memandang heran.
“Mama biasa memanggilku Fou atau Rara, buka Ra…” Fou protes gak suka, itu mengingatkannya pada dua pria.
“Kenapa? Rara kan singkatnya Ra?” Mama heran ini hal sepele dan putrinya terlihat jengkel.
Fou gak menjawab dan gak ingin menyebutkan penyebabnya. Fou duduk bersandar sekarang sambil menutupi dengan dua handuk di tangannya tubuhnya yang hanya menggunakan setelan piyama tidur tipis yang pendek.
Sesuatu yang gak ada penjelasan untuknya, mengapa setelah terkoneksi beberapa waktu dengan Jerol maupun Petra hidupnya gak bisa kembali normal seperti saat dia melewati fase terdahulu ketika putus dengan Bryan atau Randy. Saat itu dengan cepat dia menyingkirkan bayangan mereka, hidup dengan cepat kembali normal.
Tapi dia harus jujur sekarang, gak semudah memutuskan untuk gak melanjutkan dengan Jerol, dia berupaya tidak terpengaruh tapi hatinya nelangsa. Juga gak semudah dia mengucapkan putus pada Petra, suasana hatinya sesudah itu gak selapang yang dia harapkan. Dia gak cinta dan gak masalah berpisah, hanya, ada yang tertinggal ternyata.
Dia merasa resah dengan jalan hidupnya, mungkin memang garis kehidupannya adalah akan selalu gagal dalam hubungan dengan lawan jenis, dan karenanya dia bertekad tidak menikah. Tapi tekad itu gak cukup untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Rara… Petra mengirimi mama chat. Dia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakannya pada mama dahulu belum berubah, dia masih ingin menikah denganmu. Makanya mama gak percaya kalau Petra ternyata udah punya calon istri.” Mama Silvia masih coba memastikan soal Petra.
Foura menarik napas, tahu bahwa mamanya gak puas jika hanya mendengar dari kata orang, dia sebagai anak harus memberi penjelasan.
“Itu benar, ma… aku bertemu calon istrinya dan Petra gak menyangkali hal itu.”
“Tapi… waktu itu dia begitu meyakinkan saat ngomong dia siap tinggal di kota ini karena kamu. Mama menanyakan kenapa dia pindah kost… dia menjawab, ingin memperbaiki banyak hal sebelum dia datang kembali padamu.”
Petra juga mengiriminya chat sangat panjang sampai dia malas untuk membacanya selain terlalu enggan untuk bersinggungan dengan Petra lagi, bahkan dia sudah menghapus riwayat chat dengan Petra lalu kemudian memblokir nomornya.
“Udahlah, ma… gak ada gunanya membahas dia… mama harus tahu, dari awal aku gak sreg dengannya… dan untung aja aku gak jatuh cinta sehingga gak perlu sakit hati.”
“Tapi dia katanya masih sangat mengharapkanmu…”
“Ma… aku itu orang ketiga, dan aku gak mau menyakiti Olivia, hubungan mereka sudah di jenjang yang serius, ma… aku gak mau gara-gara aku ada wanita yang seperti mama… mama tahu arti sakit ketika diselingkuhin, jadi jangan membantu Petra untuk membujukku. Aku minta mama blokir nomornya.” Baru sekarang sejak mama sakit Fou berkata dengan nada keras setengah marah setengah kesal.
Mama akhirnya mengalah, gelagat putrinya sudah dia hafal, jika dia memaksa mungkin Fou gak akan bicara dengannya berminggu-minggu. Memilih diam dengan pikiran yang berkecamuk…
Entahlah… apakah sekarang dia harus menerima saja putri tertuanya memilih sendiri, dia ngeri saat suaminya meneruskan padanya bahwa Fou gak akan menikah. Gak lama lagi Fou berumur tiga puluh satu, dan dia rasanya belum rela masa keemasan Fou berlalu begitu saja, setelah ini mungkin hanya ada duda yang akan datang dan tertarik pada anaknya.
Fou meninggalkan sang mama, raut wajah mama yang terlihat sedih langsung menempel di ingatannya, tapi mau bagaimana lagi? Apa dia harus puasa tiga hari tiga malam supaya Yang Mengendalikan Semesta ini mengirimkan kekasih yang baik hati yang bisa langsung dinikahi tanpa ada keberatan-keberatan karena nilai yang dianut orang tuanya dan karena pria itu milik orang lain.
…
Di kehidupan seseorang yang lain, Jerol merasa mendapatkan satu langkah kemenangan tanpa harus berperang saat Jilly memberitahu Petra udah pindah kost.
“Bener… Petra udah gak sama Foura lagi? Kamu dapat berita dari mana?” Jerol sumrigah saat bertanya pada Jilly.
“Aku temenan sama Nando kan sekarang… aku nanya ke Nando, dia bilang dokter Petra udah tunangan sama cewek lain…”
Senyum Jerol semakin lebar.
“Diih kak Je senyum-senyum, emang kak Je bisa apa? Papa masih keras hati begitu…” Jilly mencibir pada kakaknya
“Tapi kak Je boleh seneng dong, kan tante Silvia maunya Foura menikah sama dokter itu… sekarang udah gak mungkin kan… jalan kak Je semakin terbuka untuk bersama Foura lagi,” ujar Jerol penuh optimis.
“Iya tapi tetep aja… tante Silvia sama prinsipnya dengan papa… menentang perceraian. Kak Je gak mungkin melawan dua orang… dua-duanya punya penyakit sama, jantung. Kak Je maksa kawin lari misalnya, papa sama tante Silvia langsung berpindah alam deh… alias mati kena serangan jantung.”
“Jill! Amit-amit… sembarangan ngomong kamu!” Mama Anet yang sedang mengayun untuk menidurkan Elsie langsung menyemprot anaknya.
Jill langsung menutup mulutnya, Jerol meringis. Dia masuk ke kamarnya mengambil gadgetnya lalu memulai lagi melakukan sesuatu yang terpaksa dihentikannya atas permintaan Fou… mengirimi chat rindu, sekarang dia harus memberitahu Fou kalau dia masih menunggu Fou.
Sambil menunggu chatnya dibaca Fou, berharap juga dapet balasan, Jerol senyum-senyum sendiri. Semoga penghalang satu demi satu boleh tersingkir, dia percaya satu hal bahwa jika Penguasa Semesta berkenan, bahkan musuh seseorang bisa didamaikan. Badai yang paling dahsyat ada akhirnya, malam gelap akan berakhir ketika pagi datang, setiap kerumitan punya penyelesaiannya… dia hanya perlu bertahan hingga semua jalan terbuka bagi hubungannya dan Fou.
“Kak Je… ada kak Vinzy sama papa datang ke sini…” Jill masuk kamar lalu berbaring di samping kakaknya di tempat tidur.
“Hah??” Jerol hampir terlonjak. Rintangan terbesar ini, entah bagaimana menyelesaikannya.
“Akhirnya papa tahu rumah kak Je… padahal mama rela marahan sama papa karena mama tutup mulut mengenai alamat rumah ini, mungkin tadi kita dateng papa ngikutin kita…”
“Sialan…” Jerol berdiri hendak keluar kamar, entah bagaimana papanya mengatur sehingga gugatannya terhadap Vinzy tidak dapat diteruskan, tapi ini rumahnya dan papanya tidak berhak mencampuri urusannya.
“Je… mama minta jangan bertengkar dengan papa, ingat jantung papa…” Si mama menghadang Jerol tepat di pintu kamar.
“Tapi ma… aku gak suka Vinzy ke sini…” Jerol meminta jalan pada mamanya dengan mendorong lembut tubuh mamanya yang masih mengendong Elsie.
“Tenang aja Je… mama punya bukti kok, kali ini papamu gak akan keberatan lagi jika kamu minta pisah dari Vinzy. Menghadapi papa harus tahu Je, jangan melawannya, jangan mendebatnya… tapi bicarakan dari hati ke hati… masa kamu gak hafal papamu?”
“Tapi papa gak mungkin setuju mengenai perceraian!” Jerol mengatakan dengan rasa marah yang sekarang berkumpul di dadanya.
“Ikutin aja dulu…”
“Gak ahh… bisa-bisa papa minta Vinzy tinggal di sini. Gak! Aku gak akan ikutin apa kata papa, papa di sini tamu, datang gak diundang pula… aku gak ngelarang papa datang tapi aku gak sudi menerima Vinzy di rumahku!” Jerol mengatakan dengan keras karena ternyata papa sudah ada di belakang mama, sekalian saja.
“Dia masih istrimu, Jerol!” Papa menyanggah kemarahan putranya.
“Udahlah, papa jangan keras kepala. Papa gak akan bisa merubah keputusanku mengenai nasib pernikahanku, bagiku dia bukan istri lagi. Cobalah memahami aku pa… mama meminta aku gak bertengkar dengan papa, jadi jangan terus memaksakan keinginan papa padaku.” Jerol menurunkan intonasi suaranya tapi memberi penekanan pada suaranya.
“Jerol!” Si papa masih terlihat bertekad dengan maksudnya membawa Vinzy datang mencari Jerol.
“Her… kita pulang. Elsie sudah tidur, bisa-bisa dia terbangun dan rewel karena mendengarkan pertengkaran kalian. Ayo Jill…”
Mama Anet kemudian menarik tangan suaminya dengan kekuatannya, papa Herry masih ingin bertahan di tempatnya.
“Her… ini bukan rumahmu, ini rumah Jerol, hargai privasinya… dia gak akan pernah dewasa kalau kamu selalu mencampuri urusannya. Berhenti sampai di sini, ada hal-hal yang gak bisa berjalan menurut keinginan dan prinsipmu, kamu bukan Tuhan Her… kamu hanya manusia… hidup anakmu adalah miliknya sendiri, hargai keinginan anakmu… sekarang kita bukan mengatur dia lagi, kita hanya bisa menasihati… ayo… gak baik membuat keributan di rumah orang…”
Si mama mengatakan kalimat demi kalimatnya dengan emosi yang mengantung di setiap katanya, menekankan apa yang harus diterima sang suami sekarang. Tentu saja papa Herry yang terbiasa dengan otoritas hampir-hampir tidak dapat menerima, tapi bagian terakhir kalimat istrinya seperti menggores egonya… ini rumah orang, jadi Jerol harus dia perlakukan sebagai orang lain saja, bukan lagi anak lelakinya?
Dengan wajah penuh amarah, papa Herry menatap anaknya, lalu pergi mendahului istrinya.
.